
“Kau yakin akan melakukan ini, Ra?” tanya Camila lemah, menjurus frustasi.
Mendengar berita Leon kecelakaan saja sudah membuatnya shock, konon lagi ditambah dengan
keputusan gila Lionara yang dengan tenangnya mengatakan akan menikah dengan Jordan dalam waktu dekat ini. Oh ayolah, di Negara ini siapa yang tidak mengenal Jordan Matthew Christoper! Pembisnis jenius yang sudah sangat sukses di usia mudanya. Tidak seperti para pengusaha sukses lainnya yang identik dengan sikap dingin, dan sombong, Jordan justru sebaliknya. Lelaki itu terbilang ramah, konyol dan terkesan sangat santai. Tapi jangan lupakan sifat casanovanya yang begitu akut. Jordan suka berganti-ganti wanita layaknya berganti pakaian. Dan Camila sedikit mengetahui informasi itu dari berita di tv dan tempatnya bekerja di kelab, karna Jordan dan kedua
sahabatnya kerap berkunjung kesana untuk bersenang-senang.
Lionara tidak segera menjawab. Tatapan sendunya mengarah pada Leon yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya. Beberapa jam yang lalu adiknya ini telah berhasil menjalani operasi akibat kecelakaan parah yang dialaminya. Leon kehilangan banyak darah, dan kepalanya terluka begitu parah sehingga harus di operasi. Jordan telah melakukan permintaannya dalam hitungan detik begitu percakapan mereka selesai. Leon langsung ditangani bahkan dipindahkan ke ruang rawat VVIP setelah operasi selesai.
“Aku tidak punya pilihan lain.” gumam Lionara “Leon lebih penting.”
Camila mendesah lemah. Sebelah tangannya mengusap air matanya yang mengenang dipelupuk, lalu meraih tangan dan menggenggamnya.
“Apa kau mengenali betul siapa Jordan sebenarnya?”
Lionara menggeleng acuh. Menunjukkan gestur tubuh yang sama sekali tidak tertarik dan Camila sudah menduga hal itu sebelumnya. Tapi dia juga harus menjelaskan mengenai siapa lelaki yang akan dinikahi sahabatnya ini agar ke depannya Lionara bisa menentukan sikap bagaimana menghadapi Jordan nantinya.
“Dengarkan aku, Ra” Camila sedikit menekan genggamannya agar fokus Lionara teralihkan padanya.
“Apa?” tanyanya datar
“Kau tahu aku hobi menonton berita dan baca majalah Forbes tentang daftar perusahaan orang-orang terkaya di dunia, kan?”
Lionara mengangguk malas. Ya, dia memang mengetahui ketertarikan aneh Camila yang satu itu. Dan jika dipikir, apa untungnya Camila mengikuti perkembangan orang-orang kaya tersebut? Toh, hidup mereka tidak akan ada yang berubah.
“Forbes sudah mengeluarkan daftar The Richest tahun ini. Dan kau tahu, siapa yang menduduki urutan ke lima sekarang?” Camila bertanya antusias. Padahal sebenarnya pertanyaannya itu sama sekali tidak membutuhkan jawaban Lionara, karna gadis itu buta akan informasi ini.
Lionara hanya mengangkat alis
“Jordan Matthew Christoper! Kedudukan sebelumnya di tempati oleh Jeff Bezos, pemilik Amazon tapi Jordan berhasil menggantikannya sebagai pembisnis muda yang kekayaannya berhasil menembus puluhan miliar USD. Sebuah pencapaian yang fenomenal karna sebelumnya ia berada di urutan ke 51 dunia.” Camila menjeda, mengingat-ingat kembali informasi yang dibacanya “Bisnis Jordan bergerak di bidang teknologi, minyak,
dan mobil sport. Lagi, dia juga mendirikan satu Rumah Sakit yang sangat mewah dan terkenal di kota ini, namanya Grace’s Hospital.”
“Grace’s Hospital?”
“Iya. Grace adalah nama ibunya yang sudah lama meninggal saat dia masih remaja. Rumah sakit itu didirikan
untuk mengenang ibunya.”
