
“Selamat Nak, sekarang kamu resmi menjadi pemilik sah seluruh aset keluarga kita,”
Rikkard menjabat tangan Jordan kemudian memeluknya erat.
Saat ini, di mansion Rikkard, seluruh anak, cucu dan para menantunya berkumpul di
ruang keluarga dengan tujuan penyerahan hak ahli waris ke tangan Jordan—sesuai
dengan kesepakatan bahwa warisan itu akan diberikan setelah Jordan memiliki
anak. Dan hari yang dinantikan itu telah tiba. Jordan baru saja menandatangini
seluruh dokumen pengalihan warisan tersebut menjadi atas namanya di bawah
arahan pengacara pribadi Rikkard.
Secara merata, property maupun warisan lain telah dibagikan adil kepada cucunya yang
lain. Namun untuk saham utama dan property yang lebih besar jatuh kepada Jordan Matthew Christoper—sebagai cucu pertama di dalam keluarga tersebut.
Dalam pertemuan itu, ada berbagai macam ekspresi yang dapat terlihat. Jika Rikkard, Lidya, Rossalyn, Lionara, Gerald, dan Jesica mengukir senyum, maka lain halnya dengan Daniel dan Jack yang hanya menatap datar, sedang Josep dengan tatapan yang sulit
diartikan.
“Tidak perlu berlebihan seperti ini, Kek,” Jordan mengurai pelukan mereka “Aku
sebenarnya tidak mengharapkan warisan kakek. Tanpa warisan ini pun, aku sudah
sangat kaya dengan bisnisku yang lain.” Pongahnya seperti biasa “But, thanks to you grandpa, for trust me to
handle this all.” Jordan merangkul gemas tubuh tua renta Rikkard
“You’re welcome, son. You deserve to have
this. Kakek yakin, ditanganmu Christoper’s
Corps akan semakin berkembang,”
Rikkard memuji tulus. Dia memang sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki cucu
pertamanya itu. Diantara cucu lelakinya, Jordanlah lebih unggul dalam banyak
hal. Dalam bidang akademik, pekerjaan, olahraga, talenta bahkan rupa sekalipun.
Ia nyaris sempurna. Gen dari Josep dan Grace adalah suatu kepaduan sempurna
yang diturunkan pada Jordan. Kecuali kepribadian gelap lelaki itu, yang sangat
merepotkan jika kumat.
“Aw, how cute you are, sir,” Jordan
mendramatsir—mencium pipi Rikkard. Keduanya seakan melupakan kehadiran yang anggota
lainnya disana.
Pemandangan hangat itu tak luput dari pengamatan Josep. Terhadap Rikkard, Jordan selalu
berkelakuan sopan dan manis—sifat hangat itu hanya tertujuh kepada kakeknya,
bukan dirinya. Josep tidak menampik, jika ia mencemburui ayahnya sendiri.
Kepadanya, putranya itu sangat kasar dan tidak sopan. Mereka tidak pernah
berinteraksi layaknya ayah dan anak yang normal, kecuali saling mengintimidasi
dan menarik urat.
Josep berdehem, “Bisa kita akhiri pertemuan ini? Sudah selesai bukan?” Josep beranjak
dari kursinya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
“Kenapa buru-buru sekali. Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan hidangan istimewa
untuk kita. Sebaiknya kita makan malam dahulu,” timpal Rikkard
“Sikembar sudah merengek dari tadi, dad. Meminta kami agar segera pulang. Mungkin lain kali saja,” Josep mengulurkan tangannya pada Rossalyn “Ayo, sayang.” Rossalyn menurut.
“Aku juga sangat lelah. Maaf kek, tidak bisa bergabung” ujar Daniel yang juga
bangkit berdiri.
“Ah, aku juga memiliki acara dengan teman-temanku, Kek. Aku harus pergi sekarang,” kali ini Jack ikutan.
Rikkard hendak membuka mulut tapi kemudian mengatupkannya lagi. Ah, sudahlah. Percuma
juga ia menahan. Ia sudah menebak situasi mereka akan berakhir seperti ini. Ia
hanya bisa menghela nafas dan berucap, “Ya sudah. Kalian berhati-hatilah
dijalan. Titip salam untuk cucuku si kembar,”
“Baik, Dad,” Rossalyn menyahuti. “kalau begitu kami permisi semua,”
Sementara itu, Jordan menyeringai sinis. Dan sebelum langkah mereka semakin jauh, kalimat
sarkasnya berhasil menghentikan mereka.
