
Lionara menatap nanar pantulan wajahnya di depan cermin toilet, sedang kedua tangannya meremas kuat sisi wastafel. Ia hanya masih sulit mempercayai jika lelaki yang kini tengah berbincang hangat di ruang keluarga milik Kakek Rikkard adalah El, lebih tepatnya Daniel Alexander. Satu-satunya lelaki yang berhasil masuk kedalam kehidupannya yang kelam dan
meruntuhkan tembok es yang sengaja ia bangun selama ini.
Tapi ada yang berbeda. Ditengah ruangan tadi, Daniel seperti tidak mengenalinya, bahkan saat kakek memperkenalkannya sebagai kakak iparnya, reaksi Daniell hanya biasa saja. Lionara jadi bertanya-tanya, apa pria itu memang sudah tidak mengingatnya? Atau karna riasan yang ia kenakan hingga membuatnya tampak berbeda—tidak seperti dirinya yang biasanya, lusuh.
Daniel Alexander Christoper nyatanya adalah saudara tiri dari suaminya sendiri. Terkejut? Tentu saja dia sangat shock dengan kenyataan baru ini. Apalagi dilihat dari sisi manapun sudah pasti Jordan juga turut membencinya karna Daniel adalah putra dari Rossalyn. Bahkan sepanjang perbincangan tadi, para keluarga terutama Josep, dengan terang-terangan selalu memuji dan membanggakan anak dari istri keduanya itu daripada Jordan sendiri. Sedang Jordan sama sekali tidak terpengaruh, ia malah asik bermain game di ponselnya.
Lionara hanya tidak menyangka, ia akan terjebak dalam drama keluarga berpengaruh ini. Disatu sisi ia bersimpati pada Jordan yang tidak disukai kehadirannya oleh keluarga, kecuali hanya Kakek Rikkard. Lionara sudah bertekad akan mengikuti permainan Jordan dalam membalas keluarganya. Tapi disisi lain, Lionara tiba-tiba merasa sangat bersalah, karna secara tidak langsung ia berada di pihak bersebrangan dengan Daniel.
Daniel, pria yang begitu baik padanya.
Daniel, pria yang selalu memberinya semangat disaat keadaan terpuruk.
Daniel, pria yang sempat memiliki hatinya.
Jika sudah begini, apa yang harus Lionara lakukan sekarang? Harus dipihak mana ia berdiri?
Lionara menghela napas panjang, kemudian membasuh tangan—mengelap, lalu memutuskan keluar dari toilet. Tapi baru saja ia keluar, tiba-tiba seseorang mencekal tangannya dan dengan gerakan terburu, membawanya ke taman belakang.
“Lepaskan.” ujar Lionara dingin
Lelaki itu melepaskan, lalu tersenyum kecut “Kamu sudah melupakanku, Flo?”
Lionara mendongak, menatap tepat ke iris coklat madu yang sudah berapa tahun ini ia rindukan. Flo, adalah panggilan khusus Daniel dulu padanya.
“Tidak.” Lionara menyahut singkat. “kupikir aku yang dilupakan.”
Daniel mengikis jarak mereka, tangannya dengan lembut menyentuh kedua pundak Lionara, “Aku tidak pernah melupakanmu. Sekalipun penampilanmu telah berubah drastis.”
“Lalu kenapa kamu bersikap seolah-olah tidak mengenaliku tadi?”
“Haruskah aku menunjukkannya? Disaat aku tahu jika kamu sudah menjadi istri dari kakak tiriku sendiri. Kamu pikir bagaimana tanggapan mereka nanti?”
Lionara terdiam.
“Kenapa?” Daniel bertanya lirih, “kenapa kamu tidak menungguku? Tapi malah menikah dengan orang yang paling tidak kuingini di dunia ini?”
Lionara masih membisu. Daniel meraih tangan Lionara dan meletakkan telapak mungil itu di dadanya.
“Apa kamu tahu betapa sakitnya disini, saat aku mengetahui kamu telah menjadi milik orang lain? Apa kamu pikir aku baik-baik saja di dalam sana?” Daniel bertanya pedih, matanya berkaca-kaca.
