JORDAN

JORDAN
Chapter 25



Nara menutup pakaian yang tersingkap di perutnya, lalu turun dari brankar.


Menghampiri dokter wanita muda yang begitu cantik. Terduduk di samping Jordan


yang tengah was-was menanti hasilnya. Fokus lelaki itu hanya menatap ke arah


dokter yang tengah menuliskan hasil pemeriksaan.


“Selamat, Tuan. Usia kandungan nyonya Nara menginjak empat minggu. Istri anda positive


hamil.” terang sang dokter dengan senyum ramah.


Lidah Nara berubah kelu, matanya tidak berkedip dan membulat begitu ucapan dokter


terlontar.


“Ha-hamil?” suara Nara tersendat.


“Benar, Nyonya.” Dokter itu tersenyum hangat “ini vitamin yang perlu Nyonya Nara minum.


Ada vitamin penguat janin juga agar di komsumsi secara teratur.”


Nara masih berusaha mengumpulkan kesadaran, ia terkejut sekaligus senang luar biasa. Tidak ada kata yang cukup baik untuk mendefinisikan kebahagiannya sekarang.


Nara melirik ekspresi Jordan. Lelaki itu hanya merespon dengan ekspresi yang sulit


dibaca. Mendengarkan arahan dokter dengan baik, lalu mulai berdiri menyeretnya pelan keluar dari ruangan.


Nara yang melihat kelakuan Jordan semakin mengerut kening. Lelaki itu terus


membawanya, dan ketika sampai di jalan buntu dengan koridor yang terbilang


sepi. Jordan langsung memenjarakan tubuhnya ke dinding dan menciumnya dengan brutal


disana.


Wanita itu terbelalak sangat terkejut dengan apa yang sedang Jordan lakukan. Jordan


terus menciumnya tanpa henti. Tidak mempedulikan Nara yang mulai kehabisan napas karena itu.


Merasa bahwa ia melewati batas, Jordan melepaskan bibir Nara. mengusap bibir meranum


itu yang sedikit membengkak karena ulanya.


“Terima kasih, sayang” bisiknya serak di telinga Nara


Jordan menarik napas dalam. Ketika melihat pemeriksaan tadi perasaannya membuncah


haru, bahagia bercampur menjadi satu hingga tak ada satu kata pun yang mampu ia


ucapkan di dalam sana. Keinginannya untuk memiliki anak telah terkabulkan.


“Jo-“ Nara memekik saat tiba-tiba Jordan berlutut dan mensejajarkan wajahnya di depan


perut Nara. Jordan menempatkan tangannya di atas perut Nara—membelai,


membiarkan diam untuk merasakan. Ia masih sulit percaya kalau di perut kecil


ini, kehidupan malaikat kecilnya tengah terus berkembang.


“Hello, baby. Ini Daddy…” ucapnya penuh haru, kemudian menaikkan baju Nara dan


menciuminya. “Pengin cepat ketemu. Kamu harus sehat-sehat di rumah barumu.


Selama di dalam, baby gak boleh


ngamuk dan nyakitin Mommy, okay? Daddy sangat mencintaimu…” Jordan bergumam


serak—membenamkan wajahnya pada perut Nara dan memeluknya dengan protektif.


Air mata Jordan mengalir. Seperti mimpi, anak ini datang ke dalam kehidupannya yang


berantakan. Ia hanya berharap, malaikat kecilnya bisa menjadi satu-satunya


alasan untuk kedua orang tuanya agar tidak terpisahkan kelak. Ia ingin rumah


yang sebenarnya, membangun keluarga kecil yang bahagia bersama Nara dan


putra-putri mereka. Tidak. Tidak ada lagi yang diinginkan selain itu.


Terenyuh dengan setiap kalimat suaminya, Nara tidak bisa membendung air matanya. Ia


menangis dalam diam. Dengan lembut, Nara mengusap kepala Jordan dan dapat


merasakan kalau punggung tegap itu bergetar pelan. Ini adalah yang kedua


kalinya Nara melihat Jordan menangis. Jika kemarin ia menangis karna hancur,


tapi saat ini Nara tahu suaminya itu menangis karena rasa bahagia atas kehadiran


buah hati mereka.


****


Minggu sore, Nara sedang duduk bersila di ruang Tv milik Kakek Rikkard, memegang cup


ice cream sambil menonton film animasi Tom and Jerry. Entah sudah berapa puluh


kali ia menonton film itu tapi tak pernah merasa bosan.


“Jangan banyak-banyak minum es.” Rikkard menepuk pucuk kepala Nara lalu duduk di sofa,


ikut bersila sambil memangku sekotak macaroons. Nara melirik macaroons itu penuh minat.


“Kamu mau?” Rikkard menyadari tatapan cucu menantunya itu.


Tanpa malu, Nara mengangguk dan meletakkan cup es cream ke atas meja lalu meraih


kotak yang di sodorkan Rikkard. Kini giliran Nara yang memangkunya.


