JORDAN

JORDAN
Chapter 34



“Bagaimana


dengan keadaan pasien?”


“Laju


pernafasan?”


“Denyut


jantung?”


Samar-samar,


Lionara dapat mendengar suara panik bersahutan. Dia berusaha membuka matanya


yang terasa begitu berat. Hal pertama yang Lionara lihat adalah para dokter


yang telah berganti pakaian dengan warna hijau. Bau obat yang begitu menyengat


masuk ke dalam hidungnya dan Lionara sempat menyipitkan mata melihat silau


lampu yang berada diatasnya.


Lionara


tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Dokter yang berada di atas wajahnya


mencoba menenangkan. Mengatakan bahwa mereka akan melakukan proses operasi


untuk menyelamatkannya. Dada Lionara berdegup kencang, tiba-tiba seberkas


ingatan saat dirinya terdorong tadi muncul di kepalanya. Bayinya? Bagaimana


keadaannya?


“Dok,


kondisi vital pasien menurun!”


“Pasien


mengalami pendarahan hebat, Dok!”


Setiap


seruan kalut itu membuat jantung Lionara kian berdegup keras, wajahnya pucat


pasi seperti tak teraliri darah. Lionara terengah, berusaha mencari pasokan


udara untuk mengisi paru-parunya.


Tidak. Tidak boleh


terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya. Malaikat kecilnya harus selamat.


Dokter


tadi masih terus memberikan instruksi kepada para timnya, tapi perkataannya


tiba-tiba terhenti saat Lionara mencengkram tangan sang dokter dengan jari


bergetar dan mata yang berkaca-kaca—penuh permohonan.


“Dokter,


tolong aku… tolong selamatkan anakku,”


“Kami


akan berusaha semampu kami, Nyonya. Bertahanlah,”


“Ap-apapun


yang terjadi… tolong jangan biarkan anakku pergi…”


Mata


Lionara kian berat. Tapi dia masih tidak rela untuk memejamkan mata. Lionara


masih ingin memastikan anaknya benar-benar selamat. Namun melihat anggukan


serta senyum menenangkan dari sang dokter perlahan membuat Lionara mulai sedikit


lebih tenang.


Bersamaan


dengan itu, orang-orang bergerak semakin panik, mulai memasangkan alat bantu


pernafasan untuknya dan berkali-kali menyuntikkan sesuatu kedalam tubuhnya.


Mungkin aku butuh


waktu untuk tidur sebentar.


Putus


wanita itu sebelum benar-benar memejamkan matanya kembali.


****


Jordan


tersentak. Pria itu langsung bergerak untuk duduk sesaat setelah matanya


terbuka. Nafasnya terenga-engah merasakan dadanya yang terasa begitu sesak.


Matanya


menyipit, mengamati ruang asing berwarna putih yang sekarang ia tempati. Jordan


kemudian memegang kepalanya saat merasakan sakit pada bagian itu. ia mengernyit


saat melihat sebuah infus menancap pada tangannya. Tanpa berpikir panjang pria


itu berniat mencabut infus tersebut, tapi gerakannya terhenti saat menyadari


tangannya sedang diperban sehingga sulit untuk digerakkan. Tidak hanya itu. Dia


baru sadar bahwa kepalanya juga sedang diperban, begitu pula dengan salah satu


kakinya.


Jordan


kembali memegangi kepalanya ketika kilasan balik tentang kejadian saat itu


terlintas. Saat dimana otaknya berpikir cepat untuk terbangun, berlari


kesetanan dan menangkap tubuh Lionara yang didorong oleh Rebecca.


Sial. Jordan berjanji jika terjadi


apa-apa dengan Lionara, ia tidak akan segan-segan membunuh Rebecca. Ia sempat


melihat Lionara dan Rebecca saling tarik menarik di dekat tangga dan Jordan


tidak menyangka, demi membela diri Rebecca benar-benar mendorong istrinya dan


hal itu membuat jantungnya seperti dipaksa keluar saat melihat tubuh Lionara


melayang bebas.


