JORDAN

JORDAN
Chapter 45



“Kamu masih berhubungan dengan Richard?” tanya Josep dengan mata memicing. Mereka


tengah berada di depan ruang rawat Daniel—menunggu dokter yang masih mengobati


luka-luka putra mereka yang cukup parah akibat keganasan Jordan.


Dengan mata basah, Rossalyn menatap tidak percaya pada Josep. “Kamu menuduhku terlibat


dengan kasus pembakan yang menimpa Jordan?”


“Aku hanya bertanya,” Josep menanggapi datar


“Setelah kejadian yang menimpah Grace bertahun-tahun lalu, sampai saat ini aku bahkan


tidak pernah lagi bertemu dengan kakakku.” tegas Rossalyn sedikit tersulut.


Puteranya mengalami luka parah, dan kini Josep seakan menuduhnya bersekongkol


dengan Richard, kakaknya—yang sampai saat ini ia tidak diketahui keberadaannya.


Sudah bertahun-tahun pria itu menjadi buruan polisi.


Josep menghela napas kasar. Ia bangkit berdiri. “Bagus kalau ini tidak ada kaitannya


denganmu. Aku hanya tidak ingin Jordan semakin menggila. Kamu tahu betul


bagaimana besarnya kebencian anak itu pada kita.”


Rossalyn menahan tangan Josep saat pria itu hendak pergi. “Kamu mau kemana? Daniel


membutuhkan kita disini,”


“Aku tidak kemana-mana. Hanya mencari angin segar disekitar sini.” Josep melepaskan


tangan Rossalyn dengan lembut. “Aku butuh sendiri. Kepalaku sangat sakit


sekarang,” tandasnya lalu meninggalkan Rossalyn yang menatap sendu


kepergiannya.


Melewati lorong-lorong Rumah sakit, Josep terus melangkahkan kakinya tanpa arah.


Pandangannya datar, namun hatinya begitu sesak. Perasaan marah, frustasi bahkan


kebencian terhadap dirinya sendiri kini semakin menggunung. Sekali lagi, ia


menyalahkan kegagalannya sebagai seorang Ayah—atau mungkin ia memang tidak


layak disebut sebagai Ayah, melainkan kotoran yang menjijikkan? seperti yang kerap


kali dikatakan oleh Jordan.


Langkah Josep terhenti di taman Rumah sakit. Ia kemudian duduk disalah satu bangku yang


ada disana. Pandangannya tertuju pada sang rembulan dengan kerlap-kerlip


bintang yang mengelilingi. Sambil menikmati semilir angin, matanya terpejam


lelah. Dan tak lama kemudian, kilasan kenangan kebersamaannya dengan sang


putera berkelebat.


Flashback On


Kedua sosok berbeda generasi itu sudah dibanjiri keringat, saling memperebutkan bola basket yang


kini dikuasai oleh Josep dan memasukkannya dengan mudah ke dalam ring.


“Wuf, sepertinya ada yang bakal kalah nih,” ledek Josep sambil melakukan drible pada bola,


sedang bocah berumur sepuluh tahun di depannya tampak terengah-engah mengatur


napas dengan wajahnya yang sudah memerah.


“Aku belum kalah, Dad!” Jordan tidak terima, mengejar bola dan saling berhadapan dengan Josep


menghalangi jalannya ke arah ring. Anaknya berapi-api sebab Josep sedari tadi


terus memanasi.


“Ayo, Son, ambil! Ambil!”


“Arghhh… daddy! Sakit!”erang Jordan  tiba-tiba terduduk


sambil memegangi lututnya.


Josep membulatkan matanya dan segera berlutut di depan sang putra yang terus meringis.


“Astaga… apa yang terjadi? Mana yang sakit?” cemas Josep, gelagapan.


“Lutut, Jo, dad. Tiba-tiba keram.” aduh Jordan merengek


“Ck, kamu sih terlalu memaksakan diri. Coba dilurusin dulu kakinya.” Josep membantu


meluruskan pelan kaki Jordan dan memijitnya dengan hati-hati.


“Shhh…Pelan-pelan, dad!”


“Iya, ini udah pelan banget, nak.” Josep bergumam, masih terus memijit kaki putranya. “Kan


daddy sudah bilang, kalau udah enggak sanggup, menyerah saja. Ujung-ujungnya


kamu sendiri kan yang kesakitan. Ck, keras kepala!”


