
Pajero hitam itu terus melajuh, melewati beberapa desa lain, pegunungan hingga sebuah hutan yang entah mengapa terasa familiar di ingatan Jordan. Namun karena pikirannya yang saat ini hanya terfokus pada
Lionara, pria itu mengabaikannya. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke tujuan
mereka, ketempat yang tidak pernah Jordan duga akan datang kesini lagi.
“Kita sudah sampai,” ucap Evan, setelah memarkirkan mobil terlebih dahulu—tepat di
depan hutan pinus.
Tanpa banyak kata, ketiganya pun bergegas keluar dari dalam mobil. Jordan
memperhatikan sekitarnya. Dan di detik selanjutnya, tiba-tiba Jordan merasakan
lututnya gemetar, diikuti jantungnya yang berdegup kencang tak terkendali—sangat
menyesakkan.
Tempat ini…
“Kalian yakin ini lokasinya?” rendah, kedua manik birunya menatap nyalang jajaran
pepohonan pinus di depannya dengan kedua tangan mengepal kuat.
“Tentu saja. Aku sudah melacaknya dengan teliti.” sahut Aldrich, menatap punggung
Jordan yang tampak tegang. “Ada apa?” tambahnya, dapat merasakan gesture tubuh
Jordan yang tak biasa.
Hening. Jordan tak menyahut.
Kilasan masa lalu menyakitkan itu mulai bergentayangan—dimana, tepatnya tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang anak lelaki dengan tubuh penuh luka mengerikan, terus memaksakan kaki kecilnya bergerak, padahal sudah tak memiliki tenaga—berlari kepayahan menjauhi hutan itu. Sesekali kepalanya menoleh kebelakang, memastikan tidak ada orang yang mengejarnya lagi. Rasa takut bercampur trauma luar biasa tergambar jelas di wajah babak belurnya. Anak lelaki itu masih terus melelehkan air mata tangis bercampur kesakitan dari sudut matanya. Ia ingin menyerah dan mati saja, Tetapi, tidak. Bocah kurus itu masih tidak ingin menyerah. Dia tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mommynya yang begitu besar. Dia harus tetap hidup dan membalaskan semua kesakitan yang menimpahnya dan sang mommy.
Bedebah!!!
“Jo!” Evan dengan cepat menyentak bahu Jordan yang tiba-tiba tremor—membuat lelaki itu kembali tersadar. “Ada apa denganmu?” Evan dan Aldrich menatapnya cemas.
“Tidak ada apa-apa.” sahutnya dingin “Aku akan masuk ke dalam. Kalian tunggu disini.”
Jordan mengambil koper brankas dari
dalam mobil, kemudian tanpa berucap sepatah kata pun lagi ia meninggalkan kedua sahabatnya yang masih mematung di tempat menatap kepergiannya.
“Ingat, kurang dari waktu satu jam kau tidak keluar dari sana, kami akan tetap masuk!”
teriak Evan tapi sahabat tidak tahu diri mereka itu sama sekali tidak merespon.
****
Disinilah Jordan sekarang. Di depan sebuah bangunan bercat putih yang sudah tidak asing lagi di pengelihatannya. Entah sejak kapan bangunan ini kembali berdiri. Siapa
yang membangunnya? Dan, bagaimana bisa si tua bangka Richard menyekap istrinya
di tempat terkutuk ini?
Dulu, bangunan ini sudah terbakar habis hingga menyisakan kerangka bangunannya saja. Dan di tempat inilah awal mula kehancuran Jordan, ketika menyaksikan sang mommy di perkosa secara bergilir sebelum kemudian terbakar hidup-hidup bersama dengan para manusia biadab itu.
Jordan mengetatkan rahangnya sampai urat-urat lehernya bertonjolan, sedang matanya berkilat mengerikan kala menatap bangunan kokoh di depannya. Berada di tempat ini sama saja membuat luka lamanya kembali terbuka—bahkan ia nyaris tak bisa mengendalikan tubuhnya yang lagi-lagi tremor parah saat kilasan mengerikan itu semakin kuat membayangi. Napasnya sesak, udara sulit melewati tenggorokannya.
Panas, sakit, sesak, perih. Dia merasa akan gila!
