
“Daddy… daddy…”
Kelopak mata Jordan
yang tertutup perlahan terbuka saat suara anak kecil mengusik telinganya.
Bersamaan dengan cahaya menyilaukan seolah menembus kelopak matanya yang
tertutup. Lantas, Jordan mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan
silaunya cahaya yang kini memenuhi kornea matanya.
Cahaya itu seperti
titik lampu sorot di kejauhan yang kian lama rasanya besar dan mendekat. Lalu,
keadaan di sekeliling Jordan mulai nampak samar. Dan ketika semuanya sudah
tergambar jelas, jika dirinya seperti sedang berada di sebuah taman.
Taman itu terasa
begitu asing. Sangat asing, karena Jordan yakin ini bukan taman belakang
rumahnya. Kendati asing, taman itu sangat indah. Dengan kicauan burung yang
merdu, bunga warna-warni dari segala macam jenis yang menghiasi sebagian besar
hamparan rumput hijau yang membentang seolah tanpa ujung. Kupu-kupu
berterbangan di sekitar bunga yang kini sedang bermekaran dengan indahnya.
Seolah saat ini sedang berada di musim semi yang sangat indah.
Suara gemercik air
yang berasal dari air mancur yang berada di tengah hamparan rumput itu
terdengar begitu menenangkan. Namun, fokus mata Jordan justru terpaku pada satu
titik, atau lebih tepatnya dua sosok yang tampak begitu bahagia.
Sosok anak
laki-laki yang kini tengah bermain berlarian di sekitar kebun bunga. Anak
lelaki itu terlihat sedang berusaha menangkap salah satu kupu-kupu yang masih
berterbangan di sekitar sana, sedang dibelakangnya ada sesosok wanita yang
mengikuti dengan santai anak laki-laki itu.
* Sosok itu adalah Lionara tengah tertawa. Tidak*
hanya tertawa, Lionara juga tersenyum begitu manis. Senyum yang membuat Jordan kerap
terpesona ketika melihatnya. Lionara mengenakan gaun berwarna putih dengan
potongan sederhana. Rambut bergelombangnya dibiarkannya tergerai seperti peri
hutan yang terlihat sangat cantik dan menawan.
“Daddy!”
Jordan mengerjap.
Tersentak kaget saat anak kecil itu kini berdiri di hadapannya dengan cengiran
lebarnya. Tangan mungil itu menarik-narik celana Jordan, seolah menyuruh Jordan
untuk berlutut agar mensejajarkan tinggi
mereka.
Jordan
melakukannya. Ia tercenung saat menatap dari jarak sedekat ini wajah anak
laki-laki itu. Jordan menatap kagum pada pahatan sempurna anak itu. Mata anak itu
berwarna biru laut seperti dirinya, rambutnya cokelat tebal dengan poni depan yang nyaris menutupi mata, pipi tembam
dan gigi susunya tampak begitu menggemaskan. Jordan seperti berhadapan dengan
versi mininya.
Perlahan, kedua
tangan lebar Jordan menangkup pipi berlemak balita itu. Lembut dan sangat
halus.
“Ka-kamu
memanggilku daddy?” tersendat, Jordan bertanya parau
Anak itu mengangguk
cepat. “Of course. You are my daddy,”ia menyahut mantap.
Anak itu balas
merangkup wajah Jordan dengan kedua tangan mungilnya.
“Why are you
crying? You look so bad,” gerutu bocah itu seraya mengusap wajah basah Jordan.
Jordan memejamkan
mata. Meresapi usapan tangan mungil itu.
“Boleh aku
memelukmu, baby?” Jordan meminta ijin dan dibalas anggukan oleh anak itu.
Jordan menarik
tubuh anak itu dan mendekapnya serat yang ia bisa. “Maafkan daddy, sayang.
Daddy bersalah padamu dan mommy. Daddy sangat menyesal.” Parau Jordan yang
mulai terisak dalam pelukan anak laki-laki itu. “Daddy mohon, jangan pernah
tinggalkan daddy. Daddy tidak bisa hidup tanpa kalian.”
“Sshh… sshh.. Mommy
said, don’t cry daddy. You are our hero. We love you so much.” Anak laki-laki
itu berbisik sambil menepuk-nepuk punggung lebar Jordan yang bergetar. “We are
with you Dad. So, be calm, okay?”
Jordan tidak mampu
menjawab. Hanya dekapannya kian mengetat seolah takut anak lelakinya itu pergi.
Ia terus menangis dan tangan mungil itu tak berhenti menepuk-nepuk
punggungnya—memberi ketenangan.
