JORDAN

JORDAN
Chapter 30



Love yahhh ^^


.


.


“Apa


tidak ada jalan lain selain jalur ini, Sam?” dengus Jordan sambil memandang


kesal keluar jendela, dimana mobil mereka kini terjebak macet panjang sejak dua


jam lalu akibat adanya kecelakaan lalu lintas antara mobil dan bis, sehingga


pihak petugas masih sibuk mengevakuasi para korban dan terpaksa membuat proses


alur berkendara menjadi sangat lambat.


“Maaf


Tuan. Tapi tidak ada,” sahut Sam dari balik kemudi


“Kalau


begini terus kapan sampainya? Istriku pasti sudah bosan menungguku disana.”


Jordan berdecak, melepaskan dengan kasar dasi yang sejak tadi melekat di


lehernya. “Bisa-bisa gagal semua kejutan yang kubuat dengan Leon. Arrghh!!”


“Tuan—“


Ucapan


Sam terpotong saat ponsel di sakunya berdering.


“Siapa?”


tanya Jordan saat Sam hanya menatap layar ponselnya lalu kepada sang bos.


“Nona,


Tuan.”


“Angkat.”


Jordan menegapkan tubuh.


“Halo,”


“…”


“Oh,


Tuan sed— hallo… Nona, hallo…”


Sam


terus memanggil namun tak ada jawaban dan panggilan itu tiba-tiba saja


terputus.


“Ada


apa?” sela Jordan


“Tidak


tahu, Tuan. Tiba-tiba saja Nona memutus teleponnya.”


“Ck,


pasti dia sudah marah karena menunggu terlalu lama. Mana hpku?”


Sam


mengambil hp Jordan yang sedang mengisi baterai di Car wireless. Sejak tadi hp


Jordan memang tidak aktif karena batrenya habis.


Begitu


ponselnya aktif, notif beberapa panggilan langsung memenuhi layarnya. Jordan


menghiraukan panggilan yang lain, ia hanya terfokus pada panggilan tak terjawab


dari istrinya sekitar 12 panggilan dan satu pesan singkat.


Kamu dimana?


Jadi enggak makan


diluarnya?


Kalau enggak, biar


aku langsung pulang nih.


 Jordan meringis saat membacanya. Astaga,


wanita hamilnya itu pasti kelelahan dan kesal padanya sekarang. Ditambah lagi


hpnya yang tidak aktif dari beberapa jam lalu, makanya Lionara menghubunginya


ke ponsel Sam.


Tidak


ingin membuat istrinya bertambah kesal, jarinya baru akan bergerak menelepon


balik Lionara tapi sebuah notif pesan dari Rebeca menghentikan niatnya. Tanpa


bisa dicegah, jemarinya membuka pesan itu dan langsung disugukan sebuah gambar


yang berhasil membuat tangan Jordan bergetar seraya meremas ponselnya. Hanya


cukup beberapa detik, rautnya langsung berubah pias dengan kilat amarah


memenuhi wajah, begitu melihat siapa yang ada disana. Lionara dan Daniel.


Dimana istrinya itu terlihat sedang berpelukan dengan Daniel—jarak wajah mereka


sangat dekat. Dengan tambahan kata, rasanya nyaris membuat hati dan otaknya


meledak saat itu juga.


Aku melihat istrimu


dan Daniel di lobi. Kudengar mereka akan pergi ke apartemen Daniel. Apa kamu


tahu? Rebeca


Letupan


emosi memenuhi kepala dengan napas yang tak lagi beraturan. Sam berbicara


tetapi indra pendengarannya tidak lagi mampu menangkap suara. Kecuali amarah


dan sakit hati yang tak terdefinisi, semuanya tidak lagi sanggup Jordan rasa.


Brengsek!


****


Lionara


menarik selimut memberikan kehangatan pada tubuh Daniel yang telah selesai ia


lap dengan air hangat sebelumnya. Begitu sampai di apartemen, Lionara langsung


merawat Daniel dengan cekatan. Dari mulai mengompres dahi Daniel, memasakkan


bubur dan sup untuk dimakan oleh Daniel, lalu memberikan obat hingga


membersihkan dan menggantikan baju lelaki itu dengan piyama. Daniel menolak


dipanggilkan dokter sehingga dirinyalah yang mau tidak mau harus turun tangan merawat


lelaki itu. Lionara merasa de javu, Daniel memang selalu manja jika sakit.


Dulu, Lionaralah yang akan selalu Daniel ijinkan untuk merawat dan menemani


dirinya saat sedang sakit. Lelaki itu akan terus memegang tangan Lionara saat


tidur—tidak mengijinkannya pergi, sama seperti saat ini.


