JORDAN

JORDAN
Chapter 27



Nara


terusik dalam tidurnya saat dirasa telunjuk seseorang menusuk-nusuk pipinya,


dan ketika membuka mata dilihatnya suaminya tengah menatapnya dengan cengiran


lebar—tanpa dosa. Seperti malam sebelumnya, Nara kembali dibangunkan pada


jam-jam tidak normal.


“Mommy,


mau makan pizza.”


“Kamu


pesan sendiri bisa kan, Jo? Aku ngantuk nih.”


Jordan


menggeleng. “Mau makan di tempatnya langsung.”


“Yaudah


kamu pergi sendiri ke sana.” Nara hendak menarik selimut tapi ditahan oleh


Jordan.


“Enggak


mau. Pengen ditemani sama kamu.”


Nara


merasa ada petir di kepalanya saat mendengar permintaanya itu. Matanya otomatis


menoleh ke arah jam dan gilanya ini baru jam 12 malam, artinya ia baru tidur


dua jam yang lalu setelah kegiatan malam hari mereka.


 “Tapi lihat ini jam berapa Jo? Ya Tuhan…” Nara


mendesah lelah


Jordan


terkekeh geli, menarik tangan Nara hingga duduk lalu menciumi seluruh wajah


mengantuk itu dengan gemas.


“Jo!”


protes Nara sembari mendorong wajah Jordan


“Enggak


mau tahu, pokoknya kamu harus temani aku. Ini juga maunya baby kita loh.”


Sebelum


Nara kembali protes, Jordan sudah lebih dulu menggendong tubuh polos Nara dan buru-buru


turun dari ranjang, membawanya ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Setelahnya,


Jordan memakai bajunya terlebih dahulu, kemudian pakaian istrinya dan


memasangkan mantel agar tubuh istrinya tetap hangat.


Sepuluh


menit kemudian mereka sudah berada di dalam ferari hitam Jordan, berkendara


dalam diam menembus jalanan kota yang sepi di tengah rintik hujan. Nara


mendapati Jordan berkali-kali meliriknya—tersenyum geli. Nara kesal, memilih


memalingkan wajah ke jendela.


Jordan


menggandengnya begitu mereka turun, menuntunnya masuk ke kedai Pizza. Musik


klasik mengiringi, selebihnya sepi, hanya ada dua atau tiga orang pelanggan dan


beberapa pelayan yang bergegas menyajikan pesanan mereka. Sepuluh menit


kemudian, di atas meja sudah tersaji mozzarella stuffed crust pizza, lengkap


dengan kopi dan cokelat panas untuk Nara.


Jordan


memakannya dengan lahap dan itu membuat Nara takjub.


“Memangnya


seenak itu ya?” Nara mengangkat satu alis


Jordan


mengangguk. “Mau coba? Aaa… ayo buka mulut, mommy.” katanya sambil


mengangsurkan potongan pizza ke depan mulut Nara.


“Aku


tidak lapar-“


“Mommy,”


tekan Jordan menatap tidak suka penolakan istrinya


Nara


menghembuskan napas kasar saat Jordan sudah kembali menggunkan tatapan lasernya.


“Dasar


pemaksa.” decak Nara, tapi tak urung menerima suapan itu. mengunyahnya dengan


dongkol. Sementara Jordan terkekeh pelan sambil melanjutkan makan.


Lalu


lagu Tale as old as time terputar. Jordan bangkit berdiri, mengulurkan


tangannya pada Nara. Nara mengernyit.


“Dance


with me?”


“A-apa?”


“Our


first dance. Setelah kupikir-pikir kita belum pernah melakukannya, bukan?”


“Aku


tidak bisa berdansa.”


“Tenang


saja. Aku akan menuntunmu.”


Ada


jeda sebelum Nara akhirnya menerima uluran tangan Jordan, membiarkan Jordan


menghelanya ke bagian ruangan yang bebas dari kursi—lalu memulai dansa.


Dengan


sabar, Jordan menuntun tubuh Nara agar mengikuti gerakannya. Mereka terus berdansa


dalam diam hingga lagunya habis. Nara mengalungkan lengannya di leher Jordan,


Jordan merangkul pinggangnya, terus merapatkan tubuh mereka. Jantung Nara


berpacu, berdebar keras. Lagi. Perasaan asing menghantamnya, terlebih tatapan


mereka kini saling mengunci.


Nara


melepaskan rangkulannya dari leher Jordan, berdiri canggung, hendak duduk ke


tempatnya lagi, namun Jordan menahan tangannya, makin mendekat, membuat Nara


mundur.


