
Jordan
memandangi layar laptopnya yang menampilkan kurva pendapatan perusahaan
Lincolnshire. Perkembangan pendapatan yang selama dikelolah oleh Robert
mengalami banyak defisit. Ia terpaksa harus mengambil alih perusahaan itu,
memperbaiki segala kerusakan yang telah diperbuat lelaki tua itu—menunggu
sampai Leon memiliki cukup usia untuk siap menjalankan perusahaan peninggalan Ayahnya, sebagai satu-satunya
pewaris lelaki. Alhasil, Jordan harus menangani dua perusahaan sekaligus, dan
tak jarang itu membuatnya sering kali menghabiskan waktu selama berjam-jam di
dalam ruang kerjanya. Namun seberapa sibuk pun dirinya, Jordan selalu
memprioritaskan istrinya lebih dahulu.
Seperti
malam ini, Jordan baru akan memulai pekerjaannya setelah memastikan istrinya
tidur dengan nyaman terlebih dahulu. Di trismester akhir, Lionara sering mengeluh
sakit. Seperti nyeri tulang belakang, kram otot, kaki bengkak, kesulitan tidur
karena perut yang sudah sangat membuncit, dan akhir-akhir ini istrinya juga
lebih sering mengalami kontraksi. Sungguh, Jordan tidak akan tega jika sudah
melihat Lionara mengeluh seperti itu. Jika bisa, biar dirinya saja yang
mengalami semua sakitnya. Jangan Lion-nya.
Selesai
menggeluti pekerjaannya, Jordan beralih memeriksa seluruh pantauan cctv rumahnya
hari ini dari laptop. Kalau dulu, ia akan mengecek cctv setiap tiga hari sekali,
tapi sejak kejadian yang membuatnya trauma waktu itu—Jordan memantaunya setiap
malam. Bagaimanapun juga tidak setiap saat ia berada disisi istrinya itu,
hingga membuatnya harus tetap mengawasi istri dan lingkungan sekitarnya.
“Jo,”
Jordan
sedikit tersentak—mendongak dan bibirnya langsung mengulas senyum saat
mendapati istrinya tengah berdiri di muka pintu. Ia sudah biasa menghadapi
Lionara yang terbangun dari tidurnya.
Lionara
mendekat. Jordan melepaskan kacamata, meraih pinggang istrinya dan
mendudukkannya di pangkuan. Bagaimanapun pentingnya pekerjaan, Lionara tetap
jadi prioritas utama.
“Terbangun
lagi, hm?” Jordan mencium leher Lionara seraya mengendusi aromanya.
Lionara
mengangguk. “Enggak bisa tidur. Sesak,”
“Babynya
nendang-nendang lagi ya?”
“Iya,”
Jordan
beralih menatap perut buncit Lionara—merunduk lalu menyingkap gaun tidur dan
menaburkan kecupan-kecupan kecil diatas perutnya. “Jangan rewel, kasihan Mommy.”
Jordan mengajak calon anaknya berkomunikasi—hal yang sering dilakukan lelaki
itu. “Daddy tahu, kamu pasti udah gak sabar pengin keluar ketemu Mommy sama Daddy,
tapi kan belum waktunya sayang. Tunggu bentaran lagi ya, boy,” Jemari Lionara
membelai surai halus Jordan—membiarkan dia berbicara dengan jagoannya.
“Kamu
belum selesai kerjanya?”
Jordan
mendongak, “Udah selesai. Mau tidur lagi?”
Lionara
mengangguk, “Tapi sama kamu. Susah tidur kalau enggak ada kamu,”
“Ululu…
manisnya istri akuu,” Jordan mengigit gemas pipi berisi Lonara “Ayo, sayangku.”
Jordan
menggendong Lionara menuju kamar mereka yang kini telah berada di bawah atas
permintaannya.
