
“Bagaimana
dengan keadaan pasien?”
“Laju
pernafasan?”
“Denyut
jantung?”
Samar-samar,
Lionara dapat mendengar suara panik bersahutan. Dia berusaha membuka matanya
yang terasa begitu berat. Hal pertama yang Lionara lihat adalah para dokter
yang telah berganti pakaian dengan warna hijau. Bau obat yang begitu menyengat
masuk ke dalam hidungnya dan Lionara sempat menyipitkan mata melihat silau
lampu yang berada diatasnya.
Lionara
tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Dokter yang berada di atas wajahnya
mencoba menenangkan. Mengatakan bahwa mereka akan melakukan proses operasi
untuk menyelamatkannya. Dada Lionara berdegup kencang, tiba-tiba seberkas
ingatan saat dirinya terdorong tadi muncul di kepalanya. Bayinya? Bagaimana
keadaannya?
“Dok,
kondisi vital pasien menurun!”
“Pasien
mengalami pendarahan hebat, Dok!”
Setiap
seruan kalut itu membuat jantung Lionara kian berdegup keras, wajahnya pucat
pasi seperti tak teraliri darah. Lionara terengah, berusaha mencari pasokan
udara untuk mengisi paru-parunya.
Tidak. Tidak boleh
terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya. Malaikat kecilnya harus selamat.
Dokter
tadi masih terus memberikan instruksi kepada para timnya, tapi perkataannya
tiba-tiba terhenti saat Lionara mencengkram tangan sang dokter dengan jari
bergetar dan mata yang berkaca-kaca—penuh permohonan.
“Dokter,
tolong aku… tolong selamatkan anakku,”
“Kami
akan berusaha semampu kami, Nyonya. Bertahanlah,”
“Ap-apapun
yang terjadi… tolong jangan biarkan anakku pergi…”
Mata
Lionara kian berat. Tapi dia masih tidak rela untuk memejamkan mata. Lionara
masih ingin memastikan anaknya benar-benar selamat. Namun melihat anggukan
serta senyum menenangkan dari sang dokter perlahan membuat Lionara mulai sedikit
lebih tenang.
Bersamaan
dengan itu, orang-orang bergerak semakin panik, mulai memasangkan alat bantu
pernafasan untuknya dan berkali-kali menyuntikkan sesuatu kedalam tubuhnya.
Mungkin aku butuh
waktu untuk tidur sebentar.
Putus
wanita itu sebelum benar-benar memejamkan matanya kembali.
****
Jordan
tersentak. Pria itu langsung bergerak untuk duduk sesaat setelah matanya
terbuka. Nafasnya terenga-engah merasakan dadanya yang terasa begitu sesak.
Matanya
menyipit, mengamati ruang asing berwarna putih yang sekarang ia tempati. Jordan
kemudian memegang kepalanya saat merasakan sakit pada bagian itu. ia mengernyit
saat melihat sebuah infus menancap pada tangannya. Tanpa berpikir panjang pria
itu berniat mencabut infus tersebut, tapi gerakannya terhenti saat menyadari
tangannya sedang diperban sehingga sulit untuk digerakkan. Tidak hanya itu. Dia
baru sadar bahwa kepalanya juga sedang diperban, begitu pula dengan salah satu
kakinya.
Jordan
kembali memegangi kepalanya ketika kilasan balik tentang kejadian saat itu
terlintas. Saat dimana otaknya berpikir cepat untuk terbangun, berlari
kesetanan dan menangkap tubuh Lionara yang didorong oleh Rebecca.
Sial. Jordan berjanji jika terjadi
apa-apa dengan Lionara, ia tidak akan segan-segan membunuh Rebecca. Ia sempat
melihat Lionara dan Rebecca saling tarik menarik di dekat tangga dan Jordan
tidak menyangka, demi membela diri Rebecca benar-benar mendorong istrinya dan
hal itu membuat jantungnya seperti dipaksa keluar saat melihat tubuh Lionara
melayang bebas.
