JORDAN

JORDAN
Chapter 21



Drett. Drett.


Drett.


Jordan


mendengar ponsel milik istrinya yang berada di atas nakas berbunyi. Ia pun


mencoba meraihnya dengan mata masih setengah terpejam menggunakan satu


tangannya, sementara satu tangannya lagi memeluk Lionara yang tidur di atas dadanya.


Setelah


berhasil mendapatkan ponsel itu, Jordan melihat layarnya menyala karna sebuah


notifikasi dari media sosial Lionara muncul. Jordan mengernyit heran, saat baru


menyadari jika wanita dinginnya ini ternyata memiliki ketertarikan dalam dunia


maya tersebut. Jordan sebenarnya tidak terlalu tertarik—tapi pop up di ponsel


itu benar-benar menganggunya.


Daniel.xander


Jordan


melirik sebentar pada Lionara yang masih terlelap nyenyak. Secara perlahan ia


pun menggeser kepala istrinya agar tertidur di atas bantal.


Jordan


bangun dan turun dari tempat tidurnnya. Ia meraih handuk miliknya semalam dan


melilitkannya di sekitar pinggang untuk menutupi tubuh telanjangnya. Lalu


melangkah menujuh balkon kamar—membuka pintu balkon secara perlahan agar tidak


mengganggu tidur istrinya.


Jordan


membuka direct message itu. Rahangnya


langsung mengeras, sedang matanya berkilat mengerikan saat membaca sebaris


pesan disana.


Besok, temui aku di


rooftop. Ada yang ingin kubicarakan. Tolong, jangan mengabaikanku, flo…


Jordan


menggeram, mengumpat pelan menyadari Lionara masih berkontak dengan bajingan


itu. ia menggulir layar ke atas, membaca kiriman Daniel sebelumnya—tepatnya


kemarin siang saat keduanya di restoran. Jordan terkekeh sumbang, sungguh


setengah mati ia menahan desakan untuk meninju dinding di belakangnya begitu


emosinya semakin naik. Jadi ini alasannya wanita itu membohonginya…


Menahan


diri untuk tidak melempar ponsel Lionara ke bawah sana, Jordan meremasnya keras


sebelum kemudian menghapus pesan bajingan sialan itu. Brengsek. Jordan akan


mempertahankan Lionara—tidak peduli apapun yang harus dia korbankan. Sudah


cukup para sialan itu merampas semua yang dulu dimilikinya. Tidak untuk kali


ini.


Persetan


jika sebelum ini Lionara mencintai si sialan itu. Jordan tidak peduli. Sekarang


Lionara istrinya. Miliknya. Seluruhnya


miliknya.


Mata


Jordan mengamati sosok Lionara di balik selimut dengan tatapan datar. Cukup


lama ia berada dalam posisi itu sampai akhirnya Jordan menarik napas dalam


sebelum naik ke atas tempat tidur secara perlahan, merebahkan dirinya disana


lalu membalik tubuh Lionara yang memunggungi hingga menghadap dirinya


sepenuhnya.


Jordan


menatap lekat wajah mulus istrinya. Wajah lusuh dan nyaris tak terawatt saat


pertama kali dilihatnya itu, semakin hari semakin berlipat kali cantik dan


segar setelah menikah dengannya. Tak heran memang, karna Jordan memberikan


perawatan yang tak tanggung-tanggung untuk istrinya itu—meski Lionara terus


memasang wajah protes padanya.


Lionara


membuka matanya, manik keduanya bertemu. Lionara tersenyum, tangannya membelai


pipi Jordan dengan lembut. Jordan memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan


istrinya.


“I miss you…” gumam Lionara dengan suara


getirnya.


Jordan


membuka matanya dengan cepat, perasaannya campur aduk. Jantungnya berdebar saat


mendengar pengakuan Lionara yang sama sekali tidak di perkirakannya. Jordan


meraih tangan Lionara di pipinya, menggenggamnya lembut. Ia membawa tangan


Lionara menujuh bibirnya, berniat menciumnya.


Tapi


Jordan segera menghentikannya, tepat pada saat tangan Lionara berada di depan


bibirnya.


“Daniel…” lanjut Lionara sebelum kembali


memejamkan mata, tidak sadarkan diri.


Jordan


terdiam. Genggaman tangannya pada jemari Lionara terlepas. Kemudian Jordan


tertawa rendah. Tawa yang membuat dadanya malah semakin sesak.


****


Lionara


mengetuk pintu sebelum membukanya. Agak kesulitan sebab satu tangan membawa


cangkir kopi, satu lagi memegang agenda. Ia berhasil masuk dan bisa melihat


Jordan duduk di kursinya, tengah fokus memeriksa beberapa dokumen di mejanya.


Lionara


sampai di depan meja Jordan. Meletakkan kopinya ke meja sambil berkata,


“Kopinya, Pak.” Setelah itu membuka agenda kerja Jordan. Mengingatkan hari ini


ada rapat, selain itu ada janji dengan rekan bisnisnya.


“Batalkan


semuanya.” dingin, Jordan mengucapkannya tanpa mengalihkan fokus dari berkas


dihadapannya.