“Tidak ingin mengucapkan selamat dulu padaku Tuan Josep yang terhormat?”
Josep bergeming sesaat. Kemudian berbalik menghadap putra congkaknya.
“Maaf, aku lupa. Kalau begitu kuucapkan selamat untukmu. Semoga kamu bisa mengelola
semua yang di percayakan keluarga ini padamu dengan baik. Kami duluan.” Josep
kembali berbalik melangkah keluar, namun…
“Aku belum mendengar ucapan selamat dari wanita kesayangan dan putra tercintamu,”
Jordan sengaja menyulut. Sedang Lionara sudah menatapnya antisipasi dengan Jay
yang berada dalam pangkuannya.
Bukan hanya Josep dan Rossalyn yang berhenti, kali ini Daniel pun melakukan hal
sama—Jack pun tak urung ikut berhenti, kemudian keempatnya berbalik.
“Apa kau begitu haus akan pujian?” sarkas Daniel dingin
Jordan mengangkat bahu santai, “Hanya berlaku untuk kalian,”
Daniel mengepalkan tangan kuat. Rossalyn melihat itu.
“Selamat untukmu, nak. Kami turut bahagia,” Rossalyn menengahi dengan senyum hangatnya
“Siapa yang kau panggil dengan sebutan Nak?” Jordan menaikkan alis, “Jalang sepertimu tidak pantas mengatakannya!”
“Jo!” peringat Lionara
“Hati-hati mulutmu kalau bicara!” desis Daniel, rahangnya mengeras.
“Jordan, daddy sedang tidak ingin ribut denganmu sekarang. Ini hari bahagiamu. Sebaiknya
lakukan lain kali.” Josep berusaha menekan emosinya
“Kenapa? Anda takut?” Jordan tersenyum mengejek “Bukankah memang benar jika wanita anda adalah
seorang jalang dan sok paling suci. Bersikap seperti malaikat, tapi kenyatannya
iblis betina! How awesome,” Jordan
meluda ke samping “bahkan dia dan seluruh keluarganya tak ubahnya dengan
kotoran. Sangat menjijikkan!”
“Jordan, hentikan. Kata-katamu sudah keterlaluan, nak!” Rikkard memperingati dengan tatapan lelah. Pertemuan keluarga mereka selalu begini. Mulut beracun Jordan
memang tak pernah absen untuk mengadu perang.
“Siapa sebenarnya disini yang keterlaluan, Kek? Coba tanyakan pada iblis betina itu!”
suara Jordan meninggi sambil menunjuk tepat ke arah Rossalyn yang kini sudah
berurai air mata.
“Bedebah!!” gelegar Daniel tiba-tiba—dalam seperkian detik berhasil menunjang keras tepat
di dada Jordan yang tertembak.
Bug!
Pekikan histeris seketika menggema. Tubuh Jordan terlempar keras ke dinding. Lelaki itu
meringis sambil memegangi dadanya.
Tak memberi kesempatan, Daniel kembali meninju Jordan membabi-buta. Kemarahannya sudah
diubun-ubun, tak terbendung lagi. Dia paling benci jika ibunya direndahkan
seperti itu, bahkan yang mengatainya selalu saja orang yang sama. Sedang Jordan
masih belum melakukan serangan balik. Ditengah ringisannya, ia sangat menikmati
raut kemarahan Daniel. Seperti hiburan tersendiri baginya.
“Sudah kuperingatkan berulang kali, jangan pernah mengatakan ibuku dengan sebutan
menjijikkan itu!” Daniel menduduki tubuh Jordan.
Bug!
Bug! Bug!!!
Napas Daniel tersengal, rahang mengeras penuh emosi yang jarang ia perlihatkan.
Selama ini ia sudah cukup bersabar dengan kelakuan semena-mena saudara tirinya
ini. Daniel pikir dengan mengikhlaskan Lionara kepada Jordan, maka lelaki itu
akan berubah dan berhenti mengusik ibunya. Tapi nyatanya tidak sekalipun.
“Sudah puas?” desis Jordan, menyeka kasar darah diujung bibirnya yang sobek. Kemudian
dalam sekali hentakan ia membalik keadaan. Kini Jordan berada diatas tubuh
Daniel dan langsung meninju wajah Daniel kesetanan. Tak sekalipun ia memberikan
Daniel kesempatan untuk membalasnya.
