JORDAN

JORDAN
Chapter 32



“Kau


menabrak Daniel?” suara rendah Josep sarat akan emosi.


“Apa


anak emasmu itu mengadu?” ringan, Jordan balik bertanya sembari mengisap


cerutunya dan menghembuskannya kedepan, seolah asap itu menegaskan


ketidakhormatannya pada Josep.


Josep


menarik napas. Melihat sikap kurang ajar anaknya itu sudah menjadi hal yang


terlalu biasa baginya setiap kali keduanya bertemu.


Josep


baru saja kembali dari kediaman putra keduanya setelah mendengar jika Jordan


sengaja menyerempet mobil Daniel saat lelaki itu baru keluar dari kompleks


apartemennya. Bagian belakang Mobil Daniel penyok dan kaca spionnya pecah.


Beruntung Daniel hanya mengalami cedera ringan sehingga tidak perlu dilarikan


ke Rumah Sakit. Josep tidak habis pikir, entah apa yang merasuki Jordan


sehingga tega melakukan hal berbahaya itu terhadap saudaranya sendiri. Dan lihatlah


sekarang betapa congkaknya anak itu.


Josep


berjalan menghampiri meja Jordan yang dikelilingi para penjudi yang ternyata


sangat memperhatikan interaksi Ayah dan anak itu. Jordan tersenyum samar,


memerintahkan para lawan-lawannya di meja Casino agar menyingkir.


“Ingin


bermain?” timpal Jordan “Itung-itung untuk merenggangkan otot-ototmu yang


mengeras. Aku yakin, mengetahui anak emasmu terluka olehku, pasti sangat menguji


kesabaranmu.” Jordan menjentikkan cerutu diatas asbak untuk menyingkirkan


abunya.


Josep


menatap datar. “Baikah. Kurasa itu bukan ide yang buruk.”


Jordan


terkekeh rendah, “Well, keputusan yang bijaksana Mr. Josep.”


Josep


mengabaikan. Ia menoleh ke arah bandar yang duduk diantara dirinya dan Jordan.


“Bisa


kita mulai?”


“Of course, Sir.”


Suasana


menjadi hening dengan meja judi mereka berdua menjadi pusat perhatian.


Bagaimana tidak? Double J alis Ayah


dan anak yang terkenal itu merupakan pemilik saham salah satu casino terbesar


di Las vegas akan bertanding judi. Siapa yang menang dan siapa yang menjadi


pecundang? Tidak sedikit dari mereka pun bertaruh secara diam-diam, siapa yang


paling unggul dalam berjudi. Josep Christoper atau Jordan Christoper?


Dua


tumpuk koin chip berwarna orange atau bisa disebut labu yang bernilai satu koin


seribu dollar disajikan diatas meja. Masing-masing di depan Jordan dan Josep.


Permainan


pun dimulai dengan si Bandar mulai mengocok kartu. Kemudian sang Bandar


membagikan masing-masing dua kartu pada Jordan dan Josep dan ketiga kartu


disimpan sejajar diatas meja. Selanjutnya sang Bandar membuka tiga kartu diatas


meja.


Permainan


terus berlanjut sampai sang Bandar tadi mengumumkan siapa pemenangnya.


“Mr.


Josep mendapatkan royal flush.” Serunya.


Josep


tersenyum miring, menegadahkan satu tangannya pada sang asisten yang sejak tadi


berdiri dibelakang menungguinya—Fredrick. Pria seumuran Josep itu memberikan


satu batang rokok ke tangan Josep, yang langsung diselipkan diantara kedua


bibirnya. Fredrick menyalahkan sebuah pemantik untuk membakar rokok yang berada


dimulut Josep. Josep mengisap rokoknya dan menghembuskannya perlahan.


“Aku


menang.” Singkat Josep. Kembali mengisap rokoknya santai.


Jordan


terkekeh pelan. Ia mendapatkan kartu yang buruk. Sementara Josep mendapatkan


kartu terbaik. Sial, sejak dulu Jordan memang tidak bisa menandingi kemampuan


berjudi Ayahnya itu. Meski Josep nyaris tidak pernah lagi menginjakkan kaki


ditempat seperti ini, tapi itu tidak membuat keahlian berjudinya berkurang.


“Well,


harus kuakui kemampuan berjudimu memang tidak perlu diragukan lagi.” puji


Jordan namun nadanya sinis.


“Terima


kasih atas pujiannya, Jordan Matthew Christoper.” Sahut Josep sambil mematikan


rokoknya di dalam asbak. Ia berdiri lalu berjalan mendekati putranya itu.


 Josep berdiri di sampingnya dengan tangan


menepuk-nepuk pelan bahu sang putra.


“Kuharap


ini terakhir kalinya kau mencelakai adikmu.”


Jordan


menyorot tajam. “Jangan mimipi. Pecundang itu bukan adikku.” desisnya dingin


“Daniel


memiliki darah yang sama denganmu.” Josep menyorot tak kalah tajam


Jordan


menyentak tangan Josep. “Apa aku peduli?” Kemudian keduanya berdiri


berhadap-hadapan dengan pandangan yang saling menghunus tajam.


“Sampai


mati pun aku tidak akan mengakuinya. Begitu pun Anda, Mr. Josep.” Tekannya


BUGGH


Hanya


dalam hitungan detik wajah Jordan tertoleh ke samping dan sudut bibirnya


langsung mengeluarkan darah akibat tinjuan keras Josep pada rahangnya. Selalu


seperti itu. Josep bukan seorang yang cukup memiliki kesabaran, terlebih jika


berhadapan dengan Jordan.


“Berhenti


bersikap kurang ajar! Aku adalah Ayahmu!” hardik Josep dengan rahang mengeras.


“Kupikir setelah kau menikah, sikap kurang ajarmu ini akan hilang. Tapi


nyatanya kau semakin buas. Sudah kuduga, menikahi perempuan miskin itu sama


sekali tidak membawa dampak yang baik padamu. Tapi aku tidak heran, sebab


istrimu pun berasal dari lingkungan berandal—tidak tahu aturan!”


Jordan


meludah kesamping. Sorot matanya menggelap, lalu dalam seperkian detik


tangannya teracung dengan sebuah pistol yang ditodongkan ke pelipis Josep.


“Jangan


sekali-sekali Anda menghina istriku. Anda sama sekali tidak pantas! Sebaiknya


urus saja anak emasmu itu agar berhenti mengejar istriku! Cukup ibunya saja


yang menjadi perusak! Jika tidak, jangan salahkan bila aku sendiri yang tak


segan melenyapkan nyawa anak kesayanganmu itu!!” rendah, Jordan berucap dingin.


“JORDAN!!”


bentak Josep murka. Sama sekali tidak gentar akan pistol yang ditodongkan


Jordan.


“Dan


satu lagi, jangan pernah menyalakan siapapun untuk menutupi kegagalan sialanmu!


Seharusnya Anda berkaca pada diri sendiri, kenapa aku bisa berakhir menjadi


monster seperti ini?!” tekan Jordan. “Tapi… tidak.” dengan raut tak terbaca ia


menggeleng kuat. “Anda tidak mungkin mengetahui apa saja yang telah dilalui


anak buangan ini,  sementara Anda sendiri


pun sangat sibuk membahagiakan jalang kesayangan serta anak harammu!”


sambungnya terkekeh geli dengan raut wajah menyimpan kesedihan dan luka yang


teramat dalam.


Josep


terdiam. Rautnya mengeras tapi mulutnya sama sekali tidak mampu membalas ucapan


Jordan yang tak menampik begitu menusuk ke relung hatinya.


Jordan


menurunkan pistolnya, kemudian menekan benda itu ke dadanya. “Disini. Disini


rasanya sangat sakit.” Jordan melangkah mudur, “Aku tidak pernah ingin di lahirkan.


Anda tidak mencintai ibuku tapi malah membuatku hadir ke dalam dunia yang


mengerikan ini. Ibuku pun sama—dia tidak membiarkanku mati. Dan malah


menumbalkan dirinya. ADA APA SEBENARNYA DENGAN KALIAN BERDUA, HAH?!!” Jordan berteriak


seperti orang kalap


Josep


masih mematung ditempatnya. Namun, kengerian  tergambar jelas di wajahnya saat ini. Semakin Jordan


mengungkapkan isi hatinya—sesuatu yang tidak pernah anaknya itu lakukan,


semakin sakit pula hatinya seperti dirajam hebat.


