JORDAN

JORDAN
Chapter 38



Dalam


tidur panjangnya, Lionara sebenarnya tidak berkeinginan bangun lagi. Ada


kenyamanan dan perasaan damai ketika dia berada di dunia yang entah dimana dia


singgahi saat itu. Bertahun-tahun  mengalami berbagai kesulitan—pahitnya


kehidupan yang ia jalani membuat Lionara tidak ingin kembali lagi ke dunia itu.


Ia lelah dan ingin beristirahat selamanya. Karena itu saat dirinya berada di sebuah


ruang hampa—sendiri, gelap, pekat, Lionara melihat setitik cahaya. Kakinya


dihela menuju cahaya tersebut. Semakin jauh dan semakin jauh hingga kemudian ia


berada di sebuah taman.


Taman


itu sangat indah. Dengan kicauan burung yang merdu, bunga warna-warni dari


segala macam jenis yang menghiasi sebagian besar hamparan rumput hijau yang


membentang seolah tanpa ujung. Kupu-kupu berterbangan di sekitar bunga yang


kini sedang bermekaran dengan indahnya. Suara gemercik air yang berasal dari


air mancur yang berada di tengah hamparan rumput itu terdengar begitu


menenangkan.


Tak


jauh dari taman itu terdapat sebuah bangunan menjulang tinggi. Besar dan megah


layaknya kastil. Seumur hidup Lionara tidak pernah melihat bangunan secantik


dan semegah itu. Temboknya besar dan pintu gerbangnya sangat tinggi. Tembok itu


terbuat dari permata yaspis, dan bangunan itu terdiri dari emas tulen, bagaikan


kaca murni. Lionara ingin masuk kesana.


Namun,


mungkin ia terlalu berhalusinasi karena dalam perjalanannya mendekati pintu


gerbang itu, tiba-tiba ia mendengar suara Jordan. Awalnya Lionara mengabaikan,


tapi semakin lama suara itu kian keras memanggil namanya. Pria itu menangis


pilu dan memintanya untuk kembali. Jordan berulangkali mengatakan membutuhkannya.


Bahkan Lionara juga mendengar kalimat sarat ancaman dari Jordan jika ia tak kunjung


kembali untuk hidup disisinya.


“Sayang,


hey…” Jordan menepuk-nepuk pelan pipi Lionara hingga ia tersentak dari


lamunannya. “Kenapa, ada yang sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter untukmu?


Sepertinya kamu membutuhkannya.”


Suara


panik Jordan terdengar begitu mengkahwatirkannya. Dia lalu menggeleng sebagai


jawaban. Lionara baik-baik saja. Malah terlampau begitu baik. Setelah membuka


mata, wanita itu sudah melakukan berbagai pemeriksaan pada tubuhnya secara


intensif oleh dokter.


“Kalau


kamu memang baik-baik saja, katakan sesuatu sayang.” Jordan masih cemas “Jangan


membuatku ketakutan begini,”


Lionara


tersenyum tipis. Ia merentangkan kedua tangannya. “Berikan aku pelukan,”


Jordan


menurut. Mendekapnya begitu erat—bahkan detakan jantungnya yang memompa keras


dapat dirasakan oleh Lionara.


“Jantung


kamu berdebar lebih cepat,” gumam Lionara seraya meletakkan telapak tangannya


di dada Jordan.


“Itu


karena aku ketakutan. Aku takut kamu pergi lagi tinggalin aku.” parau Jordan


“Jangan lakukan  itu lagi sayang. Aku


memang telah melakukan kesalahan yang begitu besar, tapi kumohon jangan


menghukumku sekejam itu. Kamu boleh menghukumku dengan cara lain, asalkan tidak


dengan perpisahan!”


Lionara


mengerjap saat isak Jordan mulai terdengar, dan rasa basah di ceruk lehernya


kian terasa. Apa Jordan sedang menangis?


