
Love yahhh ^^
.
.
“Apa
tidak ada jalan lain selain jalur ini, Sam?” dengus Jordan sambil memandang
kesal keluar jendela, dimana mobil mereka kini terjebak macet panjang sejak dua
jam lalu akibat adanya kecelakaan lalu lintas antara mobil dan bis, sehingga
pihak petugas masih sibuk mengevakuasi para korban dan terpaksa membuat proses
alur berkendara menjadi sangat lambat.
“Maaf
Tuan. Tapi tidak ada,” sahut Sam dari balik kemudi
“Kalau
begini terus kapan sampainya? Istriku pasti sudah bosan menungguku disana.”
Jordan berdecak, melepaskan dengan kasar dasi yang sejak tadi melekat di
lehernya. “Bisa-bisa gagal semua kejutan yang kubuat dengan Leon. Arrghh!!”
“Tuan—“
Ucapan
Sam terpotong saat ponsel di sakunya berdering.
“Siapa?”
tanya Jordan saat Sam hanya menatap layar ponselnya lalu kepada sang bos.
“Nona,
Tuan.”
“Angkat.”
Jordan menegapkan tubuh.
“Halo,”
“…”
“Oh,
Tuan sed— hallo… Nona, hallo…”
Sam
terus memanggil namun tak ada jawaban dan panggilan itu tiba-tiba saja
terputus.
“Ada
apa?” sela Jordan
“Tidak
tahu, Tuan. Tiba-tiba saja Nona memutus teleponnya.”
“Ck,
pasti dia sudah marah karena menunggu terlalu lama. Mana hpku?”
Sam
mengambil hp Jordan yang sedang mengisi baterai di Car wireless. Sejak tadi hp
Jordan memang tidak aktif karena batrenya habis.
Begitu
ponselnya aktif, notif beberapa panggilan langsung memenuhi layarnya. Jordan
menghiraukan panggilan yang lain, ia hanya terfokus pada panggilan tak terjawab
dari istrinya sekitar 12 panggilan dan satu pesan singkat.
Kamu dimana?
Jadi enggak makan
diluarnya?
Kalau enggak, biar
aku langsung pulang nih.
Jordan meringis saat membacanya. Astaga,
wanita hamilnya itu pasti kelelahan dan kesal padanya sekarang. Ditambah lagi
hpnya yang tidak aktif dari beberapa jam lalu, makanya Lionara menghubunginya
ke ponsel Sam.
Tidak
ingin membuat istrinya bertambah kesal, jarinya baru akan bergerak menelepon
balik Lionara tapi sebuah notif pesan dari Rebeca menghentikan niatnya. Tanpa
bisa dicegah, jemarinya membuka pesan itu dan langsung disugukan sebuah gambar
yang berhasil membuat tangan Jordan bergetar seraya meremas ponselnya. Hanya
cukup beberapa detik, rautnya langsung berubah pias dengan kilat amarah
memenuhi wajah, begitu melihat siapa yang ada disana. Lionara dan Daniel.
Dimana istrinya itu terlihat sedang berpelukan dengan Daniel—jarak wajah mereka
sangat dekat. Dengan tambahan kata, rasanya nyaris membuat hati dan otaknya
meledak saat itu juga.
Aku melihat istrimu
dan Daniel di lobi. Kudengar mereka akan pergi ke apartemen Daniel. Apa kamu
tahu? Rebeca
Letupan
emosi memenuhi kepala dengan napas yang tak lagi beraturan. Sam berbicara
tetapi indra pendengarannya tidak lagi mampu menangkap suara. Kecuali amarah
dan sakit hati yang tak terdefinisi, semuanya tidak lagi sanggup Jordan rasa.
Brengsek!
****
Lionara
menarik selimut memberikan kehangatan pada tubuh Daniel yang telah selesai ia
lap dengan air hangat sebelumnya. Begitu sampai di apartemen, Lionara langsung
merawat Daniel dengan cekatan. Dari mulai mengompres dahi Daniel, memasakkan
bubur dan sup untuk dimakan oleh Daniel, lalu memberikan obat hingga
membersihkan dan menggantikan baju lelaki itu dengan piyama. Daniel menolak
dipanggilkan dokter sehingga dirinyalah yang mau tidak mau harus turun tangan merawat
lelaki itu. Lionara merasa de javu, Daniel memang selalu manja jika sakit.
Dulu, Lionaralah yang akan selalu Daniel ijinkan untuk merawat dan menemani
dirinya saat sedang sakit. Lelaki itu akan terus memegang tangan Lionara saat
tidur—tidak mengijinkannya pergi, sama seperti saat ini.
