JORDAN

JORDAN
Extra Part 3



Ruang kamar di penuhi oleh suara desahan dan erangan dari dua insan yang sedang


memadu kasih. Mereka tenggelam dalam gairah cinta yang tidak pernah berkurang


sedikitpun.


Sudah banyak air mata yang terbuang dalam kehidupan rumah tangga mereka, namun mereka selalu saling menguatkan diri satu sama lain. Berharap jika hari esok adalah


hari yang membahagiakan bagi mereka.


Tidak ada satu keluarga pun yang tidak memiliki masalah dalam rumah tangganya. Semua itu kembali lagi pada mereka yang bisa melewati masalah itu atau tidak. Dan


tidak sedikit orang yang menyerah dengan cobaan rumah tangga mereka. Tidak


sedikit pula orang yang berjuang untuk mempertahankan rumah tangga mereka, walau harus banyak pengorbanan yang mereka lakukan. Bahkan diantara mereka terdapat orang yang berani mempertarukan nyawanya, hanya untuk mempertahankan rumah tangganya. Salah satunya adalah, Jordan.


“I love you, Mommy. So much.”


Hal itulah yang selalu ia ucapkan disetiap harinya. Tidak pernah terlewat satu hari


pun tanpa mengucapkan kata cinta itu. mungkin sebagian orang akan menganggap


hal itu terlalu berlebihan, dan ada pula diantara mereka yang beranggapan jika


kebanyakan dari orang-orang yang sering mengucapkan hal itu pada akhirnya ia


akan berdusta. Namun tidak bagi Jordan. Dia akan mempertanggung jawabkan dengan apa yang dia ucapkan.


Tidak hanya lewat kata-kata, banyak sekali tindakannya yang selalu membuktikan jika


dirinya bisa tenggelam lebih dalam pada diri Lionara.


Lionara tidak menjawab ungkapan cinta dari Jordan. pikirannya sudah blank dipenuhi oleh kenikmatan yang pria


itu berikan. Tidak perlu berkata, siapapun sudah mengetahui jika dirinya sangat


mencintai suaminya itu.


“Da-ddy,” ucapan Lionara tersengal. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jordan,


saat dirinya akan mencapai klimaks.


Lionara bergerak gelisah dibawah kukungan Jordan. Pria itu terlihat sangat gagah di


atas tubuhnya. Mendominasi atas dirinya.


Jordan memagut bibir Lionara, ia mengeksplor bagian dalam dari mulut Lionara. Mereka


saling membelit dan ******* satu sama lain. Terlebih ketika Lionara mencapai


puncaknya, Jordan tetap tidak melepaskan cumbuannya. Hingga erangan Lionara


tertahan oleh cumbuan Jordan.


Jordan tidak memberi jeda untuk Lionara agar bisa merasakan pelepasannya, ia semakin semangat menggempur tubuh Lionara. Sebelum terdengar suara yang mengganggunya.


“Mommy! Mommy, open the door.” teriak


suara maskulin dari luar kamar. Jordan dan Lionara bisa mendengar suara ketukan


tak sabar di detik berikutnya dari si pelaku.


“D-addy. Hentikan. Itu J!” kata Lionara terbata


“Wait a minute. Aku belum selesai!” sahut


Jordan yang masih semangat menggempur Lionara.


Lionara sudah tidak bisa fokus untuk merasakan persetubuhan mereka. Karena saat ini perhatiannya teralihkan pada gebrakan yang semakin kencang.


“Mom, buka dong. J perlu bantuan nih. Penting!” Jay menempelkan pipinya ke pintu,


mengetuk lebih keras bak penagih hutang.


“Jo Hentikan! Aku harus segera menemuinya.” Lionara mencoba untuk mendorong tubuh Jordan yang baru saja ambruk di atas tubuhnya. Namun Jordan enggan untuk bergeser dari sana.


Lagi-lagi mereka mendengar teriakan dan tendangan pada pintu kamar. Saat itulah Jordan menjatuhkan tubuhnya ke samping Lionara.


“Aku pasti akan di marahi olehnya lagi!” gumam Lionara seraya menyanggul rambutnya ke atas dan bergerak meraih bathrobe yang tergeletak di lantai, untuk segera ia pakai.


Jordan hanya terkekeh melihat kecemasan istrinya itu.


“Kenapa, J? Ini masih terlalu pagi tapi kamu udah grasuk-grusuk begini.”