“Jo…,”


Lionara


mendongak, dan benar saja wajah tampan itu sudah basah. Pelan, Lionara mengusap


bulir bening itu, kemudian membelai wajah Jordan. Tampak sangat jelas sepasang


netra biru itu begitu tersakiti hanya dengan mengingatnya saja. Lionara tidak


bisa membayangkan sehancur dan setakut apa lelaki ini ketika diharuskan


menghadapi keadaannya saat itu yang sempat terbujur kaku selama beberapa jam.


“Aku


minta maaf, aku yang bodoh karena tanpa sadar telah menempatkanmu dalam bahaya.


Aku enggak ijinin kamu tinggalin aku lagi. Aku enggak mau, aku sayang Lionnya


aku. Lion punyaku, dan tempat kamu adalah di sampingku. Tanpa terkecuali!” Jordan


melingkupi tangan Lionara di pipinya, mengelus lembut. “Lion, aku hanya takut.


Aku tidak mau kejadian hari itu terulang kembali. For God’s shake, it scares me to death!”


Lionara


menatapi wajah Jordan. Ia tetap diam, membiarkan Jordan berbicara serak dan


terdengar frustasi. Tanpa kehadiran sosok ini, Lionara tahu hidupnya akan


terasa kosong dan tak berjiwa. Ia tidak akan tahu rasanya bagaimana diinginkan


sebesar dan sebanyak ini. Jordan memperlakukannya begitu baik—sampai Lionara


terus mencari alasan mengapa Jordan bisa seperti ini? Ia tahu kekurangan lebih


banyak ada daripada kelebihan. Ia kaku, dingin, dan bahkan detik ini pun ia selalu


bingung bagaimana mengutarakan perasaan cintanya  pada Jordan. Tanpa tuntutan, Jordan tidak


pernah meminta lebih kecuali tetap di sampingnya. Jordan tidak pernah meminta


Lionara berubah, meski mungkin ia juga ingin diberi kasih sayang yang sama.


“Jo,


aku udah baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu tidur terlalu lama


seperti saat itu.” kedua tangan Jordan diraih, dikecupnya punggung tangan itu


bergantian—menenangkan. “Aku janji, aku akan selalu sehat demi kamu dan


keluarga kita. Aku janji, daddy.”


****


“Sejauh


ini Nyonya Lionara sudah baik-baik saja. Semuanya sudah kembali normal, dan


sungguh ini merupakan keajaiban Tuhan kalau bayi anda juga turut selamat dan


keadaannya cukup kuat. Saya turut bahagia dengan keajaiban yang Tuhan titipkan


pada anda Pak Jordan,” Dokter itu tersenyum hangat


Jordan


tidak menjawab, hanya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Tak ada kata


yang mampu terucap dari bibirnya ketika sang pemilik kehidupan benar-benar


mendengarkan permohonannya.  Dia adalah


lelaki yang paling kotor dan apatis dalam segala hal, tapi semesta masih


berbaik hati padanya dengan menghidupakan kembali belahan jiwanya.


“Kenapa


akhir-akhir ini air mata kamu gampang sekali keluar, hm?” tangan Lionara dengan


lembut menyeka bulir bening itu. “Apa enggak malu sama badan berotot ini?”


timpalnya seraya merangkum wajah Jordan dan mengecup dahinya cukup lama.


“Suami


anda hanya terlalu bahagia nyonya.” Sela sang dokter, masih dengan senyum hangatnya


“Kembalinya anda membuat Pak Jordan juga seperti hidup kembali. Pak Jordanlah


satu-satunya yang bersikeras mempercayai jika anda tidak kemana-mana.”


“Benarkah


itu?” Lionara memiringkan kepala, bertanya dengan maksud menggoda suaminya yang


masih diam menatapnya.


Jordan


bergeming, balas menangkup wajah Lionara dan ******* bibirnya dalam dan lama


sampai Lionara harus memukul dadanya ketika napasnya serasa terenggut habis.


“Jo,


aku enggak bisa napas!”


Jordan


melepaskan, tapi kedua tangannya beralih mendekap tubuh Lionara erat. “Berjanjilah


jangan membuatku takut lagi. Jangan pernah meninggalkanku seperti waktu itu,”


seraknya kian mengeratkan pelukannya


Lionara


meringis, lantas balas memeluk tubuh Jordan yang baru ia sadari tampak kurus


dari terakhir kali mereka berselisih. Pelan, tangan Lionara menepuk-nepuk punggung Jordan.


