
Tubuh Lionara terikat di kursi dengan erat hingga bergerak sedikitpun rasanya tidak
bisa.
Seorang pria berdiri di hadapan Lionara dengan senyum lebar. Setelah sekian lama penantian panjangnya, akhirnya ia berhasil menculik wanita ini, istri dari seorang
pemimpin Dark Soul, heh?
Terlihat biasa saja namun siapa sangka bahwa ia adalah kelemahan dari sosok terkuat dalam dunia underground. Richard ingin tahu, bagaimana reaksi anak dari wanita yang ia cintai itu saat mengetahui wanitanya kini berada dalam genggamannya.
Richard terkekeh lalu berjongkok, memandang lekat wajah Lionara yang terpejam. “Well, pada akhirnya si bodoh itu lengah dalam mengawasimu.”
“Ah, aku bahkan sudah tidak sabar menantikan kepahlawanan bocah itu untuk
menyelamatkanmu. Hmm… bagaimana pula reaksinya jika menyadari lokasi penyekapan
istri tercintanya ini ternyata bertepatan dimana ibunya merenggang nyawa. Hah,
pasti sangat menarik.” tawa Richard menggelegar. Hiruk pikuk euphoria tengah
memenuhinya sekarang.
Gelegar tawa pria itu berhasil menarik kesadaran Lionara. Ia mengerjap, mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat. Kemudian secara perlahan ia berhasil membukanya.
Dan yang pertama ia lihat adalah seorang pria setengah baya yang tak ia kenali sama
sekali. Pria itu sudah berada di depan matanya sambil menikmati sebatang rokok
di atas kursi.
“Putri tidur sudah bangun ternyata.”
Lionara mengernyit. “Anda siapa?”
“Kau tidak mengenaliku?”
Lionara mencoba berpikir keras, tapi malah membuat kepalanya berdenyut. Ia hendak
menyentuh kepalanya namun tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan, juga
seluruh badannya terasa kaku. Ternyata tubuhnya terikat di kursi. Lionara
langsung tersadar penuh. Sial! Ternyata ia diculik, dan pelakunya tak lain dan
tak bukan adalah pria dihadapannya ini.
Lionara menggeram marah, menatap nyalang pada Richard yang malah tertawa sinting.
“Sudah mengingatnya, nyonya Christoper?” ejek Richard
Lionara bergeming. Tidak menghilangkan fokusnya pada pria bermimik remeh karena
berhasil menyekapnya. Lionara berada di sebuah ruang kosong, bernuansa putih
cukup besar.
Di ruangan tersebut terdapat 2 kursi. Yang ditempatinya dan pria yang duduk
dihadapannya. Lionara mengintai melalui sudut matanya. Di sekitarnya, beberapa
anak buah pria itu berdiri, mengawasi.
“Lionara Florentine, right?” tanya
Richard. Lionara masih tidak menanggapi
“Tak kusangka baik anak bodoh itu maupun keponakanku tersayang memiliki selera
wanita yang begini. Entah apa yang mereka lihat darimu, sama sekali tidak ada
menariknya.” Richard berdecak
“Anda siapa? Kenapa menyekapku?” ulang Lionara bertanya dingin
“Aku?” Richard menunjuk dirinya “Tentu saja adalah keluarga. Atau kau juga bisa
memanggilku Om, sama seperti Jordan dan Daniel.”
Lionara terdiam. Matanya memicing. “Om?”
“Hm, Om yang lebih tepatnya tidak diakui keberadaannya. Ck, malang sekali.” Richard
menginjak punting rokoknya. “Namaku Richard Altemose—kakak dari mertuamu,
Rossalyn Altemose.”
Lionara mengangkat alis. “Jika anda adalah keluarga, kenapa menculikku?”
“Karena kau adalah kelemahan terbesar Jordan,” Richard menyeringai “So, hanya dengan menangkapmu, aku bisa memancing si bodoh itu datang kemari. Kemudian aku akan
mengajaknya bermain-main sedikit, seperti mengenang kembali awal mula traumanya
bertahun-tahun lalu—tepatnya di tempat ini.”
Jantung Lionara berdebar hebat. Rautnya seketika berubah pias begitu diteringati
mengenai trauma suaminya.
“Apa maksudmu?” dingin, Lionara mengepalkan tangannya kencang.
Richard memajukan badannya, kemudian setengah berbisik. “Grace, mengakhiri hidupnya yang malang di tempat ini. Sebelum mati, dia di perkosa beramai-ramai—tepat di depan putranya sendiri, kemudian terbakar hidup-hidup.”
Richard tertawa rendah, puas sekali melihat raut pucat pasi wanita di depannya. “Ingin
kuceritakan kisah selengkapnya?”
****
Jordan memasuki ruangan yang di penuhi berbagai alat canggih. Di dalam sana sudah ada Aldrich dan Evan yang sibuk berkutat dengan layar di hadapan mereka.
Layar yang menunjukkan letak keberadaan Lionara sekarang.
