JORDAN

JORDAN
Chapter 55



Empat bulan kemudian


Balita montok berusia delapan bulan lebih tepatnya, tengah bermain mobil-mobilan dan


robot, ditemani oleh Oscar—anjing ras terrier


yorkshire kesayangannya.


Jay Manuel Christoper, putra pertama dari pasangan Jordan dan Lionara. Balita kecil


itu sudah bisa merangkak dengan lincahnya. Garis wajahnya pun kian hari semakin


mirip dengan Jordan.


“Sugar, Oscar-nya jangan dicekik begitu. Kasihan nanti enggak bisa napas,” Lionara


melepaskan cengkraman tangan Jay yang tampak geram dengan anjing miliknya.


“Guk?” beo Jay dengan mata polos nan bulatnya. Balita lucu itu sedikit demi sedikit


bisa mengucapkan kata demi kata, walaupun tidak jelas.


“Iya, enggak boleh digituin, ya? Nanti Oscar bisa mati loh. Mau?” Jay menggeleng kuat


kemudian beralih memainkan mobil-mobilannya.


“Kita mandi yuk, Nak.” Lionara merentangkan kedua tangannya “Jay mau ketemu daddy


kan?”


Jay yang begitu mendengar kata daddy, langsung berhenti bermain dan merespon dengan wajah sumringah. Balita itu dengan girangnya merangkak dan menghambur ke pelukan Lionara, membuat wanita itu terkekeh geli.


“Dy--dy…My!! Dy---!!” Jay menepuk-nepuk kegirangan wajah Lionara


“Jay rindu daddy ya?” Lionara tersenyum gemas seraya menggigit pelan pipi berisi


putranya, membuat balita tampan itu tertawa nyaring.


“Yaudah kalau gitu kita mandi ya? Daddy pasti senang banget ketemu sama kamu,”


“Eeeee—“ celoteh Jay dengan semangat dan menepuk tangannya seolah menyetujui ucapan sang mommy.


“Smart boy.” Lionara mencium seluruh


wajah Jay lalu menggendongnya kembali menuju kamar.


****


Dengan sabar dan penuh kelembutan, Lionara memakaikan baju ganti sesaat setelah ia selesai memandikan Jordan di sore hari. Berat badan Jordan yang beberapa bulan lalu turun drastis, kini sedikit berisi setelah rutin makan dengan teratur.


Jordan hanya akan mau makan jika itu dimasak dan disuapi oleh Lionara.


Selama tinggal di klinik jiwa, Lionara sangat telaten merawat tubuh suaminya dan rajin


membersihkan jambang di sekitar wajah Jordan hingga membuat pria itu tampak


selalu tampan dan segar. Namun jika Lionara tidak sempat, ia akan meminta


bantuan perawat untuk mengambil alih tugasnya. Tapi sangat disayangkan,


nyatanya Jordan akan menolak dan mengamuk saat disentuh orang lain selain


Lionara. Pria itu hanya akan tenang jika yang melakukan tugas itu adalah istrinya.


Belakangan ini Jordan pun mengalami kemajuan kecil, yakni dia sudah mau berbicara walau hanya sepata dua kata. Kemudian setelahnya dia akan kembali melamun—larut dalam dunianya sendiri.


Saat menyisir rambut Jordan yang masih setengah basah, senyum kecil terbit di wajah


Lionara. Posisi seperti ini sama persis saat Jay yang ia sisirkan rambutnya


setelah selesai mandi. Terlebih, saat melihat wajah suaminya dari jarak sedekat


ini, Jay benar-benar mengcopy-paste wajah daddynya.


Gemas, Lionara meraih tengkuk Jordan dan mengecup bibir kemerahan suaminya.


“Tampan banget sih suami aku ini,” puji Lionara seraya mengusap-usap pipi Jordan yang hanya diam menatapnya.


“Mau jalan-jalan sore ke danau, daddy?”


Seperti biasa, Jordan tidak menjawab. Hanya memberikan anggukan dengan manik yang menoleh ke arah luar jendela. Entah sedang menatap apa. Karena bagi Lionara, sorot mata Jordan masih sama saja. Kosong.


Lionara tersenyum getir. Sejujurnya, Lionara sudah biasa dengan reaksi Jordan yang


seperti ini. Namun rasanya masih saja menyesakkan dada.


“Kalau begitu mari kita ke danau. Ada Jay disana juga loh, sayang”


Lionara bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan sorot Jordan saat ia mengatakan keberadaan putra kecil mereka. Raut wajahnya yang semula tertata datar, kini berangsur tersenyum. Dengan binar mata yang terlihat antusias Jordan meoleh


cepat pada Lionara.


“Jay?”


Seperti biasa, Jordan hanya akan bicara jika pembahasan itu tentang segala sesuatu yang ia sukai. Terlebih itu adalah balita laki-laki nan menggemaskan yang sudah


berhasil membuat Jordan memberikan respon  untuk pertama kalinya sejak Jay dibawa ke hadapannya.


Lionara sangat bersyukur, kehadiran Jay benar-benar sebuah mujizat bagi suaminya.


Balitanya itu bagaikan obat mujarab yang paling ampuh untuk menarik sedikit


kesadaran Jordan. Disaat terapi dan berbagai obat-obatan yang dikomsumsi Jordan tak kunjung membawa perubahan, justru tangisan membahana Jay waktu itu yang berhasil menarik kesadarannya—dan untuk pertama kalinya Jordan bisa melihat keberadaan dokter Lilo dan Lionara yang berada di ruangan kala itu.


Lionara menyunggingkan senyum lebar setelah melihat reaksi Jordan. “Iya, anak kita


sayang,” ia mengecup lama kening Jordan sebelum kemudian mendorong kursi roda


yang sedari tadi ditempati oleh Jordan menuju danau.


****


Jordan memandangi pemandangan danau di sore hari sambil sesekali tangannya yang tengah memegang krayon mencoret-coret sesuatu pada buku gambar di pangkuannya.


Sesekali Lionara melihat ke arah parkiran yang tidak jauh di belakang mereka.


Memastikan mobil yang biasa dikemudikan Sam berada disana, namun tidak ada.


Tandanya, Sam dan pengasuh putranya belum kembali dari acara jalan-jalan


mereka.


Saat datang tadi, memang Lionara menitipkan Jay kepada Sam dan pengasuhnya untuk menemani Jay bermain, berhubung ia masih harus memandikan suaminya terlebih dahulu. Tapi sampai sekarang kedua orang suruhannya itu tak kunjung muncul.


“Jay?”


Lionara langsung menoleh, saat tanpa diduga Jordan tiba-tiba bersuara. Lionara


mendekat, kemudian duduk disisi Jordan, melihat benang kusut yang Jordan gambar


menggunakan krayon hitam.


Lionara tersenyum seraya mengusap-usap punggung lebar Jordan, “Lagi dalam perjalanan, daddy. Sabar ya,”


Tidak ada jawaban. Jordan hanya meletakkan krayon itu, lalu mengambil krayon berwarna merah dan melanjutkan kegiatannya semula. Lagi-lagi dia kembali tidak menghiraukan keberadaan Lionara.


Lionara maklum. “Daddy, rambut kamu udah panjang lagi ini. Besok aku pangkas ya? Biar


makin tampan.”


Lionara mulai bercerita, dia mengeluarkan ikat rambut dari saku jaketnya kemudian


mengikat setengah rambut cokelat Jordan yang menghalangi pemandangan pria itu.


“Tapi, begini juga gak kalah tampan kok. Sexy malah,” wanita itu sengaja berbisik


sensual tepat di telinga Jordan lalu meninggalkan kecupan disana, membuat


telinga pria itu seketika memerah.


Melihat itu, refleks Lionara tertawa renyah yang di balas tatapan tak terbaca oleh


Jordan, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.


suaminya menyoretkan garis-garis lurus. Lionara mengambil krayon warna biru,


dia ikut menulis disana.


I love you.


Lionara tersenyum manis. “Dulu, kita uda saling janji akan selalu bilang


ini setiap hari—sebelum dan sesudah bangun tidur. Kamu bilang biar ini sebagai


bukti kalau kita tidak akan pernah terpisahkan selain kematian. Walau sebenarnya, aku masih


saja kaku pas bilang ini.”


Jordan diam sesaat, namun dia kembali menggambar.


Aku harap kamu cepat sembuh, daddy.


Kali ini tulisan lain, lebih kecil. Lionara sudah setiap hari menemui Jordan yang


seperti ini, tapi entah kenapa dia masih belum terbiasa. Hatinya tetap terasa


linu setiap kali memanggil Jordan, namun pria itu mengabaikannya. Padahal dulu,


selalu Jordan yang merecoki dirinya—tak henti memancing dirinya bicara banyak.


Bahkan saat mereka nyaris dipisahkan oleh kematian, Jordan tidak pernah sekalipun


menyerah untuk berusaha membangunkannya. Yang lebih gilanya lagi, Jordan menghajar


Rebecca tanpa ampun, tepat di depan tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Tak cukup sampai disana, Jordan sudah akan


melempar Rebecca dari balkon Rumah sakit, hanya demi memancing kedua matanya


kembali terbuka. Mengingat betapa besarnya rasa cinta Jordan padanya, membuat Lionara lebih kuat. Wanita itu tak henti memanjatkan doa kepada sang pencipta setiap malam, sambil menggenggam tangan Jordan yang sudah terlelap. Lionara berusaha meneguhkan hatinya agar tetap tidak berhenti berharap. Sama seperti yang dilakukan Jordan dulu padanya.


I miss you. Please come back.


Lionara mengecup pelipis Jordan penuh penghayatan, diikuti bulir bening yang mengalir dari sudut matanya. “Tak peduli seberapa lama pun itu, aku akan tetap menunggu kamu, sayang.” bisiknya parau.


Jordan terdiam. Dia berkedip sekali, melihat ukiran-ukiran huruf yang ditulis oleh


Lionara. Tanpa wanita itu sadari, setetes air mata Jordan juga jatuh.


Hening.


“Li-on.”


“My, my, my—my!!!”


Suara lirih Jordan terendap, bersamaan dengan suara lengkingan seorang balita yang baru saja datang dari arah belakang mereka.


Kedua pasang iris berbeda warna itu sontak langsung menoleh ke sumber suara. Lionara


dengan senyum hangatnya sambil melambaikan tangan merespon panggilan putranya, sedang Jordan dengan tubuh menegang, hingga tanpa sadar berdiri dan menjatuhkan krayon serta buku gambar itu begitu saja.


Jantung Jordan berdetak lebih cepat saat menatap balita laki-laki yang sedang tertawa lebar dalam gendongan pengasuhnya. Sejurus kemudian, kloningnya itu mulai meronta meminta segera diturunkan, terlihat tak sabar untuk memeluk kedua orang tuanya.


“J-Jay—my baby?” Jordan tercekat dengan netra basah.


Lionara menangkup pipi Jordan dengan kedua telapaknya yang hangat. Menolehkan wajah Jordan yang basah?


Iris mereka saling menumbuk. “Iya sayang… itu Jay, putra kita.”


Hening.


“My!!!” Jay kembali berteriak, menyadarkan pasangan suami istri itu. Kini pengasuh dan


balita itu sudah berada di hadapan mereka.


