
“Mulai hari ini kamu akan belajar bersama Sam, meja kerjamu juga ada di dekat Sam.
Sebagai asistenku, kamu hanya akan mengatur jadwal dan keperluan pribadiku. Dan
untuk berjaga-jaga aku juga sudah meminta bantuan kepada Sam supaya membagi
ilmunya denganmu agar kamu tidak kalang kabut jika tiba-tiba Sam tidak ada dan kamu harus merangkap pekerjaannya.”
Itulah yang diucapkan Jordan sebelum lelaki itu memasuki ruang kerjanya yang berada di
dalam, sedang meja kerja Sam dan Lionara berada di ruang terbuka tepat di depan ruangan Jordan.
Ruang kerja Jordan terletak di bagian paling atas gedung ini, yang langsung terhubung
dengan lift khusus dimana tidak sembarang orang bisa menekan tombol hingga ke
lantai ini. Hanya orang-orang dengan
kartu pass khusus yang dapat menginjakkan kaki di tempat ini.
Sudah hampir jam makan siang dan Lionara menghabiskan waktunya bersama Sam. Banyak
sekali yang dia pelajari dari Sam. Dalam beberapa jam, mulai dari pembuatan
jadwal efektif, bagaimana mengarsip berkas dan juga mempelajari tentang sistem
computer dari software khusus untuk mempermudah mengatur jadwal secara online.
“Anda belajar dengan sangat cepat, Nona,” puji Sam tulus
Bibir Lionara tersungging kecil, “Semua berkat dirimu yang begitu ahli memberikan penjelasan, apalagi bagi pemula sepertiku. Terimakasih, Sam,”
“Tidak perlu berterimakasih, Nona. Itu sudah menjadi tugas saya,” balas Sam tersenyum
ramah.
“Dan satu lagi, saat di kantor jangan memanggilku dengan sebutan begitu. Panggil saja aku Nara, karena kita adalah rekan kerja yang akan banyak
belajar bersama,” pinta Lionara saat Sam masih saja menggunakan kata-kata formal padanya.
“Ah, ya… baiklah Non eh.. maksud saya, Na—ra.” Sam menggaruk dagunya yang sama sekali tidak gatal.
“Baiklah, mungkin nanti kamu akan terbiasa.” Lionara membalas dengan senyum manis
Sam melirik jam tangannya, lalu menatap Lionara dengan canggung.
“Kurasa sudah waktunya makan siang. Kamu mau makan…?” suara Sam terhenti ketika pintu ruangan
tempat Jordan berada terbuka tiba-tiba dan sosok itu muncul di ambang pintu.
Lelaki itu melangkah keluar dari sana, mengenakan mantel bepergiannya dengan gaya elegan dan langsung berdiri di depan meja keduanya.
“Bawa tasmu. Kita makan siang di luar,” ucap Jordan tenang, lalu melangkah menuju lift tanpa menunggu jawaban dari Lionara.
Tanpa menjawab, Lionara mengemasi tasnya, membawa apa yang perlu dibawa kemudian
menyusul langkah Jordan setelah berpamitan lebih dulu kepada Sam.
Ketika mereka melewati lobby yang lalu lalang ramai oleh banyak karyawan yang turun
untuk makan siang, Lionara menyadari bahwa Jordan langsung menjadi pusat
perhatian. Semua orang, terutama perempuan sudah pasti langsung terpaku dan tak
bisa melepaskan pandangan matanya dari lelaki itu, terpesona luar biasa
seolah-olah mata mereka telah terperangkap oleh mahluk paling indah dari semua
mahluk yang pernah mereka lihat. Terlebih respon Jordan yang tak jarang memberikan senyum ramah membalas sapaan dari beberapa karyawan yang menyapanya.
“Ya ampun… ya ampun… Pak Jordan kok makin tampan aja sih,”
“Senyumnya itu loh… too sweet,”
“Bisa gak sih, aku dapat copy-an suami kayak beliau?”
