
Dalam
tidur panjangnya, Lionara sebenarnya tidak berkeinginan bangun lagi. Ada
kenyamanan dan perasaan damai ketika dia berada di dunia yang entah dimana dia
singgahi saat itu. Bertahun-tahun mengalami berbagai kesulitan—pahitnya
kehidupan yang ia jalani membuat Lionara tidak ingin kembali lagi ke dunia itu.
Ia lelah dan ingin beristirahat selamanya. Karena itu saat dirinya berada di sebuah
ruang hampa—sendiri, gelap, pekat, Lionara melihat setitik cahaya. Kakinya
dihela menuju cahaya tersebut. Semakin jauh dan semakin jauh hingga kemudian ia
berada di sebuah taman.
Taman
itu sangat indah. Dengan kicauan burung yang merdu, bunga warna-warni dari
segala macam jenis yang menghiasi sebagian besar hamparan rumput hijau yang
membentang seolah tanpa ujung. Kupu-kupu berterbangan di sekitar bunga yang
kini sedang bermekaran dengan indahnya. Suara gemercik air yang berasal dari
air mancur yang berada di tengah hamparan rumput itu terdengar begitu
menenangkan.
Tak
jauh dari taman itu terdapat sebuah bangunan menjulang tinggi. Besar dan megah
layaknya kastil. Seumur hidup Lionara tidak pernah melihat bangunan secantik
dan semegah itu. Temboknya besar dan pintu gerbangnya sangat tinggi. Tembok itu
terbuat dari permata yaspis, dan bangunan itu terdiri dari emas tulen, bagaikan
kaca murni. Lionara ingin masuk kesana.
Namun,
mungkin ia terlalu berhalusinasi karena dalam perjalanannya mendekati pintu
gerbang itu, tiba-tiba ia mendengar suara Jordan. Awalnya Lionara mengabaikan,
tapi semakin lama suara itu kian keras memanggil namanya. Pria itu menangis
pilu dan memintanya untuk kembali. Jordan berulangkali mengatakan membutuhkannya.
Bahkan Lionara juga mendengar kalimat sarat ancaman dari Jordan jika ia tak kunjung
kembali untuk hidup disisinya.
“Sayang,
hey…” Jordan menepuk-nepuk pelan pipi Lionara hingga ia tersentak dari
lamunannya. “Kenapa, ada yang sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter untukmu?
Sepertinya kamu membutuhkannya.”
Suara
panik Jordan terdengar begitu mengkahwatirkannya. Dia lalu menggeleng sebagai
jawaban. Lionara baik-baik saja. Malah terlampau begitu baik. Setelah membuka
mata, wanita itu sudah melakukan berbagai pemeriksaan pada tubuhnya secara
intensif oleh dokter.
“Kalau
kamu memang baik-baik saja, katakan sesuatu sayang.” Jordan masih cemas “Jangan
membuatku ketakutan begini,”
Lionara
tersenyum tipis. Ia merentangkan kedua tangannya. “Berikan aku pelukan,”
Jordan
menurut. Mendekapnya begitu erat—bahkan detakan jantungnya yang memompa keras
dapat dirasakan oleh Lionara.
“Jantung
kamu berdebar lebih cepat,” gumam Lionara seraya meletakkan telapak tangannya
di dada Jordan.
“Itu
karena aku ketakutan. Aku takut kamu pergi lagi tinggalin aku.” parau Jordan
“Jangan lakukan itu lagi sayang. Aku
memang telah melakukan kesalahan yang begitu besar, tapi kumohon jangan
menghukumku sekejam itu. Kamu boleh menghukumku dengan cara lain, asalkan tidak
dengan perpisahan!”
Lionara
mengerjap saat isak Jordan mulai terdengar, dan rasa basah di ceruk lehernya
kian terasa. Apa Jordan sedang menangis?