Lionara


menunduk menatap tangan Daniel yang tak melepas pergelangan tangannya.


Sepanjang merawat Daniel tadi, ia memang berhasil terlihat tenang dan cuek di


luar, tapi sebenarnya dadanya masih berdebar saat berdekatan dengan mantan


kekasihnya itu. Bohong, kalau ia mengatakan sudah tidak memiliki perasaan apapun


atau sudah melupakan semua kenangan kebersamaan mereka dulu. Nyatanya perasaan


tak semudah itu untuk dihapuskan. Butuh waktu yang cukup lama. Tapi bukan


berarti ia berniat kembali merajut kasih dengan Daniel. Itu tidak mungkin lagi,


sebab ia sudah menjadi istri Jordan dan didalam perutnya kini tengah bertumbuh


buah kasih mereka.


Jordan…


akhir-akhir ini ia juga merasakan perasaan berdebar yang begitu kuat jika


mereka bersama. Apalagi cara lelaki itu yang begitu lembut memperlakukannya, membawanya


ke acara mana pun yang dihadiri oleh Jordan lalu memperkenalkannya dengan bangga


kepada para rekan bisnisnya. Jordan juga menjadi sangat posesif serta manja


jika menyangkut dirinya, dan yang paling menyebalkan lelaki itu akan selalu


melakukan hal-hal yang tak masuk akal demi mencari perhatiannya.


Mengingat


Jordan, seketika membuat mata Lionara membeliak. Astaga, ia baru ingat akan


sosok itu. Tadi Jordan memintanya untuk menunggunya di lobi, tapi saking


paniknya melihat Daniel yang sakit, Lionara benar-benar melupakan lelaki


itu—terlebih saat itu ia tengah berbicara dengan Sam di telepon, tapi ia


memutus sepihak percakapan mereka. Gelagapan, Lionara melepas sedikit kuat


pegangan Daniel lalu melangkah cepat menuju sofa dimana tasnya berada.


Lionara


merogoh tas lalu cepat-cepat mengambil ponsel agar segera menghubungi Jordan.


Jangan sampai suaminya itu salah paham padanya dan berakhir mengamuk. Sebab


Jordan akan berlipat kali mengerikan jika sedang marah. Lionara pernah melihat


itu, dan sama sekali tak ingin melihat kembali raut murka Jordan—terlebih


Jordan adalah jenis lelaki yang sangat cemburuan.


Baru


saja Lionara menemukan ponselnya, tapi naas benda pipih itu ternyata mati


total—habis baterai.


Sial!


Lionara


menghembuskan napas frustasi. Kemudian melirik jam di pergelangan tangannya dan


makin syok saat jarum pendek itu menunjukkan  pukul sepuluh malam. Ia benar-benar telah lama berada di apartemen


Daniel. Lionara harus segera kembali ke rumah sebelum Jordan semakin menggila


karena dirinya yang tak kunjung muncul. Lionara sudah tak mempedulikan akan


semengerikan apa raut Jordan saat ia pulang nanti.


Dengan


serampangan Lionara memakai kembali sling bag-nya dan bergegas ke luar kamar


Daniel, sebelum kemudian suara parau lelaki itu menghentikan pergerakan tangannya


menekan knop pintu.


“Jangan


pergi, Flo”


Lionara


berbalik dan mendapati tatapan lemah Daniel.


“Please…”


lanjutnya


Lionara


terdiam, namun kemudian kepalanya menggeleng lambat. “Aku harus pulang, El.


Jordan pasti mencariku sekarang.”


“Tapi


diluar sedang hujan deras. Menginaplah disini untuk malam ini.”


Benar.


Diluar tengah turun hujan. Lionara juga bisa melihatnya dari jendela full kaca


di kamar Daniel—memperlihatkan padanya bagaimana hujan semakin deras.


“Tidak.


Aku tetap harus pulang.” Lionara menggeleng “Aku tidak mau Jordan menjadi salah


paham dengan mengetahui aku berada disini.”


“Tapi


Flo-,”


Ting


nong… Ting nong… Ting nong…


Suara


bel yang ditekan berulang kali itu memotong kalimat Daniel. Lionara dan Daniel


saling melempar pandang. Mengernyit, menebak-nebak siapa gerangan yang datang


bertamu selarut ini—sedang Daniel ingat selama ini ia sangat jarang kedatangan


tamu.


“Biar


kubukakan. Sekalian aku pamit pulang” putus Lionara cepat, membuka pintu tanpa


menunggu sanggahan Daniel lagi.