Jay mengangkat alis, “Ini uda jam 6. Biasanya jam segini Mom udah stand by di


dapur. Tapi sekarang?”


“Huh?” Lionara berdehem canggung. “Ah… itu Mom—“


“Mom habis ngapain?” Jay menengok ke sela pintu yang sedikit terbuka.


“Nggak ngapa-ngapain,” sedikit gelagapan, Lionara berjalan ke depan dan menutup


pintunya. “Kamu ngapain? Ada yang penting apa?”


Jay berdecih, “Bohong ih. Pasti habis ngapa-ngapain ya?”


“Apanya sih, J? Jangan mulai ya,” Lionara sudah gugup tidak menentu. Jay memang senang menggoda kedua orangtuanya. Lionara dan Jordan sudah tahu itu.


“Daddy dimana? Kok nggak keluar?”


Lionara memutar bola mata, tahu mode kepo Jay tengah kumat. Ia menyilangkan tangan di perut, menatapnya. “To the poin. Kamu perlu apa sama mommy?”


Jay mengulum senyum dan ikut menyilangkan tangan. “Jangan bohong. Tadi habis ngapain?”


“Kan udah dibilang nggak ngapa-ngapain.”


“Tuh… bohong. Ingat ya, dua anak udah cukup. Udah pada tua. Nggak boleh main


aneh-aneh.”


Lionara membuka pintu, berteriak ke dalam. “Daddy, ini anak kamu kumat lagi nih!”


Tidak lama kemudian, ayahnya muncul yang cuma mengenakan celana tidur panjang sambil bertelanjang dada. Rambutnya berantakan, tapi terlihat segar bugar tidak tampak baru bangun. Dasar orang tua ini. Tidak ingat umur!


Jay bukan anak suci nan polos. Usianya sudah 22 tahun. Tahu pasti apa yang telah


orang tuanya lakukan.


“Kamu ngapain pagi-pagi udah buat keributan begini?” Ayahnya dengan jejak keringat di dahi, mendekatinya.


“Olahraga pagi kali. Ini aku kesini malah mau mengingatkan agar jangan sering-sering  melakukan gerakan ekstrim. Kurang baik apa, coba?”


Wajah keduanya memerah, mereka semakin tergagap. Jordan memiting leher putranya


pelan, sedang Lionara memegang tangan suaminya, agar melepaskan.


“Balik ke kamar dan siap-siap. Hari ini kamu mulai ambil alih perusahaan.” Jordan


melepaskan, membawa istrinya masuk kamar.


“Justru karena itu aku kemari.” Jay berdecak “Mom, harus bantuin aku berpakaian.”


“Nggak usah sok manja. Pakai sendiri lah,” Jordan mengibaskan tangan


“Biarin. Mom aku juga.” Jay menggoyang-goyangkan tangan ibunya “Ayolah Mom, ke kamar aku sekarang.”


“J, astaga! Kamu ngapain sih?!” Ayahnya tampak geram “Mommy kamu masih harus ngurus keperluan daddy.”


“Keperluan apa coba?” Jay menaik turunkan alisnya. “Nggak enak ya lagi tanggung-tanggung malah di panggil?”


Jordan menunjuk-nunjuk. “Tuh… udah berapa kali kubilang, nggak usah dibuka kalau anak ini yang ketuk pintu.”


“Idihh… durhaka sekali jadi orang tua.”


Jordan menarik tubuh Lionara merapat ke dadanya. “Udah ayo masuk. Biarin dia,”


“Mom…!”


Lionara menghela napas menghadapi kelakuan ayah dan anak itu. “Iya, iya J. Nanti Mom ke sana setelah mandi. Kamu tenang aja,”


“Mommy.” Jordan mendesis tidak terima


“Yasss!! Thank you mommy-ku sayang.” Jay bersorak senang seraya mengecup pipi ibunya “I’m waiting for you, okay?”


Lionara hanya tersenyum, mengangguk geli meresponi putranya yang sudah berlari ke kamar setelah sebelumnya menjulurkan lidah ke ayahnya—mengejek.


Menatap lurus ke arah punggung lebar putranya yang semakin menjauh, Jordan bergumam “Sayang,


kamu simpan dimana kartu keluarga kita? Mau coret anak yang bernama Jay Manuel


Christoper dari sana. Ngeselin amat ya, lama-lama!”


