JORDAN

JORDAN
Chapter 40



Jordan


memandangi layar laptopnya yang menampilkan kurva pendapatan perusahaan


Lincolnshire. Perkembangan pendapatan yang selama dikelolah oleh Robert


mengalami banyak defisit. Ia terpaksa harus mengambil alih perusahaan itu,


memperbaiki segala kerusakan yang telah diperbuat lelaki tua itu—menunggu


sampai Leon memiliki cukup usia untuk  siap menjalankan perusahaan peninggalan Ayahnya, sebagai satu-satunya


pewaris lelaki. Alhasil, Jordan harus menangani dua perusahaan sekaligus, dan


tak jarang itu membuatnya sering kali menghabiskan waktu selama berjam-jam di


dalam ruang kerjanya. Namun seberapa sibuk pun dirinya, Jordan selalu


memprioritaskan istrinya lebih dahulu.


Seperti


malam ini, Jordan baru akan memulai pekerjaannya setelah memastikan istrinya


tidur dengan nyaman terlebih dahulu. Di trismester akhir, Lionara sering mengeluh


sakit. Seperti nyeri tulang belakang, kram otot, kaki bengkak, kesulitan tidur


karena perut yang sudah sangat membuncit, dan akhir-akhir ini istrinya juga


lebih sering mengalami kontraksi. Sungguh, Jordan tidak akan tega jika sudah


melihat Lionara mengeluh seperti itu. Jika bisa, biar dirinya saja yang


mengalami semua sakitnya. Jangan Lion-nya.


Selesai


menggeluti pekerjaannya, Jordan beralih memeriksa seluruh pantauan cctv rumahnya


hari ini dari laptop. Kalau dulu, ia akan mengecek cctv setiap tiga hari sekali,


tapi sejak kejadian yang membuatnya trauma waktu itu—Jordan memantaunya setiap


malam. Bagaimanapun juga tidak setiap saat ia berada disisi istrinya itu,


hingga membuatnya harus tetap mengawasi istri dan lingkungan sekitarnya.


“Jo,”


Jordan


sedikit tersentak—mendongak dan bibirnya langsung mengulas senyum saat


mendapati istrinya tengah berdiri di muka pintu. Ia sudah biasa menghadapi


Lionara yang terbangun dari tidurnya.


Lionara


mendekat. Jordan melepaskan kacamata, meraih pinggang istrinya dan


mendudukkannya di pangkuan. Bagaimanapun pentingnya pekerjaan, Lionara tetap


jadi prioritas utama.


“Terbangun


lagi, hm?” Jordan mencium leher Lionara seraya mengendusi aromanya.


Lionara


mengangguk. “Enggak bisa tidur. Sesak,”


“Babynya


nendang-nendang lagi ya?”


“Iya,”


Jordan


beralih menatap perut buncit Lionara—merunduk lalu menyingkap gaun tidur dan


menaburkan kecupan-kecupan kecil diatas perutnya. “Jangan rewel, kasihan Mommy.”


Jordan mengajak calon anaknya berkomunikasi—hal yang sering dilakukan lelaki


itu. “Daddy tahu, kamu pasti udah gak sabar pengin keluar ketemu Mommy sama Daddy,


tapi kan belum waktunya sayang. Tunggu bentaran lagi ya, boy,” Jemari Lionara


membelai surai halus Jordan—membiarkan dia berbicara dengan jagoannya.


“Kamu


belum selesai kerjanya?”


Jordan


mendongak, “Udah selesai. Mau tidur lagi?”


Lionara


mengangguk, “Tapi sama kamu. Susah tidur kalau enggak ada kamu,”


“Ululu…


manisnya istri akuu,” Jordan mengigit gemas pipi berisi Lonara “Ayo, sayangku.”


Jordan


menggendong Lionara menuju kamar mereka yang kini telah berada di bawah atas


permintaannya.