“Jo…,”
Lionara
mendongak, dan benar saja wajah tampan itu sudah basah. Pelan, Lionara mengusap
bulir bening itu, kemudian membelai wajah Jordan. Tampak sangat jelas sepasang
netra biru itu begitu tersakiti hanya dengan mengingatnya saja. Lionara tidak
bisa membayangkan sehancur dan setakut apa lelaki ini ketika diharuskan
menghadapi keadaannya saat itu yang sempat terbujur kaku selama beberapa jam.
“Aku
minta maaf, aku yang bodoh karena tanpa sadar telah menempatkanmu dalam bahaya.
Aku enggak ijinin kamu tinggalin aku lagi. Aku enggak mau, aku sayang Lionnya
aku. Lion punyaku, dan tempat kamu adalah di sampingku. Tanpa terkecuali!” Jordan
melingkupi tangan Lionara di pipinya, mengelus lembut. “Lion, aku hanya takut.
Aku tidak mau kejadian hari itu terulang kembali. For God’s shake, it scares me to death!”
Lionara
menatapi wajah Jordan. Ia tetap diam, membiarkan Jordan berbicara serak dan
terdengar frustasi. Tanpa kehadiran sosok ini, Lionara tahu hidupnya akan
terasa kosong dan tak berjiwa. Ia tidak akan tahu rasanya bagaimana diinginkan
sebesar dan sebanyak ini. Jordan memperlakukannya begitu baik—sampai Lionara
terus mencari alasan mengapa Jordan bisa seperti ini? Ia tahu kekurangan lebih
banyak ada daripada kelebihan. Ia kaku, dingin, dan bahkan detik ini pun ia selalu
bingung bagaimana mengutarakan perasaan cintanya pada Jordan. Tanpa tuntutan, Jordan tidak
pernah meminta lebih kecuali tetap di sampingnya. Jordan tidak pernah meminta
Lionara berubah, meski mungkin ia juga ingin diberi kasih sayang yang sama.
“Jo,
aku udah baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu tidur terlalu lama
seperti saat itu.” kedua tangan Jordan diraih, dikecupnya punggung tangan itu
bergantian—menenangkan. “Aku janji, aku akan selalu sehat demi kamu dan
keluarga kita. Aku janji, daddy.”
****
“Sejauh
ini Nyonya Lionara sudah baik-baik saja. Semuanya sudah kembali normal, dan
sungguh ini merupakan keajaiban Tuhan kalau bayi anda juga turut selamat dan
keadaannya cukup kuat. Saya turut bahagia dengan keajaiban yang Tuhan titipkan
pada anda Pak Jordan,” Dokter itu tersenyum hangat
Jordan
tidak menjawab, hanya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Tak ada kata
yang mampu terucap dari bibirnya ketika sang pemilik kehidupan benar-benar
mendengarkan permohonannya. Dia adalah
lelaki yang paling kotor dan apatis dalam segala hal, tapi semesta masih
berbaik hati padanya dengan menghidupakan kembali belahan jiwanya.
“Kenapa
akhir-akhir ini air mata kamu gampang sekali keluar, hm?” tangan Lionara dengan
lembut menyeka bulir bening itu. “Apa enggak malu sama badan berotot ini?”
timpalnya seraya merangkum wajah Jordan dan mengecup dahinya cukup lama.
“Suami
anda hanya terlalu bahagia nyonya.” Sela sang dokter, masih dengan senyum hangatnya
“Kembalinya anda membuat Pak Jordan juga seperti hidup kembali. Pak Jordanlah
satu-satunya yang bersikeras mempercayai jika anda tidak kemana-mana.”
“Benarkah
itu?” Lionara memiringkan kepala, bertanya dengan maksud menggoda suaminya yang
masih diam menatapnya.
Jordan
bergeming, balas menangkup wajah Lionara dan ******* bibirnya dalam dan lama
sampai Lionara harus memukul dadanya ketika napasnya serasa terenggut habis.
“Jo,
aku enggak bisa napas!”
Jordan
melepaskan, tapi kedua tangannya beralih mendekap tubuh Lionara erat. “Berjanjilah
jangan membuatku takut lagi. Jangan pernah meninggalkanku seperti waktu itu,”
seraknya kian mengeratkan pelukannya
Lionara
meringis, lantas balas memeluk tubuh Jordan yang baru ia sadari tampak kurus
dari terakhir kali mereka berselisih. Pelan, tangan Lionara menepuk-nepuk punggung Jordan.