Lionara
menunduk menatap tangan Daniel yang tak melepas pergelangan tangannya.
Sepanjang merawat Daniel tadi, ia memang berhasil terlihat tenang dan cuek di
luar, tapi sebenarnya dadanya masih berdebar saat berdekatan dengan mantan
kekasihnya itu. Bohong, kalau ia mengatakan sudah tidak memiliki perasaan apapun
atau sudah melupakan semua kenangan kebersamaan mereka dulu. Nyatanya perasaan
tak semudah itu untuk dihapuskan. Butuh waktu yang cukup lama. Tapi bukan
berarti ia berniat kembali merajut kasih dengan Daniel. Itu tidak mungkin lagi,
sebab ia sudah menjadi istri Jordan dan didalam perutnya kini tengah bertumbuh
buah kasih mereka.
Jordan…
akhir-akhir ini ia juga merasakan perasaan berdebar yang begitu kuat jika
mereka bersama. Apalagi cara lelaki itu yang begitu lembut memperlakukannya, membawanya
ke acara mana pun yang dihadiri oleh Jordan lalu memperkenalkannya dengan bangga
kepada para rekan bisnisnya. Jordan juga menjadi sangat posesif serta manja
jika menyangkut dirinya, dan yang paling menyebalkan lelaki itu akan selalu
melakukan hal-hal yang tak masuk akal demi mencari perhatiannya.
Mengingat
Jordan, seketika membuat mata Lionara membeliak. Astaga, ia baru ingat akan
sosok itu. Tadi Jordan memintanya untuk menunggunya di lobi, tapi saking
paniknya melihat Daniel yang sakit, Lionara benar-benar melupakan lelaki
itu—terlebih saat itu ia tengah berbicara dengan Sam di telepon, tapi ia
memutus sepihak percakapan mereka. Gelagapan, Lionara melepas sedikit kuat
pegangan Daniel lalu melangkah cepat menuju sofa dimana tasnya berada.
Lionara
merogoh tas lalu cepat-cepat mengambil ponsel agar segera menghubungi Jordan.
Jangan sampai suaminya itu salah paham padanya dan berakhir mengamuk. Sebab
Jordan akan berlipat kali mengerikan jika sedang marah. Lionara pernah melihat
itu, dan sama sekali tak ingin melihat kembali raut murka Jordan—terlebih
Jordan adalah jenis lelaki yang sangat cemburuan.
Baru
saja Lionara menemukan ponselnya, tapi naas benda pipih itu ternyata mati
total—habis baterai.
Sial!
Lionara
menghembuskan napas frustasi. Kemudian melirik jam di pergelangan tangannya dan
makin syok saat jarum pendek itu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia benar-benar telah lama berada di apartemen
Daniel. Lionara harus segera kembali ke rumah sebelum Jordan semakin menggila
karena dirinya yang tak kunjung muncul. Lionara sudah tak mempedulikan akan
semengerikan apa raut Jordan saat ia pulang nanti.
Dengan
serampangan Lionara memakai kembali sling bag-nya dan bergegas ke luar kamar
Daniel, sebelum kemudian suara parau lelaki itu menghentikan pergerakan tangannya
menekan knop pintu.
“Jangan
pergi, Flo”
Lionara
berbalik dan mendapati tatapan lemah Daniel.
“Please…”
lanjutnya
Lionara
terdiam, namun kemudian kepalanya menggeleng lambat. “Aku harus pulang, El.
Jordan pasti mencariku sekarang.”
“Tapi
diluar sedang hujan deras. Menginaplah disini untuk malam ini.”
Benar.
Diluar tengah turun hujan. Lionara juga bisa melihatnya dari jendela full kaca
di kamar Daniel—memperlihatkan padanya bagaimana hujan semakin deras.
“Tidak.
Aku tetap harus pulang.” Lionara menggeleng “Aku tidak mau Jordan menjadi salah
paham dengan mengetahui aku berada disini.”
“Tapi
Flo-,”
Ting
nong… Ting nong… Ting nong…
Suara
bel yang ditekan berulang kali itu memotong kalimat Daniel. Lionara dan Daniel
saling melempar pandang. Mengernyit, menebak-nebak siapa gerangan yang datang
bertamu selarut ini—sedang Daniel ingat selama ini ia sangat jarang kedatangan
tamu.
“Biar
kubukakan. Sekalian aku pamit pulang” putus Lionara cepat, membuka pintu tanpa
menunggu sanggahan Daniel lagi.