Tidak, tidak… jangan sekarang. Di dalam sana masih ada Lion-nya yang masih menanti kedatangannya.
Sekuat tenaga Jordan berusaha mengembalikan kesadarannya. Menarik nafas, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Jordan merogoh saku celananya, mengambil obatnya yang tadi sempat di selipkan Aldrich—sahabatnya itu mengatakan untuk berjaga-jaga, kalau-kalau dirinya mulai kehilangan kendali.
Sejak insiden penculikan itu, Jordan dinyatakan mengidap skizofrenia paranoid. Beberapa dokter berpendapat skizofrenia tidak bisa disembuhkan.
Setiap pengidapnya selalu bergantung pada obat, dan setiap kali mendapatkan
tekanan berlebihan mereka bisa kumat.
Dengan tangan gemetar, Jordan menelan tiga butir pil tersebut—memejamkan mata selama lima belas menit sebelum kemudian membukanya dengan pikiran yang mulai kembali waras.
Tak ingin lagi terjebak oleh masa lalu, Jordan melanjutkan langkahnya memasuki
bangunan itu. Dengan langkah arogan dan aura intimidasi yang mendominasi
layaknya singa di savana yang membuat seluruh hewan pemakan rumput menggigil
ketakutan hanya dengan melihatnya mendekat. Sedang tatapan dinginnya bak dewa kematian yang siap menguliti hidup-hidup siapa saja yang berniat mengusiknya. Beberapa anak buah Richard yang berjaga di depan pintu masuk di buat ragu ketakutan kala mengiring Jordan bertemu bosnya.
Senyum senang terlihat di wajah Richard. Ia bangkit dari kursinya, menjamu tamu yang
sejak tadi ia nantikan.
“Selamat datang keponakan tiriku tersayang, Jordan Matthew Christoper.” Richard
membentangkan tangannya seolah ia memiliki hubungan sangat harmonis dengan
Jordan.
Raut wajah Jordan berbanding terbalik dengan kesenangan yang terlihat di wajah
Richard. Ia terlihat begitu marah dan siap memuntahkan api kemarahannya saat
ini juga.
“Dimana istriku?” tanyanya dengan nada sedingin es
Richard tertawa. “Tak kusangka, sosok kejam seperti dirimu pada akhirnya benar-benar takluk oleh wanita itu.” Richard sudah berdiri tiga langkah di depan Jordan. “Jangan terburu-buru, biarkan aku menerima lebih dahulu kesepakatan kita sebelumnya.”
Richard kembali duduk di kursinya dengan kaki bersilang angkuh.
Jordan menyentak koper brangkas di tangannya tepat di depan meja Rihard. “Cepat selesaikan ini.”
“Dengan senang hati,” senyum Richard melebar ketika dia memberi syarat kepada
pengacaranya untuk memeriksa berkas-berkas itu.
Richard tak bisa menahan senyum lebarnya ketika akhirnya surat resmi gudang senjata
milik Jordan yang sangat diidam-idamkannya itu menjadi miliknya secara legal. Dan lagi surat catatan kriminal dirinya yang telah dihapus, semakin melengkapi kesenangannya. Semuanya berjalan sempurna sesuai rencananya.
“Kau sudah menerimanya. Sekarang bawa istriku kemari.” geram Jordan dengan nada tak sabar
“Kau sangat tidak sabaran sekali.” decak Richard kemudian memberi isyarat kepada
anak buahnya untuk membawa Lionara ke tempat ini, kehadapan Jordan.
Tak lama kemudian, anak buah Richard datang, mengapit Lionara di tengah penjagaan mereka—berdiri tak jauh dari posisi Jordan.
Keheningan membentang di udara ketika Jordan tidak bersuara dan memusatkan perhatiannya dengan mengawasi Lionara lekat-lekat. Jantungnya berdenyut pedih dan
menciptakan rasa menyesakkan yang menyakitkan ketika menyaksikan kondisi
istrinya yang tidak baik-baik saja dengan mata kepalanya.
Jordan menggertakkan gigi dengan tangan terkepal marah ketika matanya melihat memar di sudut bibir dan tulang pipi Lionara, bekas cekikan di lehernya dan juga
tanda-tanda lain di lengan dan tangannya yang tidak tertutup pakaian. Sekuat tenaga
dirinya menahan ledakan kemarahan yang berkobar dan berusaha untuk bersikap
tenang.