“Jadi simpanan Pak Jordan aku rela deh,”
“Uda tampan, jenius, tajir melintir lagi…”
"Marry me, please,”
Sepanjang jalan, rentetan bisikan sarat akan pemujaan itulah yang di tangkap oleh telinga
Lionara. Mereka berjalan bersisian dan melirik dari sudut matanya, Lionara melihat Jordan hanya terus melangkah dengan tenang tanpa terpengaruh sedikit pun.
Merasa tidak nyaman, Lionara sengaja memperlambat langkahnya memundurkan sehingga kini tubuhnya berada di belakang Jordan.
Begini lebih baik. Batin Lionara
Menyadari seseorang yang sejak tadi berjalan disisinya tidak ada, langkah Jordan terhenti. Memutar tubuh, dan langsung berdecak jengkel saat mendapati istrinya sengaja memperlambat langkahnya di belakang dengan kepala tertunduk.
Pletak!
Jordan menyentil kening Lionara saat jarak mereka sudah dekat. Sengaja memang.
“Arghhss…” ringis Nara, mengusap-usap jidatnya yang terasa sedikit sakit. “Apa yang ka—“
“Siapa yang menyuruhmu berjalan di belakangku?” potong Jordan dengan mata melotot “kamu pembantuku?”
“Asisten.” koreksi Lionara dengan nada kesal
“Apa?”
“Bukankah memang sudah seharusnya asisten berjalan di belakang bosnya,”
“Omong kosong.” Jordan mendengkus lalu segera meraih tangan Lionara dan mengenggamnya erat.
Lionara melotot, “Apa yang kamu lakukan? Kita lagi di kantor,” bisik Lionara dengan menatap sekeliling gusar
“Lalu apa masalahnya?” Jordan menaikkan alis “kamu istriku, sudah seharusnya berjalan di sebelahku.”
Lionara menipiskan bibir, menatap Jordan jengah.
“Kamu bilang di tempat kerja maka kita akan bersikap seperti pekerja. Tapi apa ini?” Lionara menggoyangkan tangannya yang di genggam.
“Aku bosnya, aturan dibuat atas perintahku.” tegas Jordan
“Tapi—“
“Membantah sekali lagi maka aku akan menciummu di depan mereka.” sela Jordan mulai hilang
kesabaran, dan langsung berhasil membuat Lionara mengatupkan bibirnya.
“Good girl,” Jordan menepuk-nepuk ubun-ubun Lionara puas “Ayo, aku sudah lapar.” lanjutnya
****
Mereka duduk di salah satu sisi restoran yang menyediakan menu khas Italia yang
menggiurkan. Restoran itu cukup ramai karena ini adalah jam makan siang.
Sama seperti yang terjadi di lobby tadi, lagi-lagi Jordan tampak menarik perhatian
beberapa orang disana, dan itu cukup menyebalkan di mata Lionara. Sambil menunggu
pesanan datang, Jordan tampak sibuk dengan tab di tangannya. Lelaki itu sepertinya masih memiliki banyak pekerjaan, hingga saat akan makan begini pun masih mengotak-atik tab-nya dengan begitu serius. Tak ingin mengganggu, Lionara
memilih mengambil ponselnya dan mulai berselancar di akun media sosial—instagram, yang sejak minggu lalu dibuatkan oleh Camila. Katanya sangat ampuh untuk mengusir kebosanan.
Awalnya jari Lionara sibuk browsing aneka makanan yang sekiranya bisa ia pelajari untuk di
praktekkan masak di rumah. Tapi, seketika jarinya terhenti saat melihat satu
notifikasi permintaan pertemanan dari seseorang yang sampai saat ini masih
memegang peranan penting dalam hatinya. Daniel
Alexander.
Tertegun, jari Lionara seolah kaku untuk sekedar di gerakkan. Wajahnya berubah pias, ragu
apakah ia menerima atau mengabaikan saja kiriman itu. Tapi jika dia
mengabaikan, bukankah akan terlihat sangat kekanak-kanakan? Sementara di lain
sisi—terlepas dari masa lalu mereka, Daniel kini telah resmi menjadi keluarga—tepatnya
saudara iparnya. Tanpa mau berpikir lebih banyak lagi, Lionara mengkonfirmasi pertemanan Daniel dan setelahnya hendak menutup akun media social tersebut ketika tiba-tiba nama lelaki yang baru saja ia konfirmasi, sudah mengirimkan direct massage untuknya:
Daniel.xander:
Apa kabar, Flo?