“Dimana dia?” tanya Jordan langsung
“Berada jauh dari pusat kota, dan itu adalah daerah terpencil yang perlu memakan waktu
8 jam untuk sampai kesana.” Evan menjelaskan keberadaan Lionara tanpa
mengalihkan pandangannya pada satu titik di layar.
“Bersiaplah, sekarang kita akan pergi menjemput Lionara.” Jordan menegakkan tubuhnya namun langsung di tahan Evan.
“Harus kukatakan berapa kali agar kamu mengerti?! Kita tidak boleh gegabah!” Evan
memperingatkan Jordan agar tidak melakukan tindakan yang bisa membahayakan mereka.
“Aku tidak gegabah berengsek! Istriku dalam bahaya! Aku tidak bisa mengulur waktu
lebih lama lagi!” Jordan mengetatkan rahangnya, tersulut emosi.
“Aku tahu kamu sangat panik dan kahwatir, tapi setidaknya pikirkan cara yang tepat
agar Lionara bisa pulang dengan selamat!”
“Ingat, kita tidak tahu siapa yang menculik Lionara. Bisa saja mereka bukan tandingan
kita.” Lanjut Evan mengingatkan.
“Persetan. Aku tidak peduli! Kalau kalian takut aku bisa pergi sendiri menyelamatkan
istriku.” ucap Jordan dingin kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
“Sial, bedabah itu!” geram Evan mengejar Jordan yang sudah keluar dari sana.
****
Baru saja Jordan keluar dari markas mereka dengan napas memburu, tiba-tiba ponselnya
berdering nyaring. Jordan berhenti, kemudian meraih ponsel yang sejak tadi
mengusiknya itu dari dalam saku celananya. Mengerutkan kening, lagi-lagi nomor
asing yang sudah kesekian kali meneleponnya.
Tak sabaran, Jordan akhirnya menerima panggilan video itu dan…
“Hallo keponakan tiriku, Jordan Matthew Christoper.” Richard tersenyum miring, Jordan hanya menatap datar tidak menggubris “Woah, ada apa dengan wajah kusutmu itu? kelihatannya kau seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.” senyum Richard melebar, menampakkan gigi-giginya.
Jordan menggertakkan gigi, menahan kemarahannya. “Katakan, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu.”
Diseberang sana Richard tertawa rendah, “Apa kau sedang kehilangan istri tercintamu?”
Graham Jordan berkedut mendengar kalimat Richard itu. Firasat buruk semakin
menggayutinya pekat, menyesakkan dada. Dengan cepat otaknya dapat memproses
bahwa pria yang sedang menyeringai di seberang sana adalah dalang dari
penculikan istrinya.
“Kau yang melakukannya?” Jordan menggeram rendah, tatapannya berkilat emosi
Richard meraih gelas wine dan menyesapnya. “Kalau iya, bagaimana?”
“KUBUNUH KAU KEPARAT!!!” Jordan menendang sebuah kursi sampai terpental menabrak dinding. Napasnya naik turun tidak beraturan dengan tangan yang meremas kuat ponselnya. Sementara Richard tertawa puas.
“Dimana istriku, sialan?!”
Richard mendesah, matanya terpejam menyesap wine dalam mulutnya. Membuka mata, sampai sepasang maniknya beradu pandang dengan milik Jordan.
“Dia ada bersamaku. Tak kusangka, ternyata wanitamu ini sangat menyebalkan. Beberapa kali dia membuatku kesal, sampai aku terpaksa harus memberinya pelajaran.”
Jordan mengetatkan grahamnya, rahangnya mengeras kokoh, sebelah tangannya semakin mengepal kuat.
“You hurt her, I kill you!” peringat Jordan tajam dan menusuk.
Richard tertawa remeh. “Maka dari itu kita buat segalanya menjadi mudah.” Menjedah “Aku memiliki 2 permintaan yang harus kau penuhi. Yang pertama, aku ingin memiliki gudang senjata utama milikmu dan kedua, bersihkan namaku dari catatan kriminal negara. Seluruh berkas sudah di persiapkan oleh pengacaraku yang sangat kompeten. Aku memberimu waktu 2 kali 24 jam. Dan
setelahnya datanglah seorang diri ke lokasi yang kuyakin sudah kau lacak. How?”
Jordan menipiskan bibir. “Aku tidak akan mengambil langkah apapun sebelum aku
mengetahui bahwa istriku baik-baik saja.”
Richard beranjak dari duduknya. Berjalan menjauh dari meja kerjanya menuju ruang
penyekapan Lionara. Kemudian layar menampilkan Lionara yang sedang terduduk di kursi dengan kaki dan tangan yang terikat dan mulut yang di sumpal kain. Wanita
itu tidak menangis, hanya saja matanya memerah sayu.
Keheningan membentang di udara ketika Jordan tidak bersuara dan memusatkan perhatiannya dengan mengawasi istrinya lekat-lekat. Jantungnya berdenyut pedih dan
menciptakan rasa menyesakkan yang menyakitkan ketika menyaksikan kondisi
Lion-nya melalui layar.
