
Nara
terusik dalam tidurnya saat dirasa telunjuk seseorang menusuk-nusuk pipinya,
dan ketika membuka mata dilihatnya suaminya tengah menatapnya dengan cengiran
lebar—tanpa dosa. Seperti malam sebelumnya, Nara kembali dibangunkan pada
jam-jam tidak normal.
“Mommy,
mau makan pizza.”
“Kamu
pesan sendiri bisa kan, Jo? Aku ngantuk nih.”
Jordan
menggeleng. “Mau makan di tempatnya langsung.”
“Yaudah
kamu pergi sendiri ke sana.” Nara hendak menarik selimut tapi ditahan oleh
Jordan.
“Enggak
mau. Pengen ditemani sama kamu.”
Nara
merasa ada petir di kepalanya saat mendengar permintaanya itu. Matanya otomatis
menoleh ke arah jam dan gilanya ini baru jam 12 malam, artinya ia baru tidur
dua jam yang lalu setelah kegiatan malam hari mereka.
“Tapi lihat ini jam berapa Jo? Ya Tuhan…” Nara
mendesah lelah
Jordan
terkekeh geli, menarik tangan Nara hingga duduk lalu menciumi seluruh wajah
mengantuk itu dengan gemas.
“Jo!”
protes Nara sembari mendorong wajah Jordan
“Enggak
mau tahu, pokoknya kamu harus temani aku. Ini juga maunya baby kita loh.”
Sebelum
Nara kembali protes, Jordan sudah lebih dulu menggendong tubuh polos Nara dan buru-buru
turun dari ranjang, membawanya ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Setelahnya,
Jordan memakai bajunya terlebih dahulu, kemudian pakaian istrinya dan
memasangkan mantel agar tubuh istrinya tetap hangat.
Sepuluh
menit kemudian mereka sudah berada di dalam ferari hitam Jordan, berkendara
dalam diam menembus jalanan kota yang sepi di tengah rintik hujan. Nara
mendapati Jordan berkali-kali meliriknya—tersenyum geli. Nara kesal, memilih
memalingkan wajah ke jendela.
Jordan
menggandengnya begitu mereka turun, menuntunnya masuk ke kedai Pizza. Musik
klasik mengiringi, selebihnya sepi, hanya ada dua atau tiga orang pelanggan dan
beberapa pelayan yang bergegas menyajikan pesanan mereka. Sepuluh menit
kemudian, di atas meja sudah tersaji mozzarella stuffed crust pizza, lengkap
dengan kopi dan cokelat panas untuk Nara.
Jordan
memakannya dengan lahap dan itu membuat Nara takjub.
“Memangnya
seenak itu ya?” Nara mengangkat satu alis
Jordan
mengangguk. “Mau coba? Aaa… ayo buka mulut, mommy.” katanya sambil
mengangsurkan potongan pizza ke depan mulut Nara.
“Aku
tidak lapar-“
“Mommy,”
tekan Jordan menatap tidak suka penolakan istrinya
Nara
menghembuskan napas kasar saat Jordan sudah kembali menggunkan tatapan lasernya.
“Dasar
pemaksa.” decak Nara, tapi tak urung menerima suapan itu. mengunyahnya dengan
dongkol. Sementara Jordan terkekeh pelan sambil melanjutkan makan.
Lalu
lagu Tale as old as time terputar. Jordan bangkit berdiri, mengulurkan
tangannya pada Nara. Nara mengernyit.
“Dance
with me?”
“A-apa?”
“Our
first dance. Setelah kupikir-pikir kita belum pernah melakukannya, bukan?”
“Aku
tidak bisa berdansa.”
“Tenang
saja. Aku akan menuntunmu.”
Ada
jeda sebelum Nara akhirnya menerima uluran tangan Jordan, membiarkan Jordan
menghelanya ke bagian ruangan yang bebas dari kursi—lalu memulai dansa.
Dengan
sabar, Jordan menuntun tubuh Nara agar mengikuti gerakannya. Mereka terus berdansa
dalam diam hingga lagunya habis. Nara mengalungkan lengannya di leher Jordan,
Jordan merangkul pinggangnya, terus merapatkan tubuh mereka. Jantung Nara
berpacu, berdebar keras. Lagi. Perasaan asing menghantamnya, terlebih tatapan
mereka kini saling mengunci.
Nara
melepaskan rangkulannya dari leher Jordan, berdiri canggung, hendak duduk ke
tempatnya lagi, namun Jordan menahan tangannya, makin mendekat, membuat Nara
mundur.
