JORDAN

JORDAN
Chapter 53



Hening.


Dalam rentang waktu beberapa menit ruangan itu hanya diisi oleh isakan lirih Lionara dan bibir Jordan yang masih terus meracaukan kata Api.Mom.Terbakar.


Lionara masih setia memeluk erat tubuh bergetar suaminya seraya terus membisikkan kalimat menenangkan. Lionara menahan napas, Jordan terus meronta lalu mendadak diam. Dada Lionara di penuhi rasa sesak serta kebingungan bagaimana mengembalikan kewarasan Jordan, ditambah lagi darah yang tidak mau berhenti keluar dari tubuhnya—Jordan seakan tidak merasakan kesakitan fisik apapun selain batinnya.


Di lain sisi, Richard menutup matanya, menikmati setiap jeritan Jordan di


telinganya layaknya alunan musik yang amat merdu. Tidak ada yang tahu jika


semua jeritan itu terasa sedikit kurang ditelinga Richard dibanding jeritan ibu


dari lelaki itu ketika menjerit kesakitan di bawahnya—sembilan belas tahun lalu.


“Cukup!” Richard membuka matanya sambil menyeringai lebar. “Pisahkan mereka berdua, dan borgol pria gila itu. Aku masih harus memperlihatkan satu pertunjukan lagi padanya.” perkataan Richard membuat Lionara seketika panik. Ia semakin mengencangkan dekapannya saat para anak buah Richard memisahkan mereka dengan paksa.


“Bedebah kau Richard!!!” jerit Lionara saat kekuatannya tak seimbang melawan para pria itu. Jordan telah dipisahkan darinya serta kaki dan tangan pria itu langsung di


borgol.


Richard tertawa puas seraya beranjak dari posisinya, kemudian berjongkok di depan


Jordan yang masih meracau dengan sorot kosong. Tangannya terangkat menjambak


kasar rambut Jordan hingga mendongak ke arahnya.


Richard tersenyum miring “Nikmatilah, ini permainan terakhir. Tepat seperti traumamu 19 tahun lalu, aku pun ingin kau menyaksikan sekali lagi tubuh wanita kesayanganmu dijamah olehku… kemudian oleh mereka.” tunjuknya pada anak-anak buahnya yang turut tersenyum culas.


Jordan bergeming. Mulutnya seketika berhenti meracau. Kelereng matanya bergulir menatap tak terbaca Richard—membuat pria parubaya itu semakin melebarkan senyumnya.


“Ya seperti itu,” Richard menepuk-nepuk pipi Jordan “Pastikan matamu ini terus


terbuka sampai aku selesai,” lanjutnya dengan tawa keras, kemudian berbalik


menuju Lionara yang kini sudah dipegangi oleh kedua anak buahnya yang lain.


“Aku tarik kata-kataku kembali. Di lihat dari jarak sedekat ini ternyata kau sangat


cantik. Tidak heran kedua pria bodoh itu menggilaimu,” Richard mengelus wajah


Lionara dengan gerakan seringan bulu, tapi wanita itu meludahi wajahnya.


“Iblis! Manusia terkutuk!!” Lionara menatap jijik


Richard mencekik leher Lionara kuat. “Baiklah, sepertinya kau sudah tidak sabar lagi untuk kusetubuhi, eh?”


Lionara meludahi Richard lagi. “Kau sepatutnya membusuk di neraka! Sampah sepertimu tidak seharusnya hidup di dunia ini!!”


“Jalang sialan!” Richard menampar keras wajah Lionara hingga mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya. “Pegangi dia!” lanjutnya mendesis berbahaya sambil membuka ikat pinggangnya.


****


Sesak.


Sesak.


Sesak sekali.


Ini terlalu sesak.


Salahnya. Salahnya. Salahnya. Salahnya. Salahnya. Salahnya. Salahnya. Salahnya.


Grace mati karena kesalahannya. Kalau saja ia tidak menjadi alasan Grace berkorban


begitu banyak, harusnya mommynya masih baik-baik saja.


“Mommy, sayang Jo. Kamu hidup Mommy.”


“Kamu harus tumbuh menjadi anak yang hebat.”


“Mommy akan selalu melindungi Jo.”


“Jangan takut pada apapun. Ada Mommy disini.”


“Semua akan baik-baik saja.”


Kemudian


“Jordan, mommy perintahkan tutup matamu!!”


