
Drett. Drett.
Drett.
Jordan
mendengar ponsel milik istrinya yang berada di atas nakas berbunyi. Ia pun
mencoba meraihnya dengan mata masih setengah terpejam menggunakan satu
tangannya, sementara satu tangannya lagi memeluk Lionara yang tidur di atas dadanya.
Setelah
berhasil mendapatkan ponsel itu, Jordan melihat layarnya menyala karna sebuah
notifikasi dari media sosial Lionara muncul. Jordan mengernyit heran, saat baru
menyadari jika wanita dinginnya ini ternyata memiliki ketertarikan dalam dunia
maya tersebut. Jordan sebenarnya tidak terlalu tertarik—tapi pop up di ponsel
itu benar-benar menganggunya.
Daniel.xander
Jordan
melirik sebentar pada Lionara yang masih terlelap nyenyak. Secara perlahan ia
pun menggeser kepala istrinya agar tertidur di atas bantal.
Jordan
bangun dan turun dari tempat tidurnnya. Ia meraih handuk miliknya semalam dan
melilitkannya di sekitar pinggang untuk menutupi tubuh telanjangnya. Lalu
melangkah menujuh balkon kamar—membuka pintu balkon secara perlahan agar tidak
mengganggu tidur istrinya.
Jordan
membuka direct message itu. Rahangnya
langsung mengeras, sedang matanya berkilat mengerikan saat membaca sebaris
pesan disana.
Besok, temui aku di
rooftop. Ada yang ingin kubicarakan. Tolong, jangan mengabaikanku, flo…
Jordan
menggeram, mengumpat pelan menyadari Lionara masih berkontak dengan bajingan
itu. ia menggulir layar ke atas, membaca kiriman Daniel sebelumnya—tepatnya
kemarin siang saat keduanya di restoran. Jordan terkekeh sumbang, sungguh
setengah mati ia menahan desakan untuk meninju dinding di belakangnya begitu
emosinya semakin naik. Jadi ini alasannya wanita itu membohonginya…
Menahan
diri untuk tidak melempar ponsel Lionara ke bawah sana, Jordan meremasnya keras
sebelum kemudian menghapus pesan bajingan sialan itu. Brengsek. Jordan akan
mempertahankan Lionara—tidak peduli apapun yang harus dia korbankan. Sudah
cukup para sialan itu merampas semua yang dulu dimilikinya. Tidak untuk kali
ini.
Persetan
jika sebelum ini Lionara mencintai si sialan itu. Jordan tidak peduli. Sekarang
Lionara istrinya. Miliknya. Seluruhnya
miliknya.
Mata
Jordan mengamati sosok Lionara di balik selimut dengan tatapan datar. Cukup
lama ia berada dalam posisi itu sampai akhirnya Jordan menarik napas dalam
sebelum naik ke atas tempat tidur secara perlahan, merebahkan dirinya disana
lalu membalik tubuh Lionara yang memunggungi hingga menghadap dirinya
sepenuhnya.
Jordan
menatap lekat wajah mulus istrinya. Wajah lusuh dan nyaris tak terawatt saat
pertama kali dilihatnya itu, semakin hari semakin berlipat kali cantik dan
segar setelah menikah dengannya. Tak heran memang, karna Jordan memberikan
perawatan yang tak tanggung-tanggung untuk istrinya itu—meski Lionara terus
memasang wajah protes padanya.
Lionara
membuka matanya, manik keduanya bertemu. Lionara tersenyum, tangannya membelai
pipi Jordan dengan lembut. Jordan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan
istrinya.
“I miss you…” gumam Lionara dengan suara
getirnya.
Jordan
membuka matanya dengan cepat, perasaannya campur aduk. Jantungnya berdebar saat
mendengar pengakuan Lionara yang sama sekali tidak di perkirakannya. Jordan
meraih tangan Lionara di pipinya, menggenggamnya lembut. Ia membawa tangan
Lionara menujuh bibirnya, berniat menciumnya.
Tapi
Jordan segera menghentikannya, tepat pada saat tangan Lionara berada di depan
bibirnya.
“Daniel…” lanjut Lionara sebelum kembali
memejamkan mata, tidak sadarkan diri.
Jordan
terdiam. Genggaman tangannya pada jemari Lionara terlepas. Kemudian Jordan
tertawa rendah. Tawa yang membuat dadanya malah semakin sesak.
****
Lionara
mengetuk pintu sebelum membukanya. Agak kesulitan sebab satu tangan membawa
cangkir kopi, satu lagi memegang agenda. Ia berhasil masuk dan bisa melihat
Jordan duduk di kursinya, tengah fokus memeriksa beberapa dokumen di mejanya.
Lionara
sampai di depan meja Jordan. Meletakkan kopinya ke meja sambil berkata,
“Kopinya, Pak.” Setelah itu membuka agenda kerja Jordan. Mengingatkan hari ini
ada rapat, selain itu ada janji dengan rekan bisnisnya.
“Batalkan
semuanya.” dingin, Jordan mengucapkannya tanpa mengalihkan fokus dari berkas
dihadapannya.
