
“Apakah langit lebih menarik dariku?” kicau Jordan saat menatap Lionara yang sejak tadi memperhatikan langit cerah di atas mereka.
Jordan dan Lionara sedang berada di atas gondola—menyusuri kanal, menikmati pemandangan dari bangunan-bangunan penuh estetika kota Venice. Pagi tadi mereka sampai di kota venice dan memutuskan untuk tidak langsung berkeliling karna di lihatnya Lionara masih tampak kelelahan akibat aktivitas panas mereka selama di pesawat.
Dalam diam Jordan meringis ketika mengingat kejadian semalam. Dirinya benar-benar seperti iblis kelaparan, nyaris di setiap bagian tubuh istrinya ditinggalkan bekas kepemilikan. Jika emosi tengah menguasainya, Jordan kerap kehilangan kontrol diri. Dan untuk meredakan amarahnya, pilihannya hanya dua. Membunuh atau bercinta gila-gilaan dengan wanita.
“Langitnya cantik,” sahut Lionara.
“Hanya itu?” Jordan menaikkan alis
“Aku suka memandang langit. Dulu, saat aku sudah sangat lelah dengan semuanya, aku akan menatap ke atas.” gumam Lionara, mulai bercerita “aku selalu merasa dengan menatap langit aku bisa menemukan wajah kedua orang tuaku yang sedang tersenyum dari atas sana. Senyum mereka seolah memberiku kekuatan dan mengatakan ‘semua akan kembali membaik. Akhirnya, Itu berhasil membuat hatiku merasa lebih baik.”
Lionara tersenyum tipis tak kala membayangkan senyum bahagia di wajah kedua orangtuanya. Sekalipun tipis, tapi senyum Lionara terlihat begitu manis dan menenangkan. Membuat Jordan kesulitan mengalihkan matanya dari pemandangan di hadapannya—pemandangan yang tidak pernah dilihat oleh Jordan selama mereka bersama. Dan demi Tuhan, jantungnya tiba-tiba menggila hanya karna senyuman itu. Jordan… terpesona.
Namun ketika membayangkan Lionara pernah tersenyum seperti itu dengan Daniel, membuat sinar hangat dan ringan di mata Jordan menguap. Bibir Jordan mengeras nyaris tidak terlihat.
“Jangan tersenyum,” gumam Jordan
Lionara menoleh, “Apa?”
“Jangan pernah tersenyum seperti itu di depan pria lain. Kamu hanya boleh melakukannya di depanku.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka.” balas Jordan datar, lalu memalingkan wajahnya. Sedang Lionara masih mengernyit heran.
“Kamu tahu jembatan yang berada di depan kita?” Jordan mengalihkan topik
Lionara tidak berkomentar. Tapi matanya menatap jembatan Ponte dei sospiri atau jembatan Desa di depan mereka. Jembatan yang menurut mitos, di percaya masyarakat setempat—apabila pasangan yang mengarungi sungai venesia dengan gondola, kemudian berciuman di bawah jembatan Ponte dei sospiri saat matahari terbenam, tepat ketika lonceng St. Mark Campanile berdenting, maka cintanya akan abadi dan di berkahi.
Lionara mengetahui mitos itu, hanya saja dia menolak untuk percaya pada hal-hal yang berbau demikian. Mengandalkan sebuah ciuman di bawah jembatan untuk suatu hubungan abadi, bukannya memperjuangkannya. Well, sungguh tidak masuk akal.
“Kamu percaya?” tanya Lionara dengan pandangan terus ke arah jembatan.
“Entahlah, aku belum pernah membuktikannya sendiri.” Jordan mengangkat bahu
“Mitos hanyalah mitos. Tidak terbukti kebenarannya,”
Jordan menoleh, menatap istrinya lekat. “Bagaimana kalau kita mencobanya?”
Refleks, Lionara menoleh pada Jordan yang tengah memperhatikannya dengan intens. “Jangan bercanda. Itu hanya mitos."”
Jordan tersenyum miring. “Apa kamu pernah memiliki kekasih?”
Lionara terdiam. Pertanyaan itu jelas menohok hatinya. “Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”
Jordan mengedikkan bahu “Hanya ingin tahu.”
Lionara meneguk saliva, sedang wajahnya berubah pias. Haruskah dia mengatakan yang sejujurnya jika ia pernah memiliki kekasih, dan orang itu tak lain adalah Daniel—saudara tiri Jordan.
“Pernah atau tidak?” ulang Jordan karna istrinya tak kunjung menjawab.
“Ya.”
“Masih memikirkannya?”
“Tidak.” Lionara memalingkan wajah, mengepalkan kuat sebelah tangannya yang tersebunyi.
Kamu berbohong!