“Aku


mencintaimu, Lion.” pelan, Jordan berbisik di telinga Nara


“A-apa?”


tercekat, mata Nara mengerjap. memastikan kalimat asing yang baru saja Jordan


lontarkan.


Jordan


menarik dagu Nara hingga hidung mereka bersentuhan. Menatapnya lekat. “I’m freaking in love with you, Mommy… what


have you done to me?” bisik Jordan serak, langsung mencium bibir Nara.


Nara


tidak bisa berpikir, rasanya seperti dia melayang karena ciuman Jordan.


****


Jordan


menarik kaki Nara yang tengah bergelung di balik selimut tebal. “Bangun, tukang


tidur.”


Hari


minggu sore dengan rintik hujan yang masih betah mengguyur diluar membuat


perempuan itu terlelap dari jam satu siang sampai jam lima sore. Pagi menjelang


siang tadi, setelah mengisi perut, istrinya itu kembali tidur karena masih


mengantuk akibat menemaninya makan di luar, dan baru kembali pukul 2 dini hari.


Tadinya


Jordan juga ikut tidur memeluk perempuannya, namun ia terbangun saat dering


ponsel bergetar, menariknya mau tak mau membuka mata. Lalu melanjutkan


pekerjaan di ruang kerja, dan sekarang kembali lagi ke kamar membangunkan Nara


yang sudah berjam-jam lamanya belum bangun juga.


Ia


membuka selimut dan ikut masuk menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. Ia


mengangkat Nara ke atas tubuhnya, lalu melilitkan kaki dan tangannya erat


membungkus perempuan itu seperti ular piton yang sedang mencoba melumpuhkan


mangsa. Tapi bukannya bangun, perempuan itu malah balas memeluknya tak kalah


erat dan terlelap di atas tubuhnya, tidak sama sekali terganggu.


“Bangun


dong, sayang. Udah sore loh ini.” Jordan menepuk-nepuk punggung Nara


“Masih


ngantuk.” gumam Nara tidak jelas


Jordan


tersenyum, lalu mengecup pucuk kepala Nara “Baiklah, aku memberimu waktu


setengah jam lagi.”


“Satu


jam.”


“Ck,


gak bisa Mommy. Kita bisa terlambat nanti.”


Nara


mendongak. Mengerut kening “Terlambat?”


“Malam


diadakan hari ini.”


“Tidak


bisakah kamu ditemani Sam saja?” keluh Nara dengan raut memelas.


Jordan


gemas, lalu menangkup wajah Nara dan mengisap bibirnya. “Nope. Kamu istriku,


bukan Sam.”


“Bossy.”


Nara mendengkus. Dan karna kesal ia bangun dari atas tubuh lelaki itu tapi


Jordan menahannya.


“Mau


kemana?” Jordan mengangkat alis.


“Mandi.”


Nara menyahut datar.


“30


menit lagi, sayangku. Kan kamu bilang masih ngantuk? Yaudah kita bobo lagi


sebentar.”


Jordan


kembali menenggelamkan kepala Nara ke dadanya, memeluknya erat diatas tubuhnya. Keheningan melingkupi beberapa saat.


“Aku


bahagia. Tetaplah seperti ini.” Jordan terdiam sesaat. “I love you,” gumamnya


di telinga Nara kemudian.


Istrinya


tidak membalas, tapi Jordan bisa merasakan debar jantung wanitanya yang mulai


mengalun merasuk gendang telinga. Ia bisa merasakan tubuh Nara menegang


dalam dekapannya, dan ia bisa merasakan tangan serta kaki Nara semakin mengetat


memeluknya erat tak ingin melepaskan.


Nara


tidak membalas pernyataan Jordan yang sudah kedua kalinya lelaki itu ucapkan. Ia hanya masih belum bisa menelaah perasaannya terhadap Jordan saat ini.


Bukan bibirnya yang menyahuti, namun tubuhnyalah yang seolah berbicara


menimpali.


Jordan


tersenyum kecil. Semakin mempererat dan mencari kenyamanan pada tubuh istri


terkasihnya yang tengkurap di atas tubuhnya. Tidak masalah, ia akan tetap sabar


menunggu sampai perempuan kecilnya ini bersedia membalas pernyataan cintanya


kelak.


****


“Anda


datang terlambat, Mr. Christoper.” Javier Alexander, pemilik acara—mengulurkan


tangannya pada Jordan ketika keduanya sudah saling berhadapan. Jordan


menyambutnya.


Jordan


tekekeh rendah, “Maafkan saya Mr. Alexander. Saya dan istri ketiduran tadi.”


aku Jordan tanpa menghiraukan pelototan istrinya akibat kejujurannya tersebut.


