
3 tahun kemudian
“Daddy, bangun.” Lionara mengusap rambut Jordan sambil menguap lalu menutupnya dengan tangan kiri.
“Eungh,” Jordan mengerjapkan matanya sembari menggerakkan tangannya untuk meraih tangan
Lionara yang masih bertengger di kepalanya. Lalu Jordan membawa tangan itu ke
bibirnya, ia mengecupnya lembut.
Lionara lebih dulu mendaratkan kakinya ke atas ubin yang dingin lalu melangkah ke box
bayi yang letaknya tak jauh dari ranjang mereka. Senyuman simpul terpatri di
wajah cantik wanita itu ketika melihat putrinya yang sudah berusia 5 bulan
tampak telungkup dengan mainan yang di genggam oleh kedua tangan mungilnya.
Jordan pun ikut turun dari ranjang lalu berjalan menuju pintu penghubung kamarnya
dengan kamar si sulung. Tangannya baru saja hendak bergerak untuk meraih gagang
pintu,
CKLEK!
DUG!
“Ssshhh!” Jordan spontan memegang jidatnya yang baru saja bertubrukan cukup keras dengan pintu.
Semua terjadi begitu cepat. Pintu tiba-tiba terbuka dan di dorong dengan kuat dari
sisi lain. Insiden itu ternyata tidak hanya menimbulkan efek perih pada dahi
Jordan, tapi juga pening.
Lionara yang berdiri tak jauh dari Jordan lantas mendekati Jordan lalu mengusap bahu pria itu, dibalas dengan pelukan Jordan yang tiba-tiba pada Lionara. Jordan
menyusupkan wajahnya ke leher Lionara. Tatapan Lionara beralih pada sosok Jay
yang berdiri dengan wajah kahwatir di hadapan Jordan.
“Sugar, say sorry to daddy.” Suruh
Lionara dengan nada lembut.
“Daddy, I’m sorry.” cicit Jay pelan dengan wajah yang masih kahwatir
Jordan melepas pelukannya pada Lionara dan berbalik menghadap Jay.
“It’s okay boy. Lain kali pelan-pelan ya,” balas Jordan berusaha menahan sumpah
serapah yang berada di dalam benaknya agar tidak keluar melalui bibirnya.
“Tapi dahi daddy masih merah. Pasti sakit.”
“Ya masa hijau? Ingusan dong.”
Lionara menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban absurd dari suaminya itu. Lionara pun kembali pada si bungsu Sky. Sedangkan Jordan melanjutkan
langkahnya menuju kamar si sulung yang sempat tertunda setelah mengusap kepala
Jay lebih dulu.
Jay mengikuti Jordan yang masuk ke kamarnya. “Daddy marah ya sama J? Kok kepala J cuma diusap? Ciumnya mana?”
“Hari ini libur dulu.” jawab Jordan singkat sambil mulai memasukkan peralatan
sekolah Jay ke dalam tas. Sejak seminggu lalu, bocah 4 tahun itu sudah mulai
belajar di kindergarten. Dan ini merupakan rutinitas Jordan di pagi hari, yaitu
membantu anak sulungnya itu untuk bersiap-siap.
“Kenapa?” Jay masih ingin tahu
“Karena J nakal.”
“Kan J nggak sengaja.”
“Kan bisa pelan-pelan.”
“Tadi J pelan kok dorongnya.” Suara Jay mulai bergetar.
Sedikit lagi. Batin Jordan sambil terkekeh
melirik mata Jay yang mulai berlinang. Jordan menyelesaikan aktivitas
menyusunnya, lalu duduk di tepi ranjang.
“Kalau tadi J pelan-pelan, pasti pintunya gak bakal kejedot sama dahi daddy.”
“J kan nggak sengaja. J minta maaf,” Jay menangis sambil mendekati Jordan. Jay
menaiki Jordan lalu mengusap dahi Jordan yang masih memerah. “Jangan sakit…
Hiks… Hiks…”
Jordan hanya diam menatap putranya.
“Daddy ayo ke rumah sakit! Hiks…”
“Ngapain ke rumah sakit?”
“Biar Om dokter pindahin sakit daddy sama J. Biar J aja yang sakit. Hiks…”
Oh lihatlah ketulusan hati dari mahluk yang belum berdosa ini. Disaat daddynya
sedang mati-matian untuk membuatnya menangis, ia datang dengan tulus menawarkan
diri untuk menggantikan rasa sakit itu.