Refleks, Linara memukul bisep Jordan. Wanita itu terkekeh geli melihat wajah masam suaminya. “Gitu-gitu, anak kesayangan kamu tuh ya. Salah siapa, yang dari kecil selalu manjain dia,”


Jordan menghembuskan napas, beralih mendekap erat tubuh istrinya. Jordan membenamkan wajahnya di leher Lionara.


“Ya mau bagaimana lagi, udah terlanjur sayang banget sama anak-anak. Susah jadinya, kan!” gerutunya disana, dibalas tawa renyah Lionara seraya mengelus-elus rambut tebal Jordan.


****


Ballroom hotel dipenuhi oleh para awak media dan tamu undangan yang hadir bukan main, memenuhi


acara resepsi pernikahan adik lelaki Lionara—Leon Abraham Lincolnshire. Setelah


terus menerus diteror oleh sang kakak selama bertahun-tahun, akhirnya Leon


memutuskan menikah di usianya yang ke 33 tahun dengan seorang gadis cantik berdarah


Rusia-Italia, Lovena Vasylchenko.


keluarganya. Berbanding terbalik dengan Lionara, yang kini sudah lebih mudah


senyum dan banyak bicara.


“Well, well... Congrats dude, akhirnya kamu menikah juga!” Jordan langsung memeluk


tubuh sang adik ipar. “Kupikir sampai aku mati, kamu tidak akan menikah-menikah,”


lanjutnya menyindir


Leon melepaskan pelukan, lalu berdecak. “Tapi kamu belum mati, kan?”


“Tenang saja, aku tidak akan mati secepat itu.” kemudian tangan Jordan merangkul


posesif pinggang Lionara “Lagi pula, mana rela aku mati duluan dan meninggalkan


cintaku ini sendirian. Jika mati, kami akan bersama-sama. Benar begitu,


sayangku?” Jordan mengecup pelipis istrinya, sengaja mengumbar kemesraan


mereka. Membuat Leon memutar bola mata jengah.


“Ya,ya… terserah kalian saja.”


Lionara menyikut pelan perut Jordan. “Bisa tidak, diacara berbahagia ini, kalian berdua


tidak membahas soal kematian.” Lionara mendelik ke arah Leon “Kamu juga Leon!”


“Suami lovey-dovey kakak yang duluan.” Leon menjawab ketus


Lionara menghela napas, kemudian ganti menatap Lovena yang sejak tadi hanya


menyunggingkan senyum geli memperhatikan interaksi mereka. Wanita itu tersenyum hangat lalu memeluk Lovena. “Aku senang akhirnya kalian menikah, Love.


Setidaknya aku tidak kahwatir lagi memikirkan kesendirian bujang tuaku ini.”


Lovena terkekeh, “Kalau adik kakak ini, tidak tanam saham duluan di perutku, mungkin


aku akan berpikir seratus kali lipat untuk menjadi istri dari pria sekaku dia,”


Lovena menyindir terang-terangan, membuat Jordan tak kuasa menahan tawanya.


“Sudah kuduga. Pada akhirnya, singa jantan kami ini akan menggunakan cara termuktahir tersebut,” ucap Jordan di sela-sela tawanya.


“Daddy…” tekan Lionara seraya mencubit pinggang Jordan, saat dirasa mata para tamu undangan kini melihat ke arah mereka.


“Aw, aw… iya, iya Mommy. Sorry, okay?” ringis Jordan kala merasakan cubitan tak


main-main istrinya.


“Ck, macam kamu tidak begitu saja.” Leon balas mencibir Jordan “Dulu, kamu juga


memanfaatkan situasi genting kakak demi mendapatkannya.”


Jordan sudah akan membuka mulutnya, tiba-tiba suara lembut seorang wanita dari arah panggung musik, menyelah lebih dahulu.


“Selamat malam semua,” wanita itu menyapa, membuat atensi seluruh tamu undangan beralih kepadanya, tak terkecuali dengan keempat pasang yang sejak tadi berdebat itu.


“Apa yang akan dilakukan kedua bocah itu?” Leon bergumam, melirik kepada Jordan yang matanya tak lepas memandang sumringah ke arah panggung.


“Sepertinya mereka akan bernyanyi,” Lovena lah menjawab suaminya


“Dad, itu Sky dan J kan?” Lionara bertanya ragu


“Yeah, itu anak-anak manis kita.” Jordan memeluk pinggang istrinya


Ya, tak salah lagi, gadis yang tengah duduk anggun di panggung sambil memegang


mikrofon itu adalah Oceana Sky Christoper bersama sang kakak, Jay Manuel


Christoper yang tengah menyetel senar gitar.


