
Lionara dan Daniel duduk bersisian di atas rumput, menatap pohon-pohon yang menjadi penghias taman. Ada beberapa bunga yang tumbuh di pekarangan. Walau sudah sering ke tempat ini, Lionara masih merasa klinik pribadi dokter Lilo memang
tidak terlihat seperti klinik.
Mewah dan megah, nyaman, tenang dan menyenangkan.
Didalam, Jordan sedang mengikuti terapinya yang untuk kesekian kali. Kesehatan mental
pria itu semakin hari semakin membaik, dan hanya tinggal mengikuti tiga kali
terapi lagi maka Jordan sudah di perbolehkan untuk pulang. Setelahnya Jordan
hanya perlu datang sebulan sekali untuk melakukan check up.
Dan saat ini, Lionara tidak menemani Jordan mengikuti terapinya, karena Daniel
tiba-tiba datang dan meminta ijin kepada Jordan agar memperbolehkan Daniel
memberikan waktu padanya untuk dapat berbicara dengan Lionara sejenak. Dan
tanpa di duga, pria posesif itu menyetujuinya.
“Jadi… kamu akan pergi ke luar negeri?”
Daniel tersenyum hambar, embusan napas panjang di keluarkan.
“Iya. Aku sudah tidak memiliki opsi lain lagi. Kondisi Mom semakin tidak stabil. Ada
psikiater yang biasa menangani penyakit semacam Mom di Rusia. Dan lagi, jika
terus berada disini mom tidak akan bisa sembuh karena terbayang terus pada dad.”
“Lalu bagaimana dengan si kembar?”
“Untuk sementara mereka akan tinggal bersama tante Lydia sampai keadaan mom sudah lebih baik.”
Hening.
Lionara tidak tahu harus mengucapkan apa lagi untuk bisa menghalau mendung di
wajah Daniel. Daniel adalah pria yang sangat baik dan tulus, namun
keberuntungan nyaris tidak berpihak padanya. Jauh di lubuk hati, Lionara
sedikit merasa bersalah karena tidak dapat mempertahankan rasa cintanya pada
Daniel sampai akhir—karena posisi itu telah di miliki sepenuhnya oleh Jordan.
“Flo… Apa kamu tahu kalau aku masih sangat mencintaimu?” Daniel menatap dalam manik
hijau Lionara yang tampak tertegun dengan ucapannya. Daniel tersenyum getir, “Iya,
aku masih mencintaimu begitu banyak, dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku
ingin sepertimu yang bisa berhenti mencintaiku, tetapi tidak bisa. Sebesar
apapun aku mencoba, jawabannya tetap sama. Aku masih mencintaimu. Sangat.”
Lidah Lionara kelu, ia tidak mampu membalas pernyataan sarat akan kesedihan itu.
Kemudian Daniel mengeluarkan sebuah kotak hitam dari balik saku—membukanya hingga
tampaklah sepasang cincin berlian cantik. Lionara menatap nanar Daniel dan
cincin itu bergantian, hatinya mencelos saat selanjutnya pria itu berkata,
“Waktu itu aku terpaksa meninggalkanmu hanya demi mendapatkan restu daddy agar bisa
melamarmu dengan ini saat aku kembali. Aku belajar dan bekerja seperti orang
gila, menjadi anak seperti yang di inginkan daddy, cuma demi satu alasan.”
lagi, Daniel memaksakan senyumnya. “Tapi sosok yang menjadi alasanku itu justru
telah dimiliki pria lain.”
“Aku sangat bodoh karena telah pergi tanpa memintamu untuk tetap menungguku.
Seharusnya kita sudah bahagia sekarang jika saja aku tidak membuat keputusan
secara sepihak. Kita mungkin tidak akan pernah serumit ini.”
Lionara diam seribu bahasa, melihat Daniel yang terlihat begitu kesakitan ketika
mengatakannya.
“Kamu itu seperti angin.” Daniel menengadahkan telapak tangannya—merasakan embusan
angin “Cobalah tanyakan pada angina disini, apakah dia bisa patah hati? Sejauh
ini dia tak pernah menjawabnya. Tapi, tanyalah aku, bisakah aku patah hati?
Sejauh ini kamu membuatku seperti angina ini.”
