
“Kau
menabrak Daniel?” suara rendah Josep sarat akan emosi.
“Apa
anak emasmu itu mengadu?” ringan, Jordan balik bertanya sembari mengisap
cerutunya dan menghembuskannya kedepan, seolah asap itu menegaskan
ketidakhormatannya pada Josep.
Josep
menarik napas. Melihat sikap kurang ajar anaknya itu sudah menjadi hal yang
terlalu biasa baginya setiap kali keduanya bertemu.
Josep
baru saja kembali dari kediaman putra keduanya setelah mendengar jika Jordan
sengaja menyerempet mobil Daniel saat lelaki itu baru keluar dari kompleks
apartemennya. Bagian belakang Mobil Daniel penyok dan kaca spionnya pecah.
Beruntung Daniel hanya mengalami cedera ringan sehingga tidak perlu dilarikan
ke Rumah Sakit. Josep tidak habis pikir, entah apa yang merasuki Jordan
sehingga tega melakukan hal berbahaya itu terhadap saudaranya sendiri. Dan lihatlah
sekarang betapa congkaknya anak itu.
Josep
berjalan menghampiri meja Jordan yang dikelilingi para penjudi yang ternyata
sangat memperhatikan interaksi Ayah dan anak itu. Jordan tersenyum samar,
memerintahkan para lawan-lawannya di meja Casino agar menyingkir.
“Ingin
bermain?” timpal Jordan “Itung-itung untuk merenggangkan otot-ototmu yang
mengeras. Aku yakin, mengetahui anak emasmu terluka olehku, pasti sangat menguji
kesabaranmu.” Jordan menjentikkan cerutu diatas asbak untuk menyingkirkan
abunya.
Josep
menatap datar. “Baikah. Kurasa itu bukan ide yang buruk.”
Jordan
terkekeh rendah, “Well, keputusan yang bijaksana Mr. Josep.”
Josep
mengabaikan. Ia menoleh ke arah bandar yang duduk diantara dirinya dan Jordan.
“Bisa
kita mulai?”
“Of course, Sir.”
Suasana
menjadi hening dengan meja judi mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Bagaimana tidak? Double J alis Ayah
dan anak yang terkenal itu merupakan pemilik saham salah satu casino terbesar
di Las vegas akan bertanding judi. Siapa yang menang dan siapa yang menjadi
pecundang? Tidak sedikit dari mereka pun bertaruh secara diam-diam, siapa yang
paling unggul dalam berjudi. Josep Christoper atau Jordan Christoper?
Dua
tumpuk koin chip berwarna orange atau bisa disebut labu yang bernilai satu koin
seribu dollar disajikan diatas meja. Masing-masing di depan Jordan dan Josep.
Permainan
pun dimulai dengan si Bandar mulai mengocok kartu. Kemudian sang Bandar
membagikan masing-masing dua kartu pada Jordan dan Josep dan ketiga kartu
disimpan sejajar diatas meja. Selanjutnya sang Bandar membuka tiga kartu diatas
meja.
Permainan
terus berlanjut sampai sang Bandar tadi mengumumkan siapa pemenangnya.
“Mr.
Josep mendapatkan royal flush.” Serunya.
Josep
tersenyum miring, menegadahkan satu tangannya pada sang asisten yang sejak tadi
berdiri dibelakang menungguinya—Fredrick. Pria seumuran Josep itu memberikan
satu batang rokok ke tangan Josep, yang langsung diselipkan diantara kedua
bibirnya. Fredrick menyalahkan sebuah pemantik untuk membakar rokok yang berada
dimulut Josep. Josep mengisap rokoknya dan menghembuskannya perlahan.
“Aku
menang.” Singkat Josep. Kembali mengisap rokoknya santai.
Jordan
terkekeh pelan. Ia mendapatkan kartu yang buruk. Sementara Josep mendapatkan
kartu terbaik. Sial, sejak dulu Jordan memang tidak bisa menandingi kemampuan
berjudi Ayahnya itu. Meski Josep nyaris tidak pernah lagi menginjakkan kaki
ditempat seperti ini, tapi itu tidak membuat keahlian berjudinya berkurang.
“Well,
harus kuakui kemampuan berjudimu memang tidak perlu diragukan lagi.” puji
Jordan namun nadanya sinis.