Jay mengenakan kemeja putih dan jas hitam tanpa dasi, sedangkan Sky mengenakan


dress berwarna salmon panjang elegan, melekat pas di tubuh indahnya. Paras yang


dimiliki kakak beradik itu sungguh tak main-main. Jay memiliki ketampanan yang


luar biasa. Tidak ada kekurangan dimana-mana, pria itu seperti patung dewa yunani yang tiada celanya. Sementara Sky, kecantikannya bak dewi Psyche—membuat


siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta. Paras yang luar biasa itu tentunya


di dapat dari hasil gen sempurna milik Jordan dan Lionara.


“Aku dan kakakku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk Om Leon kesayangan kami, yang tengah berbahagia hari ini, dan juga untuk kedua orang tua kami yang


sangat kami cintai.” Sky menjedah “Sebenarnya ini adalah lagu kesukaan daddy, beliau bilang ini adalah isi hatinya untuk mommy, karena telah bersedia


mencintai daddy begitu banyak dengan segala kekurangannya.”


Mendengar itu, mata Lionara langsung tertuju pada Jordan yang juga balas menatapnya, pria itu mengangguk—tersenyum begitu manis, lalu membawa tubuh Lionara memunggunginya,


untuk ia peluk dari belakang. Dagunya bertengger nyaman di atas puncak kepala


Lionara.


“Oh, my kids… How sweet they are,” Jordan


menatap penuh cinta kepada kedua buah hatinya


Petikan pertama gitar, diikuti suara tepukan apresiasi dari orang-orang. Lagu Bukti dijadikan versi akustik,


benar-benar menenangkan dan begitu membekas, terlebih bagi Jordan dan Lionara.


...Memenangkan hatiku bukanlah...


...Satu hal yang mudah...


...Kau berhasil membuat...


...'Ku tak bisa hidup tanpamu...


...Menjaga cinta itu bukanlah...


...Satu hal yang mudah...


...Namun sedetik pun tak pernah kau...


...Berpaling dariku...


...Beruntungnya aku...


...Dimiliki kamu...


Ditengah petikannya, mata Jay


tertuju pada kedua orang tuanya yang kini saling memeluk. Sudah sekian tahu


mereka bersama, namun keromantisan kedua orang tuanya tak sekalipun berkurang.  Ada yang bilang seiring berjalannya waktu…


cinta dalam ikatan pernikahan akan memudar. Yang akan bertahan selamaya adalah rasa sayang. Tapi dimata Jay, kedua orang yang dikasihinya itu masih sangat


saling mencintai, tidak peduli sudah beberapa dekade waktu berlalu.


Terlebih Ayahnya, sosok itu benar-benar


menjadikan ibunya sebagai satu-satunya ratu di dalam hati. Jay mengukir senyum


hangat, kemudian di bagian reff—ia ikut bernyayi bersama sang adik.


...Kamu adalah bukti...


...Dari cantiknya paras dan hati...


...Kau jadi harmoni saat kubernyanyi...


...Tentang terang dan gelapnya hidup ini...


...Kaulah bentuk terindah...


...Dari baiknya Tuhan padaku...


...Waktu tak mengusaikan cantikmu...


...Kau wanita terhebat bagiku...


...Tolong kamu camkan itu…...


Lionara tidak bisa menyembunyikan basah yang mengenang di pelupuk mata, ketika dengan tulus kedua anaknya menyanyikan lagu itu. Mereka menyelesaikan sampai akhir. Gema tepuk tangan mengudara—memenuhi setiap sudut ruangan pesta. Jordan dan Lionara tersenyum, ikut bertepuk tangan dengan haru yang tak bisa


disembunyikan.


“Terima kasih untuk semua cinta yang sudah Mom dan Dad berikan untuk kami. Cinta kalian begitu luar biasa dan kami berharap, kelak kami pun dapat seperti itu bersama pasangan kami. We love you so much Mom, Dad. ” Jay dan Sky menutup lagu mereka, dengan kalimat paling tulus yang ditunjukkan untuk Jordan dan Lionara.


...Cinta tak hanya persoalan saling memandang satu sama lain, namun lebih dalam dari pada...


...itu, bersama-sama, berjalan ke arah yang sama....


...~Antoine  de Saint...


Akhir kata saya mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian yg uda singgah dan mau baca kisah JORDAN ini. Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya CHASING YOU dan cerita LEON yang akan menyusul ❤


IG: @rianitasitumorangg