JORDAN

JORDAN
Chapter 29



Love yahhh biar aku cepat updatenya ❤


.


.


Siang


itu, setelah menyelesaikan rapat direksi, Jordan segera meluncur ke Sekolah


Leon begitu mendapat panggilan dari wali kelas jika adik iparnya itu terlibat


perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya. Jordan tidak memberitahu


Lionara mengenai kepergiannya ini karena Leon yang memohon padanya agar kakak


perempuannya itu tidak perlu tahu akan masalah yang diperbuatnya.


Dan


disinilah ia berada,  duduk di ruang


bimbingan konseling bersama wali kelas, Thomas—anak yang berkelahi dengan Leon


dan kedua orang tuanya yang terus menyerocos mencari pembelaan atas anaknya


pada sang Guru. Sedang Leon duduk disebelahnya dengan berekspresi datar, masih


belum bersuara sejak dia masuk ke sini.


Jordan


hanya diam mendengarkan dengan melipat tangan di dada, tanpa ada niat


menyanggah pembelaan sepasang suami istri itu terhadap anaknya. Mata Jordan


jatuh pada Leon yang tampak babak belur. Ia menangkup wajah adiknya itu,


“Sakit?”


Leon


menggeleng. “Ini bukan sepenuhnya salahku.” gumamnya


“Tidak


salah katamu? Lihat bagaimana babak belurnya kau memukul anakku? Memangnya kamu


pereman, hah?!” hardik Mama Thomas tidak terima


“Kenapa


kamu menghajarnya?” tanya Jordan, tidak mempedulikan suara tinggi wanita


setengah baya itu.


“Thomas


menghina Kakak.” sahut Leon


“Apa


yang dia katakan?” Jordan menaikkan alis


“Dia


bilang Kak Nara perempuan tidak benar. Kakak adalah perempuan murahan yang menjual


tubuhnya padamu, makanya kau bersedia menikah dengan Kakakku.”


Jordan


terdiam. Matanya terarah lurus pada bocah lelaki yang disebut Leon. “Begitu?”


pelan, Jordan tersenyum tapi sorot matanya mengisyaratkan sebaliknya.


Hening.


“Baiklah,


biar kuralat sedikit. Istriku tidak pernah menjual tubuhnya padaku. Tapi, dia


memang memberikan tubuhnya dengan sukarela untuk kumiliki, dan itu terjadi setelah


aku menikahinya. Jadi, dimana letak murahannya? Bagaimana bisa bocah sepertimu


begitu gampang menilai rendah istriku? sedang aku saja menilai istriku begitu


berharga di banding apapun yang kumiliki.” lanjut Jordan dengan pandangan


tajam. “Apakah ini yang di ajarkan oleh orang tuamu dirumah? Kasar dan tidak


tahu aturan.”


Kecuali


Leon, semua orang disana mendadak menciut. Tidak ada yang mampu bersuara, semua


bungkam dengan wajah yang berubah pias—terlebih kedua orang tua Thomas yang


sekarang tak mampu berkata-kata lagi. Sedang anak itu kian mengkerut ketakutan


sehingga bersembunyi memeluk tubuh Mamanya karena tidak tahan dengan aura


intimidasi yang Jordan keluarkan.


“Kenapa


hanya diam saja?” Jordan menautkan alis—menatap bergantian kedua orang tua Thomas.  “Bukankah kalian tadi yang berkoar-koar hebat


membela anak kalian?”


Wali


kelas Leon berdehem. “Saya rasa disini ada sedikit kesalahpahaman. Biasalah


anak-anak seusia mereka ini selalu asal mengeluarkan apa yang ada di kepala


mereka tanpa memikirkan konsekuensinya.” Ujarnya tersenyum canggung. “Saya rasa


masalah ini tidak perlu di perpanjang lagi. Kita bisa menyelesaikannya dengan


jalan damai. Kami pihak sekolah akan mendisiplinkan Thomas dan Leon berdasarkan


aturan sekolah.”


“Jadi


maksud anda, saya harus mentolerir kejahatan? Begitu?”


Mama


Thomas ingin melawan, tapi kata-katanya tertahan karena suaminya memberi


peringatan lewat mata. Ayah Thomas sangat mengenal bagaimana berkuasanya


Jordan. Lelaki itu tidak akan segan-segan menghancurkan orang-orang yang berani


mencari masalah dengannya tanpa memberi belas kasihan. Sejak dulu ia sangat


menghindari konfrontasi dengan pemilik perusahaan raksasa Christoper International tersebut. Tapi siapa sangka jika wali dari


anak yang berkelahi dengan putranya justru kakak ipar dari bocah tersebut.


“Maafkan


kelakuan anak saya Tuan Jordan. Saya mohon jangan melaporkan anak saya ke


polisi.” sesal Ayah Thomas


“Pa—“


Jordan


berdecak “Memangnya siapa yang ingin melaporkan anakmu ke polisi?”


“Jadi


anda tidak akan melaporkan anak saya ke polisi?” suaranya berubah legah


“Yang


benar saja. Untuk apa aku melakukan itu?” Jordan mengernyit


Semua


orang disana terkesima. Raut legah terpancar dari masing-masing wajah mereka.