“Jawaban apa yang kamu inginkan, El?” Lionara tersenyum getir, disusul embusan napas berat. “kupikir kita sudah lama berakhir. Kamu pergi dan tidak pernah memberiku kabar sama sekali-“
“Aku tidak bermaksud tidak mengabarimu.” sela Daniel cepat. “Aku hanya sedang berjuang, Flo. Daddy mengetahui hubungan kita dan beliau sangat marah karna aku memiliki kekasih yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Dia akan menyingkirkanmu jika aku terus berhubungan denganmu. Oleh karna itu, aku memutuskan mengikuti keinginan Daddy untuk melanjutkan kuliah di luar negri, agar bisa mengambil alih perusahaan. Kupikir dengan aku memiliki kekuasan, Daddy tidak akan bisa menghalangi hubungan kita lagi. Tapi, apa yang kudapat saat kembali?” Daniel menatap kecewa pada Lionara yang menunduk.
Hening.
Pelan, Lionara menurunkan tangannya dari dada Daniel, lalu mundur beberapa langkah. Setelah jarak yang dirasa cukup, Lionara mendongak—bulir yang sama juga mengalir di sudut pipi Lionara.
“Seandainya sejak dulu kamu jujur mengatakan hal itu, mungkin aku akan menunggumu. Tapi tidak. Kamu memilih merahasiakannya sendiri seolah aku ini tidak ada artinya. Apa kamu pikir hidupku selama tiga tahun ini sangat baik? Aku terpuruk. Aku dihancurkan oleh keluargaku, kerja seperti orang gila agar bisa mencukupi kebutuhan dan sekolah Leon, terakhir kamu juga turut menambah sakitku. Apa kamu tahu betapa lelahnya aku?” cecar Lionara serak “Dua bulan lalu, aku dipecat karna memecahkan botol minuman, lalu aku diminta membayar ganti rugi dengan harga yang tidak akan mampu kubayar. Leon terancam dikeluarkan dari sekolah karna tunggakan yang banyak. Dan kamu tahu, masalahku tidak berhenti disitu.”
Lionara menjeda dengan nada pedih.
“Leon kecelakaan dan nyawanya terancam tidak terselamatkan jika tidak segera di operasi. Kamu tahu betapa pentingnya Leon bagiku, dan saat itu hanya pria yang tidak kamu inginkan itu yang datang menawarkan bantuan padaku, sekalipun aku tahu bantuan itu tidak gratis. Tapi aku bisa apa? Leon lebih penting dari pada hidupku.”
“Flo…,” Daniel tercekat. Dia sama sekali tidak mengetahui betapa beratnya hidup yang dilalui kekasihnya itu.
“Jadi berhenti beranggapan seolah-olah hanya kamu yang terluka. Aku lebih dari itu.” tekan Lionara “bagiku kita sudah sele—“
Sebelum Lionara berhasil melanjutkan kalimatnya, Daniel telah membungkam bibirnya dengan pagutan yang lembut dan teratur, seiring tengkuk Lionara yang didorong maju ke depan hingga menciptakan gelenyar geli pada dinding-dinding perut keduanya. Debaran hebat di dada pun tidak kalah menggila saat Daniel memperdalam pagutan mereka dengan kedua tangan yang menangkup wajah mungilnya.
Lidah saling membelit, seolah melupakan keadaan sekitar yang memungkinkan ada yang melihat kecapan-kecapan panas keduanya yang semakin liar. Tangan Daniel mulai menuruni leher Lionara, menjalar semakin kebawah, sebelum terhenti—dan tak mampu bergerak lagi ketika suara Lionara menggumam di antara pagutan mereka.
“Kita tidak bisa bersama lagi, El,”
Membeku. Ciuman itu langsung berubah dingin dalam sekejap mata.
“Aku sudah menikah. Tidak ada ruang diantara kita lagi. Lepaskan aku, dan temukan wanita yang lebih layak bersanding denganmu.”
Daniel merenggangkan tubuh mereka, dengan jakun turun naik yang kesulitan menelan saliva.
“Tidak—aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu milikku.”
Lionara menghembuskan napas berat. “Aku masuk. Jangan terlalu lama berdiri disini.”
Lionara berlalu, tanpa menoleh lagi ke belakang. Dan untuk pertama kalinya, gadis itu memunggungi—memilih jadi yang pertama untuk melangkah pergi.
Namun tanpa mereka sadari, Jordan telah beridiri cukup lama di tengah ruang tamaram— mengawasi interaksi keduanya intens dari balkon atas dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sam,” panggilnya dengan gesture yang masih membelakangi seseorang.
