JORDAN

JORDAN
Chapter 26



“JO!!


SIALAN!! BERENGSEK!! JANGAN LAKUKAN INI PADAKU!! AKU MASIH INGIN HIDUP. AKU


BELUM MENIKAH DAN MEMILIKI ANAK!!” Evan berteriak histeris sambil mencengkeram


erat jarring-jaring yang ada di sudut pesawat.


Teriakan


Evan semakin lama semakin tak terdengar karena kalah oleh suara deru angin saat


bagian belakang pesawat terbuka. Sementara Nara yang berada di belakang ketiga


lelaki itu, ternganga melihat awan dan permukaan bumi dari jendela sampingnya.


Dia yang hanya sebagai penonton, tapi kakinya turut merasa bergetar dan mati


rasa. Bahkan ia berulangkali menelan ludahnya susah payah.


Nara


takut ketinggian. Tapi, suami setannya itu ngotot mengajaknya tetap ikut,


katanya untuk menonton live dia dan kedua sahabatnya, yang bernasib sial hari


itu—digeret untuk melakukan sky diving—permintaan


ngidam terkonyol Jordan.


“Jordan!


Aku tahu kau cuma mengerjai kami. Tidak ada ngidam yang seperti ini, setan!!”


kali ini Aldrich yang berteriak panik.


Ayolah,


sejak dulu Evan dan Aldrich sangat anti dengan  sky diving. Tapi si setan


Jordan tetap memaksakan kehendaknya, dengan dalih ini adalah permintaan calon


anaknya. Katanya kalau tidak dituruti nanti anaknya ileran.


“Come on, dude...” Jordan memegang


masing-masing bahu kedua sahabatnya. “ini demi calon keponakan kalian. Bermurah


hatilah sedikit. semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”


“Tidak!


Tidak! Tidak!” Evan menggeleng. “tahun lalu kau juga melakukan hal yang sama


dan hasilnya aku harus di opname selama dua minggu!”


“Kau


berlebihan lagi, Ev.” Jordan berdecak malas “Tenanglah. Banyak orang yang


melakukan sky diving dan mereka masih


hidup hingga sekarang. Contohnya aku. Aku bahkan sudah melakukannya lebih dari


sepuluh kali.”


“Itu


kan kau, sialan! Bisakah kau menjamin tubuhku masih tetap utuh saat dibawah


sana?!” gereget Aldrich.


Jordan


mengerjap-ngerjap. “Kalian membawa tanda pengenal?”


Keduanya


berpikir sejenak lalu mengangguk-angguk.


“Bagus,”


Jordan tersenyum puas. “Berarti tidak akan susah mengidentifikasi kalian jika


terjadi apa-apa.”


“What?!


Kau—”


“Mommy, Daddy fly dulu, ya.” seru Jordan


melambaikan tangan pada Nara yang menatapnya ngeri, lalu sedetik setelahnya


Jordan menarik Evan serta Aldrich dan membawa mereka terjun bebas.


****


Di


kantin, Nara ikut mengantri dengan karyawan lainnya yang juga tengah mengambil


sarapan. Pagi ini ia dan Jordan terlambat bangun dan tidak sempat sarapan di


rumah. Keduanya kelelahan akibat menuruti ngidam Jordan yang tidak masuk akal,


yaitu melakukan kegiatan ekstrim seharian penuh di luar. Evan dan Aldrich


menjadi korbannya. Tidak hanya mengajak kedua sahabatnya melakukan sky diving, Jordan juga memaksa kedua


orang yang nyaris tak berdaya itu ikut bermain parasailing, hingga membuat Aldrich dan Evan berakhir muntah-muntah


dan pingsan. Dan pagi ini Nara mendengar kalau Aldrich dan Evan sampai kabur ke


luar negeri demi menghindari Jordan dan segala permintaan anehnya.


Sepanjang


perjalanan menujuh kantor, Jordan terus menggerutu kesal karena di tinggal


kabur ke luar negeri. Padahal masih ada sederet list kegiatan anti-mainstream yang masih ingin dia


lakukan dengan Aldrich dan Evan.


“Mau


sarapan juga?”


Sebuah


suara yang terdengar berat, menyapa—tepat di belakang punggung Nara. Ia


berbalik, melihat Daniel yang kian mendekati tempatnya berdiri. Wajah dan


penampilan Daniel terlihat tampan seperti biasa, tak jarang banyak pasang mata


yang menatapnya—bahkan tidak segan untuk menyapanya.