“Terima
kasih atas pujiannya, Jordan Matthew Christoper.” Sahut Josep sambil mematikan
rokoknya di dalam asbak. Ia berdiri lalu berjalan mendekati putranya itu.
Josep berdiri di sampingnya dengan tangan
menepuk-nepuk pelan bahu sang putra.
“Kuharap
ini terakhir kalinya kau mencelakai adikmu.”
Jordan
menyorot tajam. “Jangan mimipi. Pecundang itu bukan adikku.” desisnya dingin
“Daniel
memiliki darah yang sama denganmu.” Josep menyorot tak kalah tajam
Jordan
menyentak tangan Josep. “Apa aku peduli?” Kemudian keduanya berdiri
berhadap-hadapan dengan pandangan yang saling menghunus tajam.
“Sampai
mati pun aku tidak akan mengakuinya. Begitu pun Anda, Mr. Josep.” Tekannya
BUGGH
Hanya
dalam hitungan detik wajah Jordan tertoleh ke samping dan sudut bibirnya
langsung mengeluarkan darah akibat tinjuan keras Josep pada rahangnya. Selalu
seperti itu. Josep bukan seorang yang cukup memiliki kesabaran, terlebih jika
berhadapan dengan Jordan.
“Berhenti
bersikap kurang ajar! Aku adalah Ayahmu!” hardik Josep dengan rahang mengeras.
“Kupikir setelah kau menikah, sikap kurang ajarmu ini akan hilang. Tapi
nyatanya kau semakin buas. Sudah kuduga, menikahi perempuan miskin itu sama
sekali tidak membawa dampak yang baik padamu. Tapi aku tidak heran, sebab
istrimu pun berasal dari lingkungan berandal—tidak tahu aturan!”
Jordan
meludah kesamping. Sorot matanya menggelap, lalu dalam seperkian detik
tangannya teracung dengan sebuah pistol yang ditodongkan ke pelipis Josep.
“Jangan
sekali-sekali Anda menghina istriku. Anda sama sekali tidak pantas! Sebaiknya
urus saja anak emasmu itu agar berhenti mengejar istriku! Cukup ibunya saja
yang menjadi perusak! Jika tidak, jangan salahkan bila aku sendiri yang tak
segan melenyapkan nyawa anak kesayanganmu itu!!” rendah, Jordan berucap dingin.
“JORDAN!!”
bentak Josep murka. Sama sekali tidak gentar akan pistol yang ditodongkan
Jordan.
“Dan
satu lagi, jangan pernah menyalakan siapapun untuk menutupi kegagalan sialanmu!
Seharusnya Anda berkaca pada diri sendiri, kenapa aku bisa berakhir menjadi
monster seperti ini?!” tekan Jordan. “Tapi… tidak.” dengan raut tak terbaca ia
menggeleng kuat. “Anda tidak mungkin mengetahui apa saja yang telah dilalui
anak buangan ini, sementara Anda sendiri
pun sangat sibuk membahagiakan jalang kesayangan serta anak harammu!”
sambungnya terkekeh geli dengan raut wajah menyimpan kesedihan dan luka yang
teramat dalam.
Josep
terdiam. Rautnya mengeras tapi mulutnya sama sekali tidak mampu membalas ucapan
Jordan yang tak menampik begitu menusuk ke relung hatinya.
Jordan
menurunkan pistolnya, kemudian menekan benda itu ke dadanya. “Disini. Disini
rasanya sangat sakit.” Jordan melangkah mudur, “Aku tidak pernah ingin di lahirkan.
Anda tidak mencintai ibuku tapi malah membuatku hadir ke dalam dunia yang
mengerikan ini. Ibuku pun sama—dia tidak membiarkanku mati. Dan malah
menumbalkan dirinya. ADA APA SEBENARNYA DENGAN KALIAN BERDUA, HAH?!!” Jordan berteriak
seperti orang kalap
Josep
masih mematung ditempatnya. Namun, kengerian tergambar jelas di wajahnya saat ini. Semakin Jordan
mengungkapkan isi hatinya—sesuatu yang tidak pernah anaknya itu lakukan,
semakin sakit pula hatinya seperti dirajam hebat.