“Ya, Tuan” Samuel menyahut
“Selidiki hubungan keduanya. Laporkan hasilnya padaku dalam waktu satu jam.”
“Baik, Tuan.” jawab Samuel lalu segera berlalu dari sana—menjalankan perintah sang Tuan.
****
“Keputusanku sudah bulat, Dad. Aku tetap menginginkan perubahan pewaris utama.” Josep berucap penuh penekanan.
“Aku setujuh.” Jackson membeo
“Jack,” peringat Gerald “jangan ikut campur. Kamu sudah mendapatkan bagianmu,”
“Kupikir pembahasan mengenai ini sudah selesai.” gumam Kakek Rikkard dengan gesture malas “semua cucuku dari awal sudah mendapatkan bagiannya masing-masing.”
“Tapi tetap saja itu tidak adil untuk Daniel.” Josep kembali memprotes “dia bahkan hanya mendapatkan seperempatnya saja. Daniel juga putraku, Dad,”
“Tapi Daniel putra keduamu. Sedang yang pertama adalah Jordan.” Rikkard menyahut jengah “aturannya sudah jelas. Hanya cucu pertama yang memilki hak penuh.”
Semua orang kini terdiam. Nada suara Rikkard berubah tinggi, tegas tak terbantahkan. Matanya menatap nyalang para anak dan cucunya satu persatu. Ia sudah cukup jengah dengan topik mengenai warisan yang tak kunjung habis-habisnya, terutama Josep yang selalu membantah keputusannya.
Dan ditengah keheningan itu, tiba-tiba saja Jordan tertawa nyaring hingga membuat semua mata kini menatapnya aneh.
“Astaga, kenapa dari tadi yang kalian perdebatkan masalah warisan saja? Apa sebegitu terobsesinya kalian dengan kekayaan keluarga ini?” sarkas Jordan ditengah kekehannya.
“Jangan sombong kamu ya,” decih Josep
“Why not?” Jordan mengangkat bahu santai “aku jelas merasa tersanjung karna secara tidak langsung yang melatarbelakangi perdebatan kalian adalah aku—sang pewaris utama.” pongah Jordan.
“Jordan,” peringat Rikkard, menatap tajam sang cucu agar tidak meneruskan apa yang ada didalam otak setannya. Ia sangat mengenal watak cucu kesayangannya itu.
“Oh ayolah, Kek. Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak tertarik pada warisan keluarga ini.” Jordan menyahut malas “berikan saja pada putra kesayangan si tua bangka itu,” lanjutnya menunjuk dengan dagu ke arah Josep.
“Kamu lihat sendiri Dad, betapa kurang ajarnya anak itu?” geram Josep dengan nada mencela “seperti itukah pewaris yang Daddy pilih?”
“Josep, tenangkan dirimu,” tegur Rossalyn lembut
Jordan tersenyum miring, “Iya, berikan saja pada mereka semua. Karna itulah tujuan wanita munafik itu sejak awal. Mengambil semua apa yang kumiliki.”
“Jordan!!” sentak Josep murka. Ia hendak maju menghajar mulut kurang ajar anaknya itu, tapi kalah cepat, karna tanpa disangka-sangka Daniel yang melayangkan bogemannya lebih dulu.
Bugh..Bughh..Bugh…
Membabi-buta, Daniel meninju dan menendang Jordan dengan kemarahan yang luar biasa. Sedang Jordan masih tidak memprotes, pun tidak ada perlawanan apapun bahkan ketika Daniel membanting tubuhnya ke dinding belakang, mencekik lehernya dengan wajah merah padam.
“Sudah kubilang, jangan pernah menghina ibuku lagi, brengsek!” hardiknya tajam. “lawan aku, jangan ibuku, anjing!”
“Bukankah memang benar, ibumu adalah wanita munafik yang berkedok wajah malaikat?” Jordan tidak tampak kesakitan, menatap Daniel jijik.
Daniel tersenyum miring, “Bukannya terbalik? Sejak awal ibumu yang lemah itulah yang menghancurkan kebahagian ibuku. Dia memisahkan Ayah dan ibuku dengan caranya yang kotor—membuat Ayahku mabuk agar bisa tidur dengannya. ****** sekali, bukan?” desisnya rendah.