Benar,


akhirnya mereka terlambat satu jam setelah acara berlangsung. Keduanya sama-sama


ketiduran dengan posisi saling memeluk, seperti tidak rela dipisahkan.


“Saya


pikir anda akan melewatkan undangan dari saya lagi.” ucap Javier setelah tangan


mereka yang bersalaman terlepas.


Jordan


hanya tersenyum kecil sebagai balasan. “Kenalkan istri saya, Lionara


Christoper.” Jordan merangkul mesra pinggang Nara.


“Sekalinya


menghadiri acara pesta saya, Anda membawa istri. Hal yang sangat luar biasa.


Saya pastikan besok akan menjadi headline di beberapa media.”


Jordan


tertawa rendah. Sementara Nara hanya tersenyum tipis. “Anda terlalu


berlebihan.”


“Saya


senang akhirnya bisa mengenal Anda Mrs. Christoper.” Javier tersenyum ramah


“Begitu


pun dengan saya, Mr. Alexander.” balas Nara


“Mari


kita bergabung bersama yang lain.” Javier membimbing Jordan dan Nara menuju


para rekannya yang lain.


Saat


ini mereka mengobrolkan sesuatu yang ringan dan berlanjut pada pekerjaan sambil


menyesap minuman yang dipegangnya. Basa-basi berubah jadi obrolan yang tidak di


mengerti oleh Nara. Dan karna itu Nara memilih undur dari sana—meminta ijin


terlebih dahulu pada Jordan yang sempat tidak mengijinkannya berkeliling


sendirian, tapi Nara meyakinkan jika dia hanya pergi sebentar.


Puas


berkeliling, melihat-lihat interior mewah pesta, langkah Nara di hela menuju


deretan berbagai jenis makanan yang terhidang di meja. Perutnya mendadak terasa


lapar begitu melihat hidangan yang cukup mengguga seleranya itu. Tanpa


mempedulikan sekitarnya, ia mulai mengambil satu ke piringnya, satu menyuapkan


ke dalam mulutnya, satu lagi menambahkan ke piringnya, disusul suapan lagi


mengisi perutnya.


“Apa


kamu begitu lapar?” suara berat bercampur kekehan dari seseorang, membuat


pergerakan tangan Nara terhenti. Berbalik, ternyata orang tersebut adalah


Daniel. Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas abu-abu tanpa dasi. Rambutnya


ditata rapi seperti biasa.


Nara


berdehem, canggung. “Begitulah.”


“Ibu


hamil memang sangat muda lapar.” Daniel tersenyum “Apa kehamilanmu


menyulitkanmu? Kudengar di masa trismester awal ibu hamil akan sedikit tersiksa


akibat morning sickness.”


“Ya


itu benar. Tapi kali ini aku cukup beruntung karna itu tidak berlaku untukku.”


Nara menyunggingkan senyum kecil


“Maksudmu?”


“Jordan


yang mengalami morning sickness. Dipagi hari dia sering mual dan sedikit


kepayahan. Sepertinya bayi kami lebih tertarik merepotkan Ayahnya.”


“Begitu.”


Daniel mengangguk, tersenyum seperti orang bodoh padahal hatinya tergores luar


biasa.


“Kamu


datang sendiri?” Nara mengalihkan topik, melihat Daniel tersenyum getir.


“Tidak.


Aku bersama seseorang. Kebetulan dia juga baru bergabung di perusahaan.” Daniel


mengedarkan pandangan ke segala arah. “Nah, itu dia orangnya.”


Daniel


menunjuk seorang perempuan yang ia sebut.


Nara


mengikuti arah tunjuk Daniel. Seketika manik hijaunya menatap nanar orang


tersebut. Rebecca?


Beberapa


detik tak dapat berkata. Terpaku pada sosok yang tengah berjalan anggun ke arah


mereka. Sedang di sebelah perempuan itu ada Jordan. Mereka saling melempar


senyum dan terlihat sedang membahas sesuatu sepanjang jalan.


Mereka


berjalan semakin mendekat. Perempuan itu mengenakan gaun hitam, perpaduan


cantik, sexy dan elegan. Dia seperti model Victoria secret. Menawan dan menakjubkan.


Membuat setiap orang yang melihatnya akan terpesona. Namun tidak dengan


dirinya. Tangannya terkepal disisi, menahan gejolak kemarahan yang selama


bertahun-tahun ini ia pendam.


Rebecca


Lincolnshire… Sepupunya.


Putri dari adik Ayahnya—Roberto Linconlnshire. Om dan tante yang telah mengusirnya


dari rumah sebelas tahun lalu.


To be continued


Ig: @rianitasitumorangg


...Daddy & Mommy...



...Daniel & Rebecca...