Lionara
terdiam seketika, ada yang berbeda dari
diri Jordan hari ini—tepatnya sejak saat bangun tadi, Jordan tidak banyak
bicara seperti biasanya, bahkan terkesan dingin padanya.
“Kenapa?”
tanya Lionara, “bukankah rapat ini sangat penting? Kalau mendadak di batalkan
begini akan—“
Tok tok..
Ketukan
di pintu itu membuat Lionara tidak meneruskan ucapannya.
“Selamat
siang, Pak. Ini data-data yang Bapak minta tadi,” ucap seorang staf HRD.
Mendongak,
Jordan menerima berkas itu dan membuka lembar di tangannya.
“Saya
minta tadi pagi, jam segini baru kamu antar?” tanya Jordan dingin.
Staf
wanita itu mengkerut, “Ma-maaf, Pak,” jawabnya gugup
“Ini
peringatan pertama dan terakhir jika kamu masih bekerja selamban ini. Saya
tidak akan mempertahankan orang yang tidak berguna.”
“Ba-baik,
Pak.” wanita itu menunduk ketakutan sebelum undur diri, pergi dengan buru-buru.
Lionara
masih diam di tempatnya, menatapi wajah dingin Jordan yang tak bersahabat.
Bertanya-tanya hal apa yang berhasil menyulutkan kemarahannya itu? biasanya
Jordan akan bersikap sangat ramah kepada para karyawannya, tapi kenapa hari ini
lelaki itu seperti sangat sulit untuk di dekati? Atau mungkin ini ada
hubungannya dengan Daniel yang sekarang telah bergabung di perusahaan ini?
Astaga, ia hampir melupakan sosok lelaki yang sengaja dihindarinya itu kini
berada di satu area dengannya dan Jordan.
“Aku
akan pergi beberapa hari ke Dubai,” kata Jordan yang kini menatap Lionara
“Kapan?”
“Malam
ini.”
Lionara
mengangguk kecil, “Baiklah. Nanti akan kusiapkan barang-barangmu. Ada lagi?”
“Suruh
Sam untuk menyiapkan laporan urgent meeting.” Perintahnya tanpa nada “dan
tolong copy kontrak ini.”
Hanya
mengangguk, Lionara menerima berkas itu dari Jordan kemudian berlalu dari sana.
Sedang Jordan menatap datar punggung Lionara yang perlahan menghilang dari
pandangannya.
Jordan
menarik napas berat, ia meremas berkas di tangannya sampai remuk dalam kepalan
tangannya. Ia menelan salivanya dengan sangat kasar, mencoba menenangkan
hatinya, menahan sesak di dadanya karena wanita yang ia kasihi masih mencintai
pria lain.
****
“Tung-tunggu!”
setengah berteriak Lionara berlari menghampiri lift yang hampir tertutup, tapi
tidak terjadi karna seseorang yang berada di dalam menahannya.
Lionara
mengeratkan beberapa dokumen yang dicopy-nya tadi ke dalam dekapan.
“Terima
ka—sih“ suara Lionara mengambang di udara begitu menatap sosok yang
menolongnya.
“Flo…”
Tertegun,
Lionara menahan napas kala menatap sepasang mata sendu itu—mata yang dulu
bahkan sampai saat ini masih disukainya.
“El,”
“Sejak
tadi aku mencarimu.” Daniel tersenyum, “syukurlah akhirnya kita bertemu
disini.”
“Untuk
apa mencariku?” tanpa sadar Lionara melangkah mundur dan berdiri di sudut lift
“Ada
yang ingin kubicarakan,”
“Kita
sudah berakhir. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”
“Apa
sekarang kamu juga ikut membenciku?”
“Membencimu?”
Lionara mengerutkan kening
“Ya,
kamu tahu bagaimana buruknya hubunganku dengan Jordan. Dia membenciku,
begitupun aku. Lalu sekarang kamu sudah menjadi istrinya, dan tidak menutup
kemungkinan bukan kamu juga ikut membenciku? Aku yakin dia pasti sudah
membicarakan hal yang buruk tentangku padamu.”
“Aku
tidak pernah ikut-ikutan membencimu hanya karna masalah keluarga kalian,” tegas
Lionara
“Lalu
kenapa kamu menghindariku?”
“Sudah
seharusnya begitu, kan?”
Pintu
lift terbuka dan menampilkan rooftop terbuka. Tanpa Lionara sadari, diam-diam
Daniel menekan tombol yang mengarah ke rooftop.
Lionara
membulatkan mata, dan belum sempat ia protes, Daniel lebih dulu menggamit
lengannya lalu setengah menyeretnya keluar dari kotak persegi itu.
“Apa
yang kamu lakukan?!” suara Lionara meninggi dan dengan entakan keras melepas
cekalan Daniel.
“Seharusnya
aku yang bertanya begitu, apa yang sudah kamu lakukan padaku, Flo?!” teriak Daniel
dengan mata memerah. Napasnya memburu, tangannya terkepal diliputi amarah.
