
“Apa yang kamu lakukan?!”
Suara teriakan seorang wanita sontak membuat Rebecca yang masih terus menyuntikkan
racun itu seketika menegang kaku. Tak lama tubuhnya terhempas ke lantai karena
dorongan kuat seseorang.
Rebecca meringis saat kepalanya langsung membentur siku meja—menyakitkan hingga membuat pandangannya memburam sesaat. Sementara wanita tadi dengan panik segera menekan
tombol apapun yang ada didekatnya—berharap dokter segera datang. Wanita itu
tidak tahu harus berbuat apa kecuali terus menggenggam tangan Lionara yang
semakin dingin dan menyeka butiran keringat yang membanjiri wajahnya. Bibir Lionara
terus merintih kesakitan. Sedang alat Elektrokardiogram terus saja berbunyi.
“Mama mohon bertahanlah, Nak.” Rossalyn bergumam dengan nada bergetar “Kamu harus kuat. Jangan menyerah, sayang” bulir bening menetes dari sudut matanya.
Sedang Rebecca yang mulai bisa menguasai diri, segera mengambil alih suntikan yang terlempar
tak jauh darinya. Sedikit lagi, ia hanya perlu menyuntikkan sisa racun itu agar
hasilnya maksimal.
Dengan sempoyongan, Rebecca mendorong tubuh Rossalyn kuat. “Minggir tante… perempuan sialan ini harus mati ditanganku!” tubuh Rossalyn terpental ke nakas sebelah ranjang.
“Jangan gila kamu, Rebecca!” teriak Rossalyn, membelalak saat Rebecca mencoba kembali
menyuntikkan cairan itu.
Rossalyn memaksa tubuhnya berlari dan menahan sekuatnya tubuh Rebecca yang meronta. “Tante
mohon, jangan seperti Rebecca… Jordan bisa membunuhmu!” Rossalyn mencoba
memperingati.
“Tidak masalah dia akan membunuhku, asalkan wanita jalang ini mati lebih dahulu! Lepaskan tante!” Rossalyn menggeleng, ia semakin menahan kuat tubuh Rebecca. Keringatnya telah memenuhi dahi disertai lebam akibat terbentur nakas dan lantai.
“Aku sudah memperingatimu tante. Kalau begitu.. jangan salahkan aku!” dengan amarah
menggelegak, Rebecca menghempas kuat Rossalyn dan membenturkan kepalanya ke dinding.
Rossalyn mengerang kesakitan. Tapi Rebecca tidak mempedulikan. Kemudian kembali
hendak menancapkan suntikan itu.
Dorrrr…
Tubuh Rebecca terhuyung jatuh disusul erangan kesakitan begitu peluru yang
ditembakkan oleh seseorang menancap pada sebelah kakinya.
“Rossalyn!”
Josep melempar pistolnya dan berlari meraih Rossalyn yang nyaris hilang
kesadaran. Josep memangku kepala istrinya yang berdarah.
“Sayang, bangun… hey!” parau Josep mengusap rambutnya, seraya mengguncang pelan tubuh Rossalyn.
“Pa… Lionara…” rintih Rossalyn “cepat.. panggilkan dokter,” Rossalyn mencengkram
kuat kemeja Josep.
Belum sempat Josep menjawab, dari arah pintu para dokter dan suster muncul dengan
langkah tergesa. Sebagian suster
langsung memberikan pertolongan pertama pada Rossalyn dan Rebecca yang telah
tak sadarkan diri. Sementara sang dokter segera memeriksa Lionara yang kembali
kritis.
“Pasien keracunan! Siapkan ruang operasi sekarang!”
Suaranyaring dokter seketika membuat orang-orang disana dilanda kepanikan. Dengan cepat ranjang Lionara dibawa keluar oleh mereka menuju ruang operasi.
“Ada apa ini?” Jordan yang baru saja kembali dari ruang terapi, dibuat syok saat
berpapasan dengan para rombongan dokter
dan suster yang melarikan ranjang Lionara.
Degup jantung Jordan seketika bertalauan nyaring ketika maniknya tertujuh pada wajah
istrinya yang sudah tidak memakai masker oksigen, semakin pucat. Mulut wanita
itu merintih kesakitan dengan keringat yang membanjiri dahinya.
“Istri anda kritis. Seseorang telah berhasil menyuntikkan racun berbahaya ke dalam
tubuhnya.” terang sang dokter
“A-apa? racun?” kosong, untuk sesaat wajah Jordan berubah pias.
Dokter mengangguk cepat. “Ada seorang perempuan menyamar sebagai suster dan
menyuntikkan racun berbahaya itu. karena itu kami harus segera mengeluarkan racun
itu sebelum menyebar ke seluruh organ tubuhnya.”
Tanpa menunggu sahutan Jordan, dokter tersebut kembali meneruskan langkah tergesa
mereka menuju ruang ICU.
Jordan membeku. Hancur, dan informasi itu berhasil membuat dirinya seperti dijatuhi
bom waktu yang siap meledak kapan saja. Tubuh Jordan meluruh ke lantai, disusul
sebutir air mata meluncur begitu saja.
