
Jordan menyadari satu hal—keanehan yang terjadi pada istrinya sepanjang hari ini.
Wanita itu lebih banyak diam dari sebelumnya. Ya, memang benar Lionara adalah
manusia kulkas. Kakuh dan irit bicara. Tapi itu berlaku terhadap orang luar dan
sebelum mereka saling menyatakan perasaan. Namun setelahnya komunikasi mereka
berjalan normal layaknya pasangan suami istri yang lain.
Faktanya, sekarang istrinya itu memang benar-benar mendiamkannya. Kenapa? Apa dia
melakukukan kesalahan lagi? kalau benar, apa kesalahannya? Dan seharusnya
Lionara langsung mengatakannya saja bukan jika ia melakukan sesuatu yang
menyakiti hati wanita itu?
Jordan mulai berpikir keras, mengingat-ingat segala tindak tanduk tingkahnya sebelum
ini. dan tak lama, otaknya berhasil menemukan titik alasan Lionara
mengabaikannya.
Masalah kegilaannya kemarin.
“Kamu marah padaku?” tanya Jordan to the point saat Lionara baru saja mendaratkan
bokongnya di ranjang, usai menidurkan Jay.
Lionara mengerutkan kening. Ada jeda sebelum ia menjawab, “Kenapa menyimpulkan begitu?”
“Sepanjang hari ini kamu mendiamiku. Dan aku suami yang cukup peka jika menyangkut hal-hal
yang tak biasa dari istriku,” Jordan menghela napas. “Katakan saja yang
sebenarnya.”
Lionara mendekat. Duduk bersimpuh di dekat kaki Jordan yang berselonjor. Maniknya
menatap lekat pada netra Jordan.
“Daddymu…” Lionara meneguk ludahnya susah payah saat gestur Jordan berubah tegang.
“Apa lagi yang dilakukan si sialan itu?” rendah, tatapan Jordan menajam
Lionara menggeleng. Ia meraih jemari Jordan dan menggenggamnya. “Beliau masuk ruang ICU.”
“Lalu apa hubungannya dengan kita?” Jordan mengangkat alis “Bagus juga kalau dia
mati.”
“Jo!” tegur Lionara, “Tidak bisakah kamu melunakkan hatimu sedikit saja, Jo? Biar
bagaimanapun beliau adalah orang tuamu. Please… belajarlah mengampuni dia,”
lirih Lionara dengan mata berkaca-kaca.
Sorot Jordan berubah dingin, rahangnya mengetat. “Kamu pikir semudah itu? Mati pun
dia tidak akan pernah kumaafkan!” suara Jordan meninggi, matanya menatap marah
Lionara. Sungguh, Jordan benci jika Lionara membela daddynya daripada dirinya.
Jordan melepas genggaman Lionara.
“Lalu mau sampai kapan kamu mendendam begini?!” Lionara ikut meninggikan suaranya
“Ingat Jo, kamu sekarang juga seorang Ayah. Bagaimana jika kamu berada di
posisi daddymu dan Jay memb—“
“Jangan pernah menyamakan aku dengan pria tua itu!” bentak Jordan tanpa sadar, menunjuk
bengis Lionara. “Kamu bilang agar aku mengampuni si tua itu? Kamu sadar apa
yang kamu katakan saat ini? Kamu waras? Hah!”
Lionara tertegun. Mulutnya bungkam, tangannya yang sejak tadi bergetar berusaha ia
sembunyikan. Tapi akhirnya air matanya jatuh menetes.
“Kamu salah paham, Jo. Aku tahu ini sangat menyakitkan untukmu, tapi aku tidak ingin
suatu hari nanti kamu lebih menyesal. Aku tidak ingin kamu semakin jatuh
terpuruk,” serak, Lionara berusaha mengeluarkan suaranya yang tersendat.
Jordan menghembuskan napas kasar. Berusaha keras untuk tidak menggila lagi di depan
istrinya. “Sebaiknya kamu tidur.” putus Jordan pada akhirnya. “Aku harus
keluar.” timpalnya, segera turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu sebelum…
“Daddymu kritis, Jo. Beliau tengah berjuang untuk bertahan hidup dari penyakit kanker
paru-paru stadium akhir yang selama ini di deritanya. Kamu yakin tidak ingin
mendengar penjelasan darinya sebelum semua menjadi terlambat? Aku yakin hatimu
tidak sekeras itu. Aku yakin kamu masih punya rasa sayang untuk daddymu, meski
sedikit, aku yakin kamu punya rasa itu.”