“Son…”
lirih Josep, matanya basah. Ia hendak meraih tubuh Jordan dan mendekapnya kuat,
tapi Jordan semakin mundur.
“Jangan
menyentuhku. Anda sangat menjijikkan.”
Jordan
berbalik, melangkah lebar keluar diikuti oleh para anak buahnya. Sementara
suasana menjadi senyap. Semua orang seperti menahan napas akibat aura pekat
yang menguar dari kedua Ayah dan anak itu. Josep terus mengintai punggung lebar
****
Jordan
masuk ke rumah dengan raut wajah yang sama sekali tidak terbaca. Ia menatap
lurus ke depan, ternyata perempuan itu sedang duduk di sofa. Lionara bangkit
dari sofa mendekati Jordan.
“Kamu
sudah pulang? Kenapa larut sekali?” Lionara tersenyum lembut, lalu mengambil
tas dan melepas jas kerja Jordan yang masih menatapnya dalam diam. “Aku sudah
memasak banyak makanan. Tapi kemungkinan sudah dingin. Sebaiknya kamu mandi
dulu selagi aku memanaskan makanan kembali.”
“Aku
tidak lapar.” Jordan menjawab datar. Moodnya sedang tidak begitu baik setelah
menghadapi Josep.
“Bagaimana
kalau makan sedikit saja, agar perutmu tidak kosong. Sejak tadi aku sudah
menunggumu di meja makan. Aku juga belum makan.”
“Makanlah
sendiri. Aku ingin tidur.” Jordan hendak meneruskan langkah, tapi Lionara
menahan sikunya.
“Tapi
aku menunggumu. Aku ingin kita makan bersama. Setidaknya hargai aku sebagai
istrimu.”
“JANGAN
MENUNGGUKU. KALAU BEGITU JANGAN MENUNGGUKU! AKU TIDAK MENYURUHMU UNTUK
MENUNGGUKU! JANGAN LAGI MENUNGGUKU!” ucap Jordan meninggikan suara terbawa emosi.
Lionara
melepaskan cekalannya, ia mundur
selangkah ketakutan. Kemana Jordan yang
lembut itu? Dadanya terasa sesak. Hatinya yang terluka semakin lebar
menganga disiramkan cuka.
“Oh…
maaf, aku tidak tahu jika kamu menginginkan itu.” Lionara mengangguk semakin
mundur. “Baik. Aku tidak akan lagi menunggumu. Seharusnya kamu katakan itu dari
awal, jadi aku tahu aku tidak perlu lagi menunggumu.” Ucapnya kemudian berbalik
tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
“Lion,
maksudku…”
Perempuan
itu telah menjauh.
“ARGGHHH!!!”
****
Menangis.
Itulah
yang hanya bisa dilakukan Lionara ketika tak tahu lagi harus dengan cara apa ia
meluapkan rasa sesak didada. Air mata tidak ingin berhenti mengaliri pipinya
meski sekuat tenaga coba ia redamkan. Dulu dia tidak pernah secengeng
ini—bahkan selalu bisa menyembunyikan kerapuhannya seapik mungkin. Tapi sejak
kehamilannya, entah kenapa air matanya gampang sekali keluar saat mendengar
nada bentakan. Padahal sebelum ini, bentakan bahkan hinaan adalah makanan
sehari-harinya. Ia menjadi sangat sensitive. Sungguh, Lionara benci dirinya
yang lemah seperti ini.
Ia
mengubur dirinya di dalam selimut sambil memeluk bantal. Merenung setelah lelah
menangisi kehidupan rumah tangganya yang berjalan kacau akhir-akhir ini. Jordan
tidak ada di kamar. Kemungkinan malam ini pun pria itu enggan tidur dengannya. Mungkin…
Jordan sudah benar-benar kecewa padanya. Pria itu mempertahankannya karena
janin yang ada di dalam perutnya. Entahlah… Lionara tidak tahu. Hati dan
pikiran seorang Jordan sulit terselami. Tapi satu hal yang ia tahu bahwa Jordan
sangat menyayangi anak dalam perutnya.
Dan
jika mereka berdua berpisah bagaimana nasib anaknya? Lionara tidak mungkin
selamanya tinggal bersama Jordan. Apa mungkin saat anaknya lahir, kelak ia akan
dipisahkan dengan anak—
Pemikiran
Lionara terpotong oleh suara pintu yang dibuka.
