
Upacara pernikahan telah selesai. Lionara menjalani semuanya seperti robot, memaksa dirinya berdiri kaku tanpa ekspresi dan mengikuti semua prosesi sampai selesai tanpa emosi. Itu adalah jenis pernikahan yang sangat sederhana—hanya dihadiri oleh kedua sahabat Jordan, Kakek, Camila dan Leon yang duduk di kursi roda karna keadaannya yang belum pulih total. Pernikahan ini benar-benar disembunyikan dari publik. Ini bukanlah jenis pernikahan yang di impikan oleh kebanyakan para wanita, termasuk Lionara—sekalipun dia memang tidak pernah
bermimpi akan menikah.
Sungguh, ini mungkin jenis pernikahan paling menyedihkan yang bisa dialami oleh seorang gadis. Tak ada tatapan penuh cinta antara dua mempelai, tak ada ucapan janji pernikahan yang dilantunkan sepenuh kasih dalam genggaman yang saling menguatkan dan tak ada pula cinta yang seharusnya menjadi landasan pernikahan ini. Pernikahan ini begitu dingin.
Tepukan pelan di pundaknya berhasil menyadarkan Lionara dari lamunan sejenaknya. Menoleh, ia menatap seorang pria tua yang kini tersenyum begitu hangat padanya. Tadi dia berpura-pura hendak ke toilet karena ingin menenangkan diri dari perasaannya yang campur aduk setelah upacara pernikahan. Namun, bukannya masuk ke dalam toilet, kakinya dihela menuju sudut ruangan yang terletak jendela besar—terbuka lebar tanpa tirai, menampilkan pemandangan berbukit hijau yang tampak indah.
“Selamat, Nak” ucap Rikkard “Sekarang kamu resmi menjadi bagian Christoper.” tanpa menunggu balasan, ia memeluk Lionara penuh sayang sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya.
“Te…terimakasih, Pak..” kaku, Lionarat tidak menyangka akan mendapat pelukan sehangat ini. Pelukan yang sudah sangat lama tidak dirasakannya.
“Shh... jangan panggil begitu. Panggil aku kakek. Kamu telah menjadi cucuku sekarang,”
Lionara terdiam, tapi matanya berkaca-kaca.
“Maafkan cara cucuku yang menarikmu kedalam pernikahan ini dengan memanfaatkan situasimu yang sedang terpuruk. Tapi, bersediakah kamu berjanji satu hal pada pria tua ini?” Rikkard menguraikan pelukan—menatap lembut manik cucu menantunya, lalu merangkup wajah Lionara yang masih bergeming.
“Berjanjilah untuk tidak akan mengakhiri pernikahan ini. Jordan memang bukan pria yang baik sekarang, tapi aku percaya, bersamamu anak nakal itu akan berubah perlahan. Dampingilah dia selayaknya istri kepada suami. Sekalipun pernikahan kalian dimulai dengan cara yang tidak benar, tapi aku harap pernikahan ini akan tetap berlangsung sama seperti janji yang kalian ikrarkan tadi.” pelan, Rikkard mengutarakan keinginannya yang terdalam.
“Ak-aku tidak bisa menjanjikannya, Kek” Lionara memalingkan wajahnya ke samping—sedang kedua tangannya mengepal disisi.
Rikkard tersenyum. Ia mengecup kening Lionara “Jordan mempunyai banyak wanita, tapi tidak satu pun dari mereka yang benar-benar di inginkannya untuk membangun rumah tangga. Tapi, hanya dalam waktu singkat dia justru memilihmu menjadi istrinya. Kamu tahu itu artinya apa, Nak?"
Lionara membisu.
"Jordan melihat sesuatu yang berbeda darimu," Rikkard mengelus puncak kepala Lionara dengan senyum lembutnya "Aku percaya kalian akan saling melengkapi satu dengan yang lain.”
****
“Aku merasa gadis itu tidak menyukaimu” komentar Evan. Ketiganya kini tengah berdiri di parkiran Gereja—menunggu pengantin wanita yang katanya sedang pergi ke toilet sebelum akan meninggalkan tempat itu.
“Mungkin.” sahut Jordan tak acuh. Pandangannya mengarah pada langit yang tampak mendung.
Evan tertawa “Hah, tidak kusangka akhirnya ada juga perempuan yang bisa menolak pesonamu.”
“Kelihatannya kau begitu senang, eh?”
“Tentu saja. Kapan lagi aku bisa melihatmu ditolak begini,” kelakar Evan
“Lalu untuk apa kau menikahinya?” Aldrich menimpali “Dia jelas terpaksa dengan pernikahan ini.”
Jordan menoleh, menatap kedua wajah penuh tanya di depannya lalu mengedikkan bahu dengan santai “Tidak tahu. Hanya ingin saja.”
“Apa?!” keduanya melotot.
“Aku hanya sedang bosan. Dan rasanya sudah lama aku tidak membuat kekacauan untuk Pak tua itu. Seperti yang kalian tahu, dia begitu anti dengan perempuan miskin. Well, ini patut dicoba, bukan?”
“Kau tidak bisa menyalahgunakan pernikahanmu dengan dendam pribadimu itu.” tegur Aldrich dengan nada serius
“Sudahlah…aku kan hanya menikah. Itu bukan hal besar.” Jordan menyeringai
“Bukan hal besar?! Apa kau sadar mengatakan itu tadi? Aku jadi prihatin pada gadis yang kau nikahi itu.” timpal Evan jengah “Kudoakan kau akan jatuh cinta pada istrimu sendiri nanti!” lanjutnya bersumpah.
Jordan tertawa, “Aku baru tahu kau bisa berdoa juga, Ev”
“Iya. Dan kaulah orang pertama yang kudoakan.” Sinis Evan
“Aww..sweet. Semoga Tuhan mengabulkan doa pendosa sepertimu.” Jordan tertawa lagi sambil menepuki bahu Evan.
****
Mobil memasuki pintu gerbang utama yang sangat besar. Dalam diam, Lionara melihat sekeliling—memperhatikan betapa megahnya bagunan luar mansion bargaya Eropa milik Jordan. Taman yang mereka lewati terang berpendar, terkena sinar lampu-lampu taman. Dia bisa melihat beberapa penjaga berdiri siaga menyambut kedatangan sang tuan rumah.
Dari luar, pintu mobil dibukakan oleh salah seorang bodyguard. Jordan keluar lebih dulu dan diikuti oleh Lionara. Sedang mobil di belakang mereka tadi ikut dibuka. Leon dibantu keluar dari sana dengan kursi roda. Setengah berlari Lionara menghampiri adiknya dengan seorang bodyguard yang berdiri di belakang kursi rodanya.
Leon tersenyum teduh, menggeleng, “Aku baik-baik saja, kak” ia meraih sebelah tangan Lionara—meremasnya “kakak sendiri bagaimana? Apa kakak bahagia?”
Lionara sempat membeku mendapati pertanyaan adiknya itu, namun dengan cepat ia tersenyum—mengusap rambut Leon. “Iya”
Kakak bohong! Batin Leon
“Syukurlah, Kak,” Leon memaksakan senyumannya. Ia tahu Lionara berbohong seperti biasa—menunjukkan
raut pura-pura bahagianya, sedang yang ia lihat sejak tadi adalah wajah datar tanpa ekspresi Lionara di sepanjang upacara pernikahan mereka.
“Mungkin kalian bisa melanjutkan pembicaraan besok hari.” sela Jordan “Waktunya untuk beristirahat”
Lionara mengangguk pelan, lalu hendak mengambil alih mendorong kursi roda Leon sebelum suara Jordan kembali menginterupsinya.
“Biar Pak Lee yang membawa Leon ke kamarnya. Kamu ikut aku.” titahnya lalu bergerak menghampiri Lionara—menggamit tangannya ketika Lionara hendak melayangkan protesnya “Aku sedang tidak ingin dibantah” desis Jordan pelan agar tidak di dengar Leon, kemudian membawa Lionara dari sana.
Lionara menoleh kebelakang, menatap Leon dengan tatapan bersalah tapi Leon membalasnya dengan senyuman seakan berkata ia baik-baik saja.
Begitu melewati pintu utama, beberapa wanita berpakaian seragam rapih berwarna putih hitam berlalu lalang—menundukkan kepala ketika mereka lewat. Mereka semua rata-rata berwajah cantik dan Lionara tidak heran lagi. Jordan memang identik dengan itu.
Jordan terus membawanya melewati lorong ruangan nan mewah yang sangat luas itu. Ada sebuah tangga melingkar yang menghubungkan lantai bawah ke atas berdiri disamping pilar di tengah-tengah ruangan. Alih-alih menaiki tangga, mereka justru menaiki lift dengan lantai tiga yang menjadi tujuan.
“Anda tinggal sendirian di rumah sebesar ini?” tanya Lionara, entah kenapa tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Hm.” sahut Jordan tanpa menoleh “Aku hanya membawa siapa saja yang kumau.”
Lalu Ayah anda? Ingin sekali Lionara menanyakan hal itu, tapi ia urungkan. Sadar jika hal itu nantinya akan memperpanjang interaksi mereka. Sebisa mungkin ia mempersempit interaksi dengan lelaki yang sekarang
berstatus suaminya itu.
Tak lama kemudian mereka sudah ada disebuah kamar luas yang bernuansa maskulin. Tak perlu lama untuk mengetahui siapa pemilik kamar ini, karna pigura besar yang menggantung tepat di dinding ranjang sudah menjelaskannya. Di dalam pigura itu ada potret Jordan yang tengah shirtless—menampilkan tubuh berototnya yang sempurna dengan memegang handuk putih yang melingkar dileher, sedang kepalanya menegadah ke atas—tersenyum menawan.
“Ini kamar kita.”
Jordan melepaskan tautan tangan mereka. lalu melepaskan jas yang seharian ini melekat—melemparkannya dengan asal di sofa, kemudian duduk disana sambil sibuk melepas sepatu pantofel miliknya. “Kamu mandi duluan.” ucapnya tanpa menoleh
Lionara masih tampak berdiri mematung di tengah ruangan dengan pikirannya yang berkecamuk. Mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan pemikiran tentang kegiatan intim antara suami istri seketika mulai memenuhi kepalanya. Sejujurnya ia tidak siap dan rasanya ingin lari saja dari tempat ini. Tapi kesepakatan
yang telah ia setujui dengan Jordan tidak bisa membuatnya lari begitu saja. Jordan sudah melakukan semua permintaannya, dan sekarang adalah waktunya untuk memenuhi keinginan lelaki itu.
Bukan tanpa alasan Jordan sudi menikahinya. Lelaki itu hanya menginginkan anak dari rahimnya. Mampukah dia? Bisakah dia nantinya menjadi ibu yang bertanggung jawab kepada anak yang dilahirkannya ke dunia? Sementara selama ini, bermimipi untuk memiliki suami dan anak saja pun ia tidak pernah. Hidupnya hanya terfokus untuk membiayai dan memberikan masa depan yang terbaik untuk sang adik. Lionara tidak pernah memikirkan diri atau
masa depannya. Tapi sekarang, semesta seolah-olah kembali bermain—mengacaukan tujuan hidupnya yang sudah ia tata sedemikian rupa.
Lionara tampak menelan saliva. Meremas jari-jarinya yang bertaut. “Ap-apakah malam ini Anda
akan melakukan itu?” tanya Lionara, yang nyaris tidak terdengar
“Itu? apa?” Jordan balik bertanya. Kernyitan samar tercipta di dahinya
Lionara terdiam, ia bergerak gelisah. Tidak nyaman dengan pembahasan intim begini.
Jordan yang semula tidak mengerti, setelah menatap gestur tubuh gelisa Lionara—barulah ia tahu maksud dari perkataan istrinya itu. Ia menyeringai, “Ah, bercinta maksudmu?” tanyanya frontal
Keterkejutan langsung melumuri mata Lionara yang kini wajahnya merona merah karena malu. Berbanding
terbalik, Lelaki itu bahkan bersikap biasa saja. Namun entah Lionara menyadari atau tidak, ada nada geli ketika Jordan kembali berucap, “Pergilah mandi. Mengenai hal itu kita lanjutkan setelah kamu selesai.”
To be continued
IG:@rianitasitumorangg**