“El—“ air mata Lionara jatuh. Ia benar-benar menghancurkan hati pria ini lebih parah
dari yang dibayangkannya. “I’m sorry…” lanjutnya dengan kepala tertunduk dalam.
Daniel mengulurkan tangannya, menggamit dagu Lionara mendongak ke arahnya. “Hey,
kenapa menangis, hm?” pria itu menyeka lembut air mata Lionara “Maaf jika
kata-kataku menyakitimu,”
Lionara menggeleng, masih dengan air mata yang terus berjatuhan. “Jangan minta maaf.
Kamu tidak pernah melakukan kesalahan. Justru aku yang—“
“Sepertinya semua kata-kataku barusan sangat berefek padamu, ya” Daniel menyelah dengan
senyum yang tersungging lembut
“El-,”
“Maafkan aku, Flo. Aku bukan bermaksud ingin membuatmu jadi merasa bersalah dan berakhir
mengasihaniku.” Pria itu menghela napas “Aku cuma mencoba melepaskan semua
perasaan yang kupendam selama ini. Aku terluka, aku hancur. Tapi bukan berarti
dengan mengatakan ini aku menyalakanmu.
Tidak sama sekali. Aku hanya ingin kamu tahu jika aku tidak baik-baik saja.”
Daniel menatap dalam manik wanita yang dicintainya itu.
“Tujuanku datang kesini selain untuk berpamitan, juga untuk membereskan hatiku padamu. Setidaknya
saat aku pergi, hatiku sudah dalam keadaan baik-baik saja dan aku bisa
melanjutkan hidupku disana dengan hati yang baru. Tanpa menyimpan rasa sakit.”
Pria itu kemudian meraih tangan Lionara dan meletakkan telapaknya di dada Daniel.
“Dan setelah mengatakan semuanya, disini sekarang rasanya sangat melegakan.”
Lanjutnya dengan senyum mengukir lebar.
Lionara membuka mulut hendak bicara, namun tidak ada sepatah kata pun yang bisa
menembus kerongkongannya. Alhasil, ia hanya menatap nelangsa pada Daniel. Pria ini… kenapa begitu baik?
“So, aku perintahkan padamu, berhentilah menangis dan enyahkan jauh-jauh perasaan
bersalah itu. Kamu dan aku tidak harus menanggung itu lagi.”
Kebahagiaan itu memuncak. Mengisi rongga dadanya sampai terasa akan meledak. Namun, tidak ada yang bisa Lionara lakukan selain kembali menjatuhkan air mata, terharu dan
tidak menyangka kalau pada akhirnya cinta pertamanya ini mejatuhkan keputusan
yang bijaksana untuk mereka berdua. Pria itu melepaskan perasaannya yang belum
tuntas dengan cara baik-baik. Dalam hati Lionara terus berdoa, semoga pria
sebaik dan setulus Daniel menemukan perempuan yang dapat melimpahi kehidupan
Daniel dengan cinta sebanyak mungkin—menggantikan segala kesakitan yang telah
pria itu alami selama ini.
raut jenaka seraya merentangkan kedua tangannya.
Tanpa menjawab, Lionara menghambur ke pelukan Daniel yang juga tak kalah erat
memeluknya.
“Maaf… dan terima kasih El,” bisik Lionara serak
“Berjanjilah setelah ini kamu dan Jordan harus selalu bahagia, dan jika kamu butuh teman
untuk curhat, hubungi aku. Aku pasti akan selalu siap untuk menampung seluruh
ceritamu seperti dulu.”
Lionara mengangguk, “Aku janji.”
“Good girl.”
****
Otak Lionara seperti mati rasa, membawanya melayang bahkan melebihi kadar dosis
tertinggi opium sekalipun. Dia tidak bisa berpikir karena kenikmatan itu
semakin mendekat dan siap untuk terlepaskan.
“Daddy..”
“Yes.. mommy?”
“Faster… please..”
Cengkraman Lionara semakin kuat, sedikit lagi ia akan kembali mencapai kepuasan yang
selalu memabukkan. Wanita itu hanya pasrah ketika Jordan merebahkan tubuhnya
dan menguasai wanita itu dari atas, mencari kenikmatan bersama-sama.
Lionara sudah tidak memiliki tenaga yang tersisa karena berhasil mencapai pelepasan
berkali-kali. Sedangkan Jordan, tidak ada tanda-tanda pria itu akan
mengeluarkan benihnya. Entahlah apa yang pria itu komsumsi sehingga mempunyai energi ekstra untuk menidurinya terus menerus.