“Aku
mencintaimu, Lion.” pelan, Jordan berbisik di telinga Nara
“A-apa?”
tercekat, mata Nara mengerjap. memastikan kalimat asing yang baru saja Jordan
lontarkan.
Jordan
menarik dagu Nara hingga hidung mereka bersentuhan. Menatapnya lekat. “I’m freaking in love with you, Mommy… what
have you done to me?” bisik Jordan serak, langsung mencium bibir Nara.
Nara
tidak bisa berpikir, rasanya seperti dia melayang karena ciuman Jordan.
****
Jordan
menarik kaki Nara yang tengah bergelung di balik selimut tebal. “Bangun, tukang
tidur.”
Hari
minggu sore dengan rintik hujan yang masih betah mengguyur diluar membuat
perempuan itu terlelap dari jam satu siang sampai jam lima sore. Pagi menjelang
siang tadi, setelah mengisi perut, istrinya itu kembali tidur karena masih
mengantuk akibat menemaninya makan di luar, dan baru kembali pukul 2 dini hari.
Tadinya
Jordan juga ikut tidur memeluk perempuannya, namun ia terbangun saat dering
ponsel bergetar, menariknya mau tak mau membuka mata. Lalu melanjutkan
pekerjaan di ruang kerja, dan sekarang kembali lagi ke kamar membangunkan Nara
yang sudah berjam-jam lamanya belum bangun juga.
Ia
membuka selimut dan ikut masuk menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. Ia
mengangkat Nara ke atas tubuhnya, lalu melilitkan kaki dan tangannya erat
membungkus perempuan itu seperti ular piton yang sedang mencoba melumpuhkan
mangsa. Tapi bukannya bangun, perempuan itu malah balas memeluknya tak kalah
erat dan terlelap di atas tubuhnya, tidak sama sekali terganggu.
“Bangun
dong, sayang. Udah sore loh ini.” Jordan menepuk-nepuk punggung Nara
“Masih
ngantuk.” gumam Nara tidak jelas
Jordan
tersenyum, lalu mengecup pucuk kepala Nara “Baiklah, aku memberimu waktu
setengah jam lagi.”
“Satu
jam.”
“Ck,
gak bisa Mommy. Kita bisa terlambat nanti.”
Nara
mendongak. Mengerut kening “Terlambat?”
“Malam
diadakan hari ini.”
“Tidak
bisakah kamu ditemani Sam saja?” keluh Nara dengan raut memelas.
Jordan
gemas, lalu menangkup wajah Nara dan mengisap bibirnya. “Nope. Kamu istriku,
bukan Sam.”
“Bossy.”
Nara mendengkus. Dan karna kesal ia bangun dari atas tubuh lelaki itu tapi
Jordan menahannya.
“Mau
kemana?” Jordan mengangkat alis.
“Mandi.”
Nara menyahut datar.
“30
menit lagi, sayangku. Kan kamu bilang masih ngantuk? Yaudah kita bobo lagi
sebentar.”
Jordan
kembali menenggelamkan kepala Nara ke dadanya, memeluknya erat diatas tubuhnya. Keheningan melingkupi beberapa saat.
“Aku
bahagia. Tetaplah seperti ini.” Jordan terdiam sesaat. “I love you,” gumamnya
di telinga Nara kemudian.
Istrinya
tidak membalas, tapi Jordan bisa merasakan debar jantung wanitanya yang mulai
mengalun merasuk gendang telinga. Ia bisa merasakan tubuh Nara menegang
dalam dekapannya, dan ia bisa merasakan tangan serta kaki Nara semakin mengetat
memeluknya erat tak ingin melepaskan.
Nara
tidak membalas pernyataan Jordan yang sudah kedua kalinya lelaki itu ucapkan. Ia hanya masih belum bisa menelaah perasaannya terhadap Jordan saat ini.
Bukan bibirnya yang menyahuti, namun tubuhnyalah yang seolah berbicara
menimpali.
Jordan
tersenyum kecil. Semakin mempererat dan mencari kenyamanan pada tubuh istri
terkasihnya yang tengkurap di atas tubuhnya. Tidak masalah, ia akan tetap sabar
menunggu sampai perempuan kecilnya ini bersedia membalas pernyataan cintanya
kelak.
****
“Anda
datang terlambat, Mr. Christoper.” Javier Alexander, pemilik acara—mengulurkan
tangannya pada Jordan ketika keduanya sudah saling berhadapan. Jordan
menyambutnya.
Jordan
tekekeh rendah, “Maafkan saya Mr. Alexander. Saya dan istri ketiduran tadi.”
aku Jordan tanpa menghiraukan pelototan istrinya akibat kejujurannya tersebut.