Jordan lantas tersentuh mendengar penuturan putra sulungnya yang tersendat-sendat.
Sambil tersenyum, Jordan pun membawa bocah kecil yang masih terisak itu ke
dalam pelukannya.
Jordan mengecup pelipis Jay. “Udah jangan nangis lagi ya. Ini dahi daddy udah sembuh
setelah cium J. Thank you my little J,”
Jordan yang sedang sibuk menggoyang-goyangkan Jay dalam gendongannya, tiba-tiba pria
beranak dua itu merasa mulas pada perutnya.
Tak tahan, Jordan segera bangkit dari ranjang Jay dengan si sulung yang berada
dalam gendongannya. Jordan lantas menjumpai Lionara yang masih berada di kamar mereka sedang menyusui Sky.
“J sama mommy dulu, ya!”
Jordan menurunkan Jay ke atas ranjang masih dengan sedikit terburu-buru. Lalu ia melangkah dengan tergesa menuju kamar
mandi.
Baru saja Jordan hendak membuka celananya, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Menampilkan wajah Jay yang masih terlihat sembab. Bocah kecil itu pun masuk ke
dalam kamar mandi lalu menutup pintu dengan wajah polosnya. Jordan melongoh.
“J, ngapain masuk?” tanya Jordan sambil memegangi perutnya.
“Temanin daddy.” Jawab Jay masih dengan wajah polosnya.
“Daddy berani kok sendirian disini. Gak apa-apa. J keluar aja, ya?”
“Tapi daddy masih sakit.”
“Daddy udah sehat kok!” Jordan menggerak-gerakkan bagian tubuhnya ke segala arah
sambil menahan napas agar sesuatu yang di bawah sana tidak keluar.
“Nggak. Daddy masih sakit. Tuh muka daddy aja udah merah!”
Ini merah karena nahan berak anakku sayang. Jordan membatin geram sambil menghela napasnya.
“Kalau J keluar, nanti daddy beliin es krim lagi deh,”
“No, J gak butuh es krim kalau daddy sakit.” ucap Jay tegas.
Holy Crap!
“Keluar bentar aja kenapa sih, nak? Daddy berani kok sendirian disini!” wajah Jordan
semakin memerah kala perutnya semakin mulas.
“No daddy!”
“MOMMY!!” menyerah, Jordan memangil Lionara dengan sedikit kesal.
Hingga tak berapa lama pintu kamar mandi kembali terbuka.
“Sugar, dicariin Sky itu. Ayo!” seolah Lionara sedang menghipnotis Jay. Si sulung
Christoper langsung menurut mengikuti langkah Lionara yang menarik tangannya
lembut.
Tak seperti Jordan yang sudah hampir kecipirit demi membujuk Jay keluar.
Sekarang Jordan dapat bernapas lega. Setelah tekanan raga dan batin beberapa detik lalu akhirnya ia dapat menyelesaikan urusannya dengan alam.
****
03.00
Masih ada waktu dua jam lagi untuk melanjutkan tidurnya.
Lionara yang semula tidur menghadap Jordan, membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu.
Tak berapa lama tubuh itu menghadap langit-langit kamar, lalu kembali menghadap
Jordan.
Lionara duduk di atas ranjang lalu menghela napasnya. Ia tidak bisa tidur. Dengan
pelan, Lionara bergerak menuruni ranjang agar tidak membangunkan Jordan yang
tampaknya masih tertidur pulas. Ibu dari dua anak itu mendekati baby box untuk
memastikan si bungsu masih tertidur dengan nyaman. Setelahnya Lionara berjalan
ke arah pintu kamar si sulung yang terhubung dengan kamar mereka. Lionara juga melakukan hal yang sama pada Jay. Mereka semua masih terlelap dengan pulas.
Lionara memutuskan untuk menonton saja sambil menunggu pagi. Lionara keluar dari kamar si sulung lalu berjalan menuju dapur terlebih dahulu untuk menyuduh cokelat
hangat yang akan menemaninya.
Ketika sedang menuangkan susu ke dalam gelas, Lionara terkejut ketika merasakan
sesuatu yang hangat menempel di punggungnya lalu sepasang lengan kokoh yang memeluknya.
“Aku juga gak bisa tidur. Hoams…” pria pemilik suara itu menumpukan dagunya pada bahu Lionara.