“Tuan…” gumam Sam sedih
“Katakan kalau ini tidak benar, Sam!” Jordan menggeleng seperti orang linglung.
****
Jordan duduk di kursi tunggu depan ruang operasi Lionara yang sedang berlangsung. Sejak tadi, manik kosongnya hanya tertujuh pada pintu ruangan itu. Bibirnya terkatup
rapat—tak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya diam terpaku, seperti raga
tanpa jiwa.
Sementara tak jauh darinya, Leon terus saja menangis meraung begitu mendengar kakak
terkasihnya kembali kritis. Disebelahnya, Rikkard masih terus menenangkan—memeluk dan mengusap-usap punggungnya.
“Katakan padaku Kek, kakak pasti baik-baik saja, kan?” Leon sesenggukan
“Kakakmu perempuan kuat, Nak. Tenanglah, dia pasti selamat,” Rikkard menyahut lembut. “tidak
ada yang bisa kita lakukan kecuali hanya menunggu dan berdoa.”
“Tapi aku sangat takut kek… aku takut kakak tidak akan pernah membuka mata lagi,”
Leon kian terisak
“Ssttt… jangan mengatakan seperti itu. Kamu percaya Tuhan itu ada kan?”
Leon mengangguk dengan wajah basahnya.
Rikkard tersenyum seraya mengusap air mata Leon, “Kalau begitu mari kita berdoa
sekarang.”
Leon menurut. Ia kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, lalu matanya
terpejam. Rikkard melakukan hal yang sama.
“Tuhan… aku mohon
selamatkan kakakku. Aku mencintainya dan tak ingin kehilangannya. Hanya dia
keluarga yang kumiliki Tuhan… jangan bawa dia juga menyusul kedua orang tuaku.
Aku percaya mujizat-Mu masih ada untuk kakakku…” air mata Leon mengalir deras
“Aku tahu aku
manusia pendosa. Aku tidak layak dihadapan-Mu, apalagi meminta sesuatu yang
lebih. Tapi… untuk sekali ini, tolong selamatkan cucu menantuku. Biarkan dia
hidup lebih lama… Jordan cucuku sangat membutuhkannya… Tuhan…” Rikkard memanjatkan permohonan
tulusnya. Bulir bening turut membasahi wajah tuanya.
Melihat cucunya yang hanya diam membisu, terpaan ngilu di hati sulit sekali dienyahkan.
Rikkard tahu betul kalau Jordan benar-benar hancur dan kesepian tanpa kehadiran
Lionara. Seperti orang gila, siapapun dapat tahu kalau dia sangat mencintainya.
Lionara berhasil membuat seorang Jordan yang begitu bengis, jatuh bertekuk
benar-benar ia nantikan dalam hidupnya yang begitu sepi.
****
“Jantung pasien berhenti berdetak!” sang dokter terus mengecek, ketika dalam monitor,
tanda-tanda kehidupan sudah menghilang.
Dokter mulai menggunakan alat pacu jantung untuk mengembalikan detaknya. Beliau terus
menekan alat itu ke dada Lionara, berulang-ulang kali, tetapi di monitor masih
juga tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan kembali.
Hingga… berhenti. Lemah, beliau membuka kacamata, menyerah. Bahkan ketika berulang kali dilakukan pertolongan, nyawa Lionara sudah tidak mampu untuk di kembalikan.
“Waktu kematian pukul 20:15.”
Lampu depan ruang operasi telah padam—pertanda bahwa operasi telah selesai. Semua orang yang tengah menunggu harap-harap cemas di depan ruangan itu seketika berdiri begitu dokter keluar dari sana dengan raut sendu.
“Nyonya Lionara sudah tidak ada. Saya… turut berdukacita sedalam-dalamnya.” Seperti kilat yang menyambar, dokter menyampaikan kabar tak terduga itu.
Seperti orang linglung, Jordan menggeleng keras, sedang air mata mengalir terus-menerus
membasahi pipinya. Tidak bersuara, tetapi jauh lebih sakit—bahkan beribu kali
lebih menyakitkan ketika dipaksa untuk menerima kepergian Lionara.
“Tidak mungkin. Lionara tidak mungkin meninggal!” Jordan menarik kerah kemeja dokter
parubaya itu—mencengkramnya kuat. “Anda pasti salah, kan?” sentaknya dingin
“Maafkan kami Pak…” kepala dokter tertunduk lemah
“AKU TIDAK BUTUH MAAFMU, SIALAN!!” gelegar Jordan dengan mata dan wajah memerah
hebat.
“Jordan!”
peringat Josep
“Cek lagi. Cek lagi, Dok. Pasti ada kesalahan. Tolong cek lagi!!” Jordan berteriak,
menarik paksa tangan sang dokter, kembali masuk ke ruang operasi—memaksanya
untuk membangunkan Lionara yang suduh terbujur kaku di tempat.
Jordan berjalan ke arah kakeknya, mencengkram erat dua tangan lelaki itu dan berlutut
di bawahnya. “Kek, Lionara masih hidup! Dia masih bisa diselamatkan! Tolong carikan
dokter terbaik. Ini tidak mungkin. Kek…! Tolong, SIAPA PUN!!”