Jordan.
Didalam
selimut, tubuh Lionara menegang. Ia bertahan dalam posisinya, bersikap
seolah-olah sudah tidur saat langkah Jordan kian mendekat.
“Aku
tahu kamu belum tidur. Bangunlah. Ayo makan bersama.” ucap Jordan datar.
Hening.
Tidak ada jawaban.
Jordan
menghembuskan napas lelah. “Lion, ayo makan dulu. Kamu harus minum susu hamilmu
dan vitamin sebelum tidur.” Jordan menyingkapkan selimut yang menutupi seluruh
bagian tubuh Lionara dari mata kaki hingga ujung kepala.
Lionara
tidur menyamping memunggungi Jordan. Menarik kembali selimutnya dan akan
menutupkan lagi sebelum Jordan menarik selimut itu dan melemparkannya ke sisi
bawah ranjang.
“Jangan
keras kepala. Tidak ada gunanya kamu membangkangku seperti ini. Kamu hanya akan
membuat anakku didalam sana kelaparan karena mommynya yang merajuk.”
Benar kan, Jordan
mencintai anaknya. Pria itu hanya mempedulikan anaknya.
Jordan
memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut akibat tingkah istrinya yang masih
keras kepala.
Sedetik
kemudian tubuh Lionara melayang diudara, refleks mengalungkan tangannya pada
leher Jordan ketika dengan paksa Jordan menggendongnya.
“Apa
yang kamu lakukan?! Turunkan aku!” sentak Lionara menatap emosi.
“Nanti.
Setelah kamu menghabiskan makan malammu.”
Jordan
mendudukkan tubuh Lionara di kursi dan menahannya saat perempuan itu tanpa kata
siap beranjak dari sana. Jordan memegang bahu Lionara dan menatapnya tajam.
“Emosiku
sedang tidak stabil, Lion. Jangan coba-coba memancingku.” tukasnya
mengintimidasi dan itu berhasil membuat Lionara berhenti meronta.
Jordan
mendudukkan tubuhnya disebelah Lionara—sangat rapat. Tanpa kata, ia
menyendokkan makanan yang telah dimasak Lionara dan yang sudah ia panaskan
sebelumnya ke dalam piring. Masih tanpa suara, Jordan mengarahkan suapan ke
depan mulut Lionara dan langsung diterima olehnya tanpa bantahan. Dalam hati,
Lionara hanya ingin menyelesaikan dengan cepat makan malam yang sudah terlalu
larut ini. Meski jantungnya terus berdebar setiap kali maniknya bertabrakan
dengan iris biru tegas itu.
Lima
belas menit kemudian mereka selesai. Mereka makan di piring yang sama dengan
Jordan yang terus menyuapkan makanan ke
dalam mulut Lionara, kemudian dirinya. Vitamin dan susu hamil Lionara juga
telah habis diminum dibawah pengawasan mata tajam Jordan.
“Sudah
selesai. Sekarang biarkan aku tidur.” Tukas Lionara, tanpa mau berlama-lama
bangkit dari duduknya tapi tangannya kembali ditahan oleh Jordan.
“Apa
lagi sekarang?!” Lionara kembali emosi.
Jordan
bergeming. Pria itu semakin mempererat genggamannya.
“Jordan!”
pekik Lionara ketika lagi-lagi pria itu mengangkat tubuhnya.
Jordan
memandang lurus ke depan dengan kaki menaiki tangga satu per satu.
“Diamlah.”
tegur Jordan tanpa melihat ke arahnya. “Pegang yang benar.”
Lionara
masih ingin memprotes tapi tiba-tiba saja ia merasa sangat mengantuk. Alhasil,
Lionara melingkarkan kedua tangannya di leher Jordan, memeluknya erat. Pelipis Lionara menempel di rahang kuat
suaminya itu, yang terus membawa tubuhnya menujuh kamar mereka berdua, perlahan
dan hati-hati.
To be continued
Gimana part ini?
Hehe, ditunggu like dan komennya ya. Jangan pelit2 dong ah, kan gak bayar ^^
See youu next part...
IG: @rianitasitumorangg
...Si Minyak dan Si Air ...