Ada sedikit perasaan janggal di hati Jordan kala mendengar bahwa Josep tengah
sekarat. Hal itu menyentil egonya. Jordan mendadak diterpa perasaan asing, tapi
saat mengingat kekejaman Josep pada mommynya, kemarahan itu mencuat.
Jordan meremas knop pintu, ia ingin meledak. Kepalanya pening. “Aku tidak peduli, “
desisnya
“Kamu peduli. Aku tahu itu.”
“Terserah.” Jordan membuka pintu kasar dan,
BLAM!!!
****
Dari atas podium, Jordan menatap datar ke arah tempat duduk para orang tua. Ia baru saja menerima
piagam penghargaan dari sekolah karena tahun ini pun ia kembali meraih
peringkat pertama karena telah berhasil mendapatkan nilai terbaik dari
keseluruhan murid di sekolahnya.
Seharusnya Jordan ditemani oleh kedua orang tuanya dalam acara ini, tetapi selalu saja hanya sang
mama yang hadir disisi seperti sebelum-sebelumnya. Ia hanya menerima dekapan
erat sang mama—tidak seperti temannya yang lain, disisi kanan dan kiri ada
kedua orang tua, lalu diabadikan dalam potret keluarga. Ayahnya ingkar lagi.
Sosok kebanggaannya itu sama sekali tidak datang.
“Jangan bersedih terus, daddy tidak sengaja. Dia tiba-tiba harus berangkat ke singapura karena
perusahan disana bermasalah dan membutuhkan kehadiran, daddy.” Grace mengelus
lembut pipi Jordan—menghibur putra semata wayangnya tersebut.
“Tapi, semalam daddy udah janji,” gumam Jordan dengan kepala tertunduk
Grace menatap sedih—air matanya jatuh, tapi dengan cepat ia tepis. Josep menyakiti hati putra
mereka lagi.
“Kan masih ada Mommy, sayang. Kamu enggak senang ya karna Mommy terus yang datang,”
Jordan mendongak, lalu menggeleng cepat. Ia mendekap erat leher Grace. “Jo, sangat senang. Mom
selalu ada untuk, Jo. Jordan sayang banget sama Mommy.” Jordan menciumi wajah cantik
Mommynya.
“Mommy jauh lebih sayang sama, Jo. Makanya itu, kalau Jo sedih, mommy lebih sedih.”
“Mommy jangan sedih. Jo uda enggak sedih lagi!”
Grace tersenyum haru. Ia mengecup kening Jordan lama.
“Mau bermain ke tempat rekreasi?” Grace menawarkan sesuatu yang sangat di disukai oleh putranya
itu.
Mata bulat Jordan seketika berbinar, “Mau, Mom! Mau! Ayokkk” Jordan menarik antusias tangan Grace
keluar dari sana, melupakan sedih yang sempat menghinggapi.
****
menyerang kerongkongannya.
“Mom, Aku mau ice cream.”
“Ya sudah, kamu tunggu sini. Biar mommy belikan,”
Jordan menahan tangan mamanya. “Biar aku saja. Mommy duduk,”
“Baiklah. Kamu hati-hati ya,” Grace mengelus rambut basah putranya dan dibalas anggukan cepat
oleh Jordan.
Tempat Jordan membeli es krim di penuhi oleh banyaknya pengunjung yang mengantri. Dan karena
ini adalah langganan es krim favoritnya, maka dengan sabar ia pun ikut berdiri mengantri
di barisan paling belakang. Selang lima belas menit kaki Jordan mulai kebas,
dan masih ada sekitar sepuluh orang mengantri di depannya sebelum gilirannya
tiba. Karena kebas, Jordan menunduk sedikit lalu memijit-mijit betisnya bergantian.
Namun siapa sangka, pada waktu ia kembali menegapkan tubuh, tanpa sengaja netra biru Jordan menangkap
pasangan kekasih yang saling menyuap es krim dengan mesranya. Jantung Jordan
mencelos hebat, sorot matanya seketika berpendam marah. Berulang kali Jordan
menggeleng—berusaha menepis kenyataan jika sosok dari pasangan wanita tersebut
adalah… daddynya.
