
Love yahhh biar aku cepat updatenya ❤
.
.
Siang
itu, setelah menyelesaikan rapat direksi, Jordan segera meluncur ke Sekolah
Leon begitu mendapat panggilan dari wali kelas jika adik iparnya itu terlibat
perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya. Jordan tidak memberitahu
Lionara mengenai kepergiannya ini karena Leon yang memohon padanya agar kakak
perempuannya itu tidak perlu tahu akan masalah yang diperbuatnya.
Dan
disinilah ia berada, duduk di ruang
bimbingan konseling bersama wali kelas, Thomas—anak yang berkelahi dengan Leon
dan kedua orang tuanya yang terus menyerocos mencari pembelaan atas anaknya
pada sang Guru. Sedang Leon duduk disebelahnya dengan berekspresi datar, masih
belum bersuara sejak dia masuk ke sini.
Jordan
hanya diam mendengarkan dengan melipat tangan di dada, tanpa ada niat
menyanggah pembelaan sepasang suami istri itu terhadap anaknya. Mata Jordan
jatuh pada Leon yang tampak babak belur. Ia menangkup wajah adiknya itu,
“Sakit?”
Leon
menggeleng. “Ini bukan sepenuhnya salahku.” gumamnya
“Tidak
salah katamu? Lihat bagaimana babak belurnya kau memukul anakku? Memangnya kamu
pereman, hah?!” hardik Mama Thomas tidak terima
“Kenapa
kamu menghajarnya?” tanya Jordan, tidak mempedulikan suara tinggi wanita
setengah baya itu.
“Thomas
menghina Kakak.” sahut Leon
“Apa
yang dia katakan?” Jordan menaikkan alis
“Dia
bilang Kak Nara perempuan tidak benar. Kakak adalah perempuan murahan yang menjual
tubuhnya padamu, makanya kau bersedia menikah dengan Kakakku.”
Jordan
terdiam. Matanya terarah lurus pada bocah lelaki yang disebut Leon. “Begitu?”
pelan, Jordan tersenyum tapi sorot matanya mengisyaratkan sebaliknya.
Hening.
“Baiklah,
biar kuralat sedikit. Istriku tidak pernah menjual tubuhnya padaku. Tapi, dia
memang memberikan tubuhnya dengan sukarela untuk kumiliki, dan itu terjadi setelah
aku menikahinya. Jadi, dimana letak murahannya? Bagaimana bisa bocah sepertimu
begitu gampang menilai rendah istriku? sedang aku saja menilai istriku begitu
berharga di banding apapun yang kumiliki.” lanjut Jordan dengan pandangan
tajam. “Apakah ini yang di ajarkan oleh orang tuamu dirumah? Kasar dan tidak
tahu aturan.”
Kecuali
Leon, semua orang disana mendadak menciut. Tidak ada yang mampu bersuara, semua
bungkam dengan wajah yang berubah pias—terlebih kedua orang tua Thomas yang
sekarang tak mampu berkata-kata lagi. Sedang anak itu kian mengkerut ketakutan
sehingga bersembunyi memeluk tubuh Mamanya karena tidak tahan dengan aura
intimidasi yang Jordan keluarkan.
“Kenapa
hanya diam saja?” Jordan menautkan alis—menatap bergantian kedua orang tua Thomas. “Bukankah kalian tadi yang berkoar-koar hebat
membela anak kalian?”
Wali
kelas Leon berdehem. “Saya rasa disini ada sedikit kesalahpahaman. Biasalah
anak-anak seusia mereka ini selalu asal mengeluarkan apa yang ada di kepala
mereka tanpa memikirkan konsekuensinya.” Ujarnya tersenyum canggung. “Saya rasa
masalah ini tidak perlu di perpanjang lagi. Kita bisa menyelesaikannya dengan
jalan damai. Kami pihak sekolah akan mendisiplinkan Thomas dan Leon berdasarkan
aturan sekolah.”
“Jadi
maksud anda, saya harus mentolerir kejahatan? Begitu?”
Mama
Thomas ingin melawan, tapi kata-katanya tertahan karena suaminya memberi
peringatan lewat mata. Ayah Thomas sangat mengenal bagaimana berkuasanya
Jordan. Lelaki itu tidak akan segan-segan menghancurkan orang-orang yang berani
mencari masalah dengannya tanpa memberi belas kasihan. Sejak dulu ia sangat
menghindari konfrontasi dengan pemilik perusahaan raksasa Christoper International tersebut. Tapi siapa sangka jika wali dari
anak yang berkelahi dengan putranya justru kakak ipar dari bocah tersebut.
“Maafkan
kelakuan anak saya Tuan Jordan. Saya mohon jangan melaporkan anak saya ke
polisi.” sesal Ayah Thomas
“Pa—“
Jordan
berdecak “Memangnya siapa yang ingin melaporkan anakmu ke polisi?”
“Jadi
anda tidak akan melaporkan anak saya ke polisi?” suaranya berubah legah
“Yang
benar saja. Untuk apa aku melakukan itu?” Jordan mengernyit
Semua
orang disana terkesima. Raut legah terpancar dari masing-masing wajah mereka.