Terhenyak,
langkah Lionara diseret mundur. Untuk pertama kalinya Daniel berteriak padanya,
dan itu adalah hal yang tidak pernah dilakukan pria itu sebelumnya. Bahkan aura
Daniel kini terlihat begitu mengintimidasi.
“Hatiku
sakit, Flo.” Lirih Daniel
Mulut
Lionara terkunci. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memperhatikan raut
kesakitan Daniel dengan bulir yang mengalir perlahan.
“Aku
sangat mencintaimu dan mengusahakan segala upaya agar kita bisa terus bersama. Sampai
aku terpaksa mengikuti kemauan Papa agar dia tidak melakukan sesuatu yang bisa
membahayakan dirimu. Di London, aku belajar keras agar bisa membuat Papa bangga
dengan aku bergabung dalam perusahaan keluarga dan bersaing dengan saudara
tiriku. Papa tidak menyukai Jordan karna sikap sombongnya, maka dari itu dia
memilihku untuk perlahan-lahan merebut perusahaan dari tangannya. Aku pernah
mengatakannya padamu dulu, jika aku sama sekali tidak tertarik dengan bisnis
keluargaku. Aku lebih ingin menjadi dokter. Tapi demi bersama dirimu, aku
mengubur mimpiku dan mengikuti keinginan Papa. Kupikir dengan aku bisa
mengambil hati Papa, maka jalan kita untuk bersama akan mulus. Papa akan
menerimamu menjadi kekasihku karna aku bersedia mengikuti kemauannya. Tapi lihat,
apa yang kudapatkan sekarang?” keluh Daniel dengan suara tertekan yang begitu
getir sampai Lionara tak tahan mendengarnya.
“Kau
meninggalkanku. Sekarang apa gunanya lagi aku menduduki perusahaan? Wanita kepada
siapa aku ingin persembahkan sudah menjadi milik orang lain!”
“Maaf…”
parau, hanya itu yang mampu terucap oleh bibir Lionara. Tangannya masih memeluk
erat dokumen di dadanya.
Daniel
menggeleng, “Tidak, Flo… bukan kata itu yang ingin kudengar darimu.” Daniel mendekat
dan meremas lembut bahu Lionara.
Daniel
meraih dagu Lionara hingga wajah basah itu mendongak ke arahnya.
“Tinggalkan
Jordan. Kembalilah padaku.” Pintanya serak penuh permohonan “kalau perlu kita
pergi dari kota ini, dan memulai kehidupan yang baru di tempat lain. Jauh dari
mereka,”
Hening…
Tidak
ada suara, tidak ada sahutan dari Lionara. Wanita itu hanya diam, menatap wajah
Daniel dalam keheningan. Sementara bulir bening dari kedua sudut matanya terus
berjatuhan.
Jemari
Daniel menyusuri wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Lionara tetap tidak
bergerak, masih di posisi yang sama membiarkan Daniel membelai pipinya.
“Aku
ingin bersamamu. Dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah. Kita akan
bahagia hidup bersama”
“Apa
kamu masih percaya kita akan bahagia jika kita bersama?” Lionara melepaskan
tangan Daniel dari wajahnya.
Daniel
mengangguk yakin.
Lionara
tersenyum getir, “Tapi aku tidak.”
“Flo,”
Daniel hendak meraih tubuh Lionara lagi, tapi wanita itu lebih dulu melangkah
mundur darinya.
“Tolong,
lepaskan aku. Kita sudah tidak mungkin bersama, El.” Lionara menggeleng lemah “kamu
bisa menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Aku sudah tidak pantas
untukmu.”
“Persetan,
Flo! Aku maunya kamu,” sentak Daniel “kamu tidak layak bersama pria brengsek
itu.”
“Justru
karna dia brengsek El maka aku harus bersamanya.”
“A-apa?”
suara Daniel tercekat
“Kamu
memiliki segalanya. Kamu baik dan sangat disayangi oleh keluargamu. Kamu mendapatkan
banyak cinta. Tapi tidak dengan Jordan.”
Lionara
menelan salivanya, dan hatinya berdenyut nyeri kala mengingat punggung Jordan
yang berguncang hebat karna menangis.
“Dia
hampir tidak memiliki siapa-siapa kecuali Kakek yang menyayanginya. Hidupnya sama
berantakannya denganku, atau mungkin dia yang jauh lebih menderita. Karna itu
aku tidak bisa meninggalkannya.” ucap Lionara, nyaris tidak terdengar.
Daniel
memundurkan langkah, sakit yang tak terdefinisikan menghujam jantungnya
keras-keras. Semuanya terlalu jelas untuk di sangkal.
“Kamu
menyukainya?” bibir Daniel mengeras
Lionara
mendongak, “Maafkan aku. Dan terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku
sebesar ini.”
Lionara
berbalik, menghela langkahnya ke depan. Pun dengan Daniel, yang tidak
mengucapkan sepatah kata pun suara—kecuali menatap punggungnya yang kian
menjauh dengan perasaan yang remuk redam.
**To be continued
IG: @rianitasitumorangg**