Daniel.xander:
Daniel.xander:
Sorry, but I really miss you, my flo…
Lionara termangu, ia hampir kesulitan bernapas saat pesan itu dibacanya. Secepat itu
Daniel langsung mengiriminya DM. Bohong kalau ia mengatakan hatinya sudah tidak
terpengaruh oleh lelaki itu, ia jelas-jelas terpengaruh karna sebagian hati terdalamnya masih diisi oleh Daniel, dan entah sampai kapan posisi itu bisa
tergantikan. Terlebih kalimat terakhir yang di kirim Daniel berhasil menggusarkan hatinya. Ia juga merindukan Daniel.
“Ada apa?” Jordan bertanya, melihat kegusaran diwajah istrinya.
“Ha? Apa?” mengerjap dan seolah tersadar, Lionara menatap Jordan yang kini tidak
memegang tab-nya lagi. Bahkan ia baru menyadari makanan yang mereka pesan, entah sejak kapan sudah tersaji di meja mereka.
“Chat dari siapa? wajahmu sampai tegang begitu?”
“Ah, itu…itu dari Leon,” Lionara sedikit gelagapan, “Leon bilang hari ini dia akan
menginap di rumah temannya, katanya ada tugas kelompok.” Lionara berusaha menormalkan nada suaranya. Ia tidak sepenuhnya berbohong, karna memang pagi tadi Leon sudah ijin padanya untuk tidak pulang malam ini ke rumah.
“Begitu ya,” Jordan berucap lambat-lambat
Lionara menganggukkan kepala.
“Ya sudah, segera habiskan makananmu. Jam makan siangmu sepertinya sudah akan berakhir,” Jordan mengulas setitik senyum di bibirnya. Tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Iya.” Lionara menurut, menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas lalu mulai mencicipi
makanan di hadapannya dalam diam.
Jordan memperhatikan dalam diam. Ketika bibirnya di penuhi senyuman manis, matanya
bertolak belakang dengan itu semua. Malahan menyalakan bara sinar mengerikan yang tak bisa di deskripsikan dengan kata-kata.
****
Jordan sedang duduk di depan meja ruang meeting di mana para anggota direksi
Christoper International sudah berkumpul. Fokus perhatian mereka semua
tampaknya sedang terarah pada seorang lelaki paruh baya yang sekarang sedang
mengeluarkan suara, tepatnya pemimpin perusahaan terdahulu sebelum digantikan
oleh Jordan. Josep Chritoper.
Sebelum ini Jordan memang mendapat kabar jika Ayah yang tidak diakuinya itu akan hadir
di rapat dadakan ini, mengingat Josep hendak menyampaikan sebuah pengumuman
yang katanya penting. Itu membuat Jordan mau tidak mau harus mengumpulkan
jajaran direksi untuk mendengarkan pengumuman dari lelaki itu.
“Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku tiba-tiba meminta kalian semua hadir disini,”
Suara Josep menggema nyaring di ruangan yang tampak hening itu. Matanya menyapu ke
segala arah, memperhatikan beragam ekspresi bertanya-tanya dari pada anggota
direksi, kecuali hanya satu orang diruangan ini yang tampak tidak peduli dengan
kehadirannya. Jordan. Putranya itu bahkan enggan memberi perhatian, malahan sibuk bermain games di ponselnya.
“Baiklah langsung saja, aku kesini ingin mengumumkan sesuatu jika putraku keduaku,
Daniel Alexander Christoper, mulai hari ini akan bergabung di perusahan ini
sebagai komisaris pemegang saham Christoper International. Aku telah menyerahkan saham sepuluh persen milikku kepadanya dan mulai hari ini dia akan bekerja secara rutin.”
