JORDAN

JORDAN
Chapter 35



“Daddy… daddy…”


Kelopak mata Jordan


yang tertutup perlahan terbuka saat suara anak kecil mengusik telinganya.


Bersamaan dengan cahaya menyilaukan seolah menembus kelopak matanya yang


tertutup. Lantas, Jordan mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan


silaunya cahaya yang kini memenuhi kornea matanya.


Cahaya itu seperti


titik lampu sorot di kejauhan yang kian lama rasanya besar dan mendekat. Lalu,


keadaan di sekeliling Jordan mulai nampak samar. Dan ketika semuanya sudah


tergambar jelas, jika dirinya seperti sedang berada di sebuah taman.


Taman itu terasa


begitu asing. Sangat asing, karena Jordan yakin ini bukan taman belakang


rumahnya. Kendati asing, taman itu sangat indah. Dengan kicauan burung yang


merdu, bunga warna-warni dari segala macam jenis yang menghiasi sebagian besar


hamparan rumput hijau yang membentang seolah tanpa ujung. Kupu-kupu


berterbangan di sekitar bunga yang kini sedang bermekaran dengan indahnya.


Seolah saat ini sedang berada di musim semi yang sangat indah.


Suara gemercik air


yang berasal dari air mancur yang berada di tengah hamparan rumput itu


terdengar begitu menenangkan. Namun, fokus mata Jordan justru terpaku pada satu


titik, atau lebih tepatnya dua sosok yang tampak begitu bahagia.


Sosok anak


laki-laki yang kini tengah bermain berlarian di sekitar kebun bunga. Anak


lelaki itu terlihat sedang berusaha menangkap salah satu kupu-kupu yang masih


berterbangan di sekitar sana, sedang dibelakangnya ada sesosok wanita yang


mengikuti dengan santai anak laki-laki itu.


* Sosok itu adalah Lionara tengah tertawa. Tidak*


hanya tertawa, Lionara juga tersenyum begitu manis. Senyum yang membuat Jordan kerap


terpesona ketika melihatnya. Lionara mengenakan gaun berwarna putih dengan


potongan sederhana. Rambut bergelombangnya dibiarkannya tergerai seperti peri


hutan yang terlihat sangat cantik dan menawan.


“Daddy!”


Jordan mengerjap.


Tersentak kaget saat anak kecil itu kini berdiri di hadapannya dengan cengiran


lebarnya. Tangan mungil itu menarik-narik celana Jordan, seolah menyuruh Jordan


untuk berlutut  agar mensejajarkan tinggi


mereka.


Jordan


melakukannya. Ia tercenung saat menatap dari jarak sedekat ini wajah anak


laki-laki itu. Jordan menatap kagum pada pahatan sempurna anak itu. Mata anak itu


berwarna biru laut seperti dirinya, rambutnya cokelat tebal dengan poni depan yang nyaris menutupi mata, pipi tembam


dan gigi susunya tampak begitu menggemaskan. Jordan seperti berhadapan dengan


versi mininya.


Perlahan, kedua


tangan lebar Jordan menangkup pipi berlemak balita itu. Lembut dan sangat


halus.


“Ka-kamu


memanggilku daddy?” tersendat, Jordan bertanya parau


Anak itu mengangguk


cepat. “Of course. You are my daddy,”ia menyahut mantap.


Anak itu balas


merangkup wajah Jordan dengan kedua tangan mungilnya.


“Why are you


crying? You look so bad,” gerutu bocah itu seraya mengusap wajah basah Jordan.


Jordan memejamkan


mata. Meresapi usapan tangan mungil itu.


“Boleh aku


memelukmu, baby?” Jordan meminta ijin dan dibalas anggukan oleh anak itu.


Jordan menarik


tubuh anak itu dan mendekapnya serat yang ia bisa. “Maafkan daddy, sayang.


Daddy bersalah padamu dan mommy. Daddy sangat menyesal.” Parau Jordan yang


mulai terisak dalam pelukan anak laki-laki itu. “Daddy mohon, jangan pernah


tinggalkan daddy. Daddy tidak bisa hidup tanpa kalian.”


“Sshh… sshh.. Mommy


said, don’t cry daddy. You are our hero. We love you so much.” Anak laki-laki


itu berbisik sambil menepuk-nepuk punggung lebar Jordan yang bergetar. “We are


with you Dad. So, be calm, okay?”


Jordan tidak mampu


menjawab. Hanya dekapannya kian mengetat seolah takut anak lelakinya itu pergi.


Ia terus menangis dan tangan mungil itu tak berhenti menepuk-nepuk


punggungnya—memberi ketenangan.