Dug..dug..dug…
Kali
ini bukan suara bel lagi, melainkan gedoran tidak sabar dari orang diluar sana.
“Iya
sebentar.” teriak Lionara sedikit kesal
Lionara
segera membuka pintu dan tubuhnya seketika membeku begitu bertatapan langsung
dengan pelaku yang mengetuk tidak sabaran tadi.
“Jo..Jordan..”
gagapnya tanpa sadar memundurkan langkah kebalakang.
Jordan
berdiri tepat dihadapannya dengan keadaan basah kuyup. Masih mengenakan pakaian
yang sama saat berangkat kerja pagi tadi. Hanya saja, pakaiannya sudah tak
serapih sebelumnya. Otot tubuhnya tercetak jelas dari balik kemeja basahnya.
Sedang lengan kemejanya di gulung sebatas siku, bahkan beberapa kancing
kemejanya sudah dilepas dengan rambut yang sedikit berantakan karena basah.
Juga wajah yang sangat kusut. Dan kini sedang menatap dirinya dengan tatapan
lekat, yang sulit sekali diartikan.
Masih
dengan raut wajah yang sulit diartikan, Jordan mengikis jarak mereka dengan
tatapan yang tak putus dari Lionara. Tangan dingin Jordan terulur menangkup
sebelah pipi Lionara yang menegang kaku.
“Menikmati
kebersamaan, sayang?” tanya Jordan dengan santai, bahkan ada senyuman di wajahnya.
Senyuman manis. Yah, senyuman itu. Senyuman yang justru mengerikan bagi
Lionara, karena terlalu sarat akan makna yang terpendam.
“Yah,
kamu pasti sangat menikmatinya, sampai tidak ingat rumahmu yang sebenarnya, bukan?”
Jordan kembali berbicara. Dengan senyuman manis Jordan yang semakin lebar.
“Tidak,
Jo. Kamu salah paham.” Lionara menggeleng panik. “Ini tidak yang seperti kamu
pikirkan. Aku—”
“Sstt…
jangan diteruskan, sayang.” Jordan menempelkan telunjuknya di bibir Lionara.
“kamu bahkan tidak akan sanggup menerka apa yang ada di pikiranku sekarang.
Terlalu banyak, sampai kepalaku rasanya nyaris meledak.”
Jordan
Lionara, napasnya terasa berat, sedang kedua tangannya melingkar kuat di
pinggang Lionara hingga membuat wanita itu merasa sesak.
Hening.
Cukup lama mereka dalam posisi tersebut. Sampai kemudian Jordan mengurai
pelukannya dan mereka kembali berdiri berhadapan.
Dengan
tanpa berkedip, Lionara menatap lekat Jordan. Mencoba membaca pikiran Jordan
dari raut wajahnya. Tapi nihil. Lionara tidak bisa melihat apapun dari raut
wajah Jordan yang berikan saat ini. Dia benar-benar bersikap biasa, seolah
tidak terjadi apapun. Atau mungkin, sedang bersikap seolah tidak terjadi
apapun?
“Pulang.
Tempatmu bukan disini.” desisnya
Belum
sempat Lionara membuka suara, ia sudah memekik tertahan lantaran terkejut
karena tubuhnya sudah melayang tak menapaki lantai. Jordan mengangkat tubuhnya
ala bridal style tanpa permisi.
“Jordan,
turunkan aku. Kamu basah.” panik menerpa Lionara.
“Benar.
Aku basah. Kerena itu kita harus mandi untuk menyingkirkan jejak sentuhan pria
sialan itu dari tubuhmu.” Masih dengan raut wajah yang sulit diartikan, Jordan
menjawab. Di sela langkahnya yang membawa Lionara keluar meninggalkan apartemen
Daniel begitu saja.
****
“Kakak!
Kalian sudah pulang?” seru Leon, berlari menghampiri Jordan dan Lionara yang
baru saja memasuki mansion. Lionara masih berada digendongan Jordan. Ia berniat
turun menyapa Leon, tapi lelaki itu enggan melepaskannya.