“Tumben


makan di kantin,” Daniel berada di hadapannya, kaki Nara langsung terhela


mundur untuk memberi jarak. Ia memaksakan senyum, paham betul ada hati yang


sangat dijaganya.


“Kamu


terlihat sedikit pucat. Apa kamu sedang sakit?” Daniel bertanya kahwatir


Nara


menggeleng kecil, masih sulit untuk bersikap senormal mungkin di hadapan


Daniel. Setelah pembicaraan terakhir mereka di rooftop, baru ini mereka kembali


bertegur sapa. Daniel tampak baik-baik saja, seperti tidak terjadi apa-apa


dengan hubungan keduanya.


“Oh,


syukurlah.” Daniel mengangguk lega. “kamu pesan apa?”


“Kopi


dan bubur untuk Jordan.” sahut Nara sekenanya.


“Oh.”


Daniel mengangguk-anggukkan kepala


“Anda


ingin sarapan juga?” Nara bertanya formal, mengalihkan pandangan ke banner menu


makanan di depan.


Dingin,


dia memang seperti itu. mereka berdiri bersisian, tetapi jarak tak kasat mata


seolah membentang luas diantara keduanya.


“Iya.


Tadi dirumah tidak sempat sarapan.”


Anggukan


kecil adalah responnya. Nara hendak mengambil pesanannya yang sudah siap,


dihentikan Daniel.


“Flo,


bisa kita bicara sebentar? Tidak lebih dari lima menit. Aku janji.”


Nara


berbalik, “Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Kupikir pembicaraan kita


sudah jelas.”


Daniel


tersenyum getir, “Apa tidak ada lagi kesempatan untukku?”


Hening.


Nara masih tampak enggan. Bahkan dia terus menerus memberi tubuh keduanya


jarak. Seandainya ia tidak menikah dengan Jordan dan kini mengandung anak


lelaki itu, mungkin tanpa pikir panjang Nara akan memaafkan dan menerima Daniel


kembali menjadi kekasihnya. Tapi sekarang semua jelas sudah terlambat dan


mustahil untuk mereka bersama.


“Maaf…”


lirih Nara


Tersenyum


pedih, Daniel menarik napas dalam. Menetralisir rasa sesak dalam dadanya.


“Baiklah.


Karena kita udah benar-benar selesai, jadi tidak apa-apa bukan kalau aku


menganggap kamu teman? Aku sudah berusaha melupakan perasaanku padamu, hanya


beri aku sedikit waktu untuk benar-benar menghapusnya. Aku sudah kalah. Aku


tahu itu.”


“Sebaiknya


kita bicara disana. Orang-orang pada lihat kesini.” Nara mengambil bungkusan


pesananya, berjalan ke sisi kantin yang lebih sepi.


“Jadi


kita benar berteman?” tanya Nara memastikan


“Itu


yang kamu mau, kan?” Daniel tersenyum pahit


Nara


diam, Cuma menatap Daniel yang tengah berusaha mengatur napasnya.


“Kamu


akan mendapatkan yang jauh lebih baik dariku, El.”


Daniel


mengangguk getir, “Ya, semoga.” lirihnya “dan… kudengar dari kakek, katanya kamu


sedang hamil, Flo?”


“I-iya…


masuk tiga minggu.” Nara sedikit tercekat


Daniel


mengangguk-angguk dengan senyum yang di paksakan, “Kalau begitu kuucapkan


selamat untuk kalian. Tidak lama lagi kamu akan menjadi seorang Ibu.”


“Terima


kasih.” Nara mengangguk. “Kalau begitu, silahkan lanjut sarapan kamu. Aku harus


naik lagi.”


Nara


berbalik. Tanpa menunggu lama, dan tanpa mengucapkan apa-apa.


“Flo…?”


panggilan Daniel, membuat helaan Nara terhenti. Dia kembali berbalik ke


arahnya, penuh tanya. “untuk terakhir kalinya, bisakah aku memelukmu?”


Belum


sempat dijawab, Daniel telah menubrukkan tubuhnya pada Nara. Memeluknya, seerat


yang ia bisa. “aku tidak yakin akan bisa melupakanmu.” gumam Daniel.