“Son…”


lirih Josep, matanya basah. Ia hendak meraih tubuh Jordan dan mendekapnya kuat,


tapi Jordan semakin mundur.


“Jangan


menyentuhku. Anda sangat menjijikkan.”


Jordan


berbalik, melangkah lebar keluar diikuti oleh para anak buahnya. Sementara


suasana menjadi senyap. Semua orang seperti menahan napas akibat aura pekat


yang menguar dari kedua Ayah dan anak itu. Josep terus mengintai punggung lebar


****


Jordan


masuk ke rumah dengan raut wajah yang sama sekali tidak terbaca. Ia menatap


lurus ke depan, ternyata perempuan itu sedang duduk di sofa. Lionara bangkit


dari sofa mendekati Jordan.


“Kamu


sudah pulang? Kenapa larut sekali?” Lionara tersenyum lembut, lalu mengambil


tas dan melepas jas kerja Jordan yang masih menatapnya dalam diam. “Aku sudah


memasak banyak makanan. Tapi kemungkinan sudah dingin. Sebaiknya kamu mandi


dulu selagi aku memanaskan makanan  kembali.”


“Aku


tidak lapar.” Jordan menjawab datar. Moodnya sedang tidak begitu baik setelah


menghadapi Josep.


“Bagaimana


kalau makan sedikit saja, agar perutmu tidak kosong. Sejak tadi aku sudah


menunggumu di meja makan. Aku juga belum makan.”


“Makanlah


sendiri. Aku ingin tidur.” Jordan hendak meneruskan langkah, tapi Lionara


menahan sikunya.


“Tapi


aku menunggumu. Aku ingin kita makan bersama. Setidaknya hargai aku sebagai


istrimu.”


“JANGAN


MENUNGGUKU. KALAU BEGITU JANGAN MENUNGGUKU! AKU TIDAK MENYURUHMU UNTUK


MENUNGGUKU! JANGAN LAGI MENUNGGUKU!” ucap Jordan meninggikan suara terbawa emosi.


Lionara


melepaskan cekalannya, ia  mundur


selangkah ketakutan. Kemana Jordan yang


lembut itu? Dadanya terasa sesak. Hatinya yang terluka semakin lebar


menganga disiramkan cuka.


“Oh…


maaf, aku tidak tahu jika kamu menginginkan itu.” Lionara mengangguk semakin


mundur. “Baik. Aku tidak akan lagi menunggumu. Seharusnya kamu katakan itu dari


awal, jadi aku tahu aku tidak perlu lagi menunggumu.” Ucapnya kemudian berbalik


tanpa mengucapkan apa-apa lagi.


“Lion,


maksudku…”


Perempuan


itu telah menjauh.


“ARGGHHH!!!”


****


Menangis.


Itulah


yang hanya bisa dilakukan Lionara ketika tak tahu lagi harus dengan cara apa ia


meluapkan rasa sesak didada. Air mata tidak ingin berhenti mengaliri pipinya


meski sekuat tenaga coba ia redamkan. Dulu dia tidak pernah secengeng


ini—bahkan selalu bisa menyembunyikan kerapuhannya seapik mungkin. Tapi sejak


kehamilannya, entah kenapa air matanya gampang sekali keluar saat mendengar


nada bentakan. Padahal sebelum ini, bentakan bahkan hinaan adalah makanan


sehari-harinya. Ia menjadi sangat sensitive. Sungguh, Lionara benci dirinya


yang lemah seperti ini.


Ia


mengubur dirinya di dalam selimut sambil memeluk bantal. Merenung setelah lelah


menangisi kehidupan rumah tangganya yang berjalan kacau akhir-akhir ini. Jordan


tidak ada di kamar. Kemungkinan malam ini pun pria itu enggan tidur dengannya. Mungkin…


Jordan sudah benar-benar kecewa padanya. Pria itu mempertahankannya karena


janin yang ada di dalam perutnya. Entahlah… Lionara tidak tahu. Hati dan


pikiran seorang Jordan sulit terselami. Tapi satu hal yang ia tahu bahwa Jordan


sangat menyayangi anak dalam perutnya.


Dan


jika mereka berdua berpisah bagaimana nasib anaknya? Lionara tidak mungkin


selamanya tinggal bersama Jordan. Apa mungkin saat anaknya lahir, kelak ia akan


dipisahkan dengan anak—


Pemikiran


Lionara terpotong oleh suara pintu yang dibuka.