Jordan


memaksakan kakinya untuk bergerak dan berusaha menurunkannya, tidak menyerah


walaupun tubuhnya seperti mati rasa. Ia harus mengecek keadaan Lionara.


Istrinya itu juga pasti mengalami luka parah seperti dirinya, apalagi wanita


itu juga sedang mengandung-,


Jordan


tertegun. Dadanya berdentam hebat, sedang raut wajahnya memucat saat baru


menyadari keberadaan calon anaknya itu. Benar, anaknya. Tangga tempat mereka


terjatuh terbilang tinggi dan tubuh mereka terus terguling dan terhentak keras


pada sisi-sisi tajam anak tangga.


Ap-apakah malikat


kecilnya itu selamat?


Tidak.


Tidak… Jordan tidak ingin kehilangan buah hatinya. Lionara dan anaknya adalah


miliknya yang paling berharga. Keduanya tidak boleh meninggalkannya. Jordan


menggeleng kalut, napasnya menderuh hebat dan setitik bulir mengalir dari sudut


matanya.


“Jordan.”


Jordan


mendongak, mendapati Kakeknya yang baru saja masuk ke ruangan inapnya dengan


raut tuanya yang begitu kahwatir.


“Akhirnya


kamu bangun, Nak!” Rikkard menghambur memeluk Jordan pelan “Kamu baik-baik


saja? Apa perlu kakek panggilkan dokter?”


“Dimana


istriku, Kek?” Jordan mengabaikan pertanyaan Rikkard


Wajah


lega Rikkard seketika mendung kembali. “Istrimu masih berada di ruang ICU.”


“A-apa?”


tercekat, Jordan tidak mampu mengungkapkan betapa sesak dadanya mendengar


berita itu.


Rikkard


mengangguk lemah. “Dia mengalami pendarahan dan para dokter sudah berusaha


menyelamatkan nyawa keduanya.” Rikkard menjeda


“Lalu?”


Jordan mendesak tak sabaran


“Operasi


berjalan lancar. Suatu mujizat jika janin di dalam perut istrimu bisa


selamat—kandungannya begitu kuat. Hanya saja… setelah operasi itu selesai,


sampai detik ini Lionara belum juga membuka mata. Dia koma.”


“Ko-koma?”


jantung Jordan mencelos hebat.


Lagi,


Rikkard mengangguk. “ Ini sudah tiga hari, tapi dia belum juga bangun. Dan


syukurlah kamu sadar lebih dahulu.” Rikkard tersenyum sedih “Kamu mengalami


patah pada salah satu kaki dan tangan, pada tiga tulung rusuk dan lima belas


jahitan pada kepalamu.”


“Ambilkan


aku kursi roda, Kek.” pelan, Jordan berucap dengan pandangan kosong mengarah ke


pintu.


“Tidak,


Nak. Kamu belum bisa terlalu banyak bergerak sekarang.”


“Aku


harus melihat istriku.”


“Tapi


Nak—“


“SUDAH


KUKATAKAN AKU HARUS MELIHAT ISTRIKU, KEK!!” suara Jordan menggelegar dengan


wajah memerah, tubuhnya bergetar hebat, sesak didada kian menggerogoti “Tolong


bawa aku… aku bisa mati jika tidak melihatnya sekarang. Ini kesalahanku.


Harusnya aku tidak mengabaikannya sejak awal. Tolong aku, Kek” lanjutnya,


menangis dengan tubuh terguncang.


Rikkard


tidak pernah menangis dan sehancur ini saat kehilangan ibunya, tapi mendengar


istrinya koma, Jordan bagai kehilangan setengah jiwanya.


“Baiklah,


Nak. Kakek akan membawamu.”


****


Rasa


takut yang hebat tengah meliputi Rebecca. Ruangan kamarnya yang semula tertata


rapi, kini sudah tak terbentuk dan dipenuhi oleh serpihan kaca disetiap sisi.


Mondar-mandir dengan langkah kakinya yang mulai tertatih kelelahan, ia akhirnya


ambruk setelah sekali lagi melemparkan botol parfum-nya ke arah kaca rias.


Wajahnya kian pucat dan kengerian jelas tergambar disana. Sungguh, ia sangat


ketakutan sekarang. Ia mendorong Lionara dari anak tangga teratas sampai tubuh


wanita itu terhempas keras ke dasar lantai bersama Jordan yang tiba-tiba ikut


menyusulnya.  Sepasang suami istri itu


langsung tak sadarkan diri dengan tubuh bersimba darah.


Saking


takutnya, Rebecca segera melarikan diri dari sana tanpa berinisiatif menolong keduanya


terlebih dahulu. Dan sampai sekarang Rebecca sama sekali tidak tahu bagaimana


keadaan Jordan dan Lionara. Satu hal yang ia pikirkan, jika setelah sadar


Jordan akan memburuhnya dan dipastikan akan melakukan sesuatu yang lebih


mengerikan terhadapnya. Rebecca jelas tahu bagaimana berbahayanya Jordan jika


membalas perbuatan orang-orang yang telah berani mengusiknya.


“Becca,”


Tubuh


Rebecca tersentak kaget saat mendengar seruan bernada panik itu. Menoleh,


ibunya berdiri di dekat pintu dengan raut cemasnya. Rebecca segera berlari


menghambur ke dalam pelukan ibunya—memeluknya begitu kuat.


“Ma…


Becca takut.” Rebecca menangis, tubuhnya bergetar hebat.


Lucy


membalas pelukan putrinya tak kalah erat—mengecup puncaknya berkali-kali,


memberikan ketenangan. Lucy baru saja kembali dari kegiatan tour geng


sosialitanya di Dubai, setelah menerima telepon dari Rebecca yang begitu


ketakutan karena telah mencelakai sepupunya sendiri—Lionara. Lucy sudah


mendengar kronologi ceritanya dari Rebecca, dan karena itu ia memutuskan untuk


segera menemui putrinya.


Lucy


merenggangkan pelukan mereka, lalu menangkup wajah berantakan Rebecca, “Tenang


sayang, semua akan baik-baik saja.”


“Bagaimana


aku bisa tenang, Ma?” Rebecca ditengah isakannya “Mama jelas tahu kan bagaimana


mengerikannya Jordan dalam menyangkut balas dendam. Terlebih, Lionara itu


adalah istrinya. Dan sialnya, jalang itu juga lagi mengandung anak Jordan.”


“Mama


tahu.” Lucy menyeka air mata Rebecca “karena itu kita harus pergi menghilang dari


sini secepatnya, sebelum mereka bergerak.”


“Itu


hanya perbuatan sia-sia, Ma. Jordan pasti bisa menemukan kita.”


“Tidak


ada cara lain, Becca. Kita harus bersembunyi. Mama tidak ingin kamu di jatuhi


hukuman atau mungkin lelaki itu sendiri yang akan membunuhmu!”


Rebecca


terdiam. Karena perbuatan bodohnya, hidupnya benar-benar terancam sekarang.


Seharusnya sejak awal ia tidak nekat memasuki kehidupan rumah tangga Jordan,


meskipun yang menjadi istri lelaki yang dicintainya itu adalah Lionara—sepupu


yang sangat ia benci sejak dahulu. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi


bubur. Dan karena dia sekarang sudah di cap sebagai pembunuh, kenapa tidak


sekalian saja ia benar-benar melenyapkan nyawa wanita yang ia benci itu? Cukup


adil bukan jika ia melakukan hal itu sebelum terus bersembunyi.


Raut


ketakutan Rebecca seketika berubah menjadi seringain mengerikan. Hal itu tak


luput dari pengamatan Lucy yang tiba-tiba merasakan atmosfer mencekam.


“Jangan


merencanakan tindakan bodoh lagi, Becca.” peringat Lucy tajam


“Tapi


aku harus melakukannya, Ma.” Rebecca menyeringai—auranya menggelap “jika Jordan


tidak bisa kumiliki, begitu pun Lionara!”