“Lari, Jo!! Lari sejauh mungkin!!!”


“Selamatkan dirimu!!”


“Kamu harus hidup, Nak!”


Dan sekarang giliran istri kesayanganya…


“RICHARDDDD!!!” teriak Jordan histeris. Suaranya bergetar dan bergema. Teriakan kesakitan, kesedihan, dan putus asa itu begitu merobek telinga siapapun yang mendengarnya.


Dia terus memberontak dari belenggu borgol yang mengukungnya. Tapi borgol itu tak


kunjung lepas. Jordan menatap bengis orang-orang itu dengan ekspresi gelap


menyeramkan.


Akan kubunuh. Akan kubunuh. Akan kubunuh. Akan kubunuh.


PRANK!!


Tiba-tiba salah satu jendela pecah. Richard menghentikan kegiatannya yang merobek kasar pakaian Lionara.


DOR!


“Argghhh!!! ****!!” tubuh Richard terjatuh saat sebuah peluru menancap di betisnya. “APA YANG TERJADI?!”


Tiba-tiba seseorang meluncur masuk menggunakan sebuah tali sambil menembaki anak buah Richard satu persatu menggunakan satu tangannya. Kemudian pria itu berhasil berdiri tegak dengan satu kaki menginjak batang leher Richard tanpa belas kasih.


“Hai, long time no see Richard. Miss me?” sapa pria itu, menyeringai kejam sambil menurunkan tatapannya pada Richard yang


meronta—berusaha melepaskan injakan kaki adik iparnya dari lehernya.


Ya, pria yang baru saja menerobos masuk menggunakan tali, dan berhasil menembak


para anak buah Richard adalah Josep Christoper. Pria yang sudah


berminggu-minggu ini terbaring koma di Rumah sakit, kini telah sadar dan


berdiri angkuh dengan satu kaki menekan leher Richard. Tubuh Josep sebenarnya masih sangat lemah dan butuh perawatan


intensif, namun saat mengetahui putranya dalam keadaan bahaya, ia memaksakan


diri datang ke tempat yang telah lama dikutuknya ini.


Di alam bawah sadarnya, Josep terus dihinggapi oleh mimpi mengerikan mengenai Jordan. di mimpi itu putranya menjerit, menangis dan sangat ketakutan—sisi yang tidak pernah Jordan tunjukkan pada siapapun. Putranya terkurung dalam sebuah ruangan gelap dengan tangan dan kakinya yang  terpasung serta lehernya dipasangkan kalung besi bergembok. Tubuhnya di penuhi darah dan luka-luka bekas cambuk mengerikan—Jordan


terus berteriak histeris, meronta-ronta dari belenggu yang membelitnya.


Menyaksikan itu hati Josep hancur, jantungnya seperti ditarik paksa dari tempatnya. Dengan tubuh gemetar Josep mencoba mendobrak-dobrak pintu besi di depannya bak kesetanan, napasnya mulai tak teratur, air matanya mengalir deras—Josep mengumpat kasar, berteriak putus asa berharap ada yang mendengar dan menolongnya untuk mengeluarkan putra kesayangannya dari dalam sana. Bahkan berulangkali pun dirinya membanting tubuh ke pintu, tetap tak membuahkan hasil.


Sampai kemudian netra basahnya bertemu dengan manik kesakitan Jordan, dan telinganya dengan jelas dapat mendengar bisikan lemah putranya. “Daddy…”


Dan Josep pun terbangun dari tidur panjangnya.


Josep menolehkan kepalanya ke arah Jordan. Di detik matanya bersibobrok dengan iris kosong dan keadaan babak belur putranya, darah Josep seketika mendidih. Keadaan mengenaskan Jordan saat ini sama persis seperti yang ada dalam mimpinya—membuat hatinya kian sakit.


Josep murka. Pijakan kakinya di leher Richard semakin keras, membuat pria dibawahnya menjerit kesakitan.


“Kau melukainya?” bibir Josep nyaris tidak bergerak saat menanyakannya. Raut


wajahnya seutuhnya telah menggelap bak iblis.


Ditengah rintihannya, Richard masih saja bisa tersenyum culas. “Ya. Bahkan aku sudah membuat otaknya yang gila semakin rusak saat kuperlihatkan video pemerkosaan mommy-nya.” sekalipun kepayahan, Richard masih terus memprovokasi Josep.