“Terima


kasih banyak Tuan karena tidak—“


“Melaporkan


anakmu ke polisi hanya buang-buang waktu. Aku lebih mengharapkan agar anak


kalian segera pindah dari sekolah ini.” sela Jordan dengan ketenangan yang luar


biasa, sedang wajah mereka kembali tegang.


“Tapi


Tuan—“


“Ya


atau tidak?” potong Jordan menatap tajam.


Ada


jeda sejenak sebelum Ayah Thomas kembali mengeluarkan suara terbata.


“Ba…baiklah Tuan. Asal itu tidak melaporkan anak kami ke polisi.”


“Well, kalau begitu masalah selesai.”


Jordan bangkit berdiri dan mengulurkan tangan pada Leon. “Ayo pulang. Setelah ini


tidak akan ada lagi yang berani mencari masalah denganmu.”


Leon


tersenyum, lalu ikut berdiri meraih tangan Kakak iparnya.


“Kami


pamit duluan. Memar adikku ini harus segera diobati sebelum istriku melihatnya


lalu membuatnya sedih. Dan kalau dia sedih, kupastikan hukuman kalian akan


lebih berat dari ini.” ancamnya


Jordan


merangkul leher Leon, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruang bimbingan


konseling, dimana keempat orang tersebut masih duduk dengan raut tegang.


****


“Kenapa


tidak menghajarnya sampai mati tadi?” tanya Jordan saat mobil mereka keluar


dari area Sekolah. Samuel yang menyetir, sedang ia dan Leon duduk di belakang.


“Apa?”


Leon mengernyit


Jordan


berdecak, “Seharusnya kau memukul anak itu sampai mati tadi. Dengan begitu aku


akan sangat bangga padamu. Tapi sayang, ternyata kau mengecewakan.”


Leon


terdiam.


“Kalau


tidak mengingat kakakmu lagi hamil, aku sudah melobangi kepala anak itu.”


tambahnya


“Jadi


kalau Kak Nara tidak hamil, kakak berniat membunuhnya?” selidik Leon dengan


mata memicing.


“Tentu


saja. Apa lagi?” Jordan mengedikkan bahu santai


“Dan


kakak akan menjadi seorang pembunuh?”


Jordan


menyeringai, “Bukankah kau juga hampir saja melakukannya, buddy?”


“Aku


hal sekejam itu. Kak Nara bisa sangat marah padaku.” Sanggah Leon


Jordan


terkekeh rendah. “Percayalah, awalnya kau mungkin hanya memberi sedikit


peringatan, tapi kalau temanmu itu terus memprovokasi dirimu maka tanpa sadar


kau juga akan melenyapkan nyawanya. Bukan begitu?”


Leon


kembali membisu. Matanya menatap lurus pada iris biru Jordan, sedang pikirannya


mencerna dengan baik maksud dari ucapan lelaki itu. Dan dalam hati Leon


membenarkan kalimat Kakak iparnya. Seandainya tidak ada orang yang melerai


tinjuannya tadi pada Thomas, mungkin temannya itu sudah tewas di tangannya.


Mengingat bagaimana betapa hebat tadi kemarahannya sehingga bisa memukul


membabi buta seperti itu.


Jordan


mengawasi ekspresi Leon yang tampak tegang. Kelihatannya ucapanya barusan sudah


dicerna dengan baik oleh bocah itu.


Jordan


tersenyum sambil mengacak rambut cokelat Leon gemas. “Sudahlah. Lupakan.”


“Kau


benar, seandainya tidak ada tadi yang menahanku, mungkin aku sudah memukulinya


sampai mati.” lirih Leon, nyaris tak terdengar. Kepalanya menunduk, meremas


jemarinya. “Jika dia hanya menghinaku, aku sama sekali tidak peduli. Tapi tidak


jika itu adalah kakakku. Dia tidak tahu bagaimana hidup dan beratnya perjuangan


kakakku selama ini… tapi dengan seenaknya merendahkan kakakku.”


“Lalu


apa kau sudah berubah pikiran? Mau membalasnya lagi? Dengan senang hati aku


akan membantumu.”


Leon


menatap langsung ke arah Jordan, matanya penuh sendu, lalu menggeleng lemah.


“Tidak.


Kak Nara tidak suka  aku memukul orang.


Ia akan sangat marah dan kecewa. Aku pernah melakukannya, dan ujung-ujungnya


kakak yang jadi menangis karna menganggap telah gagal mendidikku.”


“Kalau


begitu kakakmu tidak perlu tahu.” Jordan memprovokasi—tersenyum setan.


Leon


membelalak mendengar ucapan enteng Jordan. Otaknya seolah-olah menjadi bebal


dan lidahnya membeku kelu, tak mampu untuk membalas.


Disisi


lain, Jordan langsung tertawa puas karena perkataannya berhasil membuat Leon


bungkam. Jordan menepuk-nepuk kecil bahu Leon.


