
“JO!!
SIALAN!! BERENGSEK!! JANGAN LAKUKAN INI PADAKU!! AKU MASIH INGIN HIDUP. AKU
BELUM MENIKAH DAN MEMILIKI ANAK!!” Evan berteriak histeris sambil mencengkeram
erat jarring-jaring yang ada di sudut pesawat.
Teriakan
Evan semakin lama semakin tak terdengar karena kalah oleh suara deru angin saat
bagian belakang pesawat terbuka. Sementara Nara yang berada di belakang ketiga
lelaki itu, ternganga melihat awan dan permukaan bumi dari jendela sampingnya.
Dia yang hanya sebagai penonton, tapi kakinya turut merasa bergetar dan mati
rasa. Bahkan ia berulangkali menelan ludahnya susah payah.
Nara
takut ketinggian. Tapi, suami setannya itu ngotot mengajaknya tetap ikut,
katanya untuk menonton live dia dan kedua sahabatnya, yang bernasib sial hari
itu—digeret untuk melakukan sky diving—permintaan
ngidam terkonyol Jordan.
“Jordan!
Aku tahu kau cuma mengerjai kami. Tidak ada ngidam yang seperti ini, setan!!”
kali ini Aldrich yang berteriak panik.
Ayolah,
sejak dulu Evan dan Aldrich sangat anti dengan sky diving. Tapi si setan
Jordan tetap memaksakan kehendaknya, dengan dalih ini adalah permintaan calon
anaknya. Katanya kalau tidak dituruti nanti anaknya ileran.
“Come on, dude...” Jordan memegang
masing-masing bahu kedua sahabatnya. “ini demi calon keponakan kalian. Bermurah
hatilah sedikit. semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”
“Tidak!
Tidak! Tidak!” Evan menggeleng. “tahun lalu kau juga melakukan hal yang sama
dan hasilnya aku harus di opname selama dua minggu!”
“Kau
berlebihan lagi, Ev.” Jordan berdecak malas “Tenanglah. Banyak orang yang
melakukan sky diving dan mereka masih
hidup hingga sekarang. Contohnya aku. Aku bahkan sudah melakukannya lebih dari
sepuluh kali.”
“Itu
kan kau, sialan! Bisakah kau menjamin tubuhku masih tetap utuh saat dibawah
sana?!” gereget Aldrich.
Jordan
mengerjap-ngerjap. “Kalian membawa tanda pengenal?”
Keduanya
berpikir sejenak lalu mengangguk-angguk.
“Bagus,”
Jordan tersenyum puas. “Berarti tidak akan susah mengidentifikasi kalian jika
terjadi apa-apa.”
“What?!
Kau—”
“Mommy, Daddy fly dulu, ya.” seru Jordan
melambaikan tangan pada Nara yang menatapnya ngeri, lalu sedetik setelahnya
Jordan menarik Evan serta Aldrich dan membawa mereka terjun bebas.
****
Di
kantin, Nara ikut mengantri dengan karyawan lainnya yang juga tengah mengambil
sarapan. Pagi ini ia dan Jordan terlambat bangun dan tidak sempat sarapan di
rumah. Keduanya kelelahan akibat menuruti ngidam Jordan yang tidak masuk akal,
yaitu melakukan kegiatan ekstrim seharian penuh di luar. Evan dan Aldrich
menjadi korbannya. Tidak hanya mengajak kedua sahabatnya melakukan sky diving, Jordan juga memaksa kedua
orang yang nyaris tak berdaya itu ikut bermain parasailing, hingga membuat Aldrich dan Evan berakhir muntah-muntah
dan pingsan. Dan pagi ini Nara mendengar kalau Aldrich dan Evan sampai kabur ke
luar negeri demi menghindari Jordan dan segala permintaan anehnya.
Sepanjang
perjalanan menujuh kantor, Jordan terus menggerutu kesal karena di tinggal
kabur ke luar negeri. Padahal masih ada sederet list kegiatan anti-mainstream yang masih ingin dia
lakukan dengan Aldrich dan Evan.
“Mau
sarapan juga?”
Sebuah
suara yang terdengar berat, menyapa—tepat di belakang punggung Nara. Ia
berbalik, melihat Daniel yang kian mendekati tempatnya berdiri. Wajah dan
penampilan Daniel terlihat tampan seperti biasa, tak jarang banyak pasang mata
yang menatapnya—bahkan tidak segan untuk menyapanya.
“Tumben
makan di kantin,” Daniel berada di hadapannya, kaki Nara langsung terhela
mundur untuk memberi jarak. Ia memaksakan senyum, paham betul ada hati yang
sangat dijaganya.
“Kamu
terlihat sedikit pucat. Apa kamu sedang sakit?” Daniel bertanya kahwatir
Nara
menggeleng kecil, masih sulit untuk bersikap senormal mungkin di hadapan
Daniel. Setelah pembicaraan terakhir mereka di rooftop, baru ini mereka kembali
bertegur sapa. Daniel tampak baik-baik saja, seperti tidak terjadi apa-apa
dengan hubungan keduanya.
“Oh,
syukurlah.” Daniel mengangguk lega. “kamu pesan apa?”
“Kopi
dan bubur untuk Jordan.” sahut Nara sekenanya.
“Oh.”
Daniel mengangguk-anggukkan kepala
“Anda
ingin sarapan juga?” Nara bertanya formal, mengalihkan pandangan ke banner menu
makanan di depan.
Dingin,
dia memang seperti itu. mereka berdiri bersisian, tetapi jarak tak kasat mata
seolah membentang luas diantara keduanya.
“Iya.
Tadi dirumah tidak sempat sarapan.”
Anggukan
kecil adalah responnya. Nara hendak mengambil pesanannya yang sudah siap,
dihentikan Daniel.
“Flo,
bisa kita bicara sebentar? Tidak lebih dari lima menit. Aku janji.”
Nara
berbalik, “Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Kupikir pembicaraan kita
sudah jelas.”
Daniel
tersenyum getir, “Apa tidak ada lagi kesempatan untukku?”
Hening.
Nara masih tampak enggan. Bahkan dia terus menerus memberi tubuh keduanya
jarak. Seandainya ia tidak menikah dengan Jordan dan kini mengandung anak
lelaki itu, mungkin tanpa pikir panjang Nara akan memaafkan dan menerima Daniel
kembali menjadi kekasihnya. Tapi sekarang semua jelas sudah terlambat dan
mustahil untuk mereka bersama.
“Maaf…”
lirih Nara
Tersenyum
pedih, Daniel menarik napas dalam. Menetralisir rasa sesak dalam dadanya.
“Baiklah.
Karena kita udah benar-benar selesai, jadi tidak apa-apa bukan kalau aku
menganggap kamu teman? Aku sudah berusaha melupakan perasaanku padamu, hanya
beri aku sedikit waktu untuk benar-benar menghapusnya. Aku sudah kalah. Aku
tahu itu.”
“Sebaiknya
kita bicara disana. Orang-orang pada lihat kesini.” Nara mengambil bungkusan
pesananya, berjalan ke sisi kantin yang lebih sepi.
“Jadi
kita benar berteman?” tanya Nara memastikan
“Itu
yang kamu mau, kan?” Daniel tersenyum pahit
Nara
diam, Cuma menatap Daniel yang tengah berusaha mengatur napasnya.
“Kamu
akan mendapatkan yang jauh lebih baik dariku, El.”
Daniel
mengangguk getir, “Ya, semoga.” lirihnya “dan… kudengar dari kakek, katanya kamu
sedang hamil, Flo?”
“I-iya…
masuk tiga minggu.” Nara sedikit tercekat
Daniel
mengangguk-angguk dengan senyum yang di paksakan, “Kalau begitu kuucapkan
selamat untuk kalian. Tidak lama lagi kamu akan menjadi seorang Ibu.”
“Terima
kasih.” Nara mengangguk. “Kalau begitu, silahkan lanjut sarapan kamu. Aku harus
naik lagi.”
Nara
berbalik. Tanpa menunggu lama, dan tanpa mengucapkan apa-apa.
“Flo…?”
panggilan Daniel, membuat helaan Nara terhenti. Dia kembali berbalik ke
arahnya, penuh tanya. “untuk terakhir kalinya, bisakah aku memelukmu?”
Belum
sempat dijawab, Daniel telah menubrukkan tubuhnya pada Nara. Memeluknya, seerat
yang ia bisa. “aku tidak yakin akan bisa melupakanmu.” gumam Daniel.