“Terima
kasih banyak Tuan karena tidak—“
“Melaporkan
anakmu ke polisi hanya buang-buang waktu. Aku lebih mengharapkan agar anak
kalian segera pindah dari sekolah ini.” sela Jordan dengan ketenangan yang luar
biasa, sedang wajah mereka kembali tegang.
“Tapi
Tuan—“
“Ya
atau tidak?” potong Jordan menatap tajam.
Ada
jeda sejenak sebelum Ayah Thomas kembali mengeluarkan suara terbata.
“Ba…baiklah Tuan. Asal itu tidak melaporkan anak kami ke polisi.”
“Well, kalau begitu masalah selesai.”
Jordan bangkit berdiri dan mengulurkan tangan pada Leon. “Ayo pulang. Setelah ini
tidak akan ada lagi yang berani mencari masalah denganmu.”
Leon
tersenyum, lalu ikut berdiri meraih tangan Kakak iparnya.
“Kami
pamit duluan. Memar adikku ini harus segera diobati sebelum istriku melihatnya
lalu membuatnya sedih. Dan kalau dia sedih, kupastikan hukuman kalian akan
lebih berat dari ini.” ancamnya
Jordan
merangkul leher Leon, kemudian melangkah lebar meninggalkan ruang bimbingan
konseling, dimana keempat orang tersebut masih duduk dengan raut tegang.
****
“Kenapa
tidak menghajarnya sampai mati tadi?” tanya Jordan saat mobil mereka keluar
dari area Sekolah. Samuel yang menyetir, sedang ia dan Leon duduk di belakang.
“Apa?”
Leon mengernyit
Jordan
berdecak, “Seharusnya kau memukul anak itu sampai mati tadi. Dengan begitu aku
akan sangat bangga padamu. Tapi sayang, ternyata kau mengecewakan.”
Leon
terdiam.
“Kalau
tidak mengingat kakakmu lagi hamil, aku sudah melobangi kepala anak itu.”
tambahnya
“Jadi
kalau Kak Nara tidak hamil, kakak berniat membunuhnya?” selidik Leon dengan
mata memicing.
“Tentu
saja. Apa lagi?” Jordan mengedikkan bahu santai
“Dan
kakak akan menjadi seorang pembunuh?”
Jordan
menyeringai, “Bukankah kau juga hampir saja melakukannya, buddy?”
“Aku
hal sekejam itu. Kak Nara bisa sangat marah padaku.” Sanggah Leon
Jordan
terkekeh rendah. “Percayalah, awalnya kau mungkin hanya memberi sedikit
peringatan, tapi kalau temanmu itu terus memprovokasi dirimu maka tanpa sadar
kau juga akan melenyapkan nyawanya. Bukan begitu?”
Leon
kembali membisu. Matanya menatap lurus pada iris biru Jordan, sedang pikirannya
mencerna dengan baik maksud dari ucapan lelaki itu. Dan dalam hati Leon
membenarkan kalimat Kakak iparnya. Seandainya tidak ada orang yang melerai
tinjuannya tadi pada Thomas, mungkin temannya itu sudah tewas di tangannya.
Mengingat bagaimana betapa hebat tadi kemarahannya sehingga bisa memukul
membabi buta seperti itu.
Jordan
mengawasi ekspresi Leon yang tampak tegang. Kelihatannya ucapanya barusan sudah
dicerna dengan baik oleh bocah itu.
Jordan
tersenyum sambil mengacak rambut cokelat Leon gemas. “Sudahlah. Lupakan.”
“Kau
benar, seandainya tidak ada tadi yang menahanku, mungkin aku sudah memukulinya
sampai mati.” lirih Leon, nyaris tak terdengar. Kepalanya menunduk, meremas
jemarinya. “Jika dia hanya menghinaku, aku sama sekali tidak peduli. Tapi tidak
jika itu adalah kakakku. Dia tidak tahu bagaimana hidup dan beratnya perjuangan
kakakku selama ini… tapi dengan seenaknya merendahkan kakakku.”
“Lalu
apa kau sudah berubah pikiran? Mau membalasnya lagi? Dengan senang hati aku
akan membantumu.”
Leon
menatap langsung ke arah Jordan, matanya penuh sendu, lalu menggeleng lemah.
“Tidak.
Kak Nara tidak suka aku memukul orang.
Ia akan sangat marah dan kecewa. Aku pernah melakukannya, dan ujung-ujungnya
kakak yang jadi menangis karna menganggap telah gagal mendidikku.”
“Kalau
begitu kakakmu tidak perlu tahu.” Jordan memprovokasi—tersenyum setan.
Leon
membelalak mendengar ucapan enteng Jordan. Otaknya seolah-olah menjadi bebal
dan lidahnya membeku kelu, tak mampu untuk membalas.
Disisi
lain, Jordan langsung tertawa puas karena perkataannya berhasil membuat Leon
bungkam. Jordan menepuk-nepuk kecil bahu Leon.