****


Selain


bunyi dari Elektrokardiogram—alat pemicu kehidupan Lionara, selebihnya ruangan


itu diisi oleh isakan kecil yang lolos dari mulut sesosok pria dewasa yang kini


tengah mengaitkan jari-jarinya pada celah tangan Lionara yang terasa begitu


dingin.


Jordan


duduk disamping Lionara yang masih berbaring lemah di atas ranjang Rumah sakit


dengan berbagai alat pendeteksi kehidupan yang terpasang pada tubuhnya. Detak


jantungnya tampak normal, meski dia dalam keadaan koma. Dengan kepala tertunduk


disisi Lionara, bibir Jordan tak henti-hentinya menggumamkan kata maaf sejak


dua jam yang lalu. Dia begitu menyesali segala tindakan bodohnya selama


beberapa minggu ini pada sang istri. Sengaja mengabaikan Lionara hanya karena


rasa kecewanya.


Sesak


yang ia rasa sakitnya benar-benar tak terkira saat mengingat beberapa kali


Lionara mendekatinya, mencoba meminta maaf dan berusaha mengambil perhatiannya


tapi hanya pegabaianlah yang diberikannya pada Lionara. Bahkan ia juga sudah


beberapa kali membentak wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Sungguh,


Jordan benar-benar menyesal dan berapa puluh kali pun mulutnya meminta maaf,


bibir wanitanya itu tetap akan bungkam. Sepertinya Lionara memilih tetap tertidur untuk menyiksa Jordan, membalas


dendam pada pria itu.


“Sayang…


maafkan aku. Bangunlah, tampar aku sepuasmu atau benci aku selama yang kamu


mau. Tapi tolong jangan pernah pergi meninggalkan aku. rasanya aku tidak akan


pernah sanggup harus bertahan hidup tanpa kamu.”


Jordan


terdiam sebentar, karena merasa pasokan udara yang masuk ke dalam paru-parunya


mulai menipis. Ia membiarkan dahinya menempel pada punggung tangan Lionara.


“Aku


yang bersalah. Seharusnya hari itu aku lebih mendengarkanmu dan tidak


membiarkan wanita itu masuk. Tapi dengan totolnya aku malah memberikan peluang


sehingga Rebecca bisa mencelakaimu. Aku sungguh tidak menyangka wanita itu akan


berbuat setega itu.”


Sekali


lagi, Jordan tak kuasa menahan bulir bening yang langsung meluncur jatuh ketika


rasa sakit itu begitu mengoyak batinnya—nyeri sampai ke tulang. Lebih sakit


dibandingkan tangan dan kakinya yang masih diperban.


“Aku


pasti akan menyesal seumur hidup kalau sampai anak kita kenapa-napa.”


Tangan


Jordan beralih menyingkap baju Lionara sampai dada dan mendaratkan ciuman yang


begitu lembut disana—lama.


“Maafkan


Daddy, baby. Daddy hampir kehilangan kamu dan mommy karena kebodohan daddy.”


lirihnya “Terima kasih sudah menjadi kuat dan bertahan untuk daddy. Tapi, daddy


masih ada satu permohonan lagi untukmu… tolong bangunkan mommymu, sayang. Suruh


mommy buka mata dan sampaikan bahwa daddy sangat menyesal. Daddy tidak akan


mampu bertahan tanpa mommy-mu…”


Jordan


tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Tubuhnya terguncang dan isakan kecil kembali


lolos. Jordan membenamkan wajah di perut Lionara—memeluknya begitu erat. Ia benar-benar


hancur dan kesepian tanpa Lionara. Seandainya saja ini hanya mimpi buruk, ia


akan memilih segera terbangun. Tapi seperti ada godam berat yang menimpa, mau


tidak mau Jordan harus menerima kalau ini adalah nyata.


Sesak,


tetapi sesak tinggallah sesak. Tidak ada obat yang pasti untuk


menghilangkannya, kecuali melihat manik hijau favoritnya itu kembali terbuka.


To be continued


IG: @rianitasitumorangg


Seperti biasa, ditunggu like dan komennya yaa


See youuu ^^


...Daddy ditinggal pas lagi sayang2nya 💔...


...



...