****
Jordan menyisir dengan hati-hati rambut Lionara setelah tubuh wanita itu ia lap dengan
kain basah secara keseluruhan. Tugas itu seharusnya dilakukan oleh suster,
tetapi Jordan malah mengambil alih. Sekalipun dokter tidak mengijinkan,
mengingat keadaannya pun yang masih belum pulih, tapi pria itu bersikeras.
Jordan bahkan meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan dirinya agar berada di satu
ruangan bersama Lionara. Awalnya memang sulit untuk disetujui, tapi siapa yang
bisa melawan jika itu adalah kehendak Jordan Christoper. Rumah sakit itu pun
dapat ia beli hanya dengan sekali jentikan jari. Namun kadang ada saatnya
keinginannya tidak bisa terpenuhi. Misalnya keinginan untuk melihat mata wanita
itu terbuka lagi. Wanita itu masih saja memejamkan mata, seolah itu adalah hal yang
paling membahagiakan dalam hidupnya, tanpa tahu bahwa Jordan sedang menunggui
dirinya terbangun.
Kegiatan pria itu tidak jauh dari ruang olahraga di rumah sakit, memulihkan kaki dan
tangannya yang masih tidak berfungsi dengan sempurna, lalu melap serta
menggantikan pakaian Lionara setiap pagi dan sore, dan terakhir berbicara pada
Lionara—walaupun berakhir dengan dia yang berbicara sendiri.
Jordan tidak lagi merasakan kesedihan yang luar biasa seperti sebelumnya. Ini berkat
mimpinya beberapa hari yang lalu saat dirinya tertidur memeluk perut Lionara,
setelah sebelumnya menangis meraung sampai berjam-jam. Pertemuannya dengan sosok
anak laki-lakinya itu berhasil mengurangi sedikit guncangan dihatinya yang
sesak karena dipenuhi rasa bersalah. Anak itu membisikkan kata-kata yang begitu
menenangkan dirinya. Seolah itu adalah mantra ajaib untuk mengobati jiwanya
“Nggak apa-apa kalau kamu masih betah di dunia manapun yang sekarang kamu tinggalin.
Hanya satu pesanku, setelah bosan menetap disana, cepat kembali. Aku menunggumu.
Disana, bukan rumahmu, sayang,” Jordan berbisik lirih—mengecup lama dahi
Lionara dengan mata terpejam.
“Tuan,”
Jordan membuka mata saat mendengar panggilan itu. Ia menegapkan tubuhnya, duduk di
samping ranjang Lionara.
“Bagaimana?”
datar, Jordan bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah istrinya.
“Kami sudah berhasil menangkap Roberto dan Lucy, dan mereka sudah dijatuhi hukuman
lima belas tahun penjara dengan tuduhan penipuan dan pembunuhan berencana atas
kecelakaan yang menimpah pesawat Leonardo Lincolnshire dua belas tahun lalu.”
lapor Sam
Ya,
setelah sadar, Jordan langsung memerintah Sam untuk memburu Rebecca. Namun
dalam proses itu, alangkah terkejutnya dia saat Sam melaporkan jika Rebecca
adalah sepupu kandung Lionara. Ayah mereka kakak beradik. Tapi sayangnya,
Roberto lebih seraka dan membenci Leonardo karena lelaki itu mewarisi kekayaan
keluarga mereka. Oleh sebab itu, selama bertahun-tahun dia bermuka dua,
bersikap sangat patuh pada Leonardo sebelum kemudian melancarkan aksinya dengan
mensabotase pesawat jet sang kakak sehingga lelaki itu tewas dalam kecelakaan
tersebut. Dan setelah berhasil mencelakai Leonardo, kemudian Roberto
memanipulasi seluruh asset sang kakak dengan memanfaatkan Lionara yang masih
remaja, mengingat saat itu pun Maria kepalang depresi saat mendengar suaminya
meninggal.
Jordan kembali mengusut kasus tersebut. Dan dengan kekuasaan yang dimilikinya, kasus
12 tahun lalu berhasil diungkapkan kebenarannya hanya dalam waktu satu minggu
oleh para intelijen yang dimiliki Jordan. Seluruh asset keluarga Lincolnshire dalam
sekejap kembali dialihkan ke atas nama Leon—sebagai penerus sah Leonardo.
Jordan menatap sendu wajah Lionara yang masih terpasang masker oksigen. Berkali-kali
ia menyalahkan dirinya karena telah kecolongan akan informasi sepenting ini.