“Kupikir


apa yang menyebabkan istriku pergi begitu lama?”


Tubuh


Nara seketika membeku begitu mendengar kalimat sarkas yang terdengar sinis itu.


Dengan cepat dia mendorong tubuh Daniel hingga pelukan mereka terlepas, lalu


raut dingin yang tak terbaca. Waktu bagai membeku karena aura pekat yang ia


keluarkan.


“Ternyata


sedang reuni dengan mantan kekasih.”


rendah, Jordan menekankan kalimat terakhirnya.


Deg!


Jantung


Nara berdentam nyaring, sedang wajahnya berubah pias. Ia tidak pernah menyangka


jika selama ini Jordan sudah mengetahui hubungan yang terjalin antara dia dan


Daniel dulu. Suasana hening yang menyesakkan membuat kepalan tangan Nara kian


dingin.


“Jo…


i-ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” tercekat, Nara menyeret langkahnya


pelan menujuh Jordan yang masih bergeming ditempat.


“Ta-tadi


kami hanya—“


“Ssttt…


Tidak perlu dijelaskan, Mommy.”


Jordan menutup bibir Nara dengan telunjuknya. “sekarang perutku sudah sangat


kelaparan. Bisakah kita makan dulu?”


“Apa?”


“Ck,


lama.” Jordan berdecak, lalu dalam sekali hentakkan ia meraup tubuh mungil


istrinya ke dalam gendongan hingga membuat wanita itu memekik tertahan.


“sebaiknya kita selesaikan di ruanganku.”


Jordan


memutar tubuh dan melangkah memasuki lift, tapi baru beberapa langkah ia


tiba-tiba berhenti. Jordan berbalik menengok dari bahunya dengan pandangan


tajam.


“Ini


terakhir kalinya aku membiarkanmu mendekati istriku. Jangan harap ada lain


kali.”


Setelah


itu ia melangkah lebar meninggalkan kafetaria, dimana Daniel berada.


****


Jordan


membuka pintu, lalu menutup dengan cara membantingnya. Jordan terus menggendong


Nara sampai memasuki kamar istrirahatnya, lalu menghempaskan pelan tubuh Nara


ke tengah ranjang. Ekspresinya terlihat dingin dan itu membuat Nara seketika


beringsut ketakutan.


“Jo-“


Nara menggeleng panik


Jordan


menaiki ranjang dan menarik kembali kaki Nara yang hendak menjauh—membuat tubuh


itu kembali telentang. Jordan menindih dan meraih dagu Nara, lalu *******


dengan kasar bibirnya tanpa ampun. Dia sama sekali tidak berbicara, tidak


mengatakan apa-apa, tetapi Jordan yang seperti ini nyaris tak Nara kenal sama


sekali.


“Hentikan.


Apa yang—kamu lakukan?!” engah Nara, mencoba mengelak dari serangan ciuman pria


itu.


Jordan


tidak menyahut. Bibirnya terus menciumi, dan baru melepaskan saat Nara mulai


kehabisan napas. Jordan menangkup wajah Nara, keduanya saling mengunci


pandangan dengan jarak yang sangat dekat sampai hidung mereka bersentuhan dan


Nara bisa merasakan embusan napas beraroma mint milik Jordan.


“Lupakan


dia. Kamu istriku, ibu dari anakku. Kamu milikku, dan hanya kuijinkan


mencintaiku. Tidak boleh ada pria lain selain aku, suamimu.” suara Jordan bergetar, kedua matanya berkaca-kaca sarat


akan ketakutan?


Nara


diam. Kecuali deru napas yang masih tersengal, Nara memperhatikan raut wajah


Jordan yang dipenuhi ketakutan. Bahkan air mata yang semula tertahan di pelupuk


mata, kini jatuh mengaliri pipinya.


“Aku


cemburu pada Daniel. Melihat kalian berpelukan tadi, nyaris membuatku meledak!”


Jordan


tidak pernah tahu, sebelum dia ada berapa banyak lelaki yang mendekati Nara.


Tapi Daniel adalah orang yang paling dibencinya. Ibu Daniel telah merebut


Ayahnya—membuat keluarganya hancur, dan kini putra wanita itu pun hendak melakukan


hal yang sama pada dirinya. Tidak. Sampai mati pun ia tidak akan pernah


membiarkan hal itu terjadi.