Ruangan itu berubah riuh oleh sebab pengumuman itu. Mereka hanya tidak menyangka jika
putra kedua dari mantan pemimpin mereka itu akan menggabungkan diri dalam
perusahan. Sedang kabar angin yang selama ini beredar, memberitakan jika Daniel tidak pernah tertarik untuk terlibat dengan dunia bisnis keluarganya.
“Masuklah, Daniel,” titah Josep selanjutnya ketika tidak ada yang berani berkomentar atas
keputusannya.
Semua mata langsung tertuju pada sosok lelaki berperawakan tinggi dengan setelan
rapih serba hitam itu memasuki ruangan dan langsung berdiri di sebelah Josep.
Josep menepuk punggungnya dengan bangga dan senyum mengembang, “Ayo, perkenalkan dirimu pada mereka,”
Daniel mengangguk, lalu berdiri tegap menghadap jajaran para direksi.
“Perkenalkan, saya Daniel Alexander Christoper. Mohon kerja samanya ke depan,” Daniel
memperkenalkan diri dengan sopan seraya membungkukkan sedikit badannya, memberi
hormat.
Para anggota direksi membalas dengan tepukan tangan ringan dan senyuman di wajah
masing-masing.
Sedang ditempat duduknya, Jordan tersenyum miring, berusaha menutupi rasa sakit
hatinya. Dia menyimpan ponsel kembali ke dalam sakunya, lalu bangkit berdiri
hingga kursi yang di dudukinya berdecit bergeser, mengundang pandangan semua orang terarah padanya.
“Kupikir ada berita sebesar apa hingga membuat Tuan Josep yang terhormat ini bersedia repot-repot meminta rapat dadakan begini.” Jordan berujar tenang, kedua tangannya berada dalam saku celana
“Well, ternyata hanya perkenalan remeh-teme begini.” Jordan tersenyum miring “benar-benar membuang waktuku saja,”
“Apa? Remeh teme?” Josep menggeram.
Jordan hanya mengangkat bahu. Dia memanggil Sam dan menyuruh lelaki itu membawakan
berkasnya. Dia sengaja mengabaikan Josep.
“Sudahlah. Hari ini aku cukup sibuk. Aku sudah bosan, ajak saja putra kesayanganmu itu
berkeliling di perusahaan ini sebelum memulai pekerjaannya dengan baik.”
“JORDAN CHRISTOPER!” mengabaikan teriakan Josep, Jordan langsung melangkah keluar
dengan santai.
“Pak!” baru saja Jordan berjalan beberapa langkah dari pintu keluar, dia mendengar
suara Lionara. Wanita itu ternyata tengah berjalan ke arahnya sambil membawa gelas berisi kopi yang Jordan pinta tadi.
“Saya membawa-“
“-Pak!” Lionara langsung memekik mendapati bukannya mengambil minumannya, tiba-tiba saja
Jordan sudah memeluknya ketika dia sampai di hadapannya.
Sukses keterkejutannya membuat gelas itu terjatuh, sehingga cairan berwarna hitam itu mengotori lantai dibawahnya.
“Pak, lepaskan.” Lionara merasa gugup saat pandangan beberapa orang yang baru saja
keluar terarah pada mereka.
“Biarkan seperti ini,” ucap Jordan dengan nada lelah sementara dia menyandarkan
kepalanya di pundak Lionara. Wanita itu hendak meronta tapi,
“Sebenarnya aku sedang berada dalam mood ingin membunuh seseorang. Tapi entah kenapa
pelukanmu bisa membuatku tenang. Jadi berhenti menolakku.”
Lionara berhenti meronta ketika mendengar nada dingin itu. Lalu tanpa sengaja matanya
menangkap dua sosok yang baru saja keluar—Josep dan Daniel. Terkejut luar biasa, Lionara tidak pernah membayangkan kedua orang itu akan berada di tempat ini. Keduanya menatap mereka, Josep dengan tatapan sinis, sedang Daniel menatapnya
dengan perasaan hancur yang dengan jelas dapat di rasakan Lionara dari tatapan sendu lelaki itu.
To Be Continued
IG: @rianitasitumorangg