Deg!


Jantung Josep bereaksi tak terkendali. Rasa sakit luar biasa itu kembali meremas kuat


jantungnya yang lemah. Ia bahkan mulai kesulitan bernapas begitu diteringati


Ya, ia telah mengetahui kepingan tragedi penculikan di masa lalu yang telah ia


lewatkan selama ini. Malam itu, ketika penyakit jantung Josep kumat, beberapa


jam kemudian ia sempat sadarkan diri. dan saat itulah Rossalyn menceritakan


bagian yang selama ini tidak diketahui olehnya. Rossalyn telah mengakui hal yang


selama ini telah disembunyikannya—jika kakaknya adalah satu-satunya penjahat sebenarnya yang telah mengatur penculikan Grace dan Jordan.  Richard telah lama begitu terobsesi pada Grace


sampai tega melakukan hal sekotor itu. Rossalyn juga menunjukkan bukti video


kebejatan kakaknya.


Kemudian di detik Josep selesai melihat rekaman itu, tubuhnya langsung kejang-kejang. Jantungnya


bereaksi hebat dengan sakit yang luar biasa menusuk. Josep menatap Rossalyn


dengan sorot yang begitu terluka. Kepercayaannya telah dihianati. Dan setelahnya, tubuh Josep pun jatuh tak sadarkan diri. Dia koma.


Menyadari Josep kehilangan fokus, Richard langsung tidak menyia-yiakan kesempatan itu. Ia menangkap kaki Josep kemudian melemparnya hingga dia terjatuh. Richard


menendang pistol di tangan Josep sampai terbuang jauh. Josep menangkap kaki


Richard yang akan menendangnya lagi. Richard berteriak kesakitan ketika Josep


menyikut betisnya sampai terdengar suara tulang retak. Richard terjatuh


memegangi kakinya yang bisa Josep pastikan patah. Josep bangun, berjongkok di


depan Richard. Meraih kedua telapak tangan Richard, melengkungkannya sekuat


tenaga, mengabaikan erang kesakitan pria paruh baya itu.


“Selama ini kau telah berhasil memanipulasiku, membuat anak dan istriku menjadi korban kebiadapanmu!” suara Josep begitu parau diiringi dadanya yang kian sesak saat mengingat semua kebodohan yang selama ini telah dilakukannya. Hanya karena


cinta yang begitu besar pada Rossalyn, ia sampai melonggarkan penjagaannya


terhadap anak dan istrinya. Bahkan rasa penyesalan dan permintaan maafnya,


tidak akan mengubah apapun. Tidak bisa mengembalikan mereka ke masa lampau


untuk memperbaiki kesalahan fatalnya yang terlanjur terjadi.


“Maka sekarang… MATI DAN MEMBUSUKLAH DI NERAKA


SIALAN!!!” raung Josep menembak tubuh Richard tak terkendali. Seluruh kemurkaan


untuk membalaskan kesakitan Grace dan Jordan meluap-luap di tubuhnya hingga


Josep terus menembak seperti kesetanan.


Tak di pedulikannya tubuh Richard yang dibanjiri oleh darah setelah rentetan peluru


bersarang di tubuhnya. Suara tembakan itu tetap tak berhenti, terus menggila


memenuhi ruangan dan tak satu pun yang berani menghentikan Josep yang seperti


dirasuki raja iblis.


Hanya tak lama kemudian, suara tembakan itu akhirnya berhenti. Tubuh Josep merosot ke lantai akibat tenaganya yang telah terkuras banyak. Dengan napas tak beraturan, tangan kanan Josep meremas kuat dadanya yang teramat menyakitkan. Wajah josep semakin pucat bak mayat hidup, dan bibirnya yang bergetar mulai membiru. Josep kumat.


Lionara yang sejak tadi hanya terdiam syok, menyaksikan pertumpahan darah yang


mengerikan—kembali tersadar, kemudian merangkak mendekati ayah mertuanya yang


sudah meringkuk seperti janin sembari terus mengerang kesakitan.


“Dad—daddy…” Lionara tercekat—tenggorokannya begitu sakit karena terus berteriak. “Bertahanlah. Saya


akan membawa anda kembali ke ru—“


Josep menangkap jemari Lionara, “Jo—Jordan… putraku…” Josep kepayahan, memotong ucapan Lionara. Matanya sedikit menoleh pada Jordan yang masih terdiam di


tempat menatap ke arahnya dengan sorot kosong.