Semua orang yang ada disana tidak bisa menahan kedua pria tersebut yang mulai babak belur dan menghancurkan ruang keluarga itu.
“Apa kau benar-benar tolol atau pura-pura idiot—tidak bisa melihat kelakuan bejat
ibumu sendiri, huh?!” Jordan meludahkan darahnya ke samping “keluarga ibumu
benar-benar setan! Setelah wanita itu menghancurkan ibuku, kini kakaknya yang
kembali melayangkan hantaman keras.
Krakk!!
Tanpa ampun, Jordan memutar tangan kiri Daniel hingga menimbulkan bunyi tulang patah. Teriakan histeris kembali menggema.
“Daniel!!!”
Lionara yang melihat kekalapan Jordan dan segala umpatannya, bergeming di tempat—teralu
terkejut melihat kemarahan Jordan yang paling parah selama setahun lebih ia
mengenalnya. Lionara tahu kalau Jordanlah yang akan keluar sebagai pemenang.
Meskipun Daniel kuat tapi dia tetap saja tidak dapat menandingi kekuatan
beladiri Jordan. Daniel tidak sekejam Jordan yang sepertinya ingin melenyapkan
lelaki itu dari dunia ini.
Brakkk
Tiba-tiba tubuh Jordan kembali menghantam dinding. Tidak. Balasan itu bukan dari Daniel,
melainkan Josep yang kini menatap berang pada putranya sendiri.
Josep mencengkram kerah Jordan. Ayah dan anak itu saling bertatapan garang.
“Apa kau sudah kehilangan kewarasanmu, HAH??!”
BUG…BUG…BUG!!!
Josep meninju dan menendang Jordan berulang-ulang, tanpa ampun. Kekuatan keduanya sama hebatnya. “Selama ini, aku sudah terlalu sabar menghadapimu! Aku selalu memperbaiki semua kerusakkan yang kau perbuat, tapi tak henti-hentinya kau
menimbulkan masalah untukku! Apa sebenarnya yang ada di otakmu, brengsek!!”
PRANGG
Tubuh Jordan terpelanting—menghantam guci besar disudut ruangan hingga pecah
berkeping-keping. Ruangan itu tak ayal sudah dipenuhi oleh banyaknya darah yang
mengenang. Entah dari Daniel ataupun Jordan.
“JOSEP!! APA KAU SUDAH GILA, HAHH???!” raung Rikkard, tubuhnya bergetar, matanya basah. Ia sudah tidak tahan lagi melihat kegilaan ayah dan anak itu.
Sementara yang lainnya hanya bisa mematung dengan kengerian yang luar biasa. Rossalyn
tidak mempedulikan. Sejak tadi ia tak hentinya menangisi Daniel yang sudah
terkapar sambil menyeka darah yang terus keluar dari tubuh putranya. Di lain
sisi, Lionara segera menyerahkan putranya pada perawat untuk dibawa ke kamar.
Jordan tertawa rendah dengan tatapan mengejeknya—susah payah ia berusaha bangkit, berdiri berhadap-hadapan dengan Josep yang menatapnya nyalang. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang menyadari jika saat ini tubuh Josep tremor.
Jantungnya berdebar hebat seperti dirajam, air matanya jatuh membasahi
sepanjang ia menerjang darah dagingnya sendiri.
“Kenapa berhenti? Ayo, lakukan lagi. Puaskan diri anda.” Jordan kembali menantang,
padahal tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah. “Aku memberimu kesempatan untuk
membunuhku. Bukankah akan sangat menyenangkan jika sudah melenyapkanku? Dengan begitu hidup anda akan sangat damai. Tidak aka nada lagi anak sial yang
mengusik kebahagiaan jalang dan anak-anak sialanmu!”
Josep menatap lurus pada Jordan. Tangannya dikepal begitu kuat. Ia memejamkan mata
sesaat, lalu membukanya. Ia sangat lelah dengan keadaan ini.
“Katakan, apa sebenarnya yang kau inginkan?” serak, Josep bertanya nyaris tak terdengar
Jordan terkekeh rendah, “Anda bertanya apa yang kuinginkan?” Jordan memiringkan
kepalanya. Terdiam sejenak. “Bagaimana dengan nyawa anda? Sejak dulu itulah
yang kuinginkan.”