Hanya dalam hitunagan detik, Daniel sudah sudah terkapar mengenaskan di lantai. Jordan menendang dadanya hingga dia terjengkang keras ke belakang sofa dan mengerang kesakitan.
“Ulang, APA?” Jordan menghampiri, melayangkan tonjokan begitu kuat. “Berani-beraninya mulut sialanmu ini menyamakan ibuku dengan kotoran!”
“Jordan, Daniel berhenti kalian!” teriak Rikkard
Josep, Gerald dan Jackson berusaha menjauhkan, tetapi bukan hal yang baru jika Jordan akan kesulitan ditahan ketika dia mulai kesetanan.
“Kamu tersinggung? Nyatanya ibumu memang tak lebih dari ****** yang merangkak ke tempat tidur Ayah demi dinikahi.” Daniel masih meracau, meski bibirnya sobek dengan darah kental mengalir deras dari hidung. “Dan kamu pun sama kotornya dengan ibumu yang ****** itu!”
“Daniel, berhenti mengatakan omong kosong!” Josep menyentak. Tidak menyangka putra keduanya yang begitu tenang dan sopan akan berucap demikian.
Sedang wajah Jordan kini berlipat kali menggelap. Kedua tangannya mengepal kuat hingga menonjolkan urat-urat.
Dia baru saja membangunkan iblis dari neraka.
Jordan mengentakkan tangan Gerald dan Jackson yang memegang, dan maju kembali dengan menendang begitu keras tubuh Daniel. Ia mengangkat bajunya, membuat dia berdiri kepayahan, lantas membanting tubuhnya yang sudah babak belur ke dinding hingga menghasilkan bunyi mengerikan.
“Kamu memang ingin mati malam ini, eh?” Jordan menyeringai, tatapannya sudah tampak begitu dingin dan jahat. Lalu sedetik kemudian, ia mengeluarkan sebuah pistol dari balik saku jas dan menodongkannya tepat di depan Daniel.
Semua orang terkesiap kaget. Lebih-lebih Rossalyn yang kini bergetar ketakutan melihat anaknya hendak dilenyapkan.
“Jordan, jangan gila kamu!” sentak Josep keras
“Jangan bunuh, Anakku!” raung Rossalyn
“Berhenti, Nak. Jangan lakukan itu,” peringat Rikkard lembut dengan gelengan kepala
“Turunkan senjatamu sialan!” hardik Jackson
Sedang Jesica langsung menyembunyikan wajah ketakutan dalam pelukan Lydia. Jordan menulihkan telinga. Ia sudah bersiap menarik pelatuk dan hampir menembakkannya, tapi tiba-tiba ada tangan menyentuh mulut pistol itu—menghentikannya.
LIonara berdiri di depan Jordan, menghalangi tubuh Daniel.
“Minggir.” Jordan menggeram tidak suka.
Lionara menggeleng, “Bukan begini caranya. Kamu bisa membunuhnya.”
“Memang itu tujuanku. Minggir!”
Lionara bergeming. Jordan yang biasa dia lihat penuh dengan senyuman menyebalkan, kini tidak ada. Jordan yang berdiri di depannya ini sekarang sangat berbeda. Auranya sangat gelap, matanya memerah marah.
Jordan menarik kasar pistolnya, lalu kembali mengarahkan benda itu ke tepat ke tubuh Daniel dan hampir menembakkannya saat dengan cepat Lionara menarik wajahnya dan menciumnya dalam.
Jordan tertegun. Ciuman itu begitu tiba-tiba. Bahkan tangan perempuan itu kini melingkari lehernya, memperdalam pagutan lembut itu dengan penuh perasaan. Tanpa sadar pistol di tangan Jordan sudah terjatuh ke lantai. Irisnya menatap intens gerakan bibir Lionara yang sedang membelai bibirnya, seolah perempuan itu sedang membujuk sisi dominannya yang menguasai. Jordan tengah dilahap api kemarahan, dan Lionara berusaha memadamkan api itu.
“Kita pulang, ya,” bisik Lionara—membujuk lembut, dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangannya beralih memeluk pinggang Jordan seerat mungkin dan menyandarkan wajahnya di dada Jordan.
"Kamu harus di obati," lirihnya kemudian
To be continued
Ig: @rianitasitumorangg