“Oh”
“Tidak disangka lelaki yang sangat santai seperti dia ternyata memiliki kekayaan yang berlimpah. Pantas saja dia bisa mendapatkan segala hal dengan muda, apalagi wanita. Dan yang membuatku masih bingung sampai sekarang, dia pasti memiliki banyak stock perempuan-perempuan yang lebih cantik dan berkelas, tapi kenapa dia memilihmu? Dan gilanya untuk dijadikan istri?? Wahhh…”
Lionara memutar bola mata malas, “Tanyakan sendiri padanya.”
“Oh c’mon, Ra. Pasti ada sesuatu yang dia lihat darimu sampai bersikeras mengejarmu seperti
ini.” Camila memicingkan mata
“Aku tidak tahu, Cal” erang Lionara “Kalau bisa aku tidak ingin menjadi istrinya. Kau tahu aku sama sekali tidak tertarik terlibat dengan orang-orang kaya seperti mereka. Hidupku mungkin akan lebih menyedihkan lagi dari ini. Tapi sialnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.” tanpa sadar air mata Nara mengucur jatuh begitu saja. Suaranya berubah serak.
“Nara…” lirih Camila, langsung mendekap erat tubuh ringkih Nara yang berangsung berguncang akibat sesenggukan
“Aku hanya ingin hidup tenang, berdua dengan Leon. Hanya itu.”
“Shh… semua akan baik-baik saja.”
****
“Checkmate!” seru Rikkard Christoper gembira diiringi ketukan tongkatnya di lantai.
“Argghhh.. sial!” umpat Jordan frustasi seraya menyugar rambutnya
Kakeknya tersenyum-senyum melihat raut kekalahan Jordan. Ini sudah ketiga kalinya mereka bertanding namun tetap saja pria tua itu yang memenangkannya.
“Sudahlah terima saja kekalahanmu. Sampai kapan pun cucu durhaka sepertimu tidak akan pernah bisa mengalahkanku.” ucap Rikkard pongah
“Ck, sombong seperti biasa”
“I’m.” Rikkard terkekeh
“Kau jangan senang dulu, Kek. Siapa tahu aku ternyata sengaja kalah agar kau senang.”
“Itu tidak mungkin. Sejak dulu kau memang tidak bisa mengalahkanku soal bermain catur. Bahkan saat remaja kau pernah menggunakan cara curang agar menang dari kakekmu ini.”
“Itu tidak benar, Kek.” Jordan menggeleng
“Damn. Ternyata kakek tahu,” Jordan tertawa, Rikkard juga ikut tertawa.
“Kenapa kau tidak memprotes padaku, Kek?” lanjut Jordan
“Aku hanya ingin kau senang,”
“Berarti itu salah kakek.” Jordan meraih tongkat kakeknya lalu menyodok perut Rikkard dengan tongkat pusakanya.
“Bocah kurang ajar!” Rikkard mengumpat. “Omong-omong kenapa kau tiba-tiba kemari? Tumben kau ingat padaku, eh?” sinis Rikkard
Jordan mengangkat bahu, menyandarkan tubuh di sofa lalu mengangkat kedua kaki ke atas meja “Tiba-tiba saja aku merindukanmu, Kek. Apa menurutmu ini wajar?”
Rikkard menggeleng, “sepertinya kau perlu psikiater.”
“Kakek durhaka” Jordan tertawa “Di sini lebih tenang,” jelas Jordan singkat
“Kau menginap di sini?”
Jordan mengangguk.
“Baiklah, aku akan menyuruh pelayan membersihkan kamar—“
“Aku akan menikah, Kek” potong Jordan.
Rikkard terdiam. Meneliti sejenak raut cucunya yang tiba-tiba serius “Apa kau sudah bertobat?”
Jordan terkekeh. Ia menyenderkan kepala di bahu Rikkard. “Aku serius, Kek. Minggu depan.”
“Dengan gadis pilihan ayahmu itu?” Rikkard memicing penasaran. Sebab yang ia tahu selama ini Jordan dan ayahnya tidak pernah akur.
“Tsk, yang benar saja. Sejak kapan aku menuruti perkataan pria tua itu?” Jordan mendengus tidak senang.
“Lalu?” kejar Rikkard, mengabaikan ekspresi tidak senang cucunya jika topik ayahnya di seret.
“Namanya Lionara Florentine.” sahut Jordan “dia seorang pelayan kelab yang baru saja di pecat karna memecahkan botol minuman. Dia sangat miskin dan sama sekali tidak mampu membayar minuman mahal itu. Lalu aku memberikan pertolongan padanya dengan syarat dia harus menikah denganmu.” Jordan menegakkan punggung, lalu menyeringai menatap sang kakek yang masih berusaha mencerna kalimatnya.