“Berikan dia padaku.” titah Jordan dingin dengan pandangan yang tak lepas pada wajah pucat Lionara.
Richard tersenyum mengejek. “Well, tidak secepat itu Jordan. Bagaimana kalau kita
bermain-main sedikit?” Richard memiringkan kepalanya
“Aku tidak ada waktu untuk bermain denganmu, sialan!” gigi Jordan bergemeletuk geram
“Tentu saja harus ada.” Protes Richard dengan nada merajuk yang dibuat-buat “Tenang saja, permainan ini sangat menyenangkan. Kau hanya perlu menonton rekaman yang akan diputar oleh anak buahku, dan setelahnya cobalah menebak nama-nama pemain yang ada di dalamnya.”
“Tidak. tidak, Jo! Kumohon jangan pernah melihat video itu. Pergi dari sini dan jangan
pedulikan aku!” Lionara menggeleng penuh permohonan.
Salah satu anak buah Richard langsung menempelkan mulut revolver ke pelipis Lionara.
“Sekali lagi kau bersuara, maka peluru itu akan menancap di kepalamu.” ancam Richard
“TURUNKAN SENJATAMU, SIALAN!!!” gelegar Jordan murka, secepat kilat kakinya melangkah hendak menerjang pria sialan yang sudah menodongkan senjata itu pada istrinya. Tapi, dua anak buah Richard yang lain maju menyerang Jordan, dan dengan mudah di hajar oleh Jordan.
“Jika kau tidak berhenti di tempatmu, maka aku tidak akan segan-segan meledakkan
kepala istri tercintamu ini!" tekan Richard, entah sejak kapan sudah
menodongkan senjata yang sama di kepala Lionara.
“Berhenti!!” Jordan bersuara cepat “Jangan menyentuhnya sedikitpun!”
“Semua tergantung caramu bersikap, Jordan.” Richard memberi isyarat kepada dua anak buahnya untuk menekan Jordan.
Akhirnya dengan terpaksa Jordan berada dalam posisi berlutut. Sebelumnya Jordan tidak pernah berlutut di depan siapapun. Mereka yang berlutut di kakinya. Tapi hari ini dia melakukannya karena cinta yang begitu besar pada Lionara—membuang harga dirinya yang tidak pernah diinjak oleh siapapun.
“Jika yang kau inginkan adalah nyawaku maka lepaskan istriku.” Jordan hanya dan
selalu memikirkan Lionara. Ia tidak peduli akan nyawanya sekalipun. Menyakiti Lionara
sama saja dengan membunuhnya.
“Jo…” lirih Lionara menatap pedih
“Kepedulianmu terhadap wanita ini membuatmu jadi sangat menyedihkan, Jordan. bagaimana mungkin
pemimpin terkuat di underground siap
mati demi seorang wanita.”
Jordan mendengus. Ia menatap Richard jijik. “Bukankah kau lebih menyedihkan dariku? Kau mencintai wanita yang tidak pernah menginginkanmu. Ckck, bahkan sampai saat ini kau lebih memilih hidup tanpa pasangan karena begitu menggilai mommyku yang sudah tiada.”
Emosi Richard seketika meledak. Sedikit hinaan Jordan membuatnya ingin melenyapkan Jordan saat itu juga. Kemudian tanpa babibu, Richard menendang pipi Jordan. Jordan
tersungkur, Lionara histeris. Richard melakukan pukulan bertubi-tubi pada wajah
dan perut Jordan secara bergantian. Wajah Jordan sudah dibanjiri oleh darah
kental. Tapi Richard masih belum puas, ia kembali menendang begitu keras tubuh
Jordan. Ia mengangkat kerah bajunya, membuat dia berdiri kepayahan, lantas
membanting tubuhnya yang sudah babak belur ke dinding hingga menghasilkan bunyi
mengerikan.
DOR!
“Tidak!” Lionara menjerit histeris saat Richard menembak bahu kiri Jordan. “Hentikan!” jeritnya lagi.
Richard tidak mendengarkan Lionara. Ia kembali menembak salah satu kaki Jordan.