Ingin sekali Jordan menarik Lionara ke dalam pelukannya seketika itu juga dalam dekapan erat-erat lengannya. Apalagi saat ini dia bisa dengan jelas menatap Lionara
yang juga menatapinya dengan sorot tak terbaca.
Jordan menggertakkan gigi dengan tangan terkepal marah ketika matanya menemukan memar di sudut bibir dan tulang pipi Lionara. Sekuat tenaga dirinyaa menahan
kemarahan yang berkobar dan berusaha untuk bersikap tenang.
“Bertahanlah mommy. Secepatnya, aku akan membawamu pulang. I love you…” janji Jordan dengan nada lirih. Lionara menggeleng keras, ketakutan melingkupi sorotnya dengan guliran bening yang tak terkendali. Lionara mencoba mengeluarkan suaranya, namun hanya gumaman tidak jelas akibat mulutnya yang di sumpal.
Tidak... Tidak... Jangan datang Jo, please...
Lionara terus berteriak di dalam hati
Kemudian layar kembali mengarah pada Richard. “Kau sudah melihat istrimu, bukan? Dia masih hidup. Tetapi, aku tidak menjamin keselamatannya setelah ini. Apapun bisa
terjadi padanya kalau kau tidak memenuhi keinginanku dan melakukan proses
akuisisi legal untuk menebusnya.” ancam Richard
“Kau memukulnya?” Jordan mendesis tajam, tak mengindahkan kalimat Richard
sebelumnya.
“Well, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya memberinya sedikit pelajaran
karena telah membuatku kesal.” sahut Richard enteng. “Dan ya, lihatlah video
yang kukirim setelah ini. Itu adalah sedikit peringatan jika ancamanku tidak
main-main tuan Christoper.”
Setelah mengucapkan ultimatumnya, Richard sama sekali tidak menunggu tanggapan dari Jordan dan langsung mematikan layarnya.
Dengan debam jantung bertaluan nyaring, tangan Jordan bergetar—menatap video yang baru saja masuk ke ponselnya.
Jemari Jordan menekan tombol play pada video itu dan seketika langsung tergambar adegan hidup yang sebelumnya telah direkam.
Semuanya terpampang dalam gambaran yang sangat jelas dan nyata. Seluruh adegan dari betapa takutnya Lionara saat salah seorang pria berbadan besar menerjangnya di atas ranjang. Bagaimana Lionara meronta sekuat tenaga, bagaimana tubuh mungil
itu tak mau menyerah dan berusaha mempertahankan diri dari usaha paksa oleh
pria biadab itu, bagaimana Lionara menendang, bagaimana perempuan itu dengan menyedihkan berusaha merangkak lari, hingga kemudian pria itu kembali berhasil menangkap dengan menjambak rambutnya kasar, lalu menampar pipinya dengan kekuatan penuh.
Semua tertampil disana dalam visual dan audio yang tampak nyata, seolah-olah hal itu
terjadi secara langsung di depan mata Jordan.
Kemudian letusan tembakan membahana menghentikan aksi paksa pria tersebut. Lionara langsung menarik selimut menutupi tubuhnya yang berantakan, kemudian berjongkok ketakutan di sudut ruangan. Layar itu beralih pada sosok Richard yang
menyeringai setan dan video pun berakhir.
Jantung Jordan berdebar tak terkendali ketika gelora kemarahan membakar sekujur
tubuhnya tanpa ampun. Dalam sekejap tubuhnya tremor parah.
Istrinya…
kesayangannya… dibuat ketakutan oleh para jahanam sialan itu…
ARRGGGHHHHHH!!!!!!
Secepat kilat Jordan menarik pistol dari balik coatnya, kemudian menembaknya membabi
buta ke segala arah. Membuat para anak buahnya yang berada di sekitar situ segera
berlari ketakutan untuk berlindung—menghindari semburan tima panas yang
dihujamkan oleh bos mereka.
Seluruh kemurkaan dan dorongan untuk membalaskan kesakitan Lionara meluap-luap di tubuhnya hingga Jordan terus menembak seperti kesetanan. Tak mempedulikan benda-benda di sekelilingnya hancur berantakan bak diterjang badai tornado. Suara tembakan itu tetap tak berhenti, terus menggila memenuhi halaman depan markas mereka dan tak ada satu pun yang berani menghentikan Jordan. Dalam sekejap raut pria itu berubah bagai monster mengerikan.
Sampai kemudian tibalah di titik mana peluru dalam pistol Jordan sudah benar-benar habis, dengan dada naik turun dan napas memburu tak terkendali.
“CUKUP, JO!!” teriak Aldrich dan Evan secara bersamaan, menembus kesadaran Jordan yang saat ini benar-benar dilahap oleh kemarahan menggila.
**To be continued
IG: @rianitasitumorangg**