Jordan baru saja mengumumkan kehamilan Nara langsung disambut antusias oleh Kakek Rikkard.


Saking senangnya pria tua itu sampai menangis haru mendengarnya, bahkan berulang


kali mengucapkan terima kasih kepada Nara dan memeluknya sayang. Tidak hanya


Rikkard, di rumah itu ada juga Aldrich yang ikut berkunjung.


“Si Jo, kemana?” tanya Aldrich yang baru saja muncul entah dari mana, tapi yang


jelas di tangannya kini sudah ada segelas wine.


“Di dapur.” Rikkard menyahut malas “Ck, isi kulkasku sudah kosong karna mulutnya yang tidak berhenti ngunyah.”


“Sabar, Kek. cucu kesayanganmu lagi ngidam,” kekeh Aldrich


“Iya, tapi tidak harus serakus itu juga.” decak Rikkard


Nara mengulum senyum, “Beberapa hari lalu Jordan enggak nafsu makan, Kek. Apa yang


masuk selalu di muntahin. Dan setelah di rumah ini baru dia bisa makan dengan lahap tanpa muntah.”


Belum sempat Rikkard berkomentar, suara Jordan lebih dulu menggema.


“Hanna, sisa cake tadi uda enggak ada?” Jordan datang dengan sepiring pie apple yang


dia temukan di lemari es. Duduk disamping Nara.


“Kan tadi sudah Tuan habisin semuanya,” sahut Hanna, pelayan di rumah Rikkard.


Jordan hanya melirik datar sambil memakan pie-nya. Asik sendiri dengan makanannya.


“Gila, capek banget.” Evan datang sambil meletakkan bungkusan  di meja. “Sialan kau, Jo. Mesti ya belinya di Hawai?” sengit Evan sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


“Memangnya dia menyuruhmu beli apa sampai ke sana?” Aldrich menaikkan alis


“Wah, steak rusanya sudah datang?” Jordan meletakkan piring yang sudah kosong ke atas


meja dan meraih paper bag yang Evan bawa tadi.


“Serius, Jo?” Aldrich menatap takjub.


“Kalau tidak demi mendapatkan kontak Angelku, tidak akan pernah rela aku menuruti ngidamnya si kunyuk


itu.” sinis Evan, sementara mahluk yang di siniskan sudah melangkah menuju


dapur dengan wajah ceria.


Mendengar keluhan Evan, Rikkard dan Aldrich tak kuasa menahan tawanya. Jordan benar-benar


luar biasa mengerjai orang. Sedang Nara hanya tersenyum kecil sambil


menggeleng-gelengkan kepala.


“Ck, ck, Evanku yang malang,” Aldrich terkikik sambil menepuk-nepuk bahu lemas Evan.


“Ah, diamlah.” decak Evan


****


membangunkan Nara setiap pukul satu dini hari untuk di ajak bercinta. Dan itu


sudah berlangsung sehari setelah kabar kehamilannya.


“Lion,” tangan Jordan mulai membelai-belai tepian pakain dalam Nara. “bangun, sayang.”


bisiknya parau dengan tangan yang mulai menyusup masuk, menarik pakaian dalam Nara.


“Aku ngantuk, Jo” Nara berujar lelah.


“Tapi pengen jengukin baby.” Jordan menciumi pipi Nara, menaburi banyak *******


sampai ia terusik dari tidurnya “Sekali aja.” bujuknya setelah berhasil menarik turun pakain dalam Nara.


Nara menghela napas, menolak juga percuma. Dia akan terus merayu hingga keinginannya


terpenuhi.


Jordan tersenyum saat Nara berguling telentang dan Nara menyorot kesal.


“Kepengennya kamu itu tiap malam loh, jam satu pula,”


Jordan menunduk dan mengecup lehernya, “Kalau ditahan sampai pagi nanti aku engga bisa


tidur.”


Dengan sigap Jordan menindih Nara, mengecupinya dimana-mana dan mulai membelai.


Memberikan kenikmatan yang sejujurnya tidak mampu Nara tolak, ditambah efek


hormon kehamilannya sekarang.


Pukul setengah empat mereka baru selesai. Sekali yang Jordan janjikan berubah menjadi


lagi dan lagi hingga Nara protes, baru Jordan mengakhirinya. Nara pikir Jordan


akan membiarkannya tidur, tapi lelaki itu malah menggendongnya menujuh ruang


makan dan mendudukkannya di kursi, hanya berbalut kimono tidur.


Sementara pelaku yang membuat jam tidurnya terbengkalai, sedang asik menyantap dua potong


sandwich dan beberapa potongan apel. Nara hanya meminum susu hangat yang


dibuatkan oleh Jordan. Wanita itu sesekali menguap, menunggui Jordan


menghabiskan makanannya.