“Baiklah,


baiklah. Aku hanya bercanda. Tidak perlu seserius itu.” kekehnya “sebaiknya kita


Rumah sakit untuk mengobati dan menutupi wajah memarmu ini, sebelum kau


ketahuan berkelahi oleh kakak kesayanganmu itu.”


 “Tapi sebelum itu aku ingin pergi ke suatu tempat


untuk mengambil gelang yang telah kupesan di toko.”


“Gelang?”


Jordan mengangkat sebelah alis. “Untuk siapa? kekasihmu?” lanjutnya menggoda


“Ck,


yang benar saja.” Leon mendengkus “Aku belum cukup umur untuk itu.”


“Siapa


bilang? Bahkan balita saja sekarang sudah memiliki kekasih sejak dini.” Jordan


mengedikkan bahu. “Ayolah mengaku saja. Aku tidak akan—“


“Lusa


adalah ulang tahun kakak. Gelang itu hadia untuknya.” potong Leon cepat


“Apa?


Mommy singaku ulang tahun?” Jordan nyaris memekik


“Kau


tidak tahu?” Leon mendelik tajam


Jordan


tidak menyahut. Tampak terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri—mencoba


mengingat-ingat tanggal kelahiran istrinya itu.


“Ck,


ck, suami yang buruk.” Leon menggeleng-gelengkan kepala


“Baiklah,


bagaimana kalau kita membuat pesta kejutan untuk kakakmu? Kita bersama-sama


merayakannya. Deal?” Jordan


mengacungkan kepalan tangannya ke depan Leon


Leon


tampak berpikir, lalu balas menggesekkan kepalannya “Oke, deal.”


****


Lionara


menunggu satu jam dari waktu yang dijanjikan, namun Jordan tak kunjung datang. Pagi


tadi lelaki itu tiba-tiba saja mengatakan ingin mengajaknya makan malam diluar bersama


Leon. Kemudian menyuruhnya agar menunggu di lobi saat sudah pulang bekerja


nanti. Suaminya itu mengatakan akan menjemputnya dari sana. Nyatanya ini sudah


hampir dua jam  Nara duduk menunggu di


sofa lobi, tapi tanda-tanda lelaki itu akan muncul sama sekali tidak ada. Bahkan


ia sudah berulangkali menghubungi ponsel Jordan namun tidak aktif.


“Kemana


sih dia?” gumam Lionara, menghembuskan napas kesal.


Tak


sabar, Lionara mencari nomor kepercayaan Jordan—Samuel, lalu segera meneleponnya.


Panggilan tersambung dan Lionara bernapas cukup legah. Setidaknya Samuel pasti


tahu dimana dan sedang apa bosnya itu.


“Halo,”


“Ah,


untung kamu mengangkatnya.” desah Lionara legah “Langsung saja, apa kamu tahu


dimana Jordan sekarang?”


“Oh, Tuan sed—“


“Astaga


Pak Daniel!!”


Suara


pekikan security yang berjaga disana memotong ucapan Samuel. Dengan cepat


Lionara menoleh dan matanya membelalak saat melihat dua security itu tengah panik


membantu tubuh lemah Daniel bangkit berdiri akibat terjatuh.


Tanpa


sadar Lionara menurunkan ponselnya dari telinga, lalu berlari menghampiri


Daniel yang sedang di papah oleh kedua security tersebut.


“Ada


apa ini?” tanya Lionara dengan nada kahwatir. Matanya menatap pada wajah Daniel


yang begitu pucat.


“Sepertinya


Pak Daniel sakit, Nona.” Sahut salah satu security. “Badan Pak Daniel panas.”


“Ya


ampun. Benarkah?” Lionara menjamah kening Daniel dengan punggung tangannya, dan


benar saja suhu tubuhnya memang sangat panas. Belum lagi tatapan Daniel yang


begitu sayu.


“Aku


tidak apa-apa.” parau Daniel diambang sisa kesadarannya sambil memijit kepala.


“Tidak


apa-apa bagaimana? Wajah kamu pucat dan badan kamu panas begini!” tanpa sadar


Lionara mengomel sambil membelai pipi Daniel yang panas. “Kita ke Rumah sakit


sekarang. Pak, tolong siapkan mobil.”


“Jangan


ke Rumah sakit. Apartemenku saja.” sanggah Daniel lalu meremas perutnya “Perutku


juga sakit. Sepertinya asam lambungku kumat lagi.”


“Astaga,


El! Bagaimana sih kamu ini? Udah tahu sakit tapi masih memaksakan kerja.” Lionara


membebel dan itu membuat sedut bibir Daniel sedikit tertarik “Yaudah, kita ke


apartemen kamu sekarang.” Pungkas Lionara sambil merangkulkan sebelah tangan


Daniel ke bahunya—memapah tubuh Daniel menuju spot parkir.


Kekahwatiran


Lionara pada Daniel tanpa sadar membuat dirinya melupakan janjinya pada Jordan


pagi tadi. Dan tanpa mereka ketahui juga, tidak jauh dari mereka, seseorang telah


mengambil gambar Lionara yang merangkul tubuh Daniel.


To be continued


IG: @rianitasitumorang


...Dedek Leon sama Abang Jo...



...