****


Jordan menyisir dengan hati-hati rambut Lionara setelah tubuh wanita itu ia lap dengan


kain basah secara keseluruhan. Tugas itu seharusnya dilakukan oleh suster,


tetapi Jordan malah mengambil alih. Sekalipun dokter tidak mengijinkan,


mengingat keadaannya pun yang masih belum pulih, tapi pria itu bersikeras.


Jordan bahkan meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan dirinya agar berada di satu


ruangan bersama Lionara. Awalnya memang sulit untuk disetujui, tapi siapa yang


bisa melawan jika itu adalah kehendak Jordan Christoper. Rumah sakit itu pun


dapat ia beli hanya dengan sekali jentikan jari. Namun kadang ada saatnya


keinginannya tidak bisa terpenuhi. Misalnya keinginan untuk melihat mata wanita


itu terbuka lagi. Wanita itu masih saja memejamkan mata, seolah itu adalah hal yang


paling membahagiakan dalam hidupnya, tanpa tahu bahwa Jordan sedang menunggui


dirinya terbangun.


Kegiatan pria itu tidak jauh dari ruang olahraga di rumah sakit, memulihkan kaki dan


tangannya yang masih tidak berfungsi dengan sempurna, lalu melap serta


menggantikan pakaian Lionara setiap pagi dan sore, dan terakhir berbicara pada


Lionara—walaupun berakhir dengan dia yang berbicara sendiri.


Jordan tidak lagi merasakan kesedihan yang luar biasa seperti sebelumnya. Ini berkat


mimpinya beberapa hari yang lalu saat dirinya tertidur memeluk perut Lionara,


setelah sebelumnya menangis meraung sampai berjam-jam. Pertemuannya dengan sosok


anak laki-lakinya itu berhasil mengurangi sedikit guncangan dihatinya yang


sesak karena dipenuhi rasa bersalah. Anak itu membisikkan kata-kata yang begitu


menenangkan dirinya. Seolah itu adalah mantra ajaib untuk mengobati jiwanya


“Nggak apa-apa kalau kamu masih betah di dunia manapun yang sekarang kamu tinggalin.


Hanya satu pesanku, setelah bosan menetap disana, cepat kembali. Aku menunggumu.


Disana, bukan rumahmu, sayang,” Jordan berbisik lirih—mengecup lama dahi


Lionara dengan mata terpejam.


“Tuan,”


Jordan membuka mata saat mendengar panggilan itu. Ia menegapkan tubuhnya, duduk di


samping ranjang Lionara.


“Bagaimana?”


datar, Jordan bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah istrinya.


“Kami sudah berhasil menangkap Roberto dan Lucy, dan mereka sudah dijatuhi hukuman


lima belas tahun penjara dengan tuduhan penipuan dan pembunuhan berencana atas


kecelakaan yang menimpah pesawat Leonardo Lincolnshire dua belas tahun lalu.”


lapor Sam


Ya,


setelah sadar, Jordan langsung memerintah Sam untuk memburu Rebecca. Namun


dalam proses itu, alangkah terkejutnya dia saat Sam melaporkan jika Rebecca


adalah sepupu kandung Lionara. Ayah mereka kakak beradik. Tapi sayangnya,


Roberto lebih seraka dan membenci Leonardo karena lelaki itu mewarisi kekayaan


keluarga mereka. Oleh sebab itu, selama bertahun-tahun dia bermuka dua,


bersikap sangat patuh pada Leonardo sebelum kemudian melancarkan aksinya dengan


mensabotase pesawat jet sang kakak sehingga lelaki itu tewas dalam kecelakaan


tersebut. Dan setelah berhasil mencelakai Leonardo, kemudian Roberto


memanipulasi seluruh asset sang kakak dengan memanfaatkan Lionara yang masih


remaja, mengingat saat itu pun Maria kepalang depresi saat mendengar suaminya


meninggal.


Jordan kembali mengusut kasus tersebut. Dan dengan kekuasaan yang dimilikinya, kasus


12 tahun lalu berhasil diungkapkan kebenarannya hanya dalam waktu satu minggu


oleh para intelijen yang dimiliki Jordan. Seluruh asset keluarga Lincolnshire dalam


sekejap kembali dialihkan ke atas nama Leon—sebagai penerus sah Leonardo.


Jordan menatap sendu wajah Lionara yang masih terpasang masker oksigen. Berkali-kali


ia menyalahkan dirinya karena telah kecolongan akan informasi sepenting ini.