“Bagaimana menurutmu, Kek? Cukup menarik bukan caraku ini?”
“Hanya karna itu?” Rikkard mengangkat alis
Jordan mengangguk-angguk. Begitu santai.
“Pernikahan bukan tempat untuk kau bermain, Nak. Itu adalah ikatan sakral dimana kau harus bersumpah dihadapan Tuhan untuk sehidup semati bersama pasanganmu.” terang Rikkard dengan raut berubah serius.
Melihat itu Jordan mengulum senyum geli, lalu dengan gemas merangkulkan tangannya di leher sang kakek—kebiasaan yang sering dilakukan “memangnya siapa yang ingin bermain-main dengan pernikahan, Kek? Aku serius. Bukankah kakek sangat menginginkan aku segera menikah dan memberimu cucu?”
“Aku sangat mengenalmu, Nak. Kau pasti memiliki tujuan tertentu.” Rikkard menjeda “dan tujuanmu itu pasti untuk menantang ayahmu lagi. Josep menjodohkanmu dengan perempuan pilihannya, sementara kau paling
benci diatur. Belum lagi sejak dulu kalian tidak pernah akur. Karna itu kau sengaja memilih menikah dengan gadis jauh dari kasta ayahmu.”
Jordan terkesima sejenak lalu tertawa “Astaga… hipotesamu sangat panjang, Kek” komentar Jordan santai
“Itu bukan hipotesa, tapi fakta.” Rikkard menoyor kepala Jordan “tapi biar bagaimana pun aku senang kau akhirnya menikah. Yah, setidaknya perempuan itu cukup istimewa sampai berhasil membuatmu nekat melakukan hal yang mustahil ini.” lanjut Rikkard terkekeh
“Pernikahan ini dirahasiakan dari publik. Kakek harus datang nanti.”
“lalu siapa saja yang kau undang?”
“Hanya kakek dan kedua sahabat idiotku.”
“Ya, ya… terserah kau saja,” Rikkard berdecak malas. Hendak berkomentar lebih pun akan sia-sia saja. Cucu brengseknya ini jika sudah mengutarakan keinginannya maka tidak ada seorang pun yang dapat menggugatnya.
Rikkard hanya sangat terlalu menyayangi Jordan. Apapun yang dibutuhkan dan di inginkan cucunya yang satu ini pasti akan dituruti olehnya. Setelah kejadian 19 tahun lalu, Jordan pernah melalui masa-masa paling kelam. Dimana ia menjadi satu-satunya saksi mata bagaimana ibunya dibunuh. Psikis Jordan sempat terguncang karna
mengalami trauma yang berat. Berulang kali polisi meminta keterangan darinya untuk mengenai kronologi ibunya meninggal, namun Jordan enggan membuka suara. Ia seperti mahluk tak berjiwa dengan tatapan kosong. Jordan sampai harus dibawa ke psikiater untuk menjalani terapi penyembuhan. Namun anak itu seketika berontak keras ikut terapi jika yang mendampinginya adalah Josep, sang Ayah. Entah kenapa tiba-tiba anak itu berubah sangat membenci ayahnya. Sejak itulah, Rikkard turun tangan dan mengambil alih tugas Josep.
Selain dengan tim dokter yang membantu pemulihannya, Rikkard juga mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kepada Jordan yang saat itu sangat menutup diri, menolak berbicara dan membuka diri untuk sekedar berkomunikasi singkat kepada siapapun. Jordan dijadikan nomor satu dari cucunya yang lain, berharap bisa membuat Jordan kembali tersenyum seperti sedia kala. Bahkan Evan dan Aldrich kerap datang mengunjungi Jordan untuk sekedar mengajaknya berbicara, makan dan bermain bersama.
Maka tidak heran setelah berhasil sembuh, Jordan hanya sangat dekat dengan kakeknya dari pada ayah kandungnya sendiri. Jika ada waktu senggang, ia lebih sering curhat dan menghabiskan waktu dengan sang kakek selain dengan kedua sahabatnya. Seperti sekarang ini—meminta Rikkard, satu-satunya yang ia anggap sebagai keluarga untuk menjadi saksi di hari pernikahannya nanti.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg