
Ponsel yang sedari tadi berada dalam genggamannya langsung terjatuh dengan sekenanya saat mendapati pemandangan yang tak sangat ingin dilihatnya. Lionara merasa kekuatannya tiba-tiba diambil paksa dari dalam dirinya.
Tes.
Air mata wanita itu kembali menetes. Tangan dingin Lionara bergerak membekap
mulutnya sendiri agar suara isakannya tidak terlalu terdengar. Di depan matanya
saat ini, Lionara bisa melihat pasangan itu tak kunjung beranjak dari posisi
menjijikkan mereka meski suara Lionara sudah sampai ke telinga mereka. Punggung
pria itu terlihat jelas sangat tegang—kakuh dan nyaris tak bergerak. Mungkin
terlalu syok karena pergulatan panas mereka di interupsi oleh Lionara.
“Jadi… begini cara kamu membalasku?” serak Lionara
Hening.
“Kamu begitu marah hanya karena melihatku berpelukan dengan Daniel, yang bahkan aku sendiri sudah menjelaskan puluhan kali padamu jika pelukan itu tidak ada arti apa-apa. Tapi kamu masih mengeraskan hati.” Lionara menelan ludahnya susah payah, terasa sangat menyakitkan. “Sejak tadi aku begitu cemas menunggumu di rumah—takut kamu berbuat hal yang lebih gila lagi seperti yang sudah-sudah. Dan ternyata benar… kamu menuntaskan kegilaanmu dengan hal yang paling menjijikkan!”
Masih diam. Pria itu enggan mengeluarkan suara dan belum beranjak dari
posisinya—membuat emosi Lionara memuncak dengan kedua tangan yang mengepal jemarinya yang memutih hingga ke kuku. Perut Lionara bergolak, dia ingin
muntah, tetapi tidak ada yang keluar selain rasa jijik dan sakit hatinya yang kian besar.
Aaaarrrgghhhh!!!
“KENAPA HANYA DIAM SAJA BRENGSEK?!” histeris Lionara membahana “APA KAMU TIDAK AKAN BERANJAK DARI POSISI MENJIJIKKANMU ITU, HAHH??!”
Dengan emosi tak terkendali dan napas memburu, Lionara hendak menerjang kedua mahluk itu tetapi seseorang tiba-tiba menarik lengannya kuat, membuat tubuhnya
melayang dan berakhir menubruk dada keras pelaku yang merenggut tubuhnya itu.
Lionara meronta dan memukul membabi buta dada orang itu, tapi sama sekali tak
membuahkan hasil. Tangan kekar pria itu justru semakin mengeratkan rengkuhannya
dan menekan kepala Lionara ke dadanya.
“Siapa kamu?! Lepaskan aku sialan—“
“Diamlah, Mommy. Mulutmu semakin pandai mengumpat ya,”
Deg!
Suara ini… Jordan?
Lionara membeku. Jantungnya berdebar hebat, cengkramannya di kemeja pria itu mengencang. Was-was, Lionara mendongak dan sorotnya langsung berhadapan dengan manik biru yang juga tengah menatapnya intens.
“Jo?” lirihnya dengan mata mengerjap linglung
“Hm”
Tangan Lionara terangkat merangkum sebelah wajah Jordan—memastikan pengelihatannya saat ini tidaklah salah.
“Kalau ini kamu… lalu yang disana…” terhenti, Lionara memutar kepalanya untuk melihat
kembali pria yang sudah disangkanya suaminya. Namun tak sempat melihat,
kepalanya sudah ditahan oleh Jordan hingga menghadapnya kembali.
“Mau mati ya? Berani sekali kamu melihat tubuh telanjang yang bukan milik suamimu.” Jordan menggeram tak suka.
Lionara menelan salivanya. “Tapi i-itu disana-,”
“Kamu salah sasaran.” Jordan berucap datar
“Hah?”
Jordan berdecak. Menenggelamkan kembali kepala istrinya ke dadanya.
“Lanjutkan kembali aktivitas kalian.” titah Jordan datar tanpa sudi meminta maaf, kemudian membawa istrinya keluar dari ruangan itu.
****
Jordan dan Lionara sampai di rumah tepat pukul 12 tengah malam. Selama dalam
perjalanan bahkan sampai rumah pun tidak ada yang berbicara. Jordan yang cukup
peka, menyadari jika istrinya itu sekarang malah berbalik marah padanya. Terbukti
dari wajah basah perempuan itu yang berulang kali ia seka kasar dan tak
sekalipun bersedia menatap ke arahnya. Entah mengapa rasa bersalah yang
bertubi-tubi menghantam ketika diamnya membuat Jordan tersiksa.
Setibanya di kamar Lionara langsung menghampiri box bayi Jay dan memeriksa keadaannya. Sedangkan Jordan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jordan akan memberikan waktu kepada Lionara menenangkan diri beberapa menit sebelum ia ajak bicara.
Dan saat keluar kamar mandi, Lionara sudah berbaring di atas kasur dengan posisi
memunggunginya. Posisi tidur yang paling tidak disukainya. Jordan menghela
napas kasar, melempar sembarang handuk yang digunakan untuk mengeringkan
rambutnya kemudian menghela langka ke arah kasur dan duduk bersila di sisi Lionara.
Jordan tahu istrinya itu belum benar-benar tidur—terbukti saat dirinya menaiki kasur
tadi, Jordan bisa melihat tubuh Lionara yang menegang meski hanya sedetik.
“Bangunlah. Aku tahu kamu belum tidur,” Jordan menyentuh pundak Lionara “Kita perlu bicara,”
Hening. Tidak ada pergerakan.
“Mommy” gigi Jordan bergemeletuk kesal. Sedetik kemudian Jordan meraup tubuh Lionara dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
Lionara memalingkan wajah, tapi Jordan kembali merangkumnya. Kemudian menyatukan kening mereka.
“Kenapa jadi merajuk tidak jelas begini? Bukannya yang seharusnya marah itu aku ya?” Jordan menaikkan alis “Siang pelukan sama mantan, dan malamnya liatin tubuh
telanjang pria lain. Dan sekarang malah mendiamiku seenaknya. Wah… hebat sekali
kamu ya Mommy.” Jordan mendramatisir
Lionara menjauhkan wajahnya. “Kamu sengaja kan?”
“Apanya?” Jordan mengerut kening
“Kamu bekerja sama dengan Aldrich—menyuruhnya mengirim pesan padaku untuk datang ke hotel agar aku melihatmu bercinta dengan perempuan lain. Kamu ingin membalas sakit hatimu padaku dengan cara melakukan perbuatan menjijikkan itu—seolah-olah yang kulihat tadi adalah kamu.” ungkap Lionara dingin, suaranya masih serak.
“Kamu ini lagi bicara apa sih?” Jordan semakin mengerut tak mengerti “Aku menyuruh si Al mengirimimu pesan? Hell… sejak kapan aku menjadi sebaik itu membiarkan pria lain berkirim pesan dengan istriku?!” sewot Jordan
“Jangan bohong. Jika tidak kenapa kamu juga bisa ada disana? Dan kamar itu juga di
pesan atas namamu!"
“Aku tidak ada waktu bermain drama seperti itu.” Jordan memutar bola mata jengah
“Well, cerita sebenarnya aku memang membawa seorang jalang ke hotel untuk
memuaskanku yang sedang cemburu buta. Karena kupikir dengan melakukan sex
semalaman—“
“Jangan diteruskan!” Lionara mendesis tajam dengan kedua tangan menutup telinga. Dadanya panas mendengar penuturan enteng Jordan yang hendak menghabiskan malam panas dengan seorang pelacur. Lionara memalingkan wajah. Sialan.
Tanpa sepengetahuan Lionara, bibir Jordan berkedut menahan senyum. Dalam hati
bersorak senang saat mendapati raut sangar wanitanya. Akhirnya, Lionnya cemburu juga.
Lionara meronta ingin lepas dari kungkungan Jordan, tapi pria itu tidak membiarkannya.
“Lepasin.” tukas Lionara tajam.
“Tidak sebelum kamu mendengar habis ceritaku.” Jordan memeluk pinggang Lionara erat, membuat dada mereka menempel.
“Kalau ceritamu hanya seputar malam panasmu yang gagal, maaf telingaku tidak sudi mendengar!” Lionara memukuli bisep Jordan “Lepasin, Jo!”
Jordan tersenyum menyebalkan “Kamu cemburu ya---Akkhhh!!” terputus, pria itu malah menjerit kesakitan saat dengan tanpa perasaannya Lionara menggigit lengannya
keras.
“Bukan cuma cemburu, aku bahkan mau bunuh kamu saat itu juga!!” pekik Lionara dengan wajah memerah kesal. Dadanya naik turun. Ingin sekali menangis entah mengapa. Biasanya ia tidak secengeng ini.
“Mommy, volume suaranya dikecilin sedikit. Jay bisa bangun nanti.” ringis Jordan sambil
mengusap-usap lengannya yang kena gigit.
“Enggak perlu dikecilkan. Biar aku yang keluar dari kamar ini!” Lionara menyentak keras kungkungan Jordan dan terlepas.
Lionara melompat dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Namun saat menekan handelnya berkali-kali, pintu itu sama sekali tidak bisa dibuka.
“Kuncinya disini loh, mommy sayang.” dengan ringan Jordan menggoyang-goyangkan kunci itu
di depan wajah. “Kamu tidak boleh kemana-mana selain tidur dipelukanku.”
Lionara merasa berang. “Bukain pintunya.”
“Jangan jadi kekanak-kanakan, Mommy. Ini sudah larut. Balik kesini.” Jordan
menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya
“I hate you!”
“Yeah, I know. I love you too.”
“No. I really hate you!”
“Sure, me too. I really love you.”
Jordan turun dari kasur, menghampiri Lionara yang masih diam ditempat. Kemudian tanpa babibu Jordan menggendong tubuh istrinya hingga membuat wanita itu memekik
tertahan. Tubuhnya kembali di rebahkan di kasur diikuti oleh Jordan yang berada
di atasnya dengan siku yang ditekuk untuk menopang bobot tubuhnya.
“Kenapa menangis, hm?” Jordan bertanya lembut sembari menyeka air mata istrinya
“Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu cintai intim dengan orang lain?
Sakit bukan?”
Lionara diam.
Tangan Jordan mengelus bibir bawah Lionara, kemudian mengisapnya lembut.
“Itulah yang kurasakan saat melihatmu bersama Daniel. Aku cemburu padanya, Lion. Aku tidak suka kalian dekat barang satu senti pun. Atau aku akan meledak. Kamu tahu betul bukan, aku bermasalah dengan emosi? Jadi, kumohon… sebelum sisi monsterku bangun, jangan pernah berdekatan dengannya lagi. Can you?”
Hening.
Lionara hanya menatap sorot sendu suaminya.
“Mom—“
“Lalu bagaimana denganmu?” sela Lionara “Bahkan kamu yang lebih gila lagi, having sex dengan perempuan lain dibelakangku. Kamu cemburu pada Daniel, dan apa aku
berhak melarangmu juga menyewa para jalang itu? Kamu pikir aku tidak sakit hati?”
“Apa kamu benar-benar percaya aku melakukannya? Disaat aku saja sudah segila ini padamu.”
Lionara tidak menjawab.
Jordan mengangguk-anggukan kepala. “Oke, untuk kejadian di hotel kuakui aku memang
menyewa jalang untuk memuaskanku disana. Aku menyuruhnya telanjang bulat di
depanku—memamerkan tubuh seksinya sambil meliuk-liukannya dengan sensual untuk memancing hasratku. Bahkan aku juga membiarkannya menyentuh dan menggoda bukti gairahku. Tapi apa kamu tahu kelanjutannya…” Jordan mendekatkan bibirnya ketelinga Lionara, sedang wanita itu menggigit bibirnya keras, menahan ledakan
emosi saat mendengar Jordan membiarkan perempuan lain menyentuhnya dengan
bebas.
“Milikku sama sekali tidak bereaksi, sayang. Adik kecilku tidak mau bangun sekeras
apapun perempuan itu berusaha. Tapi… beda ceritanya kalau perempuan itu adalah
kamu. Dengan sendirinya dia akan bangun—bahkan tanpa kamu memancingnya.” Jordan
berbisik sensual seraya menggesekkan dengan sengaja miliknya tepat di spot
paling pribadi Lionara.
“Kamu bisa merasakannya, bukan?” napas Jordan memberat.
Lionara sontak membulatkan matanya. Benar saja, dibawah sana ia dapat merasakan milik Jordan yang sudah membengkak.
“Jo-,”
“See, adikku ini sangat murahan jika itu
kamu. Dia bahkan tidak bisa dikompromi. Kamu berhasil membuatku gila separah
ini.” Jordan menempelkan kening mereka. “Semenjak kita menikah aku tidak pernah
lagi menyentuh wanita selain dirimu. Bahkan jalang itu. Yang kamu lihat disana
adalah salah satu bodyguardku. Dia yang menggantikanku karena aku sama sekali
tidak bisa ereksi. Aku tadi ssudah akan kembali pulang, tapi ponselku
ketinggalan makanya balik lagi. Dan yang kudapati malah wajah bodohmu disana
yang asik menikmati ketelanjangan pria lain.” sindir Jordan di akhir kalimatnya
Lionara menampar pelan pipi Jordan. “Aku syok. Bukan menikmati!” kesalnya
Jordan terkekeh, lantas mengigit gemas hidung bangir Lionara.
“Jo! Sakit.” pekik Lionara balas menggigit leher pria itu.
“Ahh… enak sekali sayang.” bukannya kesakitan, Jordan malah mendesah keenakan. “Mau lagi,”
Lionara menatap horror, lantas menoyor kepalanya. “Sinting!”
“Yea, hanya untuk my Lion.” Jordan mengangguk—tersenyum menyebalkan.
“Lebih baik kamu tidur. Aku ngantuk.” Lionara meneggelamkan kepala Jordan di dadanya seraya mulai memejamkan mata dan mengelus-elus rambut lebat suaminya.
Jordan menggigit bahu Lionara pelan—gemas bukan main. “Enak saja. Aku uda tegang begini malah kamu suruh tidur. Enggak bisa. Aku ingin kamu. Kangen Lion aku banget.”
Dan di detik selanjutnya, tanpa di duga-duga—Lionara sudah menerjang bibirnya
begitu panas dan dalam. Dia mengisap, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jordan sambil melingkarkan kedua tangan di lehernya. Tengkuk Jordan di dorong
mendekat, ******* dan mendominasi keras.
“Wow… tumben,” Jordan senang sekali, langsung membalas ciuman Lionara tak kalah liar meski masih terkejut dia jadi begitu agresif.
Lionara berciuman dengan sangat baik, dan rasanya sangat nikmat.
“Selama aku masih hidup jangan pernah lagi coba-coba mencari kepuasan dari perempuan lain. Kamu cuma milikku,” gumamnya disela lumatannya.
“A-apa?” Jordan mengerjap, tidak percaya baru saja mendengar kalimat itu dari bibir
Lionara. “And I’m yours. Only yours!”
Setelahnya Jordan membiarkan apapun yang akan lakukan Lionara. Awalnya dia yang hendak mendominasi tapi kegiatan itu diambil alih oleh istrinya. Malam ini dia begitu panas, agresif, dan berkali lipat jauh lebih seksi dari malam-malam sebelumnya. Jordan merasa sangat diinginkan. Ia terlampau senang sehingga tidak mengerti lagi penjelasan apa yang perlu diutarakan.
Ini adalah salah satu malam terbaik—dan semua ini berkat campur tangan jahil
Aldrich, yang telah berhasil memancing keluar insting posesif Lionara. Oh,
ingatkan Jordan untuk memberikan hadia terbaik bagi sahabatnya itu.