Lion-nya selama ini telah banyak menderita oleh perbuatan biadab keluarganya
sendiri. Pantas saja wanitanya itu selalu saja menampilkan aura permusuhan
setiap kali melihat Rebecca. Namun kendati demikian, Lionara tak sekalipun
mengadu padanya. Lion-nya menahan diri, dan itu membuat Jordan merasa gagal
sebagai suami.
“Rebecca.” Jordan menggeram. Ia baru sadar Sam belum memberikan laporan mengenai perempuan
sialan itu. Wanita busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa
yang menantinya. Jordan pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. “Kau
sudah menemukannya?”
Sam bergerak sedikit gelisah, “Belum tuan. Saat dalam pengejaran, dia berhasil
melarikan diri entah kemana.”
“Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup,”
Suara Jordan terdengar mengerikan dan Sam tahu Jordan sedang sangat marah. Saat ini
seharusnya Rebecca berdoa supaya dia ditangkap dalam kondisi sudah mati, karena
kalau Jordan sudah menemukannya dalam kondisi hidup… Sam tidak berani
membayangkan bagaimana jadinya.
“Baik tuan,”
****
“Botulinum. Jika disuntikkan dalam jumlah
mematikan ke aliran darah, korban bisa mengalami kegagalan organ vital dan tak
bisa bernafas.”
Seorang pria dengan sarung tangan dan wajah yang ditutupi masker, topi, serta pakaian
serba hitam menyerahkan sebuah kantung bening berisi dua suntikan pada
seseorang perempuan yang mengenakan pakaian perawat dibingkai kacamata tebal
dan masker.
Perempuan itu menyeringai, menerima racun mematika itu dan memasukkannya ke dalam kantung
seragam perawatnya. Seikat dollar telah berpindah tangan pada pria itu, dan tak lama ia berlalu.
Sudah dua minggu berlalu sejak pengejaran itu. Jordan benar-benar mengerahkan seluruh
anak buahnya untuk mencarinya sampai ke setiap sudut kota. Sementara kedua
orangtuanya telah mendekam dalam penjara karena perbuatan Jordan. Lelaki itu
tidak tanggung-tanggung dalam membalaskan dendamnya. Seorang Rebecca yang
cantik jelita berubah menjadi wanita menyedihkan yang sangat berantakan. Ia
depresi menahan semua kehancuran dan rasa marah yang bersarang di kepala.
Hampir setiap malam ia tidak tidur. Lingkaran hitam pada sepasang matanya telah
mengatakan demikian.
Rebecca berada di lantai dasar rumah sakit besar ini. Sesuai perkiraan sejak kemarin,
Jordan akan keluar dari kamar inap untuk melakukan serangkaian pengecekan pada
tangan dan kakinya yang patah. Pun Rikkard dan Leon baru saja keluar dari
ruangan Lionara—keduanya akan pergi makan siang di kafetaria rumah sakit.
Senyum terkulum tersungging dari bibirnya mengingat semua rencana telah
tersusun indah di kepala. Ia baru rela mati setelah menyingkirkan dua nyawa
sekalian.
Bergegas masuk ke dalam lift, Rebecca menekan tombol ke atas menuju ruangan wanita yang
telah menghancurkan hidupnya itu berada. Perlahan, ia membuka pintu. Lionara
tengah terbaring tak berdaya di ranjang. Ia melarikan pandangan segela arah.
Ruangan yang sangat mewah. Dengan langkah pelan, Rebecca berjalan mendekati
ranjang Lionara.
“Seharusnya sejak awal aku melenyapkanmu agar hidupku tidak berakhir sehancur ini!” gumam
Rebecca dengan seringaian iblis terukir. “Tapi tidak masalah. Sekarang pun aku
akan mengirimmu berkumpul secepatnya kepada kedua orang tuamu!”
Rebecca mulai mengeluarkan suntik itu dan menatap penuh kebencian pada raut Lionara yang
begitu tenang terlelap disana. Semua yang didambakannya telah direnggut oleh
perempuan terkutuk ini.
“Goodbye, Lionara,” bisiknya, kemudian
membuka tutup sunti itu dan menyuntikkannya pada lengan Lionara yang terbuka.
Tiba-tiba alat pemicu kehidupan Lionara berbunyi nyaring. Wanita itu bereaksi. Hidungnya
mengeluarkan suara keras,.Dada Lionara naik turun dengan wajahnya semakin
memucat, mulut wanita itu merintih kesakitan dan keringat mulai bercucuran di
dahinya.
Melihat itu Rebecca tertawa kesetanan—merasa sangat puas menyaksikan detik-detik kematian sepupu yang sangat dibencinya itu.
To be continued
IG: @rianitasitumorang