“Aku enggak mau kalah. Nanti daddy enggak datang ke acara sekolahku!” Jordan mengerucutkan


bibirnya.


Josep mengulum senyum, “Siapa bilang daddy enggak datang?”


Jordan mengerjap-ngerjapkan matanya “Daddy beneran bisa datang? Enggak sibuk lagi? Janji??”


Josep meraih tubuh Jordan, lalu mendudukkanya di pangkuannya. “Demi kamu, daddy rela menunda


pekerjaan. Pekerjaan bisa menunggu, tapi untuk menyenangkan hati anakku yang


tampan ini tidak bisa menunggu. Besok daddy pasti datang, okay, ” Josep


mengusap gemas rambut coklat Jordan yang basah oleh keringat.


“Really? Thank you, dad!” Jordan memekik kesenangan seraya mengalungkan cepat kedua tangannya pada


leher sang Ayah—memeluknya erat.


“Anything for you, Son.” Josep balas memeluk Jordan sambil menaburkan ciuman di ubun-ubunnya.


****


Esoknya


“Sayang, aku ingin ke tempat rekreasi.” untuk yang kesekian kalinya Rossalyn merengek pada Josep


agar menuruti kemauannya.


“Maaf sayang, hari ini aku beneran enggak bisa. Besok ya?” Josep mengelus-elus rambut Rossalyn


yang duduk di pangkuannya. Tadi ia sudah bersiap-siap pergi ke sekolah Jordan,


tapi Rossalyn dengan cepat menahannya.


“Enggak! Maunya hari ini!”


“Tapi Ros—“


“Ini juga permintaan anak kamu, Josep.” Entah sejak kapan, air mata Rossalyn sudah jatuh


membasahi. Wanita itu mengusap-usap perutnya yang membuncit. “Yaudah kalau kamu


enggak mau. Aku bisa pergi sendiri!” pekiknya terisaknya karena Josep hanya


berdiam diri menatapnya. Ia bergegas turun tapi tangan Josep lebih dahulu


menahannya.


“Baiklah kita pergi. Jangan menangis lagi, okay?” Josep menyeka wajah basah Rossalyn. Ia


selalu luluh jika wanita yang dicintainya itu sudah menangis.


“Thank you, honey.” Rossalyn memekik senang sambil menciumi wajah suaminya.


Josep balas tersenyum. Namun dalam hati merasa sangat bersalah pada Jordan karena untuk


kesekian kalinya membuat anaknya itu kecewa.


Saat menunggu Rossalyn bersiap-siap, ia mengetikkan sesuatu di ponselnya—mengatakan tidak


dapat hadir dalam acara sekolah Jordan karena keperluan pekerjaan yang


mendadak. Kemudian mengirmnya ke nomor Grace—istri pertamanya.


Flashback Off


Josep membuka mata, dan bersamaan dengan itu bulir bening pun menetes deras dari


sudut matanya. Tangannya bergerak menyentuh dadanya yang kian sesak ketika


mengingat kilasan tersebut. Sorot matanya begitu sayu. Jordan putera yang


begitu ia sayangi, satu-satunya keturunan yang dia miliki dari Grace. Dan


karena keegoisannya di masa lalu, membuat putranya tumbuh dalam belenggu yang


dalam satu detik bisa membuat Jordan hancur berkeping-keping. Josep gagal.


Sangat gagal. Tidak ada harapan lagi baginya untuk memperbaiki segala kerusakan


Hanya tidak lama, darah kental pun mengalir dari kedua hidungnya yang segera diseka,


Josep kesulitan bernapas. Tubuhnya tersungkur ke tanah sambil terus mencengkram


dada kirinya yang begitu menyakitkan. Ia meringis nyeri—seluruh tubuhnya


bergetar. Sakit sekali. Sedangkan wajahnya kian memucat dengan bibir membiru.


Dan di detik selanjutnya, Josep kehilangan kesadarannya.


****


Jordan mengernyit saat serangan rasa pusing menyerangnya di detik pertama dia membuka


mata. Tangannya terangkat untuk memegang kepalanya. Setelah berhasil


mengendalikan rasa pusingnya, Jordan menatap sekelilingnya. Ini kamarnya dan


Lionara. Jordan mengangkat tangannya ke atas dan mendapati telapaknya yang


sudah dibalut oleh perban. Kemudian netranya tertuju pada tubuhnya yang


shirtless, tepat di dada juga terdapat bebat baru disana.


Ah, Jordan teringat akan pertengkarannya dengan Daniel dan Ayahnya. Kemarahannya


yang menggelegak membuat dirinya gelap mata, hingga nyaris melenyapkan Josep


detik itu juga jika saja Lionara tak cepat menahannya.


Dan perlu diketahui, pelukan Lionara adalah kelemahan Jordan. hanya sekedar dipeluk


oleh tubuh mungil istrinya, amarah Jordan langsung mereda seketika. Ah,


mengingat kesayangannya itu, tiba-tiba saja ia sudah sangat merindukannya.


Jordan hendak bangun tapi terhalang oleh sesuatu yang saat ini menempeli


tangannya yang lain.


Menoleh, sudut bibir Jordan langsung melengkung ke atas kala mendapati objek yang merangkul pergelangan tangannya tadi adalah bayi kecil kesayangannya. Hanya


berbalutkan popok, Jay tidur begitu lelap dengan posisi miring ke arahnya


disertai kedua tangan mungilnya yang menjadikan lengan Jordan bak guling yang


ia peluk dengan nyaman.



Menggemaskan sekali


Pelan, Jordan ikut memiringkan tubuh menghadap Jay—tangannya yang bebas mengusap-usap


lembut kepala Jay, membuat bayi itu semakin merekatkan pelukannya di tangan


sang Ayah. Melihat itu, Jordan tak kuasa menahan tawa kecilnya dan menaburkan


ciuman bertubi-tubi di wajah Jay.


“Good morning kesayangan daddy… I love you so much little pumpkin,”


Jordan terus menciumi gemas wajah putranya hingga bayi itu mulai terusik dan akhirnya menangis kencang. Namun bukannya menenangkan, pria itu malah semakin mengencangkan


tawanya—mengimbangi tangisan Jay. Jika ada penghargaan orang tua paling tidak


jelas, maka sudah dapat dipastikan jatuh pada Jordan.


Namun karena tidak tega mendengar tangisan Jay yang tak kunjung reda, akhirnya Ayah


paling tak jelas itu berhenti tertawa, kemudian langsung duduk dan mengangkat tubuh


Jay dengan hati-hati ke dalam rengkuhannya.


“Sshhh…ssttt… Iya, iya daddy salah. Daddy minta maaf ya,” Jordan menimang-nimang Jay “Jangan nangis lagi dong sayang. Nanti mommymu dengar loh, terus daddy lagi nanti yang di kothbahin. Hm? Udah ya tampan… Janji deh, daddy enggak nakalin kamu lagi,” lanjutnya terus membujuk si kecil.


Jordan menghela napas, merasa bersalah karena tangis bayinya tak kunjung berhenti. Kemudian tanpa sengaja telapak tangannya menyentuh paha Jay yang basah.


“Oh, jadi karena ini ya Nak? Hehe, kamu pipis yaa,” Jordan menyengir lebar tapi


semakin membuat tangis Jay kembali keras. Jordan gelagapan. Astaga, bayinya ini


sepertinya tahu saja jika dirinya sedang di ledek olehnya.


“Iya, iya, maaf Jay. It’s okay son, daddy gantiin segera,” Jordan menepuk pelan paha


Jay dengan satu tangan melepas popok dan menggantinya cepat.


“Udah daddy ganti. Sekarang diam ya, bobo lagi, hm?”


 Tak ada tanda-tanda akan diam, Jordan memilih kembali


menggendongnya. Melangkah menuju balkon dan menimang-nimang putranya disana sambil mengalunkan sebuah lagu. Membuat anak itu langsung terdiam dengan mata bulatnya yang terus memandang pada sang Ayah.


“Nakal nih, maunya di gendong dan dinyanyiin sama daddy terus,” Jordan mempermainkan bibir merah Jay. “Suka ya kamu cari perhatian sama daddy?” Jay tertawa, dan tawa itu menular pada Jordan. Pria itu mendusel-duselkan hidungnya gemas pada perut Jay, membuat tawa bayi itu kian keras.


Tak jauh dari keduanya, sejak tadi Lionara memperhatikan interaksi Ayah dan anak itu.