Jordan
membaringkan Lionara dengan perlahan. Kemudian menyusul berbaring disamping
istrinya dan memeluknya. Fokus Jordan terarah pada bibir Lionara. Mengetahui itu,
Lionara hanya tersenyum menggoda, lalu dia sengaja mengisap dan menggigit bibir
bawahnya dan kembali tersenyum menggoda.
“Mommy, stop it.” erang Jordan. Lionara
terbahak, tapi tak lama kemudian Jordan langsung memagut bibirnya dan bermain
dengan bibir bawahnya. Jordan pun mengigit gemas bibir bawah Lionara.
“Ini
masih bagian favorit aku, sayang.”
****
Pagi
harinya, Jordan menemani Lionara jalan santai di taman kota. Kegiatan ini mulai
dilakukan setelah kandungan Lionara memasuki delapan bulan. Menurut anjuran
Dokter, istrinya harus sering-sering diajak olahraga seperti ini agar saat
proses melahirkan nanti berjalan dengan mundah.
Jam
menunjukkan pukul sembilan pagi. Mereka baru berkeliling satu jam, tapi keringat sudah menetes di dahi
hingga ke leher Lionara, napas wanita itu pun tampak ngos-ngosan.
“Lelah?”
Jordan tersenyum—tangannya menyeka lembut keringat di dahi Lionara “Mau
istirahat dulu?” Lionara mengangguk cepat yang dibalas kekehan geli oleh
Jordan.
Jordan
menghela langkah Lionara menuju bangku taman dan mendudukkanya disana. Sedang dirinya
berjongkok di depan Lionara kemudian memijit lembut betis istrinya.
“Jo,
haus,” Jordan langsung memberikan air mineral yang ia bawa dari rumah tadi.
Jordan
terkekeh saat melihat cara minum Lionara yang tak sabaran hingga airnya ikut
menetes keluar dari sudut mulutnya.
“Segitu
lelahnya, ya?” timpalnya seraya kembali mengelap mulut dan leher Lionara.
“Banget.
Anak kamu berat.” keluh Lionara dengan bibir mengerucut.
Jordan
terbahak. Merasa sangat lucu dengan tingkah Lionara yang begitu menggemaskan
dimatanya. Dengan segera ia duduk disisi Lionara—merangkum wajah wanita itu,
lalu menekannya hingga bibirnya menyembul maju. Jordan menciumnya gemas.
“Anak
kamu juga loh, sayang.” Kekehnya “Ihh…Gemesin banget sih, kesayanganku ini,” Jordan
memeluk erat Lionara sambil mengoyang-goyang pelan tubuh itu.
“Jo,
sesak ih,” protes Lionara dengan gesture ingin dilepaskan.
Jordan
melepaskan. “Sayang, lahirannya kapan sih?”
“Menurut
perkiraan dokter katanya lima hari lagi,”
Jordan
mengerjap-ngerjap, “Serius, sayang?!” tanyanya nyaris berteriak hingga beberapa
tatapan orang tertujuh pada mereka.
“Jo,
suara kamu,” Lionara mendelik
Jordan
menyengir. “Maaf sayang, aku syok dengarnya. Kok aku enggak tahu berita itu?”
“Dua
hari lalu dokter yang bilang melalui telepon. Aku lupa kasih tahu kamu,”
“Yaudah
enggak apa-apa.” Jordan mengelus-elus rambut Lionara “Kita pulang yuk,”
Jordan
membantu Lionara berdiri, namun tiba-tiba saja Lionara merintih kesakitan
sambil memegangi perutnya.
“Sayang,
ka-kamu kenapa?!” Jordan langsung panik
“Jo,
sa-sakit…” rintih Lionara, menutup matanya erat dan menggigit bibir bawahnya
“Ti-tidak
sayang. Jangan tutup mata kamu,” jantung Jordan berdegup sangat kencang—wajahnya
berubah pucat. Dia paling trauma jika melihat Lionara menutup mata begitu—ketakutannya
kembali.
“Sa-sayang
buka mata kamu.” Jordan menepuk-nepuk wajah Lionara dan berhasil. Mata sayu itu
terbuka. “Kita ke Rumah sakit sekarang, tapi janji kamu enggak boleh nutup mata,
sayang!”
Lionara
entakan mengendong tubuh itu kemudian berlari tergesa menuju mobilnya.
****
“Mommy please, say something! What I have to
do for you?” Jordan terus meracau setengah merengek—gelisah karena sejak
beberapa jam yang lalu hingga kini, Lionara tidak mengatakan sepatah kata pun,
kecuali terus merintih dan berdesis menahan sakit.
Ketika
tiba di Rumah sakit, Jordan berteriak kesetanan pada Dokter dan suster agar
segera memeriksa istrinya. Jordan pikir Lionara akan segera melahirkan, namun dokter malah mengatakan jika masih belum
waktunya. Masih pembukaan delapan, dan dokter belum bisa mengeluarkan bayinya
sampai menunggu pembukaan sepuluh. Sementara di depan matanya, Lionara tak
henti-hentinya terus meringis menahan
sakit akibat pembukaan tersebut.
Hampir
saja Jordan menerjang dokter tersebut karena tak kunjung membantu meringankan
kesakitan sang istri, jika saja Lionara tak memanggilnya—dan menyuruhnya untuk
tetap duduk diam disisi brangkarnya.
“Sayang,
kamu jangan bikin aku takut begini dong.” rengeknya tak berkesudahan “Tahu kamu
kesakitan begini, aku enggak akan minta buat baby sama kamu,” dan pada akhirnya
seorang Jordan mulai terisak disana. Rasa basah di lengan Lionara mulai terasa.
Entah berasal dari ingus, atau lelehan air mata.
Lionara
benar-benar tidak percaya ini. Jordan benar-benar menangis. Ya Tuhan, lelaki ini...
“Aku
janji, setelah ini aku enggak akan buat kamu hamil lagi,”
Evan,
yang sejak tadi sudah ada disana dan cuma duduk diam disofa sebagai pendengar
hanya bisa mengulum senyum geli. Tak tahan, ia pun mulai buka suara, “Tenang saja,
Jo. Para wanita sudah biasa mengalami hal ini. Ketika Lionara melahirkan lagi
nanti tidak akan sakit lagi.”
Jordan
menoleh pada Evan, “Apakah pernah ada yang gagal melahirkan?”
Jordan
tidak seharusnya menanyakan hal itu pada seorang Evan. Panik membuatnya lupa
jika Evan adalah mahluk yang sama tak warasnya dengan dirinya jika soal
mengompori.
“Ya,”
Jordan
melotot, “Apa maksudmu?!” suara Jordan naik satu oktaf—ketakutan membayangi
kedua matanya.
“Beberapa
tidak terselamatkan, yang lainnya hidup tapi sekarat.”
“Se-sekarat?”
napas Jordan tercekat, pikiran negatif membayangi kepalanya. Bagaimana jika itu
terjadi pada Lionnya? Sanggupkah dia… Jordan menggeleng. Mustahil. Ia tak
mungkin sanggup hidup tanpa Lionara. Lebih baik dia mati. Jordan memandangi raut
serius Evan, wajahnya diliputi teror ketika bertanya, “Apakah mereka bisa
sembuh lagi?”
Evan
memajukan tubuhnya, “Tidak, mereka hanya tahan beberapa hari lalu mati.”
Jordan
bangkit berdiri. Ia menatap ngeri pada Lionara yang masih berbaring miring. “Sayang,
kamu jangan melahirkan!” teriaknya, hendak meraup tubuh Lionara namun suara wanita
itu lebih dulu menginterupsi.
“Kamu
benar-benar tidak waras kalau mempercayai
ucapannya,” Lionara berusaha mengatur tempo napasnya. Menahan sakitnya pembukaan
“ Sadarlah, Evan menipumu. Dia sengaja memanas-manasimu. Lihat saja wajahnya
sekarang,”
Jordan
melongoh, “Apa?”
Dan
detik itu, benar saja, tawa Evan langsung menggelegar memenuhi ruangan. Lelaki
itu bahkan sampai berguling-guling di atas sofa sambil memegangi perutnya
karena begitu lucu melihat wajah frustasi sahabatnya.
“Astaga, brotha… lihatlah wajahmu sekarang,
sangat lucu!!” Evan masih terus terbahak
Wajah
Jordan langsung berubah merah padam. Ia baru sadar jika sahabat sintingnya itu
berhasil membodohinya. “Sialan kau Evan brengsek!!!” teriak Jordan dan segera
berlari menerjang Evan tapi lelaki berambut ikal itu lebih dahulu berhasil kabur
keluar ruangan.
Sedang
Lionara begitu tersiksa karena harus menahan tawa di sela-sela kontraksinya.
“Brengsek!
Awas saja kalau aku melihatmu lagi!” maki Jordan di depan pintu ruangan. Dia masih
cukup sadar untuk tidak berlari mengejar Evan dan meninggalkan istrinya sendiri
disini.
“Awshhh…”
Lionara kembali meringis hebat seraya meremas seprai sekuat tenaga.
“Sayang!”
Jordan berlari panik menghampiri Lionara. Ia menggengam tangan Lionara dan
menciuminya.
“Arrghh…
sakit Jo!” Lionara semakin kencang meremas telapak tangannya.
Tak
lama kemudian beberapa suster dan juga seorang dokter perempuan masuk ke dalam
ruangan. Dokter itu langsung mengecek ke bagian vital Lionara dan,
“Beliau
sudah pembukaan sepuluh. Sudah waktunya melahirkan.” Terang sang dokter dan
para suster segera mendorong ranjang Lionara menuju ruang bersalin.
****
Dengan
keringat membanjiri, Lionara mengejan berulang kali. Di sisinya, Jordan terus
membisikkan kata-kata penyemangat—mengutarakan sebesar apa ia mencintainya. Kedua
tangan mereka saling berpegangan erat, sedang dokter dan suster terus
menyuruhnya untuk mendorong kuat.
“Kamu
pasti bisa. Anak kita sebentar lagi bisa kita peluk dengan nyata, sayang.”
Jordan mencium dahinya, memejamkan mata hingga mengalirkan bulir bening ke
wajah Lionara. “Kamu tahu, aku beruntung memiliki kamu. Aku bersyukur Tuhan
telah beri perempuan sekuat kamu. Kamu hebat. Kamu Mommy yang luar biasa!”
Tubuh
Lionara bergetar menahan sakit, tetapi dia sama sekali tidak mengeluhkan
bagaimana anaknya mengobrak-abrik tubuhnya. Tidak ada penjelasan yang tepat
untuk menggambarkan kesakitan saat melahirkan. Malah Jordan yang menangis,
tidak tega melihatnya dalam keadaan begini. Lionara terus mengejan dan meremas
tangan Jordan. bahkan punggung tangannya sampai berdarah-darah akibat dari kuku
Lionara yang menancap keras.
Dan
tidak lama kemudian, suara tangis bayi mulai terdengar—mengudara begitu
bisingnya. Rasa lega, haru, bahagia, semuanya menjadi satu. Jordan terisak
hebat, memeluk Lionara begitu erat sambil menyerukan terima kasih dan I love
you yang tak terhitung jumlahnya.
“Selamat
Pak Jordan, Nyonya Lionara, dan bayi kalian laki-laki, sehat dan tak kurang
satu apapun.” Dokter menyerahkan bayi yang masih belum dibersihkan secara total—meletakkan
di dada Lionara.
Air
mata Lionara mengalir deras, mengusap rambut anaknya yang begitu halus. “Anak
Mommy… Terima kasih sudah datang, sayang.”
Jordan
tersenyum, membelai pipi anaknya yang memerah. “Kalian berdua hebat!”
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
Masih mau lanjut??
Like dan komennya duluuu lahh 😜
...Welcome to the world Baby boy kesayangannya Daddy JO after Mommy ...