Lionara mengikuti arah pandang Josep, dan dia langsung mengerti maksud pria paruh baya itu. Lionara hendak menghampiri Jordan sebelum suara seseorang menghentikannya.


“Biar aku saja. Dia masih terikat.”


Itu suara Evan yang baru saja muncul bersama Aldrich dan Daniel yang menyusul di belakangnya. Mereka baru saja selesai menghabisi seluruh anak buah Richard yang


berjaga di depan.


“Jo, renggangkan kakimu.” perintah Evan pada Jordan, tapi pria itu malah


bergeming—membuat Evan berdecak karenanya.


Sadar sahabatnya masih sibuk dengan dunianya, Evan membidikkan pistolnya pada rantai yang menjadi pembatas borgol Jordan dan menembaknya sampai putus. Kemudian giliran Aldrich yang berjalan ke belakang Jordan dan berjongkok di depan


tangannya yang terborgol. Aldrich mengeluarkan laser bolpoinnya, lalu


mengarahkan lasernya pada rantai borgol. Rantai terputus. Ia meringis melihat


sekeliling pergelangan tangan Jordan yang terluka cukup parah.


 “J-Jordan… a-anakku…” tersendat-sendat, Josep mengulurkan tangan lemahnya—memanggil Jordan yang masih bergeming di tempatnya bak manekin


dengan bibirnya yang terkatup rapat. Tapi tatapan kosongnya masih terus tertuju


pada Josep yang semakin kesulitan bernapas.


“Ma-maafkan da-ddy… Ma..aaf..” kata Josep meneteskan air mata, sebelum kemudian tangannya yang tak bersambut akhirnya jatuh terhempas. Josep menutup matanya.


“Daddy!!”


“Om!!”


Semua orang disana berteriak histeris memanggil Josep, tapi pria parubaya itu tak


lagi membuka matanya. Daniel dengan cepat memangku kepala Ayahnya dengan


ketakutann yang luar biasa. Tangannya bergetar menepuk-nepuk wajah pucat pasi


Josep.


“Da-daddy, kau harus bertahan. Jangan… jangan tinggalkan kami seperti ini. Daddy bilang tidak akan pergi sebelum mendapatkan maaf dari Jordan,” Daniel terisak hebat sambil terus menggoyang-goyang tubuh Josep “Ayo, buka lagi matamu, dad…”


“Niel, kita harus membawa Om Josep ke Rumah sakit terdekat. Sebelum semuanya terlambat!” Aldrich menginstruksi, tak kalah panik.


Dan akhirnya ketiga pria itu membopong tubuh Josep keluar dari bangunan, menyisakan Jordan yang masih diam ditempat seperti tak beraga, bersama Lionara yang menatapnya dengan sorot sayu.


Merangkak, Lionara menghampiri Jordan. Ia mengenggam erat jemari Jordan yang masih belum bereaksi. Lionara menelan ludah pahit ketika melihat dari jarak sedekat ini luka mengerikan di sekujur tubuh Jordan. Darahnya bahkan hampir mengering, tapi


raut Jordan masih tertata datar—tidak menunjukkan raut kesakitan sama sekali.


Lionara menangkup pelan wajah Jordan, membuat pandangan pria itu tertuju padanya. Dan lagi-lagi


tatapan pria itu masih saja hampa. Lionara mengigit pipi bagian dalamnya,


berusaha tidak menjerit. Ia tidak kuasa lagi menahan sakit. Dia terus


menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya Jordan tidak datang menyelamatkannya,


pastilah Jordan tidak akan menjadi seperti ini.


Lionara menyatukan kening mereka, Air matanya kembali jatuh, ia melirih. “Semua sudah selesai. Kembalilah, daddy…”


Menyakitkan. Menyakitkan. Ini terlalu menyakitkan. Kenapa semua kesakitan itu terlalu bertubi-tubi menerjang mereka? Kenapa mereka tidak diberikan ruang dan jarak untuk beristirahat barang sejenak saja?


“Daddy… aku mohon” Lionara berkata di sela-sela tangisnya. Berharap suaminya memberikan respon walau hanya sekedar lirikan mata. “Aku mohon…”


**To be continued


IG: @rianitasitumorangg**