Jordan
memaksakan kakinya untuk bergerak dan berusaha menurunkannya, tidak menyerah
walaupun tubuhnya seperti mati rasa. Ia harus mengecek keadaan Lionara.
Istrinya itu juga pasti mengalami luka parah seperti dirinya, apalagi wanita
itu juga sedang mengandung-,
Jordan
tertegun. Dadanya berdentam hebat, sedang raut wajahnya memucat saat baru
menyadari keberadaan calon anaknya itu. Benar, anaknya. Tangga tempat mereka
terjatuh terbilang tinggi dan tubuh mereka terus terguling dan terhentak keras
pada sisi-sisi tajam anak tangga.
Ap-apakah malikat
kecilnya itu selamat?
Tidak.
Tidak… Jordan tidak ingin kehilangan buah hatinya. Lionara dan anaknya adalah
miliknya yang paling berharga. Keduanya tidak boleh meninggalkannya. Jordan
menggeleng kalut, napasnya menderuh hebat dan setitik bulir mengalir dari sudut
matanya.
“Jordan.”
Jordan
mendongak, mendapati Kakeknya yang baru saja masuk ke ruangan inapnya dengan
raut tuanya yang begitu kahwatir.
“Akhirnya
kamu bangun, Nak!” Rikkard menghambur memeluk Jordan pelan “Kamu baik-baik
saja? Apa perlu kakek panggilkan dokter?”
“Dimana
istriku, Kek?” Jordan mengabaikan pertanyaan Rikkard
Wajah
lega Rikkard seketika mendung kembali. “Istrimu masih berada di ruang ICU.”
“A-apa?”
tercekat, Jordan tidak mampu mengungkapkan betapa sesak dadanya mendengar
berita itu.
Rikkard
mengangguk lemah. “Dia mengalami pendarahan dan para dokter sudah berusaha
menyelamatkan nyawa keduanya.” Rikkard menjeda
“Lalu?”
Jordan mendesak tak sabaran
“Operasi
berjalan lancar. Suatu mujizat jika janin di dalam perut istrimu bisa
selamat—kandungannya begitu kuat. Hanya saja… setelah operasi itu selesai,
sampai detik ini Lionara belum juga membuka mata. Dia koma.”
“Ko-koma?”
jantung Jordan mencelos hebat.
Lagi,
Rikkard mengangguk. “ Ini sudah tiga hari, tapi dia belum juga bangun. Dan
syukurlah kamu sadar lebih dahulu.” Rikkard tersenyum sedih “Kamu mengalami
patah pada salah satu kaki dan tangan, pada tiga tulung rusuk dan lima belas
jahitan pada kepalamu.”
“Ambilkan
aku kursi roda, Kek.” pelan, Jordan berucap dengan pandangan kosong mengarah ke
pintu.
“Tidak,
Nak. Kamu belum bisa terlalu banyak bergerak sekarang.”
“Aku
harus melihat istriku.”
“Tapi
Nak—“
“SUDAH
KUKATAKAN AKU HARUS MELIHAT ISTRIKU, KEK!!” suara Jordan menggelegar dengan
wajah memerah, tubuhnya bergetar hebat, sesak didada kian menggerogoti “Tolong
bawa aku… aku bisa mati jika tidak melihatnya sekarang. Ini kesalahanku.
Harusnya aku tidak mengabaikannya sejak awal. Tolong aku, Kek” lanjutnya,
menangis dengan tubuh terguncang.
Rikkard
tidak pernah menangis dan sehancur ini saat kehilangan ibunya, tapi mendengar
istrinya koma, Jordan bagai kehilangan setengah jiwanya.
“Baiklah,
Nak. Kakek akan membawamu.”
****
Rasa
takut yang hebat tengah meliputi Rebecca. Ruangan kamarnya yang semula tertata
rapi, kini sudah tak terbentuk dan dipenuhi oleh serpihan kaca disetiap sisi.
Mondar-mandir dengan langkah kakinya yang mulai tertatih kelelahan, ia akhirnya
ambruk setelah sekali lagi melemparkan botol parfum-nya ke arah kaca rias.
Wajahnya kian pucat dan kengerian jelas tergambar disana. Sungguh, ia sangat
ketakutan sekarang. Ia mendorong Lionara dari anak tangga teratas sampai tubuh
wanita itu terhempas keras ke dasar lantai bersama Jordan yang tiba-tiba ikut
menyusulnya. Sepasang suami istri itu
langsung tak sadarkan diri dengan tubuh bersimba darah.
Saking
takutnya, Rebecca segera melarikan diri dari sana tanpa berinisiatif menolong keduanya
terlebih dahulu. Dan sampai sekarang Rebecca sama sekali tidak tahu bagaimana
keadaan Jordan dan Lionara. Satu hal yang ia pikirkan, jika setelah sadar
Jordan akan memburuhnya dan dipastikan akan melakukan sesuatu yang lebih
mengerikan terhadapnya. Rebecca jelas tahu bagaimana berbahayanya Jordan jika
membalas perbuatan orang-orang yang telah berani mengusiknya.
“Becca,”
Tubuh
Rebecca tersentak kaget saat mendengar seruan bernada panik itu. Menoleh,
ibunya berdiri di dekat pintu dengan raut cemasnya. Rebecca segera berlari
menghambur ke dalam pelukan ibunya—memeluknya begitu kuat.
“Ma…
Becca takut.” Rebecca menangis, tubuhnya bergetar hebat.
Lucy
membalas pelukan putrinya tak kalah erat—mengecup puncaknya berkali-kali,
memberikan ketenangan. Lucy baru saja kembali dari kegiatan tour geng
sosialitanya di Dubai, setelah menerima telepon dari Rebecca yang begitu
ketakutan karena telah mencelakai sepupunya sendiri—Lionara. Lucy sudah
mendengar kronologi ceritanya dari Rebecca, dan karena itu ia memutuskan untuk
segera menemui putrinya.
Lucy
merenggangkan pelukan mereka, lalu menangkup wajah berantakan Rebecca, “Tenang
sayang, semua akan baik-baik saja.”
“Bagaimana
aku bisa tenang, Ma?” Rebecca ditengah isakannya “Mama jelas tahu kan bagaimana
mengerikannya Jordan dalam menyangkut balas dendam. Terlebih, Lionara itu
adalah istrinya. Dan sialnya, jalang itu juga lagi mengandung anak Jordan.”
“Mama
tahu.” Lucy menyeka air mata Rebecca “karena itu kita harus pergi menghilang dari
sini secepatnya, sebelum mereka bergerak.”
“Itu
hanya perbuatan sia-sia, Ma. Jordan pasti bisa menemukan kita.”
“Tidak
ada cara lain, Becca. Kita harus bersembunyi. Mama tidak ingin kamu di jatuhi
hukuman atau mungkin lelaki itu sendiri yang akan membunuhmu!”
Rebecca
terdiam. Karena perbuatan bodohnya, hidupnya benar-benar terancam sekarang.
Seharusnya sejak awal ia tidak nekat memasuki kehidupan rumah tangga Jordan,
meskipun yang menjadi istri lelaki yang dicintainya itu adalah Lionara—sepupu
yang sangat ia benci sejak dahulu. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi
bubur. Dan karena dia sekarang sudah di cap sebagai pembunuh, kenapa tidak
sekalian saja ia benar-benar melenyapkan nyawa wanita yang ia benci itu? Cukup
adil bukan jika ia melakukan hal itu sebelum terus bersembunyi.
Raut
ketakutan Rebecca seketika berubah menjadi seringain mengerikan. Hal itu tak
luput dari pengamatan Lucy yang tiba-tiba merasakan atmosfer mencekam.
“Jangan
merencanakan tindakan bodoh lagi, Becca.” peringat Lucy tajam
“Tapi
aku harus melakukannya, Ma.” Rebecca menyeringai—auranya menggelap “jika Jordan
tidak bisa kumiliki, begitu pun Lionara!”
****
Selain
bunyi dari Elektrokardiogram—alat pemicu kehidupan Lionara, selebihnya ruangan
itu diisi oleh isakan kecil yang lolos dari mulut sesosok pria dewasa yang kini
tengah mengaitkan jari-jarinya pada celah tangan Lionara yang terasa begitu
dingin.
Jordan
duduk disamping Lionara yang masih berbaring lemah di atas ranjang Rumah sakit
dengan berbagai alat pendeteksi kehidupan yang terpasang pada tubuhnya. Detak
jantungnya tampak normal, meski dia dalam keadaan koma. Dengan kepala tertunduk
disisi Lionara, bibir Jordan tak henti-hentinya menggumamkan kata maaf sejak
dua jam yang lalu. Dia begitu menyesali segala tindakan bodohnya selama
beberapa minggu ini pada sang istri. Sengaja mengabaikan Lionara hanya karena
rasa kecewanya.
Sesak
yang ia rasa sakitnya benar-benar tak terkira saat mengingat beberapa kali
Lionara mendekatinya, mencoba meminta maaf dan berusaha mengambil perhatiannya
tapi hanya pegabaianlah yang diberikannya pada Lionara. Bahkan ia juga sudah
beberapa kali membentak wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Sungguh,
Jordan benar-benar menyesal dan berapa puluh kali pun mulutnya meminta maaf,
bibir wanitanya itu tetap akan bungkam. Sepertinya Lionara memilih tetap tertidur untuk menyiksa Jordan, membalas
dendam pada pria itu.
“Sayang…
maafkan aku. Bangunlah, tampar aku sepuasmu atau benci aku selama yang kamu
mau. Tapi tolong jangan pernah pergi meninggalkan aku. rasanya aku tidak akan
pernah sanggup harus bertahan hidup tanpa kamu.”
Jordan
terdiam sebentar, karena merasa pasokan udara yang masuk ke dalam paru-parunya
mulai menipis. Ia membiarkan dahinya menempel pada punggung tangan Lionara.
“Aku
yang bersalah. Seharusnya hari itu aku lebih mendengarkanmu dan tidak
membiarkan wanita itu masuk. Tapi dengan totolnya aku malah memberikan peluang
sehingga Rebecca bisa mencelakaimu. Aku sungguh tidak menyangka wanita itu akan
berbuat setega itu.”
Sekali
lagi, Jordan tak kuasa menahan bulir bening yang langsung meluncur jatuh ketika
rasa sakit itu begitu mengoyak batinnya—nyeri sampai ke tulang. Lebih sakit
dibandingkan tangan dan kakinya yang masih diperban.
“Aku
pasti akan menyesal seumur hidup kalau sampai anak kita kenapa-napa.”
Tangan
Jordan beralih menyingkap baju Lionara sampai dada dan mendaratkan ciuman yang
begitu lembut disana—lama.
“Maafkan
Daddy, baby. Daddy hampir kehilangan kamu dan mommy karena kebodohan daddy.”
lirihnya “Terima kasih sudah menjadi kuat dan bertahan untuk daddy. Tapi, daddy
masih ada satu permohonan lagi untukmu… tolong bangunkan mommymu, sayang. Suruh
mommy buka mata dan sampaikan bahwa daddy sangat menyesal. Daddy tidak akan
mampu bertahan tanpa mommy-mu…”
Jordan
tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Tubuhnya terguncang dan isakan kecil kembali
lolos. Jordan membenamkan wajah di perut Lionara—memeluknya begitu erat. Ia benar-benar
hancur dan kesepian tanpa Lionara. Seandainya saja ini hanya mimpi buruk, ia
akan memilih segera terbangun. Tapi seperti ada godam berat yang menimpa, mau
tidak mau Jordan harus menerima kalau ini adalah nyata.
Sesak,
tetapi sesak tinggallah sesak. Tidak ada obat yang pasti untuk
menghilangkannya, kecuali melihat manik hijau favoritnya itu kembali terbuka.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg
Seperti biasa, ditunggu like dan komennya yaa
See youuu ^^
...Daddy ditinggal pas lagi sayang2nya 💔...
...
...