Jordan tersenyum miris. Rahangnya mengeras, tapi dengan cepat ia segera menormalkan kembali.
Jordan meraih wajah Lionara—lebih mendekat. “Bagus. Sudah seharusnya tidak ada lagi tempat untuk lelaki lain di hatimu. Kamu hanya harus menerimaku sepenuhnya.” ucap Jordan hampir berbisik.
Lionaara bergeming. Aura Jordan tampak berbeda.
Jordan membelai lembut pipi Lionara, matanya turun memperhatikan bibir istrinya. Dan secara perlahan ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Lionara, tepat saat gondola yang mereka tumpangi melewati jembatan Ponte dei sospiri.
“Aku suamimu.” gumam Jordan di tengah ciuman keduanya. Lionara membuka matanya yang tengah terpejam. Ia menatap Jordan dengan tatapan nanar tidak terbaca.
Lonceng St. Mark Campanile berbunyi ketika mereka berdua berada tepat di bawah jembatan Ponte dei sospiri.
****
Malam harinya, seusai makan malam di restoran Alle Corone, Jordan membawa istrinya menikmati festival topeng dan kostum yang di adakan tiap tahun sekali di Venice, dan sebuah keberuntungan karna kunjungan mereka bertepatan saat pesta karnaval di adakan.
Jordan dan Lionara turut berbaur dengan mengenakan topeng beserta kostum gaun dan jubah yang unik. Mereka memilih hanya sebagai penonton—menikmati pertunjukan music dan teater di St. Mark’s Square, pesta dansa kostum tradisional, dan kontes pemilihan topeng tercantik.
“Kamu menikmatinya?” tanya Jordan, melirik pada Lionara yang tengah fokus memperhatikan kontes pemilihan di depannya.
Lionara menoleh sebentar, tersenyum mengangguk. Lalu kembali menatap ke depan.
Dan untuk kesekian kalinya… tanpa Lionara sadari, Jordan kembali terpesona melihat senyum itu—senyum yang selalu membuat dadanya berdebar. Ah ya, sudahkah Jordan mengatakan jika sepanjang mereka berada di tempat ini, istrinya itu banyak tersenyum? Dan ya, betapa dia sangat menyukai hal itu.
“Tak kusangka kamu akan secantik ini saat tersenyum,” gumam Jordan sambil menopang dagu, memperhatikan lekat wajah sang istri.
Lionara menoleh, berkata sedikit keras di tengah tepukan tangan para penonton lainnya. “Kamu bicara apa? Aku tidak dengar,”
“Kamu cantik, Lion.” Dia mengucapkan itu sambil menusuk-nusuk pelan pipi Lionara dengan telunjuk “ternyata disini ada lesung pipi kalau kamu tersenyum. Sangat indah.”
Mendapat pujian seperti itu, tak ayal membuat wajah Lionara merasa panas. Ia menjadi kikuk, apalagi dengan manik biru Jordan yang menatapnya lekat. Tapi Lionara kembali teringat kalau Jordan memang sangat ahli dalam membuat orang melambung tinggi, terutama wanita.
“Jangan berlebihan. Aku tidak sebanding dengan para wanitamu di luar sana,”
“Lion-ku yang paling cantik.” sanggah Jordan dengan senyum yang paling manis
Lionara menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.
“Sudahlah, jangan mengangguku,” tukas Lionara, memilih kembali menatap acara di depan.
Jordan terkekeh, “Aku serius, Lion..”
Lionara tidak mengubris.
“Lion,”
“Hm,”
“Sepertinya kita sudah harus pulang,”
“Tunggu sebentar. Acaranya belum selesai.”
“Tapi adikku tidak bisa menunggu, Lion”
Lionara menoleh, mengernyit heran “Maksudmu?”
“Ck, kamu memang istri yang tidak peka,” dengus Jordan, lalu meraih tangan Lionara dan menyentuhkannya tepat di atas bukti gairahnya yang sudah menonjol keras.
Lionara tercengang, menatap Jordan horror, “Serius Jo?”
“Dia bangun sendiri. Apalagi waktu kamu tersenyum tadi,” Jordan menyengir lebar “mungkin dia sudah merindukan rumahnya. Mengingat seharian ini kamu dengan kejam mengabaikannya.” Cerocos Jordan frontal yang berhasil membuat Lionara tersedak salivanya sendiri.
Jordan lantas bangkit berdiri, dan dengan segera langsung menggendong Lionara ala bridal tanpa mempedulikan sorotan mata para wisatawan yang kini menatap mereka heran. Sedang Lionara yang merasa malu, langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
“Dasar maniak,” gerutu Lionara
“Just for you, my lion,” Jordan tertawa renyah
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
Jordan Matthew Christoper