“Baiklah,
baiklah. Aku hanya bercanda. Tidak perlu seserius itu.” kekehnya “sebaiknya kita
Rumah sakit untuk mengobati dan menutupi wajah memarmu ini, sebelum kau
ketahuan berkelahi oleh kakak kesayanganmu itu.”
“Tapi sebelum itu aku ingin pergi ke suatu tempat
untuk mengambil gelang yang telah kupesan di toko.”
“Gelang?”
Jordan mengangkat sebelah alis. “Untuk siapa? kekasihmu?” lanjutnya menggoda
“Ck,
yang benar saja.” Leon mendengkus “Aku belum cukup umur untuk itu.”
“Siapa
bilang? Bahkan balita saja sekarang sudah memiliki kekasih sejak dini.” Jordan
mengedikkan bahu. “Ayolah mengaku saja. Aku tidak akan—“
“Lusa
adalah ulang tahun kakak. Gelang itu hadia untuknya.” potong Leon cepat
“Apa?
Mommy singaku ulang tahun?” Jordan nyaris memekik
“Kau
tidak tahu?” Leon mendelik tajam
Jordan
tidak menyahut. Tampak terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri—mencoba
mengingat-ingat tanggal kelahiran istrinya itu.
“Ck,
ck, suami yang buruk.” Leon menggeleng-gelengkan kepala
“Baiklah,
bagaimana kalau kita membuat pesta kejutan untuk kakakmu? Kita bersama-sama
merayakannya. Deal?” Jordan
mengacungkan kepalan tangannya ke depan Leon
Leon
tampak berpikir, lalu balas menggesekkan kepalannya “Oke, deal.”
****
Lionara
menunggu satu jam dari waktu yang dijanjikan, namun Jordan tak kunjung datang. Pagi
tadi lelaki itu tiba-tiba saja mengatakan ingin mengajaknya makan malam diluar bersama
Leon. Kemudian menyuruhnya agar menunggu di lobi saat sudah pulang bekerja
nanti. Suaminya itu mengatakan akan menjemputnya dari sana. Nyatanya ini sudah
hampir dua jam Nara duduk menunggu di
sofa lobi, tapi tanda-tanda lelaki itu akan muncul sama sekali tidak ada. Bahkan
ia sudah berulangkali menghubungi ponsel Jordan namun tidak aktif.
“Kemana
sih dia?” gumam Lionara, menghembuskan napas kesal.
Tak
sabar, Lionara mencari nomor kepercayaan Jordan—Samuel, lalu segera meneleponnya.
Panggilan tersambung dan Lionara bernapas cukup legah. Setidaknya Samuel pasti
tahu dimana dan sedang apa bosnya itu.
“Halo,”
“Ah,
untung kamu mengangkatnya.” desah Lionara legah “Langsung saja, apa kamu tahu
dimana Jordan sekarang?”
“Oh, Tuan sed—“
“Astaga
Pak Daniel!!”
Suara
pekikan security yang berjaga disana memotong ucapan Samuel. Dengan cepat
Lionara menoleh dan matanya membelalak saat melihat dua security itu tengah panik
membantu tubuh lemah Daniel bangkit berdiri akibat terjatuh.
Tanpa
sadar Lionara menurunkan ponselnya dari telinga, lalu berlari menghampiri
Daniel yang sedang di papah oleh kedua security tersebut.
“Ada
apa ini?” tanya Lionara dengan nada kahwatir. Matanya menatap pada wajah Daniel
yang begitu pucat.
“Sepertinya
Pak Daniel sakit, Nona.” Sahut salah satu security. “Badan Pak Daniel panas.”
“Ya
ampun. Benarkah?” Lionara menjamah kening Daniel dengan punggung tangannya, dan
benar saja suhu tubuhnya memang sangat panas. Belum lagi tatapan Daniel yang
begitu sayu.
“Aku
tidak apa-apa.” parau Daniel diambang sisa kesadarannya sambil memijit kepala.
“Tidak
apa-apa bagaimana? Wajah kamu pucat dan badan kamu panas begini!” tanpa sadar
Lionara mengomel sambil membelai pipi Daniel yang panas. “Kita ke Rumah sakit
sekarang. Pak, tolong siapkan mobil.”
“Jangan
ke Rumah sakit. Apartemenku saja.” sanggah Daniel lalu meremas perutnya “Perutku
juga sakit. Sepertinya asam lambungku kumat lagi.”
“Astaga,
El! Bagaimana sih kamu ini? Udah tahu sakit tapi masih memaksakan kerja.” Lionara
membebel dan itu membuat sedut bibir Daniel sedikit tertarik “Yaudah, kita ke
apartemen kamu sekarang.” Pungkas Lionara sambil merangkulkan sebelah tangan
Daniel ke bahunya—memapah tubuh Daniel menuju spot parkir.
Kekahwatiran
Lionara pada Daniel tanpa sadar membuat dirinya melupakan janjinya pada Jordan
pagi tadi. Dan tanpa mereka ketahui juga, tidak jauh dari mereka, seseorang telah
mengambil gambar Lionara yang merangkul tubuh Daniel.
To be continued
IG: @rianitasitumorang
...Dedek Leon sama Abang Jo...
...