Lionara adalah


istrinya, miliknya yang paling berharga.


“Jangan.


Jangan kembali padanya. Aku tidak akan pernah mengijinkan itu.”


Tubuh


Nara membeku, saat semua kalimat itu keluar dari bibir Jordan. Wajah Jordan


terlihat sangat frustasi dan tatapan pria itu berubah lemah, sangat berbeda


dari beberapa menit yang lalu. Dan untuk yang kesekian kalinya, dada Nara turut


berdenyut sakit setiap kali melihat kerapuhan lelaki di depannya itu.


Pelan,


Nara mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap dengan lembut bulir yang


mengalir di wajah rupawan suaminya. Tangannya terus membelai hangat wajah itu


dan refleks, Jordan memejamkan mata—menikmati usapan lembut tangan istrinya.


“Aku


tidak akan pergi.” Lirih Nara, Jordan membuka mata. “Aku sudah melepaskan


Daniel untuk bersamamu. Hubungan kami sudah berakhir.”


Jordan


masih diam. Ia menatap lekat manik hijau Nara yang begitu indah.


“Tadi,


itu adalah pelukan terakhir yang diminta oleh Daniel. Dia juga sudah


melepaskanku.”


“Semudah


itu?” Jordan memicingkan mata, sama sekali tidak percaya.


Nara


tersenyum, menepuk-nepuk pelan pipi Jordan, “setidaknya itulah yang


dikatakannya tadi.” ia bisa melihat raut Jordan sudah mulai melembut.


“Tapi


kenapa aku masih tidak percaya?” sekali lagi, Jordan mengangkat sebelah alis.


Nara


menghela napas. Pria di depannya ini sudah mulai kembali menyebalkan.


“Ya


sudah kalau tidak percaya. Sekarang minggir, tubuhmu berat, Jo.”


Nara


mendorong dada Jordan, tapi pria itu sama sekali tidak bergeser dari atasnya.


“Enggak


bisa. Badan kita udah nempel ini.” Jordan menolak, dan mulai mengendusi leher


Nara.


“Tapi baby-nya sesak, Jo.” Jurus terakhir


Nara.


“Astaga, Mommy… kenapa enggak bilang dari tadi


sih,” secepat kilat Jordan bergulir kesamping begitu baby-nya di sebut-sebut.


Jordan


menyingkap ke atas kemeja sifon Nara, lalu mengusap-usap naik turun perut Nara


yang masih terlihat rata.


“Baby, sesak ya? Daddy enggak sengaja


loh. Jangan ngambek ya anaknya, Papa.” Jordan mengecupi perut itu.


“Jo,


hentikan. Kamu harus segera sarapan dan kembali kerja.” protes Nara, tapi bibirnya


mengulum senyum gemas—tangannya mengusap-usap rambut halus Jordan.


Kepala


pria itu menggeleng. Ia kembali menutup perut Nara, lalu kembali berbaring


miring dan memeluk erat tubuh wanita kesayangannya.


“Jo-“


“Uda


enggak lapar lagi, mommy. Dan kerjanya bisa disambung nanti. Kita bobo bentaran


ya, ya..”


Sebelum


Nara protes, Jordan sudah menepuk-nepuk ubun-ubunnya dan mengecupi pelipisnya.


“Mommy


bobo, oh mommy bobo, kalau tidak bobo, digigit Daddy.”


“Serius,


Jo?”


Jordan


benar-benar bernyanyi, Nara tidak percaya ini. Baru beberapa menit lalu suasana


mereka begitu melo. Tapi sekarang? Ya Tuhan, manusia ini…


Walaupun


mengegelikan, Nara tidak bisa untuk tidak tersenyum. Diputuskannya untuk


mengikuti kemauan pria itu—Nara membenamkan wajahnya di dada Jordan dan balas


memeluk tubuh atletis itu. Hangat dan nyaman. Dan tidak lama kedua matanya


terpejam sempurna.


Jordan


tersenyum saat mendengar dengkuran halus istrinya. Menundukkan kepala, bibirnya


mengecup lama puncak kepala Nara.


“I love you, Mommy…”


**To be continued


IG: @rianitasitumorangg


...Tengah malam keluar rumah cuma nemanin si Big baby muasin perut karetnya. Terus dipaksa senyum buat foto -_-...



...Baby Daddy A.k.a Big Baby...