Lionara terkekeh mendengar suara berat itu lalu menolehkan kepalanya ke belakang. Ia
dapat melihat Jordan yang sedang terpejam. “Katanya gak bisa tidur.”
“Aku gak tidur.” Jawab Jordan masih dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.
Lionara tidak akan membalas ucapan suaminya itu, karena nanti bisa jadi perdebatan
bodoh yang tak ada ujungnya. Lionara berjalan menuju meja pantry untuk
mengambil toples berisi cookies. Tentunya masih dengan pelukan Jordan yang
matanya sedang terpejam.
“Dad, kamu kalau mau tidur ke kamar aja.” Ucap Lionara ketika mereka sedang berjalan
menuju ruang keluarga.
“Eunghh, uda dibilangin aku gak bisa tidur.” Jordan menggerakkan kepalanya untuk mencari posisi yang lebih nyaman pada ceruk leher istrinya. “Kamu pakai ekstasi, ya?”
Plak!
Lionara memukul lengan Jordan yang melingkar di perutnya. “Sembarangan!”
“Habisnya sampai terbang gini hirup aroma kamu.” Jordan tersenyum di sela-sela ucapannya. “Sayang, masih napak gak?”
“Hah?”
“Kali aja kamu terbang karena aku kira kamu pake ekstasi.”
Lionara tidak membalas lagi. Ia hanya geleng-geleng kepala geli dengan kelakuan
suaminya.
“Mommy, nontonnya sambil rebahan aja.” tanpa menunggu jawaban istrinya, Jordan sudah lebih dulu membawa tubuh mereka berbaring di sofa yang berukuran lumayan besar itu. Jordan langsung membelit tubuh Lionara bak ular piton memerangkap
mangsanya
“Jo, peluknya yang biasa aja sih. Sesak ini,” gerutu Lionara
“Enggak bisa. Lebih enak gini loh, mommy. Hangat.” Jordan mendusel-duselkan hidungnya di ceruk leher Lionara.
Wanita itu hanya bisa pasrah. Mode manja bayi tua itu lagi kumat. Lionara mulai
memfokuskan pandangannya pada tayangan drama di depannya sembari mengusap-usap tangan Jordan yang melingkari perutnya. Hingga beberapa menit kemudian, napas teratur suaminya Lionara rasakan—menyadari Jordan sudah kembali tertidur, Lionara menoleh dan tersenyum geli memandangi wajah rupawan yang sudah terbang ke alam mimpi itu.
“Dasar. Katanya gak ngantuk.” gumamnya seraya mengecup bibir Jordan yang sedikit
terbuka. “Sleep tight, daddy.” Kemudian kembali menonton televise itu.
****
“Kalau yang warna biru ini apa, Dad?” tanya Jay seraya menunjuk map warna biru yang
anak itu ambil dari meja kerja ayahnya. Jordan mengalihkan tatapannya dari
Macbook-nya setelah mendengar pertanyaan dari putranya.
“Itu dokumen penting.” Sahut Jordan sekenanya karena jujur saja pria itu sudah cukup jengkel dengan si sulung yang sangat cerewet. Keingintahuan tinggi yang Jay
miliki membuat anak itu terus melontarkan pertanyaan tentang benda yang
tertangkap netranya. Jordan tidak menghitung sudah berapa kali Jay bertanya
padanya. Yang pasti lebih dari belasan kali. Memang sebanyak itu dan dinilai
menyebalkan karena semua pertanyaan Jay tidak berbobot. Pekerjaan Jordan berapa
kali harus tertunda karena pertanyaan unfaedah itu.
“Seberapa penting, Dad? Penting aja atau penting banget?”
Jordan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Dalam hati ia sudah mendoakan
Jay. Semuanya tentang kebaikan. Ya, semenjak Jay fasi berbicara, Jordan lebih
banyak mengucapkan kata mutiara. Berbeda dengan Jordan dulu yang lebih banyak menghujat. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menghujat kloning hasil cetakannya bersama Lionara.
“Pokoknya penting. Jangan dibuat jadi mainan, kembaliin ke tempatnya,” pinta Jordan menatap Jay yang tengah duduk di kursi kebesarannya sembari mengacau disana. Bukan Jay namanya jika tidak mengacau. Lihat saja meja kerja Jordan sekarang jauh dari kata rapi.
“Iya, iya” sahut Jay lalu meletakkan kembali map biru yang ada di tangannya ke meja.