Lion-nya selama ini telah banyak menderita oleh perbuatan biadab keluarganya


sendiri. Pantas saja wanitanya itu selalu saja menampilkan aura permusuhan


setiap kali melihat Rebecca. Namun kendati demikian, Lionara tak sekalipun


mengadu padanya. Lion-nya menahan diri, dan itu membuat Jordan merasa gagal


sebagai suami.


“Rebecca.” Jordan menggeram. Ia baru sadar Sam belum memberikan laporan mengenai perempuan


sialan itu. Wanita busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa


yang menantinya. Jordan pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. “Kau


sudah menemukannya?”


Sam bergerak sedikit gelisah, “Belum tuan. Saat dalam pengejaran, dia berhasil


melarikan diri entah kemana.”


“Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup,”


Suara Jordan terdengar mengerikan dan Sam tahu Jordan sedang sangat marah. Saat ini


seharusnya Rebecca berdoa supaya dia ditangkap dalam kondisi sudah mati, karena


kalau Jordan sudah menemukannya dalam kondisi hidup… Sam tidak berani


membayangkan bagaimana jadinya.


“Baik tuan,”


****


“Botulinum. Jika disuntikkan dalam jumlah


mematikan ke aliran darah, korban bisa mengalami kegagalan organ vital dan tak


bisa bernafas.”


Seorang pria dengan sarung tangan dan wajah yang ditutupi masker, topi, serta pakaian


serba hitam menyerahkan sebuah kantung bening berisi dua suntikan pada


seseorang perempuan yang mengenakan pakaian perawat dibingkai kacamata tebal


dan masker.


Perempuan itu menyeringai, menerima racun mematika itu dan memasukkannya ke dalam kantung


seragam perawatnya. Seikat dollar telah berpindah tangan pada pria itu, dan tak lama ia berlalu.


Sudah dua minggu berlalu sejak pengejaran itu. Jordan benar-benar mengerahkan seluruh


anak buahnya untuk mencarinya sampai ke setiap sudut kota. Sementara kedua


orangtuanya telah mendekam dalam penjara karena perbuatan Jordan. Lelaki itu


tidak tanggung-tanggung dalam membalaskan dendamnya. Seorang Rebecca yang


cantik jelita berubah menjadi wanita menyedihkan yang sangat berantakan. Ia


depresi menahan semua kehancuran dan rasa marah yang bersarang di kepala.


Hampir setiap malam ia tidak tidur. Lingkaran hitam pada sepasang matanya telah


mengatakan demikian.


Rebecca berada di lantai dasar rumah sakit besar ini. Sesuai perkiraan sejak kemarin,


Jordan akan keluar dari kamar inap untuk melakukan serangkaian pengecekan pada


tangan dan kakinya yang patah. Pun Rikkard dan Leon baru saja keluar dari


ruangan Lionara—keduanya akan pergi makan siang di kafetaria rumah sakit.


Senyum terkulum tersungging dari bibirnya mengingat semua rencana telah


tersusun indah di kepala. Ia baru rela mati setelah menyingkirkan dua nyawa


sekalian.


Bergegas masuk ke dalam lift, Rebecca menekan tombol ke atas menuju ruangan wanita yang


telah menghancurkan hidupnya itu berada. Perlahan, ia membuka pintu. Lionara


tengah terbaring tak berdaya di ranjang. Ia melarikan pandangan segela arah.


Ruangan yang sangat mewah. Dengan langkah pelan, Rebecca berjalan mendekati


ranjang Lionara.


“Seharusnya sejak awal aku melenyapkanmu agar hidupku tidak berakhir sehancur ini!” gumam


Rebecca dengan seringaian iblis terukir. “Tapi tidak masalah. Sekarang pun aku


akan mengirimmu berkumpul secepatnya kepada kedua orang tuamu!”


Rebecca mulai mengeluarkan suntik itu dan menatap penuh kebencian pada raut Lionara yang


begitu tenang terlelap disana. Semua yang didambakannya telah direnggut oleh


perempuan terkutuk ini.


“Goodbye, Lionara,” bisiknya, kemudian


membuka tutup sunti itu dan menyuntikkannya pada lengan Lionara yang terbuka.


Tiba-tiba alat pemicu kehidupan Lionara berbunyi nyaring. Wanita itu bereaksi. Hidungnya


mengeluarkan suara keras,.Dada Lionara naik turun dengan wajahnya semakin


memucat, mulut wanita itu merintih kesakitan dan keringat mulai bercucuran di


dahinya.


Melihat itu Rebecca tertawa kesetanan—merasa sangat puas menyaksikan detik-detik kematian sepupu yang sangat dibencinya itu.


To be continued


IG: @rianitasitumorang