Sedangkan dokter memilih keluar, memberikan privasi kepada sepasang suami istri


yang tengah diliputi keharuan itu.


“Iya.


Aku janji,”


****


Daniel


baru datang, menyerahkan satu buket bunga pada Lionara dibawah tatapan tajam Jordan.


Cuma sekali lihat saja sudah bisa dipastikan  Jordan terlihat susah payah menahan diri agar tak marah. Dia selalu


seperti itu. Dingin, setiap kali Daniel ada di sekitar.


“Maaf


menemuimu secepat mungkin.” sesal Daniel


“Tidak


masalah, El. Kamu datang saja aku sudah senang.” Lionara tersenyum kecil tanpa


menyadari sosok disebelahnya tengah menahan kesal melihat interaksi keduanya.


Daniel


balas tersenyum. “Aku sangat senang akhirnya kamu bisa melewati masa kritismu.


Dan maaf karena aku terlambat mengetahui jika Rebecca adalah perempuan yang


selama ini kamu ceritakan,”


“Jangan


pernah membahas wanita iblis itu lagi!” Jordan menggeram marah setiap kali


mendengar nama Rebecca.


Jordan


mengambil bunga dari tangan Lionara, lantas melemparkan di meja begitu saja.


“Terima kasih untuk bunganya.” datar dan tanpa perasaan. “Kamu boleh pergi.


Kata dokter istriku masih memerlukan istirahat yang banyak. Tubuhnya masih


lemah.”


Daniel


mengangkat alis, “Seingatku dokter tadi bilang Flo sudah sangat baik-baik saja.


Dalam dua hari kedepan dia bahkan sudah boleh keluar dari Rumah sakit ini.”


Rahang


Jordan mengetat, berusaha sekuat tenaga melunakkan ekspresinya. “Karena itu


kamu harus cepat pergi dari sini agar istriku bisa lebih banyak istirahatnya,


dan tanpa menunggu lusa pun kami bisa keluar dari sini besok!” Jordan menunjuk


bunga yang dilemparnya tadi “Dan bunga itu, dokter juga bilang selama pemulihan


jangan memegang bunga. Soalnya takut gata-gatal karena ada kumannya!”


Daniel


kehilangan kalimat, kecuali menatap Jordan jengah yang begitu posesif pada


Lionara. Bahkan sedari tadi tubuhnya terus didempet untuk menegaskan


kepemilikan atas diri Lionara—bahwa Jordan lah orangnya.


“Jo…,”


Lionara menegur


“Apa,


Mommy? Memang benar, kan? Yaudah, kamu baring lagi. Kita bobo lagi.” Jordan


membawa tubuh Lionara kembali terbaring, kemudian melingkarkan tangannya di


perut Lionara erat, sedang kakinya membelit kaki Lionara. Benar-benar


mengabaikan Daniel yang masih berdiri disana.


“Jo,


lepasin. El masih ada disini” Lionara ingin duduk, tapi tenaga Jordan jauh


lebih besar menahannya.


“Tidak


apa-apa, Flo. Masih ada hari lain untuk bertemu denganmu lagi.” Daniel memasang


senyum hangatnya “Senang melihatmu lagi. Aku pulang, Flo” pamitnya sebelum


benar-benar keluar


“Daniel-.”


“Tidur,


Mommy.” Selah Jordan tidak suka.


Lionara


mendesah lelah. “Jo, bisa kamu tidak bersikap kekanak-kanakan? Daniel cuma—”


Jordan


menautkan alis, menatap Lionara tak percaya. “Apa…? Siapa?”


“Kamu.


Daniel mengunjungiku cuma karena kahwatir.”


“Aku


tidak suka, Mommy. Aku tidak suka!” sahut Jordan pelan, tetapi tegas. “Kenapa


kamu malah membela dia? Apa salah jika aku cemburu ketika istriku dikunjungi


oleh mantan kekasihnya yang jelas-jelas masih memiliki perasaan padamu?”