“Kakak
dari mana saja? sejak sore tadi aku sudah menunggu kalian datang di restoran
yang sudah kak Jo booking.” Celoteh Leon dengan bibir mencebik
Lionara
menelan ludah. “Maafkan kakak, sayang. Ada sedikit masalah tadi.” sesal Lionara
“Padahal
sejak pagi tadi aku dan kak Jo sudah bersusah payah menyiapkan pesta kejutan yang
meriah untuk kakak. Tapi, semuanya sia-sia sekarang.” keluh Leon
“Pesta
kejutan?” Lionara mengernyit. Memandang penasaran
pada Leon, kemudian Jordan tapi lelaki itu malah memalingkan wajahnya ke arah
lain
Leon
mengangguk. “Hari ini kan ulang tahun kakak. Jadi kami sengaja diam-diam
menyiapkan pesta kejutan untuk merayakan hari jadi kakak. Kakek Rikkard juga
tadi datang, tapi langsung pulang begitu kak Jo mengabari pestanya batal.”
“A-apa?”
Lionara nyaris kehilangan suaranya
Tubuhnya
menegang kaku setelah Leon mengatakan itu semua. Tanpa bisa mengatakan apapun
selanjutnya. Terlebih, dirinya kini melihat nyaris tak berkedip raut wajah tak
terbaca Jordan yang juga menunduk menatapnya.
Ya
Tuhan… jadi ini yang dimaksud Jordan? Makan malam diuar bersama Leon, padahal
lelaki itu diam-diam seharian ini telah mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun
untuknya. Lionara sendiri tidak mengingat jika hari ini adalah ulang tahunnya,
tapi kedua lelaki berbeda usia itu telah mengatur semua untuknya. Ia bahkan
lebih mengkahwatirkan keadaan Daniel dari pada mengingat janjinya pada Jordan.
“Jordan…
ak-aku-,”
“Leon,
kembalilah ke kamarmu.” Jordan menyela ucapan Lionara. “Aku dan kakakmu juga
akan beristirahat.”
Leon
mengangguk. “Baiklah. Tapi sebelum itu, aku mau mengucapkan, selamat ulang
tahun kakakku sayang. Aku mencintaimu.” Leon tersenyum manis lalu berjinjit
mencium pipi Lionara yang masih berada dalam gendongan Jordan.
Air
mata Lionara mengalir jatuh. Perasaan bersalah kian menggelayuti. “Terima
kasih. Kakak lebih mencintaimu, sayang.” seraknya haru.
Leon
tersenyum manis “Kalau begitu aku masuk kamar. Good night brotha and sista.” Pamit Leon kemudian berbalik menuju
kamarnya.
Begitu
Leon tidak terlihat lagi, Jordan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar
mereka tanpa mempedulikan Lionara yang terus menatapnya dengan raut bersalah.
Jordan
benar-benar membawa Lionara ke kamar mandi. Menurunkan tubuh Lionara tepat di
bawah shower. Lionara hanya diam, terus menatap manik Jordan—tidak lagi meronta
dan malah membiarkan Jordan menahan pinggangnya.
“Jo-”
Kalimat
Lionara tak selesai, lantaran merasakan air dingin yang berasal dari shower
yang sempat Jordan nyalakan dengan tanpa pemberitahuan—tiba-tiba saja mengguyur
tubuhnya tanpa ampun. Bukan, bukan hanya dia. Tapi juga Jordan, sampai membuat
mereka berdua basah kuyup dengan pakaian yang masih utuh.
Lionara
gelagapan, air yang berasal dari shower itu benar-benar dingin sampai menusuk
tulang. Ditambah ini sudah terlalu larut untuk mandi dan cuaca diluar juga
sangat dingin. Tangan Lionara berusaha menggapai keran shower di samping
tubuhnya, namun tangan Jordan sudah terlebih dahulu menahannya.
“Bagaimana
reuninya, sayang? Menyenangkan?”
Belum
selesai dengan Lionara yang kelimpungan menerima guyuran air dingin di
tubuhnya. Tubuh Lionara langsung berhenti bergerak, manakala Jordan kembali
mengungkit masalah dirinya yang berada di apartemen Daniel. Kini Lionara
membiarkan air dingin itu menyapu tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Lantaran maniknya kini terfokus menatap lekat Jordan, mencari tahu emosi
disana.
Lionara
yakin, sebenarnya amarah tengah melingkupi Jordan saat ini. Walau sepertinya
sedang mati-matian Jordan tahan agar tidak meledak. Tatapan mereka beradu
ditengah guyuran air shower.
“Apa
kalau aku menjelaskan hal sebenarnya kamu akan percaya?” tanya Lionara, menatap
manik biru Jordan nyaris tak berkedip.
“Bagaimana
caranya aku bisa peraya jika dengan mata kepalaku sendiri aku melihatmu berada
di apertemen si sialan itu? kamu bahkan dengan gampangnya melupakan janji kita.”
Jordan menyahut dingin.