“Kupikir
apa yang menyebabkan istriku pergi begitu lama?”
Tubuh
Nara seketika membeku begitu mendengar kalimat sarkas yang terdengar sinis itu.
Dengan cepat dia mendorong tubuh Daniel hingga pelukan mereka terlepas, lalu
raut dingin yang tak terbaca. Waktu bagai membeku karena aura pekat yang ia
keluarkan.
“Ternyata
sedang reuni dengan mantan kekasih.”
rendah, Jordan menekankan kalimat terakhirnya.
Deg!
Jantung
Nara berdentam nyaring, sedang wajahnya berubah pias. Ia tidak pernah menyangka
jika selama ini Jordan sudah mengetahui hubungan yang terjalin antara dia dan
Daniel dulu. Suasana hening yang menyesakkan membuat kepalan tangan Nara kian
dingin.
“Jo…
i-ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” tercekat, Nara menyeret langkahnya
pelan menujuh Jordan yang masih bergeming ditempat.
“Ta-tadi
kami hanya—“
“Ssttt…
Tidak perlu dijelaskan, Mommy.”
Jordan menutup bibir Nara dengan telunjuknya. “sekarang perutku sudah sangat
kelaparan. Bisakah kita makan dulu?”
“Apa?”
“Ck,
lama.” Jordan berdecak, lalu dalam sekali hentakkan ia meraup tubuh mungil
istrinya ke dalam gendongan hingga membuat wanita itu memekik tertahan.
“sebaiknya kita selesaikan di ruanganku.”
Jordan
memutar tubuh dan melangkah memasuki lift, tapi baru beberapa langkah ia
tiba-tiba berhenti. Jordan berbalik menengok dari bahunya dengan pandangan
tajam.
“Ini
terakhir kalinya aku membiarkanmu mendekati istriku. Jangan harap ada lain
kali.”
Setelah
itu ia melangkah lebar meninggalkan kafetaria, dimana Daniel berada.
****
Jordan
membuka pintu, lalu menutup dengan cara membantingnya. Jordan terus menggendong
Nara sampai memasuki kamar istrirahatnya, lalu menghempaskan pelan tubuh Nara
ke tengah ranjang. Ekspresinya terlihat dingin dan itu membuat Nara seketika
beringsut ketakutan.
“Jo-“
Nara menggeleng panik
Jordan
menaiki ranjang dan menarik kembali kaki Nara yang hendak menjauh—membuat tubuh
itu kembali telentang. Jordan menindih dan meraih dagu Nara, lalu *******
dengan kasar bibirnya tanpa ampun. Dia sama sekali tidak berbicara, tidak
mengatakan apa-apa, tetapi Jordan yang seperti ini nyaris tak Nara kenal sama
sekali.
“Hentikan.
Apa yang—kamu lakukan?!” engah Nara, mencoba mengelak dari serangan ciuman pria
itu.
Jordan
tidak menyahut. Bibirnya terus menciumi, dan baru melepaskan saat Nara mulai
kehabisan napas. Jordan menangkup wajah Nara, keduanya saling mengunci
pandangan dengan jarak yang sangat dekat sampai hidung mereka bersentuhan dan
Nara bisa merasakan embusan napas beraroma mint milik Jordan.
“Lupakan
dia. Kamu istriku, ibu dari anakku. Kamu milikku, dan hanya kuijinkan
mencintaiku. Tidak boleh ada pria lain selain aku, suamimu.” suara Jordan bergetar, kedua matanya berkaca-kaca sarat
akan ketakutan?
Nara
diam. Kecuali deru napas yang masih tersengal, Nara memperhatikan raut wajah
Jordan yang dipenuhi ketakutan. Bahkan air mata yang semula tertahan di pelupuk
mata, kini jatuh mengaliri pipinya.
“Aku
cemburu pada Daniel. Melihat kalian berpelukan tadi, nyaris membuatku meledak!”
Jordan
tidak pernah tahu, sebelum dia ada berapa banyak lelaki yang mendekati Nara.
Tapi Daniel adalah orang yang paling dibencinya. Ibu Daniel telah merebut
Ayahnya—membuat keluarganya hancur, dan kini putra wanita itu pun hendak melakukan
hal yang sama pada dirinya. Tidak. Sampai mati pun ia tidak akan pernah
membiarkan hal itu terjadi.
Lionara adalah
istrinya, miliknya yang paling berharga.
“Jangan.
Jangan kembali padanya. Aku tidak akan pernah mengijinkan itu.”
Tubuh
Nara membeku, saat semua kalimat itu keluar dari bibir Jordan. Wajah Jordan
terlihat sangat frustasi dan tatapan pria itu berubah lemah, sangat berbeda
dari beberapa menit yang lalu. Dan untuk yang kesekian kalinya, dada Nara turut
berdenyut sakit setiap kali melihat kerapuhan lelaki di depannya itu.
Pelan,
Nara mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap dengan lembut bulir yang
mengalir di wajah rupawan suaminya. Tangannya terus membelai hangat wajah itu
dan refleks, Jordan memejamkan mata—menikmati usapan lembut tangan istrinya.
“Aku
tidak akan pergi.” Lirih Nara, Jordan membuka mata. “Aku sudah melepaskan
Daniel untuk bersamamu. Hubungan kami sudah berakhir.”
Jordan
masih diam. Ia menatap lekat manik hijau Nara yang begitu indah.
“Tadi,
itu adalah pelukan terakhir yang diminta oleh Daniel. Dia juga sudah
melepaskanku.”
“Semudah
itu?” Jordan memicingkan mata, sama sekali tidak percaya.
Nara
tersenyum, menepuk-nepuk pelan pipi Jordan, “setidaknya itulah yang
dikatakannya tadi.” ia bisa melihat raut Jordan sudah mulai melembut.
“Tapi
kenapa aku masih tidak percaya?” sekali lagi, Jordan mengangkat sebelah alis.
Nara
menghela napas. Pria di depannya ini sudah mulai kembali menyebalkan.
“Ya
sudah kalau tidak percaya. Sekarang minggir, tubuhmu berat, Jo.”
Nara
mendorong dada Jordan, tapi pria itu sama sekali tidak bergeser dari atasnya.
“Enggak
bisa. Badan kita udah nempel ini.” Jordan menolak, dan mulai mengendusi leher
Nara.
“Tapi baby-nya sesak, Jo.” Jurus terakhir
Nara.
“Astaga, Mommy… kenapa enggak bilang dari tadi
sih,” secepat kilat Jordan bergulir kesamping begitu baby-nya di sebut-sebut.
Jordan
menyingkap ke atas kemeja sifon Nara, lalu mengusap-usap naik turun perut Nara
yang masih terlihat rata.
“Baby, sesak ya? Daddy enggak sengaja
loh. Jangan ngambek ya anaknya, Papa.” Jordan mengecupi perut itu.
“Jo,
hentikan. Kamu harus segera sarapan dan kembali kerja.” protes Nara, tapi bibirnya
mengulum senyum gemas—tangannya mengusap-usap rambut halus Jordan.
Kepala
pria itu menggeleng. Ia kembali menutup perut Nara, lalu kembali berbaring
miring dan memeluk erat tubuh wanita kesayangannya.
“Jo-“
“Uda
enggak lapar lagi, mommy. Dan kerjanya bisa disambung nanti. Kita bobo bentaran
ya, ya..”
Sebelum
Nara protes, Jordan sudah menepuk-nepuk ubun-ubunnya dan mengecupi pelipisnya.
“Mommy
bobo, oh mommy bobo, kalau tidak bobo, digigit Daddy.”
“Serius,
Jo?”
Jordan
benar-benar bernyanyi, Nara tidak percaya ini. Baru beberapa menit lalu suasana
mereka begitu melo. Tapi sekarang? Ya Tuhan, manusia ini…
Walaupun
mengegelikan, Nara tidak bisa untuk tidak tersenyum. Diputuskannya untuk
mengikuti kemauan pria itu—Nara membenamkan wajahnya di dada Jordan dan balas
memeluk tubuh atletis itu. Hangat dan nyaman. Dan tidak lama kedua matanya
terpejam sempurna.
Jordan
tersenyum saat mendengar dengkuran halus istrinya. Menundukkan kepala, bibirnya
mengecup lama puncak kepala Nara.
“I love you, Mommy…”
**To be continued
IG: @rianitasitumorangg
...Tengah malam keluar rumah cuma nemanin si Big baby muasin perut karetnya. Terus dipaksa senyum buat foto -_-...
...Baby Daddy A.k.a Big Baby...