Punggung kecilnya bersandar di kursi kebesaran ayahnya dengan tatapan yang tak
lepas dari ayahnya yang kembali bekerja. Jay tidak tahu dan tidak ingin tahu
dengan kesibukan apa yang ayahnya kerjakan.
Bosan karena diam saja, Jay pun membongkar isi tas punggungnya. Robot mainannya di
tata di meja. Melihat dot susunya, Jay jadi ingin mengedot. Ya, anak itu masih
suka mengedot dan tiap berpergian selalu membawa benda itu.
“Dad, mau susu.” Ujar Jay seraya mengangkat dot kosongnya.
Membuka kancing lengan kemeja panjangnya, Jordan mengangguk. Lengan kemejanya ia gulung sampai siku sebelum akhirnya meninggalkan sofa. Pria itu menghampiri Jay. Persoalan membuat susu, Jordan sudah paham dengan takarannya. Terbiasa disuruh membuatkan, membuatnya jadi bisa.
“Dihabiskan,” ujar Jordan seraya memberikan dot yang sudah ia isi. Jay menerimanya dan
langsung mengedot. Disaat Jay sibuk mengedot, ada Jordan yang sibuk mengusap puncak kepala Jay dengan penuh kasih sayang dan sesekali meninggalkan kecupan disana. Sulungnya ini, sejak lahir sampai sekarang selalu ingin berdekatan
dengannya disetiap ada kesempatan. Bahkan saat pulang sekolah tadi, Jay memaksa sopir untuk mengantarkannya ke kantor sang ayah, bukan ke rumah.
“Masuk!” ujar Jordan sesaat setelah pintu ruangannya di ketuk dari luar.
Pintu terbuka dan muncullah sosok Sam. “Maaf mengganggu waktunya, tuan. Ruangan meeting sudah siap dan tuan sudah ditunggu.”
“Hm. Nanti saya menyusul.”
“Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi,”
Sepeninggal sekretarisnya Jordan langsung merapikan meja kerjanya. Jasnya yang tersampir di sandaran kursi langsung ia kenakan.
“Daddy ada meeting. Kamu disini aja atau ikut daddy?”
“Meeting itu apa, Dad? Sejenis makanan enak?” tanya Jay dengan wajah polosnya.
Astaga! Jordan sangat gemas dengan kepolosan putranya.
“Bukan sugar. Pokoknya itu berkaitan dengan pekerjaan daddy. Jadi, kamu mau disini atau—“
“Ikut!” Jay meneyela cepat. Ia sudah berdiri dan mengulurkan tangannya meminta
digendong. Dengan senang hati, Jordan menggendong Jay yang sibuk dengan dotnya. Anak itu menunjuk robotnya yang ada di meja sebagai isyarat pada ayahnya untuk turut membawa robot itu.
Jordan pun meraih dua robot milik Jay dan melenggang menuju ruang meeting yang ada di lantai 12. Semua yang ada di ruangan sudah tak asing lagi dengan pemandangan
pemimpin mereka yang masuk begitu kerepotan karena harus menggendong putranya dan membawa dua robot yang ukurannya cukup besar. Sulung Christoper itu sudah sering
berkeliaran di perusahaan ini. Bocah tampan itu seperti ekor bos mereka, yang
terus menempeli sang ayah kemana pun. Dan pihak yang ditempeli pun tampak
senang-senang saja.
“Daddy mau kerja, J duduk yang tenang ya? Anak daddy nggak boleh nakal.”
“Emang kenapa kalau nakal? Kata daddy nakal itu wajar, namanya juga anak-anak. J kan masih anak-anak. Gimana sih daddy?” sahut Jay begitu melepaskan dotnya.
Senjata makan tuan. Jordan tidak menyangka Jay akan mengembalikan ucapannya. Semua orang disana sontak mengulum senyum geli akan tingkah menggemaskan bocah itu.
“Iya, nakal boleh, tapi nggak boleh keseringan. Pokoknya selama daddy kerja, J nggak boleh nakal. Harus tenang. Kalau J patuh, weekend nanti daddy ajak kamu, Sky
dan mommy main ke pantai.”
Mendengar kata pantai, kedua manik biru bocah itu seketika berbinar cerah.
“Promise?” Jay mengacungkan kelingkingnya ke depan wajah Jordan
Jordan terkekeh. “Sure.” Sahutnya seraya mengaitkan kelingking mereka.
IG:@rianitasitumorangg