“Nak…” serak Rikkard turut merasakan kehancuran cucu kesayangannya.
Suara tangis semua orang yang ada disana, terdengar samar di telinga. Rossalyn dengan
kepala yang telah di perban, menangis terisak dalam pelukan Josep.
Dokter mengangguk pada suster, dan keduanya mulai melepaskan seluruh alat yang
terpasang di tubuh Lionara.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!” Jordan kembali berlari lagi, mendorong tubuh mereka
dan memeluk tubuh Lionara seerat yang ia mampu—menangis keras diatasnya—mengguncang
tubuhnya. "Lion...sayang, bangun! Mommy… bangun! Di sumpah pernikahan kita
kamu janji akan menua bersama! Kamu janji akan membesarkan anak kita bersama!”
“Jordan, sadarlah Nak. Lionara sudah tidak ada.” Josep berucap parau
“Diam kamu tua bangka sialan!!” sentak Jordan “kamu pasti senang sekarang kan?! Iya, kamu
pasti senang. Mama meninggalkanku… dan sekarang…” getir, Jordan menelan
ludahnya kepayahan.
“Tidak, kamu tidak mungkin meniggalkanku kan sayang?” Jordan menggeleng seraya
tersenyum getir “Iya… kamu cuma lagi tidur aja,” ia menciumi seluruh wajah
dingin Lionara.
“Kakak!!” Leon menangis histeris, ia berlari memeluk kaki Lionara “Kakak enggak boleh
pergi! Kakak uda janji bakalan temanin Leon sampai Leon berhasil nanti. Kakak
bangunnn…!” tubuh Leon gemetar hebat, berulangkali memanggil nama sang kakak,
tetapi mata itu tidak juga mau terbuka.
****
Hening.
Denting waktu terus bergulir. Tak ada yang mampu berucap sepatah kata pun kecuali hanya isakan yang kini mengisi ruangan itu. Seperti raga tak berjiwa, Jordan masih
ditempat yang sama—memeluk erat raga tak bernyawa Lionara.
Tidak. Jordan masih tidak bisa menerima. Lion-nya masih disini, masih bersamanya, dia
tidak akan pergi kemana-mana.
“Nak, ini sudah waktunya. Lepaskan istrimu,” pelan, Rikkard mencoba membujuk Jordan
yang masih tak kunjung melepaskan tubuh Lionara dari dekapannya. “Kita harus
mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.”
“Apa kalian tuli? Sudah berapa kali kukatakan istriku hanya sedang tidur. Dia tidak mati!” Jordan mendengus dingin. Kembali menciumi puncak kepala istrinya.
“Jo, sadar Jo! Lionara uda enggak ada, brengsek!” bentak Aldrich marah, tapi air
matanya jatuh saat mengatakannya. Jordan benar-benar hancur—ia nyaris
kehilangan akal sehatnya sekarang.
Aldrich dan Evan baru saja kembali dari markas mereka di Milan—keduanya segera kembali begitu mendapat panggilan dari Rikkard jika istri sahabat mereka telah tiada.
“Brotha, kita juga sedih dan kehilangan, tapi kita tidak boleh berlama-lama membiarkan
mayat Lionara tidak dikubur.” timpal Evan parau seraya menyeka air matanya yang
terus bercucuran.
Jordan bergeming. Leon yang sudah sedikit lebih tenang, menyentuh tangan kakak
iparnya.
“Kakakku sudah pergi… lepaskan dia, kak.” serak Leon kepayahan—menatap sayu pada iris biru Jordan.
Hening.
Jordan
semakin mengeratkan pelukannya—membenamkan wajahnya pada ceruk leher Lionara. Air mata mengalir tanpa terasa, berjatuhan layaknya air bah yang tak mampu lagi
dibendung. Kehilangan pegangan, Jordan tidak tahu langkah apa yang akan diambil
ke depan. Tidak memiliki tujuan, ia hanya ingin Lion-nya dikembalikan.
“Tuhan… tolong kembalikan Lionku! Tuhan… TUHAN…"
Lirih, untuk pertama kalinya, Jordan menyebut nama teramat sakral itu—tahu tidak ada
yang mampu mengembalikan istrinya kecuali sang pemilik kehidupan. Ini adalah
kehilangan terparah yang tidak akan pernah mampu disembuhkan.
“Selama ini aku tidak mempercayaimu. Tapi, untuk kali ini aku akan percaya. Hanya tolong… kembalikan istri dan anakku. Aku hanya ingin mereka… Kumohon,”
Tubuh Jordan terguncang hebat. Semula ia hanya menangis dalam diam, tetapi sesak kian menjadi-jadi dan merambati seluruh tubuh hingga di detik berikutnya ia terisak
hebat, meraung keras dengan suara yang terdengar memilukan. Tangis yang awalnya
ditahan, kini tidak dapat dikendalikan.
Ingin kuulang hari, Ingin kuperbaiki
Kau sangat kubutuhkan
Beraninya kau pergi
Dan tak kembali.....
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
Maafkan... jika tak sesuai ekspektasi kalian 🤧
See youuuu