Josep menelan ludahnya. Matanya basah. “Maka lakukan.” rendah, Josep seakan sudah pasrah. “Lakukan jika itu bisa membuatmu puas dan berhenti bertingkah gila. Cukup lampiaskan padaku. Jangan yang lain. Mereka sama sekali tidak bersalah. Aku
yang berdosa padamu.”
Hening.
“Josep… kumohon jangan…” Rossalyn menggeleng terisak
“Kak, hentikan semua ini! bisakah kalian berdamai saja? Oh Tuhan…” kali ini Lidya
yang bersuara, menangis tanpa suara. Gerald segera memeluk istrinya.
“Bunuh saja aku jika diantara kalian tidak ada yang berhenti! Kekacauan ini semua
berasal dariku!” Rikkard terduduk, menunduk dengan tubuh bergetar.
“Kak Jo…” Jesica menggeleng, sesenggukan
Bergeming. Ayah dan anak itu masih saling menatap. Josep dengan tatapan teduh dan
lelahnya, sedang Jordan, tak seorang pun yang mampu mengartikan tatapannya
tersebut.
“Baik. Dengan senang hati saya lakukan,” desis Jordan, seringaian mengerikan itu
muncul.
“Do it.” tegas Josep
Jordan mundur. Berbalik, ia melangkah sempoyongan karena mau mengambil pecahan kaca
paling besar yang berserakan di lantai.
Semua yang menyaksikan itu langsung terkesiap—membekap mulut ketakutan, tak menyangka
Jordan akan serius melakukannya.
Tidak! Tidak!
Jordan tidak boleh membunuh Josep.
Josep tidak boleh mati. Jordan tidak boleh menghancurkan hidupnya dan berakhir
menyesali diri seumur hidup karena
membunuh ayah kandungnya sendiri.
Tanpa berpikir lagi, Lionara berlari mendahului Jordan yang sudah kembali mendekati
Josep yang hanya berdiri mematung ditempatnya. Wajah Josep terlihat lebih
kepada pasrah daripada menghindar.
Selangkah lagi Jordan mencapai Josep, lalu…
PLAKK
Tamparan keras mendarat di wajah Jordan. Kepala lelaki itu tertoleh kesamping. Sudut
bibirnya kembali mengeluarkan darah segar.
“Cukup… dia Ayahmu.” tekan Lionara, menatap tepat di manik Jordan yang kosong.
Lionara melirik kebawah, menatap tangan Jordan yang memegang kaca dengan tangannya yang juga berlumuran darah.
Ia kembali mendongak, “Jangan membuat
dirimu menjadi menyesal seumur hidup hanya karena menuntaskan segala rasa
sakitmu. Kamu tidak akan pernah sembuh dengan cara demikian.”
Jordan berdiri tanpa ekspresi menunduk menatap Lionara, tangannya mulai menggenggam pecahan kaca tersebut makin kuat hingga darah mulai menetes ke atas lantai.
“Minggir,” titah Jordan dengan suara yang terdengar mengerikan.
Lionara bergeming. “Berjanjilah untuk tidak melakukannya. Atau aku dan Jay akan
meninggalkanmu.”
Lionara tidak mau hidup Jordan semakin hancur hanya karena membunuh sumber
kebenciannya.
“Dia dan keluarganya harus mati. Mereka semua sudah menghancurkan hidupku. Terlebih
wanita jalang dan kakak biadabnya itu!”
“Apa maksudmu?” tanya Josep yang sejak tadi merasa terganggu dengan kalimat Jordan yang sejak tadi melibatkan kakak dari istrinya.
“Anda tidak tahu atau berpura-pura tolol?” sarkas Jordan
“Aku memang tidak tahu apa-apa,” sahut Josep
“RICHARD, KAKAK IPAR BIADABMU ITU MINGGU LALU MENGINCAR NYAWA KELUARGAKU, SIALAN!!!”
bentak Jordan murka, urat-uratnya menonjol dengan keseluruhan wajah memerah.
Jordan hendak kembali menerjang Josep, namun Lionara lebih dahulu mendekap tubuh suaminya yang teremor parah. “Cukup, Jo! Hentikan… kumohon. Demi aku dan Jay…” Lionara memejamkan matanya gemetar. Sementara tangannya terus mengusapi punggung Jordan agar pria itu tenang.
“Pulang. Kita pulang ya sayang…” bisik Lionara—membujuk dan semakin mendekapnya erat.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yahh ^^
See yaaa
...Jordan Matthew Christoper...
...Lionara Florentine...
...Josep & Rossalyn...
...(Sweet Couple)...