Lionara


terdiam seketika,  ada yang berbeda dari


diri Jordan hari ini—tepatnya sejak saat bangun tadi, Jordan tidak banyak


bicara seperti biasanya, bahkan terkesan dingin padanya.


“Kenapa?”


tanya Lionara, “bukankah rapat ini sangat penting? Kalau mendadak di batalkan


begini akan—“


Tok tok..


Ketukan


di pintu itu membuat Lionara tidak meneruskan ucapannya.


“Selamat


siang, Pak. Ini data-data yang Bapak minta tadi,” ucap seorang staf HRD.


Mendongak,


Jordan menerima berkas itu dan membuka lembar di tangannya.


“Saya


minta tadi pagi, jam segini baru kamu antar?” tanya Jordan dingin.


Staf


wanita itu mengkerut, “Ma-maaf, Pak,” jawabnya gugup


“Ini


peringatan pertama dan terakhir jika kamu masih bekerja selamban ini. Saya


tidak akan mempertahankan orang yang tidak berguna.”


“Ba-baik,


Pak.” wanita itu menunduk ketakutan sebelum undur diri, pergi dengan buru-buru.


Lionara


masih diam di tempatnya, menatapi wajah dingin Jordan yang tak bersahabat.


Bertanya-tanya hal apa yang berhasil menyulutkan kemarahannya itu? biasanya


Jordan akan bersikap sangat ramah kepada para karyawannya, tapi kenapa hari ini


lelaki itu seperti sangat sulit untuk di dekati? Atau mungkin ini ada


hubungannya dengan Daniel yang sekarang telah bergabung di perusahaan ini?


Astaga, ia hampir melupakan sosok lelaki yang sengaja dihindarinya itu kini


berada di satu area dengannya dan Jordan.


“Aku


akan pergi beberapa hari ke Dubai,” kata Jordan yang kini menatap Lionara


“Kapan?”


“Malam


ini.”


Lionara


mengangguk kecil, “Baiklah. Nanti akan kusiapkan barang-barangmu. Ada lagi?”


“Suruh


Sam untuk menyiapkan laporan urgent meeting.” Perintahnya tanpa nada “dan


tolong copy kontrak ini.”


Hanya


mengangguk, Lionara menerima berkas itu dari Jordan kemudian berlalu dari sana.


Sedang Jordan menatap datar punggung Lionara yang perlahan menghilang dari


pandangannya.


Jordan


menarik napas berat, ia meremas berkas di tangannya sampai remuk dalam kepalan


tangannya. Ia menelan salivanya dengan sangat kasar, mencoba menenangkan


hatinya, menahan sesak di dadanya karena wanita yang ia kasihi masih mencintai


pria lain.


****


“Tung-tunggu!”


setengah berteriak Lionara berlari menghampiri lift yang hampir tertutup, tapi


tidak terjadi karna seseorang yang berada di dalam menahannya.


Lionara


mengeratkan beberapa dokumen yang dicopy-nya tadi ke dalam dekapan.


“Terima


ka—sih“ suara Lionara mengambang di udara begitu menatap sosok yang


menolongnya.


“Flo…”


Tertegun,


Lionara menahan napas kala menatap sepasang mata sendu itu—mata yang dulu


bahkan sampai saat ini masih disukainya.


“El,”


“Sejak


tadi aku mencarimu.” Daniel tersenyum, “syukurlah akhirnya kita bertemu


disini.”


“Untuk


apa mencariku?” tanpa sadar Lionara melangkah mundur dan berdiri di sudut lift


“Ada


yang ingin kubicarakan,”


“Kita


sudah berakhir. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”


“Apa


sekarang kamu juga ikut membenciku?”


“Membencimu?”


Lionara mengerutkan kening


“Ya,


kamu tahu bagaimana buruknya hubunganku dengan Jordan. Dia membenciku,


begitupun aku. Lalu sekarang kamu sudah menjadi istrinya, dan tidak menutup


kemungkinan bukan kamu juga ikut membenciku? Aku yakin dia pasti sudah


membicarakan hal yang buruk tentangku padamu.”


“Aku


tidak pernah ikut-ikutan membencimu hanya karna masalah keluarga kalian,” tegas


Lionara


“Lalu


kenapa kamu menghindariku?”


“Sudah


seharusnya begitu, kan?”


Pintu


lift terbuka dan menampilkan rooftop terbuka. Tanpa Lionara sadari, diam-diam


Daniel menekan tombol yang mengarah ke rooftop.


Lionara


membulatkan mata, dan belum sempat ia protes, Daniel lebih dulu menggamit


lengannya lalu setengah menyeretnya keluar dari kotak persegi itu.


“Apa


yang kamu lakukan?!” suara Lionara meninggi dan dengan entakan keras melepas


cekalan Daniel.


“Seharusnya


aku yang bertanya begitu, apa yang sudah kamu lakukan padaku, Flo?!” teriak Daniel


dengan mata memerah. Napasnya memburu, tangannya terkepal diliputi amarah.