Baru saja Jordan hendak menghampiri pasangan tersebut, tiba-tiba sang penjual memanggil dan
menanyakan pesanannya. Ternyata ia sudah sampai di barisan depan.
Jordan mengabaikan. Pandangannya kembali dilabukan ke pasangan tadi. Tapi sial, keduanya sudah
tidak ada disana. Buru-buru Jordan keluar dari barisan, kemudian berlari kecil
dengan manik menatap ke segala arah—mencari kembali keberadaan daddynya.
Jordan terus berlari—menelusuri seluruh tempat taman rekreasi. Sedang peluhnya mulai membanjiri, napasnya terengah-engah dan netranya sudah memerah basah. Tidak mungkin.
Pria itu tidak mungkin daddynya. Daddynya di Singapura, dan sedang bekerja sekarang.
Ratusan kali pun Jordan menyangkal, tapi tetap saja yang di dapatinya sekarang adalah kenyataan
yang menyakitkan. Sekali lagi, langkahnya terpaku pada sosok sang daddy yang
kini tengah mengelusi perut wanita di depannya seraya menaburkan ciuman disana.
Dalam diam, air mata Jordan mengalir deras. Pemandangan di depannya sungguh berhasil mengoyak hati
dan melunturkan sengenap rasa bangganya terhadap Josep. Hatinya hancur.
Dibelakang mereka, nyatanya daddynya memiliki wanita lain—Josep menduakan mommynya.
Tangan Jordan mengepal kencang. Ia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini.
Alasan Josep sangat jarang berkumpul dengan Jordan dan Grace bukan karena
pekerjaan, melainkan karena sibuk memadu kasih dengan wanita simpanannya.
****
Dalam tidurnya Jordan meracau tidak jelas. Bulir bening menetes di kedua sudut
matanya, kepalanya terus bergerak ke kanan dan kiri, sedangkan kedua tangannya
mencengkram kuat sofa.
Tidak lama kemudian, lelaki itu tersentak diikuti kedua netra biru itu yang terbuka—mengerjap,
kebingungan dengan napas yang menderu.
Jordan mengedarkan pandangan ke sekeliling, menelaah keadaan sekitar dimana dirinya
sekarang.
“Kamu bermimpi buruk?”
Jordan menoleh pada suara yang sudah sangat dihapalnya itu. Dengan kedua netra yang memerah basah dan napas yang masih memburu, Jordan terlihat seperti orang linglung.
Lionara tersenyum, dengan gerakan lembut tangannya mengusap peluh dan jejak air mata suaminya.
Wanita itu mencium bergantian kedua mata, hidung dan bibir Jordan.
“Maaf…” bisik Lionara
Jordan diam. Maniknya masih terus menatap lekat sorot sendu istrinya.
“Maaf karena perkataanku beberapa hari lalu sudah sangat menyakiti hatimu. Aku sungguh menyesal. Aku tidak bermaksud untuk mengucapkannya. Aku hanya sedang bingung…”
Lionara ingin melanjutkan kalimatnya, tapi ia segera sadar jika ucapannya
selanjutnya hanya akan membuat mereka kembali bertengkar.
Sudah cukup dengan kemarahan Jordan selama empat hari ini. Di malam awal pertengkaran mereka, Jordan keluar dari kamar dan tidak pernah sekalipun kembali sampai sekarang. Lelaki itu benar-benar marah dan menghukum Lionara dengan cara menghindarinya.
Jordan mengurung dirinya di ruang kerja, dalam tumpukan lembar-lembar saham dan
dokumen lainnya—nyaris dikerjakan di
tempat ini. Dia menghabiskan hari, baik siang dan malam di ruangannya. Bahkan
saat makan pun pelayan mengantarkannya kesana—Lionara sama sekali tidak diijinkan
masuk. Tetapi pagi ini, Lionara mengabaikan larangan lelaki itu dan menerobos
masuk ke dalam di saat Jordan tengah tidur dengan penampilan yang sangat kacau.
Tanpa kata, Jordan menarik pinggang Lionara hingga terjerembab ke atas tubuhnya. Jordan memeluk erat, lalu menghirup aroma bedak bayi di ceruk leher istrinya dalam-dalam. Sungguh, ia sudah sangat merindukan wanita dalam dekapannya ini.