Jordan menghisap puncak dada Lionara, mencari sesuatu yang menjadi kesukaannya sejak memiliki anak.
“Akkhh…”
Lionara memekik, merasakan sakit dan nikmat dalam satu waktu pada dadanya. Wanita itu ingin sekali mendorong kepala Jordan yang masih menghisap seperti drakula kelaparan. Tapi sensasi yang di berikan pria itu tidak bisa dibohongi, terutama ketika dengan sengaja gigi pria itu menjepit puncak dadanya.
“Kamu kasih semua buat Jay, sama sekali nggak nyisain aku?” Jordan memajukan
bibirnya, merengek seperti anak kecil.
****
“Dad..” Lionara menopang wajahnya dengan tangan, memandang Jordan yang sedang
memejamkan matanya, tapi wanita itu tahu kalau Jordan sedang tidak tidur. Dari gerakan
lembut yang terus mengelus punggung telanjangnya.
“Hm?”
“Dulu, waktu aku masih kerja di Kelab, aku sering lihat Jack jual ****** sama
pelanggan disana. Aku suka penasaran sama benda itu. Banyak rasanya.”
Mendengar ucapan polos itu, sontak manik Jordan terbuka. Ia menatap istrinya dengan alis menukik. “Lalu?”
“Aku pengen tahu, apa betulan punya rasa?”
Jordan terkekeh pelan, “Kamu mau coba?”
“Emang kamu punya?”
“Punya.”
“Kenapa enggak pernah di pake?”
“For what? Aku suka menyentuh milik kamu
langsung, lebih licin.”
Refleks, Lionara memukul dada bidang itu sehingga Jordan semakin keras mengeluarkan tawanya.
Hening menyelimuti mereka berdua, tapi tidak ada satupun yang ingin tenggelam dalam dunia mimpi. Sampai akhirnya Lionara mengeluarkan suaranya.
“Berapa wanita yang pernah kamu tiduri?”
“Jangan menanyakan sesuatu yang buat hati kamu sakit, mommy.”
Lionara menarik napas lalu menghembuskannya berat, seperti membenarkan perkataan pria itu.
“Bukan begitu, aku cuma ingin memastikan kamu tercegah dari penyakit kelamin karena
colok sana colok sini.”
“Of course not. Aku selalu menggunakan pengaman, terkecuali sama kamu. Aku juga
rajin periksa ke dokter.”
“Oh ya?”
Jordan mengecup gemas bibir istrinya. “Yes, mommy.”
“Jadi berapa?” Lionara masih belum menyerah
Melihat Lionara yang sepertinya tidak akan berhenti sebelum Jordan menjawab, Jordan
mendesah kasar. “Tidak terhitung mommy. Aku mulai melakukannya sejak umur 16
tahun dan baru berhenti setelah kita menikah.”
“Apa…?! What the hell. Jo?!” Lionara langsung memukul kepalanya—refleks. Sebelum di usap-usap kembali. “Maaf, tadi… mengagetkan.”
Jordan merengut, seraya memegang kepalanya. “Sudah kubilang jangan menanyakannya. Pasti
percakapan seperti ini tidak akan berakhir baik untukku, aku sangat tahu itu!”
“Terserah. Aku mau tidur.”
Lionara hendak membelakangi, buru-buru di tahan Jordan. Pria itu memeluknya terlalu
erat hingga Lionara merasa akan kehabisan napas.
“Jo, lepas…” Lionara memukul lengan pria itu, tapi Jordan tidak melepasnya. Malah mengangkat
tubuh Lionara untuk menindih tubuh telanjang pria itu. Sensasi hangat terasa
saat kulit mereka bersentuhan.
“Turunin aku!”
“No!”
“Turunin!”
“Nanti, sweetie.”
Tidak ingin berargumen terlalu lama, Lionara menyerah, membiarkan wajahnya menempel di dada pria itu.
“Tell me about your first sex.”
Jordan menghela napas, “You talking to much, mommy.”
****
Dan begitulahhh...
Tingkat perkepoan perempuan terlalu mengerikan, right?
Lovee yaaahhhh
Follow IG: @rianitasitumorangg dong. Ramein komen postingan cerita2 aku disana. Heheheeeeee