Sedangkan dokter memilih keluar, memberikan privasi kepada sepasang suami istri
yang tengah diliputi keharuan itu.
“Iya.
Aku janji,”
****
Daniel
baru datang, menyerahkan satu buket bunga pada Lionara dibawah tatapan tajam Jordan.
Cuma sekali lihat saja sudah bisa dipastikan Jordan terlihat susah payah menahan diri agar tak marah. Dia selalu
seperti itu. Dingin, setiap kali Daniel ada di sekitar.
“Maaf
menemuimu secepat mungkin.” sesal Daniel
“Tidak
masalah, El. Kamu datang saja aku sudah senang.” Lionara tersenyum kecil tanpa
menyadari sosok disebelahnya tengah menahan kesal melihat interaksi keduanya.
Daniel
balas tersenyum. “Aku sangat senang akhirnya kamu bisa melewati masa kritismu.
Dan maaf karena aku terlambat mengetahui jika Rebecca adalah perempuan yang
selama ini kamu ceritakan,”
“Jangan
pernah membahas wanita iblis itu lagi!” Jordan menggeram marah setiap kali
mendengar nama Rebecca.
Jordan
mengambil bunga dari tangan Lionara, lantas melemparkan di meja begitu saja.
“Terima kasih untuk bunganya.” datar dan tanpa perasaan. “Kamu boleh pergi.
Kata dokter istriku masih memerlukan istirahat yang banyak. Tubuhnya masih
lemah.”
Daniel
mengangkat alis, “Seingatku dokter tadi bilang Flo sudah sangat baik-baik saja.
Dalam dua hari kedepan dia bahkan sudah boleh keluar dari Rumah sakit ini.”
Rahang
Jordan mengetat, berusaha sekuat tenaga melunakkan ekspresinya. “Karena itu
kamu harus cepat pergi dari sini agar istriku bisa lebih banyak istirahatnya,
dan tanpa menunggu lusa pun kami bisa keluar dari sini besok!” Jordan menunjuk
bunga yang dilemparnya tadi “Dan bunga itu, dokter juga bilang selama pemulihan
jangan memegang bunga. Soalnya takut gata-gatal karena ada kumannya!”
Daniel
kehilangan kalimat, kecuali menatap Jordan jengah yang begitu posesif pada
Lionara. Bahkan sedari tadi tubuhnya terus didempet untuk menegaskan
kepemilikan atas diri Lionara—bahwa Jordan lah orangnya.
“Jo…,”
Lionara menegur
“Apa,
Mommy? Memang benar, kan? Yaudah, kamu baring lagi. Kita bobo lagi.” Jordan
membawa tubuh Lionara kembali terbaring, kemudian melingkarkan tangannya di
perut Lionara erat, sedang kakinya membelit kaki Lionara. Benar-benar
mengabaikan Daniel yang masih berdiri disana.
“Jo,
lepasin. El masih ada disini” Lionara ingin duduk, tapi tenaga Jordan jauh
lebih besar menahannya.
“Tidak
apa-apa, Flo. Masih ada hari lain untuk bertemu denganmu lagi.” Daniel memasang
senyum hangatnya “Senang melihatmu lagi. Aku pulang, Flo” pamitnya sebelum
benar-benar keluar
“Daniel-.”
“Tidur,
Mommy.” Selah Jordan tidak suka.
Lionara
mendesah lelah. “Jo, bisa kamu tidak bersikap kekanak-kanakan? Daniel cuma—”
Jordan
menautkan alis, menatap Lionara tak percaya. “Apa…? Siapa?”
“Kamu.
Daniel mengunjungiku cuma karena kahwatir.”
“Aku
tidak suka, Mommy. Aku tidak suka!” sahut Jordan pelan, tetapi tegas. “Kenapa
kamu malah membela dia? Apa salah jika aku cemburu ketika istriku dikunjungi
oleh mantan kekasihnya yang jelas-jelas masih memiliki perasaan padamu?”