Lama mereka terdiam, sampai…
“Aku juga minta maaf sudah membentakmu,” gumam Jordan seraya mengelusi punggung Lionara. “Jujur saja, aku tidak pernah marah padamu. Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir—dan akhirnya malah menyakiti diriku sendiri. Menyakiti kita. Maaf sayang, aku enggak mau kita kayak gini lagi. Aku tidak mau kita bertengkar lagi.”
“Kamu marah itu karena aku yang memulainya,”
Jordan terkekeh pelan. Ia tidak membalas lagi, melainkan semakin merengkuh tubuh
wanita itu. Bertengkar dengan Lionara merupakan hal yang paling tidak
disukainya. Dia tersiksa harus berjauhan dengan Lionara selama beberapa hari
ini. Kemarin malam ia sudah bertekad jika pagi ini ia sendiri yang akan datang
menemui istrinya untuk meminta maaf. Ia sudah tidak tahan terus mendiamkan Lionara.
Tetapi siapa sangka saat membuka mata, pujaan hatinya sudah ada di depan mata—membuat hatinya dipenuhi kelegaan.
“Aku akan belajar,” Lionara mendongak—menatap manik teduh Jordan “Belajar?”
Jordan mengangguk. Jarinya bergerak menyelipkan untain rambut Lionara ke balik
telinga. “Meski sulit, Aku akan mencoba belajar memaafkan kesalahannya. Tapi hanya sebatas itu. Namun untuk kembali dekat—tidak bisa.”
Lionara jelas tahu siapa yang dimaksud oleh Jordan. Matanya memanas, “Jika hatimu tidak bisa, jangan memaksa. Aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk melakukannya lagi.”
Jordan mengecup bibir Lionara. “Aku tidak terpaksa, sayang. Beberapa hari ini aku
sudah merenungkan semuanya. Memang sudah waktunya aku harus belajar melepaskan semua rasa sakitku. Aku ingin membuka lembaran baru. Tanpa kebencian dan dendam. Lilo juga sudah lama menyuruhku untuk melepaskan hal yang
menyakiti kesehatan mentalku."
Ya, selama beberapa hari mengurung diri di ruang kerjanya, Jordan sebenarnya tidak hanya menyibukkan diri dengan bekerja. Ia merenung dan melakukan konsultasi dengan psikiaternya--Lilo, melalui sambungan telepon.
Lilo menjelaskan jika kondisi mentalnya yang semakin mengkahwatirkan. Jika tidak segera di sembuhkan dengan cepat, perlahan ia akan benar-benar menjadi gila.
Sahabatnya itu juga mengatakan jika istrinya sangat terpukul saat mengetahui kondisi kesehatan mentalnya. Wanitanya itu menangis dan memohon pada Lilo untuk menyembuhkan dirinya. Tapi tetap saja hasilnya akan percuma, jika hanya dokternya saja yang berjuang menyembuhkan, sementara dirinya masih mengeraskan hati.
"Aku ingin sembuh agar kamu tidak sedih lagi...” Jordan berujar parau
Tak kuasa menahan keharuan yang membunca di dada, Lionara meraih tengkuk Jordan dan mencium bibirnya begitu dalam. Ia menangis, bulir bening jatuh dari matanya ketika pada akhirnya suaminya ini bersedia menanggalkan sumber kesakitan dari traumanya. Ini merupakan titik kemajuan yang sangat luar biasa melegakan. Karena dengan begini, tidak menutup kemungkinan perlahan-lahan psikis Jordan akan pulih.
Lionara menyatukan kening mereka, hidung saling bersentuhan. “Kamu berarti untukku, Jo. Kamu dan Jay adalah orang yang paling berarti di hidupku. Aku begitu
mencintaimu, sampai perasaan itu membuatku takut. Aku tidak ingin kehilanganmu jika sampai psikismu semakin parah, hingga kamu tidak mengenali kami lagi.”
Lionara terisak “Terima kasih sayang,”
Mata Jordan berkaca-kaca, mengusap air mata Lionara yang membasahi pipinya. “Aku
lebih mencintaimu dan lebih takut kehilangan kalian berdua. Aku janji akan
berusaha sembuh untuk kalian.”
To be continued
Follow Instagramku yaa @rianitasitumorangg. Aku ada share cerita baru disana. See youuu