Maniknya menatap sendu punggung kokoh Jordan yang berdiri membelakanginya—sama sekali tidak menyadari kehadirannya karena masih terlalu asik mempermainkan


putranya. Lionara tersenyum getir, sedang air matanya meluru begitu saja tanpa


bisa di cegah. Jordan menjadi Ayah yang sangat luar biasa dalam menyayangi


anaknya. Bersama Jay, dia sangat hangat dan menganggumkan. Bernyanyi dan berceloteh tak ada habisnya sampai bayi itu kembali lagi menutup mata. Bahkan saat Jay menangis di tengah malam, Jordanlah yang lebih cepat bergerak bangun dan


menenangkan Jay.


Pria itu benar-benar mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada anaknya. Ia membuktikan ucapannya pada saat Lionara mengandung dulu, jika anak mereka tak sekalipun akan pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bersama mereka, Jay harus selalu bahagia, tak kurang satu apapun. Sebisa mungkin Jordan berjuang untuk menjadi contoh dan teladan yang baik bagi putranya, sehingga kelak anaknya itu bangga memiliki kedua orang tua seperti mereka. Jordan hanya tidak ingin


mengulang masa lalu. Ia tidak akan membiarkan kepahitan yang menimpahnya


terulang kembali pada sang putra. Jordan bersumpah itu tidak akan pernah


terjadi. Cukup hanya dirinya.


Pikiran Lionara melayang pada kejadian kemarin malam, dimana Jordan kembali menggila. Seperti


dirasuki iblis, suaminya itu membantai Daniel dan mertuanya—bahkan nyaris


menghilangkan nyawa ayah kandungnya sendiri. Takut? Tentu saja ia sangat


ketakutan melihat sosok Jordan yang berubah bak monster tersebut. Lionara


bahkan ingin menghilang saja saat itu. Tak sanggup melihat banyaknya darah yang


tertumpah akibat kebengisan dari suaminya sendiri.


Bahkan setelah ia berhasil membawa Jordan keluar dari sana, sorot lelaki itu masih saja tetap kosong. Lionara mengarahkan pada sopir agar membawa mereka ke Rumah


sakit untuk mengobati luka disekujur tubuh Jordan, tapi lelaki itu menentang


keras. Ia berteriak tidak mau di bawa kesana. Alhasil, dokterlah yang datang ke


rumah dengan segala peralatan medisnya untuk mengobati dan membebat seluruh


luka Jordan. Jordan diobati di bawah pengaruh obat bius agar memudahkan dokter untuk melakukan pengecekan yang lebih detail.


Lionara juga memanggil dokter psikiater pribadi yang selama ini memantau kondisi Jordan ke rumah. Dan masih segar diingatannya seluruh perkataan dokter itu, yang begitu menohok hatinya.


Dokter Lilo menghela napas berat. “Aku terpaksa harus menambah dosis obat Jordan. Emosinya semakin


tak terkendali jika berhadapan dengan pemicu kegilaannya. Dan kalau terus saja


seperti ini, hanya tinggal menunggu waktu sebelum Jordan tumbang. Suatu hari


Jordan tidak bisa lagi mengendalikan diri. Dia akan kesulitan mengenali dirinya


yang asli.”


Lionara membeku.


Lilo menatap teduh pada istri sahabatnya itu. Ia tahu wanita itu pasti hancur


mengetahui kabar tak terduga ini. Bahkan untuk seorang dokter hebat sepertinya


yang sudah menyembuhkan banyak pasien, nyaris menyerah. Jordan terlalu sulit di


kendalikan, sahabatnya terlalu merasa sempurna sampai kecacatannya pun seolah


hanya dia yang sanggup merasakan. Jordan masih belum bisa membuka diri.


“Tapi beruntung, satu-satunya


orang yang membuat Jordan masih bisa mengembalikan kewarasannya adalah kamu.


Kudengar ditengah kegilaannya, Jordan hanya akan mendengarkan ucapanmu. Dan sepertinya


kehadiranmu dan Jay akan sangat membantu proses penyembuhan Jordan. Hanya,


jangan pernah sekalipun meninggalkannya.”


 To be continued


Gak lama lagi cerita ini End yahh..


Entah itu berakhir bahagia atau sebaliknya... yahhh tungguin ajahh 😉


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yahh...


See youu