“Tapi
konsepnya bukan begitu, Jordan.”
“Terus
mau kamu apa sekarang? Aku keluar dan panggil dia balik sini lagi, begitu?”
tukas Jordan, masih berusaha memelankan nadanya.
“Astaga…”
Lionara mendesah malas, Jordan kian tampak kesal.
“Kupikir
hal ini tidak penting untuk diperdebatkan,” lanjut Lionara
“Bagus
kalau begitu.” Jordan melepas lilitannya, lalu beranjak turun dari ranjang.
Buru-buru
Lionara meraih lengannya. “Kamu marah?”
“Aku
yang kekanakan. Dan El-mu itu sangat dewasa. End of story. Sorry.” Sahutan itu terdengar sarkas. “Istirahatlah.”
Jordan melepas pelan cekalan Lionara dan akan berlalu keluar dari kamar inap
mereka sebelum—
“Kalau
kamu keluar aku akan pergi selamanya.”
“Mommy!!”
Jordan setengah berteriak, rahangnya mengetat, sedang tubuhnya mendadak tremor
hebat. “Jangan coba-coba…,” desisnya penuh peringatan.
Lionara
tercenung. Ia sama sekali tidak menyangka jika Jordan akan bereaksi separah
itu.
“Jo—“
Jordan
langsung ******* bibir Lionara begitu dalam—menuntaskan rasa frustasinya
disana. Tidak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya. Jordan takut. Bahkan
sangat takut sekarang.
“Kamu
lebih baik bunuh aku sekarang kalau kamu berani melakukan itu!” serak, napas
Jordan tak beraturan. Tubuhnya masih gemetar hebat. “Kamu udah janji enggak
akan pergi lagi. Jangan… jangan pernah mengingkari janji kamu, Lion.” Ia memeluk
Lionara erat—begitu takut jika ia melepaskannya, Lionnya benar-benar akan
pergi. “Just don’t say it. Kamu enggak diperbolehkan mengatakan omong kosong
itu!”
Ya
Tuhan… Apa yang sudah dia lakukan?
“Maaf…”
lirih Lionara, ia balas memeluk Jordan erat—menenggelamkan wajahnya di dada
Jordan “Aku enggak bermaksud bilang begitu. Cuma cara kamu memperlakukan Daniel
tadi terlalu kasar. Aku enggak suka.” Tangan Lionara mengusap turun naik
punggung Jordan yang sudah sedikit lebih tenang.
“Sejak
awal kamu sudah tahu aku membencinya. Dia merebut semua apa yang kumiliki. Dan
sekarang dia masih berusaha merebut kamu dariku. Ditambah perasaan kamu juga
padanya tidak pernah berubah. Kamu masih mencintainya.”
“Kamu
percaya aku masih cinta sama Daniel?”
Jordan
mendongak, “Dari caramu menatapnya bisa terlihat jelas.”
Lionara
mengulum senyum. Kedua tangannya merangkum wajah basah Jordan dan menyekanya
lembut. “Kamu pikir karena siapa aku mau buka mata lagi?”
Jordan
menggelengkan kepalanya.
“Semua
karena kamu, Jo. Suara kamu terus menyuruhku untuk kembali.”
“Benarkah?”
Lionara
mengangguk. Ia menatap wajah rupawan suaminya lama, mengusap lembut pipinya “Setelah menjadi istrimu, aku sudah
memutuskan perasaanku padanya. Aku belajar menerima keseluruhan dirimu sebagai
suamiku. Aku sudah memutuskan, tidak ada pria lain lagi disisiku selain dirimu. I do really love you, Daddy. Trust me,” bisik Lionara lembut sebelum meraih dagu Jordan dan mencumbu bibir tipis
suaminya untuk pertama kali.
To be continued
Lama ya? Hehehe....
Anyway, aku mau ngucapin selamat berpuasa bagi yang menjalankannya ^^
Dan untuk yang mau tahu info semua ceritaku follow IG: rianitasitumorangg aja yaa
Ditunggu like dan komennya. See youuu