“Daniel
sakit. Dia pingsan tadi di lobi. Aku hanya membantunya.”
“Apa
security disana sudah mati semua sehingga kamu sendiri yang harus menolongnya?!”
suaranya naik satu oktaf
“Bu-bukan
begitu, Jo,” Lionara menggeleng gelagapan
“Lalu
bagaimana?” Jordan mendesis geram
“Daniel
menolak di bawa ke dokter. Dia meminta tolong untuk di bawa ke apartemennya
saja.”
“Dan
kamu mau?”
Lionara
terdiam. Susah payah ia menelan ludah saat melihat iris tegas Jordan yang kini
menggelap.
“Ak-aku
hanya ingin menolongnya.”
“BUKANKAH
DISANA MASIH ADA SECURITY?! MEREKA BELUM MATI LIONARA!!” gelegar Jordan dengan
urat leher yang menonjol di depan wajah Lionara, membuat wanita itu langsung
memejamkan matanya syok. Ini pertama kali, Jordan meneriakinya.
BUGH…
BUGH…
Belum
selesai Lionara dengan keterkejutannya, ia kembali dikejutkan oleh tinjuan
keras Jordan pada dinding belakang tubuhnya. Sangat keras. Membuat tubuh
Lionara sedikit gemetar lantaran terkejut. Ia langsung membuka mata dan
mendapati tangan Jordan yang kini terluka dengan darah yang meluncur deras dari
buku-buku jarinya. Wajah Lionara memucat. Bergetar, ia berniat meraih tangan
Jordan tapi lelaki itu menepisnya kasar.
“Ka-kamu
berdarah, Jo.” Seraknya, panik. “Ini pasti sakit. Kita obati dulu ya.”
lanjutnya memohon.
Air
mata Lionara mengalir deras namun tersamarkan oleh air dingin yang masih terus
turun membasahi seluruh tubuhnya. Melihat tingkah Jordan yang seperti ini,
justru semakin membuat ia merasa sangat bersalah.
“Hatiku
lebih sakit.” desis Jordan dengan raut terluka
Lionara
tertegun. Hatinya berdenyut perih mendengar itu.
“Kupikir
aku sudah berhasil menyingkirkan nama pria itu dari hatimu, tapi nyatanya aku
salah. Sampai kapan pun hatimu memang menjadi miliknya, sekalipun kamu
mengandung anakku.” Lirih Jordan dengan mata memerah—menyorot luka.
Lionara
menggeleng. “Tidak. itu tidak benar…” Ia mencoba menyentuh Jordan, tetapi
lelaki itu malah bergerak mundur.
“Aku
yang berpikir terlalu naïf. Kupikir aku sudah menjadi pria yang utuh. Memiliki
istri yang kucintai dengan anakku dalam perutmu. Hidupku tidak akan sama seperti
nasib sial yang menimpa ibuku, yang mencintai pria yang sama sekali tidak
mencintainya. Tapi… aku salah besar. Itu semua hanyalah ilusi yang kuciptakan.
Nyatanya, aku bahkan lebih sial dari ibuku. Kalau ibuku masih memiliki orang
tua lengkap yang mencintainya, tapi aku justru sebaliknya. Baik orangtua maupun
keluaragaku yang lain, tidak menginginkanku. Dan sekarang yang lebih menyakitkan
adalah… saat aku tahu wanita yang kucintai tidak pernah memiliki perasaan yang
sama padaku. Kamu bahkan sama seperti si brengsek tua bangka itu. Menjalin
hubungan di belakangku dengan mantan kekasihmu.”
“Berhenti,
Jo! AKU TIDAK SEPERTI ITU!!” jerit Lionara, menangis keras—tak tahan lagi akan
tuduhan menyakitkan Jordan. Tubuhnya merosot, memeluk lutut. “Aku tidak seperti
itu…”
Jordan
hanya diam mematung. Menatap tubuh bergetar istrinya yang sesungguhnya membuat
hatinya kian sakit. Ingin sekali dia meraih tubuh mungil itu dan membawanya
kedalam dekapan—memberikan ketenangan dengan pelukan seerat mungkin. Tapi,
perasaan kecewa dihatinya lebih dominan sekarang sehingga membutakan segalanya.
“Bersihkan
tubuhmu dan cepat keluar dari sini. Aku tidak ingin anakku menjadi terkena
dampaknya.” Titahnya dingin, sebelum meninggalkan kamar mandi, dimana Lionara
meraung sekuat yang ia bisa.
To be continued
IG: @rianitasitumorang
Jordan Matthew Chirstoper
Lionara Florentine