Terhenyak,


langkah Lionara diseret mundur. Untuk pertama kalinya Daniel berteriak padanya,


dan itu adalah hal yang tidak pernah dilakukan pria itu sebelumnya. Bahkan aura


Daniel kini terlihat begitu mengintimidasi.


“Hatiku


sakit, Flo.” Lirih Daniel


Mulut


Lionara terkunci. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memperhatikan raut


kesakitan Daniel dengan bulir yang mengalir perlahan.


“Aku


sangat mencintaimu dan mengusahakan segala upaya agar kita bisa terus bersama. Sampai


aku terpaksa mengikuti kemauan Papa agar dia tidak melakukan sesuatu yang bisa


membahayakan dirimu. Di London, aku belajar keras agar bisa membuat Papa bangga


dengan aku bergabung dalam perusahaan keluarga dan bersaing dengan saudara


tiriku. Papa tidak menyukai Jordan karna sikap sombongnya, maka dari itu dia


memilihku untuk perlahan-lahan merebut perusahaan dari tangannya. Aku pernah


mengatakannya padamu dulu, jika aku sama sekali tidak tertarik dengan bisnis


keluargaku. Aku lebih ingin menjadi dokter. Tapi demi bersama dirimu, aku


mengubur mimpiku dan mengikuti keinginan Papa. Kupikir dengan aku bisa


mengambil hati Papa, maka jalan kita untuk bersama akan mulus. Papa akan


menerimamu menjadi kekasihku karna aku bersedia mengikuti kemauannya. Tapi lihat,


apa yang kudapatkan sekarang?” keluh Daniel dengan suara tertekan yang begitu


getir sampai Lionara tak tahan mendengarnya.


“Kau


meninggalkanku. Sekarang apa gunanya lagi aku menduduki perusahaan? Wanita kepada


siapa aku ingin persembahkan sudah menjadi milik orang lain!”


“Maaf…”


parau, hanya itu yang mampu terucap oleh bibir Lionara. Tangannya masih memeluk


erat dokumen di dadanya.


Daniel


menggeleng, “Tidak, Flo… bukan kata itu yang ingin kudengar darimu.” Daniel mendekat


dan meremas lembut bahu Lionara.


Daniel


meraih dagu Lionara hingga wajah basah itu mendongak ke arahnya.


“Tinggalkan


Jordan. Kembalilah padaku.” Pintanya serak penuh permohonan “kalau perlu kita


pergi dari kota ini, dan memulai kehidupan yang baru di tempat lain. Jauh dari


mereka,”


Hening…


Tidak


ada suara, tidak ada sahutan dari Lionara. Wanita itu hanya diam, menatap wajah


Daniel dalam keheningan. Sementara bulir bening dari kedua sudut matanya terus


berjatuhan.


Jemari


Daniel menyusuri wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Lionara tetap tidak


bergerak, masih di posisi yang sama membiarkan Daniel membelai pipinya.


“Aku


ingin bersamamu. Dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah. Kita akan


bahagia hidup bersama”


“Apa


kamu masih percaya kita akan bahagia jika kita bersama?” Lionara melepaskan


tangan Daniel dari wajahnya.


Daniel


mengangguk yakin.


Lionara


tersenyum getir, “Tapi aku tidak.”


“Flo,”


Daniel hendak meraih tubuh Lionara lagi, tapi wanita itu lebih dulu melangkah


mundur darinya.


“Tolong,


lepaskan aku. Kita sudah tidak mungkin bersama, El.” Lionara menggeleng lemah “kamu


bisa menemukan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Aku sudah tidak pantas


untukmu.”


“Persetan,


Flo! Aku maunya kamu,” sentak Daniel “kamu tidak layak bersama pria brengsek


itu.”


“Justru


karna dia brengsek El maka aku harus bersamanya.”


“A-apa?”


suara Daniel tercekat


“Kamu


memiliki segalanya. Kamu baik dan sangat disayangi oleh keluargamu. Kamu mendapatkan


banyak cinta. Tapi tidak dengan Jordan.”


Lionara


menelan salivanya, dan hatinya berdenyut nyeri kala mengingat punggung Jordan


yang berguncang hebat karna menangis.


“Dia


hampir tidak memiliki siapa-siapa kecuali Kakek yang menyayanginya. Hidupnya sama


berantakannya denganku, atau mungkin dia yang jauh lebih menderita. Karna itu


aku tidak bisa meninggalkannya.” ucap Lionara, nyaris tidak terdengar.


Daniel


memundurkan langkah, sakit yang tak terdefinisikan menghujam jantungnya


keras-keras. Semuanya terlalu jelas untuk di sangkal.


“Kamu


menyukainya?” bibir Daniel mengeras


Lionara


mendongak, “Maafkan aku. Dan terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku


sebesar ini.”


Lionara


berbalik, menghela langkahnya ke depan. Pun dengan Daniel, yang tidak


mengucapkan sepatah kata pun suara—kecuali menatap punggungnya yang kian


menjauh dengan perasaan yang remuk redam.


**To be continued


IG: @rianitasitumorangg**