Dug..dug..dug…


Kali


ini bukan suara bel lagi, melainkan gedoran tidak sabar dari orang diluar sana.


“Iya


sebentar.” teriak Lionara sedikit kesal


Lionara


segera membuka pintu dan tubuhnya seketika membeku begitu bertatapan langsung


dengan pelaku yang mengetuk tidak sabaran tadi.


“Jo..Jordan..”


gagapnya tanpa sadar memundurkan langkah kebalakang.


Jordan


berdiri tepat dihadapannya dengan keadaan basah kuyup. Masih mengenakan pakaian


yang sama saat berangkat kerja pagi tadi. Hanya saja, pakaiannya sudah tak


serapih sebelumnya. Otot tubuhnya tercetak jelas dari balik kemeja basahnya.


Sedang lengan kemejanya di gulung sebatas siku, bahkan beberapa kancing


kemejanya sudah dilepas dengan rambut yang sedikit berantakan karena basah.


Juga wajah yang sangat kusut. Dan kini sedang menatap dirinya dengan tatapan


lekat, yang sulit sekali diartikan.


Masih


dengan raut wajah yang sulit diartikan, Jordan mengikis jarak mereka dengan


tatapan yang tak putus dari Lionara. Tangan dingin Jordan terulur menangkup


sebelah pipi Lionara yang menegang kaku.


“Menikmati


kebersamaan, sayang?” tanya Jordan dengan santai, bahkan ada senyuman di wajahnya.


Senyuman manis. Yah, senyuman itu. Senyuman yang justru mengerikan bagi


Lionara, karena terlalu sarat akan makna yang terpendam.


“Yah,


kamu pasti sangat menikmatinya, sampai tidak ingat rumahmu yang sebenarnya, bukan?”


Jordan kembali berbicara. Dengan senyuman manis Jordan yang semakin lebar.


“Tidak,


Jo. Kamu salah paham.” Lionara menggeleng panik. “Ini tidak yang seperti kamu


pikirkan. Aku—”


“Sstt…


jangan diteruskan, sayang.” Jordan menempelkan telunjuknya di bibir Lionara.


“kamu bahkan tidak akan sanggup menerka apa yang ada di pikiranku sekarang.


Terlalu banyak, sampai kepalaku rasanya nyaris meledak.”


Jordan


Lionara, napasnya terasa berat, sedang kedua tangannya melingkar kuat di


pinggang Lionara hingga membuat wanita itu merasa sesak.


Hening.


Cukup lama mereka dalam posisi tersebut. Sampai kemudian Jordan mengurai


pelukannya dan mereka kembali berdiri berhadapan.


Dengan


tanpa berkedip, Lionara menatap lekat Jordan. Mencoba membaca pikiran Jordan


dari raut wajahnya. Tapi nihil. Lionara tidak bisa melihat apapun dari raut


wajah Jordan yang berikan saat ini. Dia benar-benar bersikap biasa, seolah


tidak terjadi apapun. Atau mungkin, sedang bersikap seolah tidak terjadi


apapun?


“Pulang.


Tempatmu bukan disini.” desisnya


Belum


sempat Lionara membuka suara, ia sudah memekik tertahan lantaran terkejut


karena tubuhnya sudah melayang tak menapaki lantai. Jordan mengangkat tubuhnya


ala bridal style tanpa permisi.


“Jordan,


turunkan aku. Kamu basah.” panik menerpa Lionara.


“Benar.


Aku basah. Kerena itu kita harus mandi untuk menyingkirkan jejak sentuhan pria


sialan itu dari tubuhmu.” Masih dengan raut wajah yang sulit diartikan, Jordan


menjawab. Di sela langkahnya yang membawa Lionara keluar meninggalkan apartemen


Daniel begitu saja.


****


“Kakak!


Kalian sudah pulang?” seru Leon, berlari menghampiri Jordan dan Lionara yang


baru saja memasuki mansion. Lionara masih berada digendongan Jordan. Ia berniat


turun menyapa Leon, tapi lelaki itu enggan melepaskannya.