Lionara mengerjap. “Oh—hai sugar. Uda puas mainnya?” ia mengulurkan kedua tangannya meraih tubuh kecil Jay ke dalam pelukannya. Wanita itu menciumi gemas perut buncit Jay membuat anak itu tertawa. “Hayo, makan apa aja tadi ini, hm? Kok


perutnya makin buncit gini kayak balon,”


“Pop-pop—Nishhh“


Dan kedua ibu dan anak itu terus berceloteh, tak menyadari Jordan yang tengah


terpana. Dan sebuah senyum tipis menghiasi wajah Jordan kala memperhatikan interaksi keduanya. Hingga kemudian…


“Dy?” Jay yang baru menyadari keberadaan daddynya, memiringkan kepala seraya


mengedip-ngedipkan mata birunya.


Sepuluh detik… dua puluh detik…


Jordan hanya diam.


“Dy…d-dy…dddyyy!!” teriak Jay akhirnya, kesal karena tidak di respon. Balita itu tiba-tiba menangis kencang dengan kedua tangan yang terulur kepada Jordan—meminta di gendong sang daddy.


Lionara menatap nelangsa pada kedua pria berbeda generasi itu bergantian. Ia sudah tahu respon Jordan akan seperti yang sudah-sudah, tetap diam—sekalipun suaminya itu terlihat sangat tertarik dengan kehadiran Jay.


Melihat itu, Lionara sudah akan memeluk kembali tubuh Jay yang masih terus menangis minta perhatian sang daddy. Namun gerakan Lionara terhenti saat melihat Jordan justru mengulurkan tangannya, dan mengambil alih tubuh Jay ke dalam gendongannya.


“Sssttt… don’t cry sugar. Daddy’s here.”


Jordan mengayun-ayun tubuh Jay seraya menaburkan kecupan di seluruh wajahnya. “I’m sorry, hm?”


Seakan mengerti, Jay hanya mengangguk pelan lalu tangan mungilnya memeluk leher Jordan erat. Kepala balita itu terkulai nyaman di bahunya, diiringi telapak tangan


Jordan yang menepuk-nepuk lembut bokong putranya yang kembali berangsur tenang.


Hingga akhirnya, pria itu pun mulai bernyanyi dengan suara yang mengalun merdu.


Lionara tertegun. Baik Sam maupun pengasuh Jay, tidak ada yang berani menganggu pemandangan itu. Lionara menelan ludah, menggeleng sambil menutup mata dengan punggung lengan. Dia pasti berhalusinasi, terlalu terobsesi mengharapkan Jordan


sembuh, membuat akal sehatnya juga menguap.


Kaki Lionara mendadak terasa seperti jelly, tubuhnya nyaris ambruk jika saja sebuah


lengan kokoh tak dengan cepat merangkul pinggangnya. Iris biru dan hijau itu


saling menumbuk dalam.


“Mommy…” Jordan mendesis memperingati “Hati-hati,” lanjutnya kemudian dengan sorot lembut sembari mengeratkan rengkuhannya disaat tangannya yang lain juga menopang bobot tubuh putranya yang sudah terlelap.


Sentuhannya begitu nyata, suara beratnya memenuhi pendengaran Lionara. Kalau ini mimpi, rasanya Lionara tidak mau terjaga lagi.


“Mommy…” Jordan memanggil pelan. “Kenapa menangis, hm?”


Dan pecahlah tangis Lionara. Ia menangis sesenggukan. Tubuhnya berguncang hebat. Lionara bahkan tidak bisa membalas ucapan Jordan. Jordan terkejut, pria itu beralih meraih tubuh Lionara


kedalam dekapannya, menciumi puncak kepala wanita itu menenangkan.


“Shuu…Ssttt… don’t cry please,”


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


1 part lagi benar-benar ending yaa. Thank youu semuaa uda bersedia baca, like, vote dan komen ceritaku ini dari awal sampai sekarang 🤗


...JAY MANUEL CHRISTOPER...


...(ngi**kutin gaya rambut daddy)...



...JORDAN MATTHEW CHRISTOPER...


...(Daddy dengan rambut panjangnya)...



...LIONARA FLORENTINE...


...(The best Mom)...