“Tapi


konsepnya bukan begitu, Jordan.”


“Terus


mau kamu apa sekarang? Aku keluar dan panggil dia balik sini lagi, begitu?”


tukas Jordan, masih berusaha memelankan nadanya.


“Astaga…”


Lionara mendesah malas, Jordan kian tampak kesal.


“Kupikir


hal ini tidak penting untuk diperdebatkan,” lanjut Lionara


“Bagus


kalau begitu.” Jordan melepas lilitannya, lalu beranjak turun dari ranjang.


Buru-buru


Lionara meraih lengannya. “Kamu marah?”


“Aku


yang kekanakan. Dan El-mu itu sangat dewasa. End of story. Sorry.” Sahutan itu terdengar sarkas. “Istirahatlah.”


Jordan melepas pelan cekalan Lionara dan akan berlalu keluar dari kamar inap


mereka sebelum—


“Kalau


kamu keluar aku akan pergi selamanya.”


“Mommy!!”


Jordan setengah berteriak, rahangnya mengetat, sedang tubuhnya mendadak tremor


hebat. “Jangan coba-coba…,” desisnya penuh peringatan.


Lionara


tercenung. Ia sama sekali tidak menyangka jika Jordan akan bereaksi separah


itu.


“Jo—“


Jordan


langsung ******* bibir Lionara begitu dalam—menuntaskan rasa frustasinya


disana. Tidak membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya. Jordan takut. Bahkan


sangat takut sekarang.


“Kamu


lebih baik bunuh aku sekarang kalau kamu berani melakukan itu!” serak, napas


Jordan tak beraturan. Tubuhnya masih gemetar hebat. “Kamu udah janji enggak


akan pergi lagi. Jangan… jangan pernah mengingkari janji kamu, Lion.” Ia memeluk


Lionara erat—begitu takut jika ia melepaskannya, Lionnya benar-benar akan


pergi. “Just don’t say it. Kamu enggak diperbolehkan mengatakan omong kosong


itu!”


Ya


Tuhan… Apa yang sudah dia lakukan?


“Maaf…”


lirih Lionara, ia balas memeluk Jordan erat—menenggelamkan wajahnya di dada


Jordan “Aku enggak bermaksud bilang begitu. Cuma cara kamu memperlakukan Daniel


tadi terlalu kasar. Aku enggak suka.” Tangan Lionara mengusap turun naik


punggung Jordan yang sudah sedikit lebih tenang.


“Sejak


awal kamu sudah tahu aku membencinya. Dia merebut semua apa yang kumiliki. Dan


sekarang dia masih berusaha merebut kamu dariku. Ditambah perasaan kamu juga


padanya tidak pernah berubah. Kamu masih mencintainya.”


“Kamu


percaya aku masih cinta sama Daniel?”


Jordan


mendongak, “Dari caramu menatapnya bisa terlihat jelas.”


Lionara


mengulum senyum. Kedua tangannya merangkum wajah basah Jordan dan menyekanya


lembut. “Kamu pikir karena siapa aku mau buka mata lagi?”


Jordan


menggelengkan kepalanya.


“Semua


karena kamu, Jo. Suara kamu terus menyuruhku untuk kembali.”


“Benarkah?”


Lionara


mengangguk. Ia menatap wajah rupawan suaminya lama, mengusap lembut pipinya “Setelah menjadi istrimu, aku sudah


memutuskan perasaanku padanya. Aku belajar menerima keseluruhan dirimu sebagai


suamiku. Aku sudah memutuskan, tidak ada pria lain lagi disisiku selain dirimu. I do really love you, Daddy. Trust me,” bisik Lionara lembut sebelum meraih dagu Jordan dan mencumbu bibir tipis


suaminya untuk pertama kali.


To be continued


Lama ya? Hehehe....


Anyway, aku mau ngucapin selamat berpuasa bagi yang menjalankannya ^^


Dan untuk yang mau tahu info semua ceritaku follow IG: rianitasitumorangg aja yaa


Ditunggu like dan komennya. See youuu