“Kakak


dari mana saja? sejak sore tadi aku sudah menunggu kalian datang di restoran


yang sudah kak Jo booking.” Celoteh Leon dengan bibir mencebik


Lionara


menelan ludah. “Maafkan kakak, sayang. Ada sedikit masalah tadi.” sesal Lionara


“Padahal


sejak pagi tadi aku dan kak Jo sudah bersusah payah menyiapkan pesta kejutan yang


meriah untuk kakak. Tapi, semuanya sia-sia sekarang.” keluh Leon


“Pesta


kejutan?”  Lionara mengernyit. Memandang penasaran


pada Leon, kemudian Jordan tapi lelaki itu malah memalingkan wajahnya ke arah


lain


Leon


mengangguk. “Hari ini kan ulang tahun kakak. Jadi kami sengaja diam-diam


menyiapkan pesta kejutan untuk merayakan hari jadi kakak. Kakek Rikkard juga


tadi datang, tapi langsung pulang begitu kak Jo mengabari pestanya batal.”


“A-apa?”


Lionara nyaris kehilangan suaranya


Tubuhnya


menegang kaku setelah Leon mengatakan itu semua. Tanpa bisa mengatakan apapun


selanjutnya. Terlebih, dirinya kini melihat nyaris tak berkedip raut wajah tak


terbaca Jordan yang juga menunduk menatapnya.


Ya


Tuhan… jadi ini yang dimaksud Jordan? Makan malam diuar bersama Leon, padahal


lelaki itu diam-diam seharian ini telah mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun


untuknya. Lionara sendiri tidak mengingat jika hari ini adalah ulang tahunnya,


tapi kedua lelaki berbeda usia itu telah mengatur semua untuknya. Ia bahkan


lebih mengkahwatirkan keadaan Daniel dari pada mengingat janjinya pada Jordan.


“Jordan…


ak-aku-,”


“Leon,


kembalilah ke kamarmu.” Jordan menyela ucapan Lionara. “Aku dan kakakmu juga


akan beristirahat.”


Leon


mengangguk. “Baiklah. Tapi sebelum itu, aku mau mengucapkan, selamat ulang


tahun kakakku sayang. Aku mencintaimu.” Leon tersenyum manis lalu berjinjit


mencium pipi Lionara yang masih berada dalam gendongan Jordan.


Air


mata Lionara mengalir jatuh. Perasaan bersalah kian menggelayuti. “Terima


kasih. Kakak lebih mencintaimu, sayang.” seraknya haru.


Leon


tersenyum manis “Kalau begitu aku masuk kamar. Good night brotha and sista.” Pamit Leon kemudian berbalik menuju


kamarnya.


Begitu


Leon tidak terlihat lagi, Jordan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar


mereka tanpa mempedulikan Lionara yang terus menatapnya dengan raut bersalah.


Jordan


benar-benar membawa Lionara ke kamar mandi. Menurunkan tubuh Lionara tepat di


bawah shower. Lionara hanya diam, terus menatap manik Jordan—tidak lagi meronta


dan malah membiarkan Jordan menahan pinggangnya.


“Jo-”


Kalimat


Lionara tak selesai, lantaran merasakan air dingin yang berasal dari shower


yang sempat Jordan nyalakan dengan tanpa pemberitahuan—tiba-tiba saja mengguyur


tubuhnya tanpa ampun. Bukan, bukan hanya dia. Tapi juga Jordan, sampai membuat


mereka berdua basah kuyup dengan pakaian yang masih utuh.


Lionara


gelagapan, air yang berasal dari shower itu benar-benar dingin sampai menusuk


tulang. Ditambah ini sudah terlalu larut untuk mandi dan cuaca diluar juga


sangat dingin. Tangan Lionara berusaha menggapai keran shower di samping


tubuhnya, namun tangan Jordan sudah terlebih dahulu menahannya.


“Bagaimana


reuninya, sayang? Menyenangkan?”


Belum


selesai dengan Lionara yang kelimpungan menerima guyuran air dingin di


tubuhnya. Tubuh Lionara langsung berhenti bergerak, manakala Jordan kembali


mengungkit masalah dirinya yang berada di apartemen Daniel. Kini Lionara


membiarkan air dingin itu menyapu tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lantaran maniknya kini terfokus menatap lekat Jordan, mencari tahu emosi


disana.


Lionara


yakin, sebenarnya amarah tengah melingkupi Jordan saat ini. Walau sepertinya


sedang mati-matian Jordan tahan agar tidak meledak. Tatapan mereka beradu


ditengah guyuran air shower.


“Apa


kalau aku menjelaskan hal sebenarnya kamu akan percaya?” tanya Lionara, menatap


manik biru Jordan nyaris tak berkedip.


“Bagaimana


caranya aku bisa peraya jika dengan mata kepalaku sendiri aku melihatmu berada


di apertemen si sialan itu? kamu bahkan dengan gampangnya melupakan janji kita.”


Jordan menyahut dingin.