Benar,
akhirnya mereka terlambat satu jam setelah acara berlangsung. Keduanya sama-sama
ketiduran dengan posisi saling memeluk, seperti tidak rela dipisahkan.
“Saya
pikir anda akan melewatkan undangan dari saya lagi.” ucap Javier setelah tangan
mereka yang bersalaman terlepas.
Jordan
hanya tersenyum kecil sebagai balasan. “Kenalkan istri saya, Lionara
Christoper.” Jordan merangkul mesra pinggang Nara.
“Sekalinya
menghadiri acara pesta saya, Anda membawa istri. Hal yang sangat luar biasa.
Saya pastikan besok akan menjadi headline di beberapa media.”
Jordan
tertawa rendah. Sementara Nara hanya tersenyum tipis. “Anda terlalu
berlebihan.”
“Saya
senang akhirnya bisa mengenal Anda Mrs. Christoper.” Javier tersenyum ramah
“Begitu
pun dengan saya, Mr. Alexander.” balas Nara
“Mari
kita bergabung bersama yang lain.” Javier membimbing Jordan dan Nara menuju
para rekannya yang lain.
Saat
ini mereka mengobrolkan sesuatu yang ringan dan berlanjut pada pekerjaan sambil
menyesap minuman yang dipegangnya. Basa-basi berubah jadi obrolan yang tidak di
mengerti oleh Nara. Dan karna itu Nara memilih undur dari sana—meminta ijin
terlebih dahulu pada Jordan yang sempat tidak mengijinkannya berkeliling
sendirian, tapi Nara meyakinkan jika dia hanya pergi sebentar.
Puas
berkeliling, melihat-lihat interior mewah pesta, langkah Nara di hela menuju
deretan berbagai jenis makanan yang terhidang di meja. Perutnya mendadak terasa
lapar begitu melihat hidangan yang cukup mengguga seleranya itu. Tanpa
mempedulikan sekitarnya, ia mulai mengambil satu ke piringnya, satu menyuapkan
ke dalam mulutnya, satu lagi menambahkan ke piringnya, disusul suapan lagi
mengisi perutnya.
“Apa
kamu begitu lapar?” suara berat bercampur kekehan dari seseorang, membuat
pergerakan tangan Nara terhenti. Berbalik, ternyata orang tersebut adalah
Daniel. Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas abu-abu tanpa dasi. Rambutnya
ditata rapi seperti biasa.
Nara
berdehem, canggung. “Begitulah.”
“Ibu
hamil memang sangat muda lapar.” Daniel tersenyum “Apa kehamilanmu
menyulitkanmu? Kudengar di masa trismester awal ibu hamil akan sedikit tersiksa
akibat morning sickness.”
“Ya
itu benar. Tapi kali ini aku cukup beruntung karna itu tidak berlaku untukku.”
Nara menyunggingkan senyum kecil
“Maksudmu?”
“Jordan
yang mengalami morning sickness. Dipagi hari dia sering mual dan sedikit
kepayahan. Sepertinya bayi kami lebih tertarik merepotkan Ayahnya.”
“Begitu.”
Daniel mengangguk, tersenyum seperti orang bodoh padahal hatinya tergores luar
biasa.
“Kamu
datang sendiri?” Nara mengalihkan topik, melihat Daniel tersenyum getir.
“Tidak.
Aku bersama seseorang. Kebetulan dia juga baru bergabung di perusahaan.” Daniel
mengedarkan pandangan ke segala arah. “Nah, itu dia orangnya.”
Daniel
menunjuk seorang perempuan yang ia sebut.
Nara
mengikuti arah tunjuk Daniel. Seketika manik hijaunya menatap nanar orang
tersebut. Rebecca?
Beberapa
detik tak dapat berkata. Terpaku pada sosok yang tengah berjalan anggun ke arah
mereka. Sedang di sebelah perempuan itu ada Jordan. Mereka saling melempar
senyum dan terlihat sedang membahas sesuatu sepanjang jalan.
Mereka
berjalan semakin mendekat. Perempuan itu mengenakan gaun hitam, perpaduan
cantik, sexy dan elegan. Dia seperti model Victoria secret. Menawan dan menakjubkan.
Membuat setiap orang yang melihatnya akan terpesona. Namun tidak dengan
dirinya. Tangannya terkepal disisi, menahan gejolak kemarahan yang selama
bertahun-tahun ini ia pendam.
Rebecca
Lincolnshire… Sepupunya.
Putri dari adik Ayahnya—Roberto Linconlnshire. Om dan tante yang telah mengusirnya
dari rumah sebelas tahun lalu.
To be continued
Ig: @rianitasitumorangg
...Daddy & Mommy...
...Daniel & Rebecca...