****
“Rossa… rossa… kenapa kamu melakukan ini padaku…”
Suara itu lagi!
Rossalyn menegakkan kepalanya—menatap ruang sekelilingnya yang begitu gelap. Dan tak lama kemudian seberkas cahaya menembus ruang itu. Disana berdiri sosok Grace yang sangat cantik dengan balutan gaun putih polos. Namun kecantikan itu ternodai oleh bulir bening yang membasahi wajahnya yang tampak begitu pedih.
“G-grace…” Rossalyn tercekat, sembari mengulurkan tangannya untuk mencoba meraih seujung gaun putih Grace.
“Seandainya waktu itu kamu tidak kembali, maka keluargaku akan baik-baik saja, Rossa. Kenapa kamu begitu kejam padaku…” lirih Grace
“Maafkan aku… maafkan aku, Grace. Aku tidak bermaksud merusak semuanya. Aku hanya terlalu mencintai Josep, dan tidak sanggup hidup tanpanya lagi. Tapi tanpa kusadari aku justru menghancurkan kebahagian kalian… tolong maafkan aku…” Rossalyn terisak sambil meremas dadanya yang terasa sesak. Bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghantui hidupnya.
“Dan sekarang kamu kesakitan, bukan? Itulah yang kurasakan Rossa…” ucap Grace sembari tersenyum pedih dan berjalan mundur menjauhi Rossalyn
Rossalyn mengesotkan badannya di atas lantai dingin itu ketika melihat sosok Grace yang menjauhinya. Rossalyn membiarkan kakinya terseok-seok di atas lantai dingin
itu.
“Grace… aku mohon jangan pergi lagi. Tetaplah disini…” pinta Rossalyn sembari mengulurkan kedua tangannya. Rossalyn sangat ingin bangkit dari posisinya ini dan berlari menahan Grace. Namun ia tidak bisa melakukan apapun karena kakinya terasa tak bertenaga.
“Maaf, tapi aku sudah tidak bisa. Tapi jika kamu ingin bersamaku, maka ikutlah denganku…” Grace melangkah maju mendekati Rossalyn. Kedua tangannya terulur untuk menggapai kedua tangan milik Rossalyn.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Rossalyn langsung meraih kedua tangan dingin itu dengan rakus dan meremasnya kuat. Rossalyn tersenyum bahagia. Rasa bersalah yang selama ini begitu mencekik, seolah mulai mengendur—dan itu sangat
melegakan. Dalam hati ia bertekad akan melakukan apapun keinginan Grace,
asalkan itu bisa membuatnya terlepas dari semua belenggu masa lalu.
“Asalkan kamu bersedia memaafkan semua dosa-dosaku padamu… maka aku bersedia ikut denganmu kemanapun. Aku sudah tidak kuat menanggung beban ini.” ucap Rossalyn di tengah-tengah tangisannya yang begitu memilukan.
“Ya, aku memaafkanmu.”
Seakan-akan mendapatkan kekuatan, kini Rossalyn bisa berdiri dengan kedua kakinya. Senyum wanita itu semakin lebar.
“Ayo…” masih dengan
senyum lembutnya, Grace menggenggam tangan Rossalyn dan membawanya ke suatu
tempat yang memancarkan cahaya menyilaukan tetapi membawa rasa kegembiraan tersendiri.
Rossalyn mengeratkan genggamannya. Dengan langkah tertatih, ia mengikuti langkah Grace dari belakang. Tiba-tiba Grace berhenti dan berbalik.
“Peluk aku jika kamu ingin lepas dari semua rasa sakit yang tak berujung ini…” Grace
merentangkan tangannya lebar-lebar.
Tanpa pikir panjang Rossalyn melangkahkan kakinya dan…
“MOMMY!”
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
Hayolohhhh... yg kemarin uda souzon sama daddy siapaaa??? 😆
...Jordan Christoper...
...Lionara Florentine...