“Daniel


sakit. Dia pingsan tadi di lobi. Aku hanya membantunya.”


“Apa


security disana sudah mati semua sehingga kamu sendiri yang harus menolongnya?!”


suaranya naik satu oktaf


“Bu-bukan


begitu, Jo,” Lionara menggeleng gelagapan


“Lalu


bagaimana?” Jordan mendesis geram


“Daniel


menolak di bawa ke dokter. Dia meminta tolong untuk di bawa ke apartemennya


saja.”


“Dan


kamu mau?”


Lionara


terdiam. Susah payah ia menelan ludah saat melihat iris tegas Jordan yang kini


menggelap.


“Ak-aku


hanya ingin menolongnya.”


“BUKANKAH


DISANA MASIH ADA SECURITY?! MEREKA BELUM MATI LIONARA!!” gelegar Jordan dengan


urat leher yang menonjol di depan wajah Lionara, membuat wanita itu langsung


memejamkan matanya syok. Ini pertama kali, Jordan meneriakinya.


BUGH…


BUGH…


Belum


selesai Lionara dengan keterkejutannya, ia kembali dikejutkan oleh tinjuan


keras Jordan pada dinding belakang tubuhnya. Sangat keras. Membuat tubuh


Lionara sedikit gemetar lantaran terkejut. Ia langsung membuka mata dan


mendapati tangan Jordan yang kini terluka dengan darah yang meluncur deras dari


buku-buku jarinya. Wajah Lionara memucat. Bergetar, ia berniat meraih tangan


Jordan tapi lelaki itu menepisnya kasar.


“Ka-kamu


berdarah, Jo.” Seraknya, panik. “Ini pasti sakit. Kita obati dulu ya.”


lanjutnya memohon.


Air


mata Lionara mengalir deras namun tersamarkan oleh air dingin yang masih terus


turun membasahi seluruh tubuhnya. Melihat tingkah Jordan yang seperti ini,


justru semakin membuat ia merasa sangat bersalah.


“Hatiku


lebih sakit.” desis Jordan dengan raut terluka


Lionara


tertegun. Hatinya berdenyut perih mendengar itu.


“Kupikir


aku sudah berhasil menyingkirkan nama pria itu dari hatimu, tapi nyatanya aku


salah. Sampai kapan pun hatimu memang menjadi miliknya, sekalipun kamu


mengandung anakku.” Lirih Jordan dengan mata memerah—menyorot luka.


Lionara


menggeleng. “Tidak. itu tidak benar…” Ia mencoba menyentuh Jordan, tetapi


lelaki itu malah bergerak mundur.


“Aku


yang berpikir terlalu naïf. Kupikir aku sudah menjadi pria yang utuh. Memiliki


istri yang kucintai dengan anakku dalam perutmu. Hidupku tidak akan sama seperti


nasib sial yang menimpa ibuku, yang mencintai pria yang sama sekali tidak


mencintainya. Tapi… aku salah besar. Itu semua hanyalah ilusi yang kuciptakan.


Nyatanya, aku bahkan lebih sial dari ibuku. Kalau ibuku masih memiliki orang


tua lengkap yang mencintainya, tapi aku justru sebaliknya. Baik orangtua maupun


keluaragaku yang lain, tidak menginginkanku. Dan sekarang yang lebih menyakitkan


adalah… saat aku tahu wanita yang kucintai tidak pernah memiliki perasaan yang


sama padaku. Kamu bahkan sama seperti si brengsek tua bangka itu. Menjalin


hubungan di belakangku dengan mantan kekasihmu.”


“Berhenti,


Jo! AKU TIDAK SEPERTI ITU!!” jerit Lionara, menangis keras—tak tahan lagi akan


tuduhan menyakitkan Jordan. Tubuhnya merosot, memeluk lutut. “Aku tidak seperti


itu…”


Jordan


hanya diam mematung. Menatap tubuh bergetar istrinya yang sesungguhnya membuat


hatinya kian sakit. Ingin sekali dia meraih tubuh mungil itu dan membawanya


kedalam dekapan—memberikan ketenangan dengan pelukan seerat mungkin. Tapi,


perasaan kecewa dihatinya lebih dominan sekarang sehingga membutakan segalanya.


“Bersihkan


tubuhmu dan cepat keluar dari sini. Aku tidak ingin anakku menjadi terkena


dampaknya.” Titahnya dingin, sebelum meninggalkan kamar mandi, dimana Lionara


meraung sekuat yang ia bisa.


To be continued


IG: @rianitasitumorang


Jordan Matthew Chirstoper



Lionara Florentine