“Masih lama lagi, Jo?” Nara meletakkan kepala di atas meja dengan mata terpejam.


“Dikit lagi.” Jordan menyuapi potongan apel ke mulutnya, setelah kedua sandwichnya


habis.


Nara menguap lagi dan pada akhirnya membiarkan kantuk menguasainya. Dan sebelum


kesadarannya terenggut penuh, Nara merasakan tubuhnya melayang. Membuka mata,


Jordan tengah menggendongnya menujuh kamar.


“Tidur aja.” bisiknya meletakkan tubuh istrinya di ranjang lalu ikut berbaring di


sampingnya dengan tangan yang memeluk erat tubuh Nara.


“Sleep well, Mommy.” Jordan mengecup pucuk kepala Nara lalu ikut memejamkan mata.


****


“Permisi, Pak. Ini ada—astaga!”


Nara baru membuka pintu ruangan Jordan dengan sebuah map ditangannya, tapi kemudian


memekik terkejut begitu melihat sang bos ternyata sedang asik makan dengan


beberapa hidangan di atas meja sofa. Mulutnya penuh dengan makanan saat


mendongak.


“Mommy, sini makan.” Jordan menyengir dan menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.


“Kamu makan? Di jam segini?” Nara menatap ngeri. Apalagi ketika melirik jam di tangannya masih menunjukkan pukul sembilan.


Jordan hanya mengangguk, masih sibuk mengunyah potongan pizza terakhir. Tidak hanya


pizza, di atas meja juga ada burger dan pie apple serta sebotol pepsi.


Nara meletakkan map yang di bawanya tadi di atas meja kerja Jordan. Percuma jika


menyuruh pria itu tanda tangan sekarang. Ia tidak akan mengubris selagi


makanannya belum habis.


“Baru dua jam lalu kamu sarapan—banyak lagi. Terus sekarang uda lapar lagi?” Nara


duduk disisi Jordan sambil bertopang dagu menatap suaminya yang begitu lahap.


“Ini bawaan baby loh, Mommy.” dalih Jordan “mau?” tawarnya


Nara menggeleng cepat. Sedang Jordan mengangkat bahu tak acuh.


Nara menatapnya ngeri. Akhir-akhir ini Jordan makan lebih banyak dari biasanya. Nara


tak ingin perutnya membuncit karena lemak yang menimbun. Tapi untunglah Jordan


semakin rajin berolahraga setiap pagi sebelum berangkat kerja.


“Kamu juga sekarang semakin malas bangun pagi, kalau enggak dibangunin bakal telat berangkat kerja.” sindir Nara


Jordan meneguk habis minumannya, bersendawa sejenak lalu menoleh pada Nara.


“Ya habisnya kamu yang bangunin aku setiap jam satu, minta ditidurin.”


Nara menatap horror, “Heh, sembarangan ya! Itu fitnah.”


Jordan terkekeh. Ia memutar tubuh menghadap Nara sepenuhnya, lalu meraih kaki


istrinya—diletakkan di atas pangkuannya, mulai memijatnya dengan pelan.


“Jo, kamu ngapain? Ini di kantor. Nanti ada yang lihat,” cegah Nara, menarik turun


kembali kakinya tapi Jordan tidak membiarkannya.


“Diam, Mommy.” Jordan menyorot tajam “Tidak akan ada yang berani masuk tanpa seijinku.


Kecuali kamu.”


Nara mendesah pasrah. Percuma juga menolak. Mood suaminya ini selalu cepat berubah.


Sebentar dingin, sebentar cerewet lalu berubah manja.


Astaga, siapa sebenarnya yang hamil disini?!  


“Udah. Gantian dong, Mommy.”


Jordan menurunkan kaki Nara lalu mengubah posisi dan meletakkan kepalanya di pangkuan


Nara. Kedua tangannya memeluk erat perut Nara, menyingkap kemeja istrinya ke


atas agar ia bisa mengecupi perut Nara secara langsung.


“Jo, sebaiknya kamu kembali bekerja.” peringat Nara sambil mulai mengusap rambut cokelatnya.


Jordan hanya bergumam, memeluk perutnya erat, enggan melepaskan.


“Aku ada bawa kontrak kerja yang harus kamu tanda tangani.”


“Malas.” jawabnya sambil menguap. “aku ngantuk. Mau tidur bentar sambil peluk baby.”


gumamnya tak jelas tapi begitu menggemaskan di mata Nara.


Dan benar saja, belum ada lima menit dia


mengatakannya, Nara sudah mendengar dengkuran halus Jordan. Nara tidak bisa


untuk tidak tersenyum. Sungguh ia tidak menyangka, sejak kehamilannya, dalam


satu waktu Jordan bisa memiliki beragam ekspresi. Dan itu membuatnya kesal dan


kehabisan kata,  tapi tak menampik, ia bahagia


dengan segala macam tingkahnya.


To be continued


Ig: @rianitasitumorang**