“HENTIKAN!!” teriakan Lionara semakin nyaring. Jantungnya seperti ditarik paksa keluar dari tempatnya. Air matanya menetes semakin deras. Ia tidak bisa melihat Jordan
terluka seperti ini.
“Rupanya kau sudah lama mengetahuinya, eh?” Richard terkekeh sinis. Ia berjongkok di
depan Jordan yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah. “Dan, apa kau juga sudah tahu jika dalang penculikan dan kematian mommymu bertahun-tahun lalu adalah aku?” Richard sengaja berucap lambat-lambat saat melihat wajah syok Jordan “Lebih tepatnya di tempat ini. Apa kau tahu juga jika mommy kesayanganmu itu sebelum diperkosa beramai-ramai, tubuh jalangnya itu sudah lebih dulu kunikmati?”
“Atau, bagaimana jika aku memutar ulang kenangan manis silam itu?” Richard
menyeringai, dengan isyarat tangan ia menyuruh anak buahnya memutar video yang dimaksud. Kini layar besar di hadapan mereka menampilkan rekaman rentetan
kejadian mengerikan bertahun-tahun lalu.
Tubuh Jordan membeku. Tatapannya berubah hampa pada layar tersebut, jeritan
memiluhkan mommynya terngiang-ngiang hebat di telinganya. Dalam sekejap
tubuhnya berangsur tremor hebat. Rekaman video itu memperparah segalanya.
“Jordan, mommy perintahkan tutup matamu!!”
“Lari, Jo!! Lari sejauh mungkin!!!”
“Selamatkan dirimu!”
“Kamu harus hidup,
Nak!”
Darah. Api. Jeritan.
Jordan kambuh. Dia memegangi kepalanya sendiri. Ralat, bukan memegangi, namun
memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kuat. Bola matanya memerah dengan binar yang aneh. Jordan mulai meracau tidak jelas dan tubuhnya meringkuk ketakutan.
“Mom-mommy…
semua gara-gara Jo. Seandainya tidak ada Jo disana… mommy tidak akan mati. Tidak
mati… tidak mati…ARRGGGGHHHHHH!!!” Jordan histeris, kepalanya di hantamkan
keras ke dinding berkai-kali hingga darah kembali menetes.
Melihat itu Richard tertawa keras seperti orang gila. Sementara Lionara terisak hebat.
“Kumohon, hentikan video itu! Hentikan!! kumohon….siapapun! RICHARD!!!” raung Lionara, tapi sama sekali tak diindahkan pria setengah baya itu.
“Jo, berhenti, sayang! Jangan lakukan itu… daddy please dengarkan aku. Daddy…”
teriak Lionara putus asa. Rasanya ia lebih baik mati daripada melihat pria yang
dicintainya menderita sedemikian hebat. Setiap melihat luka di sekujur tubuh
Jordan hati Lionara sangat sakit. air mata Lionara terus berjatuhan, ia memberontak dari dua orang yang menahannya.
“Sialan! Lepaskan aku!!” bentak Lionara tak terkendali. Demi Tuhan, ia sudah tidak
sanggup lagi. Ia ingin memeluk suaminya agar pria itu berhenti menyakiti
dirinya sendiri. Jika terus dibiarkan, Jordan bisa mati.
Tak bisa menahannya lagi, Lionara menginjak kaki kedua orang itu keras dan
menggigit kedua tangan mereka kencang seperti anjing gila. Dan… berhasil. Kedua
orang itu berteriak kesakitan.
Lionara segera merangkak menuju Jordan yang masih belum berhenti. Dengan sekuat tenaga, ia meraup kepala Jordan dan menempelkannya di dadanya. Lionara mendekap sangat erat tubuh gemetar suaminya. Memejamkan mata rapat saat detik berikutnya Jordan tertawa seolah ada sesuatu yang lucu.
“Mommy mati karena aku.” kali ini sorot Jordan kembali hampa.
“Tidak. Itu bukan salah kamu, sayang.” Lionara meralat, menangis kencang sambil
menciumi kepala Jordan—darah pria itu menetes kemana-mana. “Bukan salah kamu…”
To be continued
Follow IG: @rianitasitumorangg, aku sering kasih bocoran ceritaku disana.
Terus, kalo like dan komennya lebih banyak dari sebelumnya, aku cepat up. See youuu 🤗