Jordan.


Didalam


selimut, tubuh Lionara menegang. Ia bertahan dalam posisinya, bersikap


seolah-olah sudah tidur saat langkah Jordan kian mendekat.


“Aku


tahu kamu belum tidur. Bangunlah. Ayo makan bersama.” ucap Jordan datar.


Hening.


Tidak ada jawaban.


Jordan


menghembuskan napas lelah. “Lion, ayo makan dulu. Kamu harus minum susu hamilmu


dan vitamin sebelum tidur.” Jordan menyingkapkan selimut yang menutupi seluruh


bagian tubuh Lionara dari mata kaki hingga ujung kepala.


Lionara


tidur menyamping memunggungi Jordan. Menarik kembali selimutnya dan akan


menutupkan lagi sebelum Jordan menarik selimut itu dan melemparkannya ke sisi


bawah ranjang.


“Jangan


keras kepala. Tidak ada gunanya kamu membangkangku seperti ini. Kamu hanya akan


membuat anakku didalam sana kelaparan karena mommynya yang merajuk.”


Benar kan, Jordan


mencintai anaknya. Pria itu hanya mempedulikan anaknya.


Jordan


memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut akibat tingkah istrinya yang masih


keras kepala.


Sedetik


kemudian tubuh Lionara melayang diudara, refleks mengalungkan tangannya pada


leher Jordan ketika dengan paksa Jordan menggendongnya.


“Apa


yang kamu lakukan?! Turunkan aku!” sentak Lionara menatap emosi.


“Nanti.


Setelah kamu menghabiskan makan malammu.”


Jordan


mendudukkan tubuh Lionara di kursi dan menahannya saat perempuan itu tanpa kata


siap beranjak dari sana. Jordan memegang bahu Lionara dan menatapnya tajam.


“Emosiku


sedang tidak stabil, Lion. Jangan coba-coba memancingku.” tukasnya


mengintimidasi dan itu berhasil membuat Lionara berhenti meronta.


Jordan


mendudukkan tubuhnya disebelah Lionara—sangat rapat. Tanpa kata, ia


menyendokkan makanan yang telah dimasak Lionara dan yang sudah ia panaskan


sebelumnya ke dalam piring. Masih tanpa suara, Jordan mengarahkan suapan ke


depan mulut Lionara dan langsung diterima olehnya tanpa bantahan. Dalam hati,


Lionara hanya ingin menyelesaikan dengan cepat makan malam yang sudah terlalu


larut ini. Meski jantungnya terus berdebar setiap kali maniknya bertabrakan


dengan iris biru tegas itu.


Lima


belas menit kemudian mereka selesai. Mereka makan di piring yang sama dengan


Jordan  yang terus menyuapkan makanan ke


dalam mulut Lionara, kemudian dirinya. Vitamin dan susu hamil Lionara juga


telah habis diminum dibawah pengawasan mata tajam Jordan.


“Sudah


selesai. Sekarang biarkan aku tidur.” Tukas Lionara, tanpa mau berlama-lama


bangkit dari duduknya tapi tangannya kembali ditahan oleh Jordan.


“Apa


lagi sekarang?!” Lionara kembali emosi.


Jordan


bergeming. Pria itu semakin mempererat genggamannya.


“Jordan!”


pekik Lionara ketika lagi-lagi pria itu mengangkat tubuhnya.


Jordan


memandang lurus ke depan dengan kaki menaiki tangga satu per satu.


“Diamlah.”


tegur Jordan tanpa melihat ke arahnya. “Pegang yang benar.”


Lionara


masih ingin memprotes tapi tiba-tiba saja ia merasa sangat mengantuk. Alhasil,


Lionara melingkarkan kedua tangannya di leher Jordan, memeluknya erat.  Pelipis Lionara menempel di rahang kuat


suaminya itu, yang terus membawa tubuhnya menujuh kamar mereka berdua, perlahan


dan hati-hati.


To be continued


Gimana part ini?


Hehe, ditunggu like dan komennya ya. Jangan pelit2 dong ah, kan gak bayar ^^


See youu next part...


IG: @rianitasitumorangg


...Si Minyak dan Si Air ...