Jordan


membaringkan Lionara dengan perlahan. Kemudian menyusul berbaring disamping


istrinya dan memeluknya. Fokus Jordan terarah pada bibir Lionara. Mengetahui itu,


Lionara hanya tersenyum menggoda, lalu dia sengaja mengisap dan menggigit bibir


bawahnya dan kembali tersenyum menggoda.


“Mommy, stop it.” erang Jordan. Lionara


terbahak, tapi tak lama kemudian Jordan langsung memagut bibirnya dan bermain


dengan bibir bawahnya. Jordan pun mengigit gemas bibir bawah Lionara.


“Ini


masih bagian favorit aku, sayang.”


****


Pagi


harinya, Jordan menemani Lionara jalan santai di taman kota. Kegiatan ini mulai


dilakukan setelah kandungan Lionara memasuki delapan bulan. Menurut anjuran


Dokter, istrinya harus sering-sering diajak olahraga seperti ini agar saat


proses melahirkan nanti berjalan dengan mundah.


Jam


menunjukkan pukul sembilan pagi. Mereka baru berkeliling  satu jam, tapi keringat sudah menetes di dahi


hingga ke leher Lionara, napas wanita itu pun tampak ngos-ngosan.


“Lelah?”


Jordan tersenyum—tangannya menyeka lembut keringat di dahi Lionara “Mau


istirahat dulu?” Lionara mengangguk cepat yang dibalas kekehan geli oleh


Jordan.


Jordan


menghela langkah Lionara menuju bangku taman dan mendudukkanya disana. Sedang dirinya


berjongkok di depan Lionara kemudian memijit lembut betis istrinya.


“Jo,


haus,” Jordan langsung memberikan air mineral yang ia bawa dari rumah tadi.


Jordan


terkekeh saat melihat cara minum Lionara yang tak sabaran hingga airnya ikut


menetes keluar dari sudut mulutnya.


“Segitu


lelahnya, ya?” timpalnya seraya kembali mengelap mulut dan leher Lionara.


“Banget.


Anak kamu berat.” keluh Lionara dengan bibir mengerucut.


Jordan


terbahak. Merasa sangat lucu dengan tingkah Lionara yang begitu menggemaskan


dimatanya. Dengan segera ia duduk disisi Lionara—merangkum wajah wanita itu,


lalu menekannya hingga bibirnya menyembul maju. Jordan menciumnya gemas.


“Anak


kamu juga loh, sayang.” Kekehnya “Ihh…Gemesin banget sih, kesayanganku ini,” Jordan


memeluk erat Lionara sambil mengoyang-goyang pelan tubuh itu.


“Jo,


sesak ih,” protes Lionara dengan gesture ingin dilepaskan.


Jordan


melepaskan. “Sayang, lahirannya kapan sih?”


“Menurut


perkiraan dokter katanya lima hari lagi,”


Jordan


mengerjap-ngerjap, “Serius, sayang?!” tanyanya nyaris berteriak hingga beberapa


tatapan orang tertujuh pada mereka.


“Jo,


suara kamu,” Lionara mendelik


Jordan


menyengir. “Maaf sayang, aku syok dengarnya. Kok aku enggak tahu berita itu?”


“Dua


hari lalu dokter yang bilang melalui telepon. Aku lupa kasih tahu kamu,”


“Yaudah


enggak apa-apa.” Jordan mengelus-elus rambut Lionara “Kita pulang yuk,”


Jordan


membantu Lionara berdiri, namun tiba-tiba saja Lionara merintih kesakitan


sambil memegangi perutnya.


“Sayang,


ka-kamu kenapa?!” Jordan langsung panik


“Jo,


sa-sakit…” rintih Lionara, menutup matanya erat dan menggigit bibir bawahnya


“Ti-tidak


sayang. Jangan tutup mata kamu,” jantung Jordan berdegup sangat kencang—wajahnya


berubah pucat. Dia paling trauma jika melihat Lionara menutup mata begitu—ketakutannya


kembali.


“Sa-sayang


buka mata kamu.” Jordan menepuk-nepuk wajah Lionara dan berhasil. Mata sayu itu


terbuka. “Kita ke Rumah sakit sekarang, tapi janji kamu enggak boleh nutup mata,


sayang!”


Lionara


entakan mengendong tubuh itu kemudian berlari tergesa menuju mobilnya.


****


“Mommy please, say something! What I have to


do for you?” Jordan terus meracau setengah merengek—gelisah karena sejak


beberapa jam yang lalu hingga kini, Lionara tidak mengatakan sepatah kata pun,


kecuali terus merintih dan berdesis menahan sakit.


Ketika


tiba di Rumah sakit, Jordan berteriak kesetanan pada Dokter dan suster agar


segera memeriksa istrinya. Jordan pikir Lionara akan segera melahirkan, namun  dokter malah mengatakan jika masih belum


waktunya. Masih pembukaan delapan, dan dokter belum bisa mengeluarkan bayinya


sampai menunggu pembukaan sepuluh. Sementara di depan matanya, Lionara tak


henti-hentinya terus meringis  menahan


sakit akibat pembukaan tersebut.


Hampir


saja Jordan menerjang dokter tersebut karena tak kunjung membantu meringankan


kesakitan sang istri, jika saja Lionara tak memanggilnya—dan menyuruhnya untuk


tetap duduk diam disisi brangkarnya.


“Sayang,


kamu jangan bikin aku takut begini dong.” rengeknya tak berkesudahan “Tahu kamu


kesakitan begini, aku enggak akan minta buat baby sama kamu,” dan pada akhirnya


seorang Jordan mulai terisak disana. Rasa basah di lengan Lionara mulai terasa.


Entah berasal dari ingus, atau lelehan air mata.


Lionara


benar-benar tidak percaya ini. Jordan benar-benar menangis. Ya Tuhan, lelaki ini...


“Aku


janji, setelah ini aku enggak akan buat kamu hamil lagi,”


Evan,


yang sejak tadi sudah ada disana dan cuma duduk diam disofa sebagai pendengar


hanya bisa mengulum senyum geli. Tak tahan, ia pun mulai buka suara, “Tenang saja,


Jo. Para wanita sudah biasa mengalami hal ini. Ketika Lionara melahirkan lagi


nanti tidak akan sakit lagi.”


Jordan


menoleh pada Evan, “Apakah pernah ada yang gagal melahirkan?”


Jordan


tidak seharusnya menanyakan hal itu pada seorang Evan. Panik membuatnya lupa


jika Evan adalah mahluk yang sama tak warasnya dengan dirinya jika soal


mengompori.


“Ya,”


Jordan


melotot, “Apa maksudmu?!” suara Jordan naik satu oktaf—ketakutan membayangi


kedua matanya.


“Beberapa


tidak terselamatkan, yang lainnya hidup tapi sekarat.”


“Se-sekarat?”


napas Jordan tercekat, pikiran negatif membayangi kepalanya. Bagaimana jika itu


terjadi pada Lionnya? Sanggupkah dia… Jordan menggeleng. Mustahil. Ia tak


mungkin sanggup hidup tanpa Lionara. Lebih baik dia mati. Jordan memandangi raut


serius Evan, wajahnya diliputi teror ketika bertanya, “Apakah mereka bisa


sembuh lagi?”


Evan


memajukan tubuhnya, “Tidak, mereka hanya tahan beberapa hari lalu mati.”


Jordan


bangkit berdiri. Ia menatap ngeri pada Lionara yang masih berbaring miring. “Sayang,


kamu jangan melahirkan!” teriaknya, hendak meraup tubuh Lionara namun suara wanita


itu lebih dulu menginterupsi.


“Kamu


benar-benar  tidak waras kalau mempercayai


ucapannya,” Lionara berusaha mengatur tempo napasnya. Menahan sakitnya pembukaan


“ Sadarlah, Evan menipumu. Dia sengaja memanas-manasimu. Lihat saja wajahnya


sekarang,”


Jordan


melongoh, “Apa?”


Dan


detik itu, benar saja, tawa Evan langsung menggelegar memenuhi ruangan. Lelaki


itu bahkan sampai berguling-guling di atas sofa sambil memegangi perutnya


karena begitu lucu melihat wajah frustasi sahabatnya.


“Astaga, brotha… lihatlah wajahmu sekarang,


sangat lucu!!” Evan masih terus terbahak


Wajah


Jordan langsung berubah merah padam. Ia baru sadar jika sahabat sintingnya itu


berhasil membodohinya. “Sialan kau Evan brengsek!!!” teriak Jordan dan segera


berlari menerjang Evan tapi lelaki berambut ikal itu lebih dahulu berhasil kabur


keluar ruangan.


Sedang


Lionara begitu tersiksa karena harus menahan tawa di sela-sela kontraksinya.


“Brengsek!


Awas saja kalau aku melihatmu lagi!” maki Jordan di depan pintu ruangan. Dia masih


cukup sadar untuk tidak berlari mengejar Evan dan meninggalkan istrinya sendiri


disini.


“Awshhh…”


Lionara kembali meringis hebat seraya meremas seprai sekuat tenaga.


“Sayang!”


Jordan berlari panik menghampiri Lionara. Ia menggengam tangan Lionara dan


menciuminya.


“Arrghh…


sakit Jo!” Lionara semakin kencang meremas telapak tangannya.


Tak


lama kemudian beberapa suster dan juga seorang dokter perempuan masuk ke dalam


ruangan. Dokter itu langsung mengecek ke bagian vital Lionara dan,


“Beliau


sudah pembukaan sepuluh. Sudah waktunya melahirkan.” Terang sang dokter dan


para suster segera mendorong ranjang Lionara menuju ruang bersalin.


****


Dengan


keringat membanjiri, Lionara mengejan berulang kali. Di sisinya, Jordan terus


membisikkan kata-kata penyemangat—mengutarakan sebesar apa ia mencintainya. Kedua


tangan mereka saling berpegangan erat, sedang dokter dan suster terus


menyuruhnya untuk mendorong kuat.


“Kamu


pasti bisa. Anak kita sebentar lagi bisa kita peluk dengan nyata, sayang.”


Jordan mencium dahinya, memejamkan mata hingga mengalirkan bulir bening ke


wajah Lionara. “Kamu tahu, aku beruntung memiliki kamu. Aku bersyukur Tuhan


telah beri perempuan sekuat kamu. Kamu hebat. Kamu Mommy yang luar biasa!”


Tubuh


Lionara bergetar menahan sakit, tetapi dia sama sekali tidak mengeluhkan


bagaimana anaknya mengobrak-abrik tubuhnya. Tidak ada penjelasan yang tepat


untuk menggambarkan kesakitan saat melahirkan. Malah Jordan yang menangis,


tidak tega melihatnya dalam keadaan begini. Lionara terus mengejan dan meremas


tangan Jordan. bahkan punggung tangannya sampai berdarah-darah akibat dari kuku


Lionara yang menancap keras.


Dan


tidak lama kemudian, suara tangis bayi mulai terdengar—mengudara begitu


bisingnya. Rasa lega, haru, bahagia, semuanya menjadi satu. Jordan terisak


hebat, memeluk Lionara begitu erat sambil menyerukan terima kasih dan I love


you yang tak terhitung jumlahnya.


“Selamat


Pak Jordan, Nyonya Lionara, dan bayi kalian laki-laki, sehat dan tak kurang


satu apapun.” Dokter menyerahkan bayi yang masih belum dibersihkan secara total—meletakkan


di dada Lionara.


Air


mata Lionara mengalir deras, mengusap rambut anaknya yang begitu halus. “Anak


Mommy… Terima kasih sudah datang, sayang.”


Jordan


tersenyum, membelai pipi anaknya yang memerah. “Kalian berdua hebat!”


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


Masih mau lanjut??


Like dan komennya duluuu lahh 😜


...Welcome to the world Baby boy kesayangannya Daddy JO after Mommy ...