JORDAN

JORDAN
Chapter 47



Ruangan serba putih itu hanya diisi oleh suara dari alat pemicu kehidupan Josep. Pria


setengah baya itu masih terbaring tak sadarkan diri setelah kejadian terakhir


kali saat penyakit lamanya kembali menyerang. Bahkan seluruh tubuhnya kini


telah di pasang alat bantu penunjang kehidupan.


Tak jauh dari ranjang Josep berbaring, tempat itu juga diisi oleh kehadiran sosok


pria yang sudah sejam lebih hanya berdiri mematung—menatap tanpa ekspresi pada


objek di depannya.


“Kenapa kau tidak mati saja?” rendah, bibir pria itu nyaris tak bergerak saat mengucapkannya


“Mungkin dengan kematianmu, aku bisa sedikit lega karena tidak akan bertemu lagi


denganmu. Sebaliknya, kau bisa bertemu dengan wanita yang kau sia-siakan dahulu.


Ah, tapi kupikir-pikir kau tidak mungkin bisa bertemu dengan mommyku yang


berhati malaikat itu—mengingat kebiadapanmu, tempat kalian sepertinya berbeda.


Mommyku di surga, sedangkan kau di neraka. Dan sialnya, kelak kemungkinan besar


pun aku akan masuk kesana juga dan bertemu wajah menjijikkanmu itu lagi.”


Jordan bermonolog kemudian tertawa hambar. Sungguh, sebenarnya ia masih sangat benci


berada di ruangan yang sama dengan Ayahnya. Jikalau bukan karena permintaan


istrinya, ia enggan menjenguk pria sekarat dihadapannya sekarang.


Kemarin Jordan memang berjanji pada Lionara bahwa ia akan belajar mengampuni Ayahnya


dan berusaha mengobati kembali luka batinnya, tapi tetap saja masih terlalu sulit


baginya jika harus berhadapan dengan sumber kesakitannya itu. Setiap kali


melihat Josep, wajah pedih ibunya selalu terbayang. Dan itu membuat darahnya


bergemuruh hebat dengan kilat kebencian yang begitu kentara.


Karena itu demi menjaga dirinya agar tetap waras, Jordan memilih jarak yang cukup aman


baginya agar tidak lepas kendali. Bahkan kedua kepalannya saja sejak tadi tak


urung mengendur, sementara tatapannya tajam nan menusuk. Jordan sudah meminta


istrinya untuk menamaninya saja disini, tapi wanita itu malah mengatakan ingin


memberikan privasi tersendiri baginya untuk bebas menelaah perasaannya pada


sang Ayah.


Dulu, Jordan sangat menyayangi Josep—mengagumi kewibawaan serta kebijaksanaannya dalam


memimpin perusahaan dan keluarga. Josep memang jarang di rumah karena usrusan


pekerjaan, tetapi setiap kali daddynya itu pulang, pria itu sering kali tak


pernah absen membawakannya oleh-oleh, kemudian menghabiskan banyak waktu dengannya


dan sang mommy. Entah itu bermain atau mengajarkannya banyak hal. Mereka


bertiga menikmati quality time bersama dengan suasana yang begitu hangat dan


harmonis.


Tetapi semua kehangatan dan keharmonisan yang terlewati nyatanya adalah kamuflase belaka. Di depannya, Josep dan Grace berperan layaknya pasangan yang saling mencintai dan mendukung. Tapi faktanya semua hanyalah lakonan terbaik dari keduanya demi


membuat Jordan tidak curiga. Luar biasa sekali.


Masih segar di ingatan Jordan kejadian sebulan sebelum ia memergoki Josep selingkuh—pagi, saat Josep akan berangkat melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri lagi, seperti biasa pria itu akan memeluk dan menciumi wajahnya dengan penuh cinta.


Sedang kepada ibunya, hari itu Josep tidak pamit sama sekali. Ayahnya


mengabaikan kehadiran sosok ibunya disana. Melihat kejanggalan itu, Jordan


refleks mengejar langkah Ayahnya yang sudah memasuki mobil. Ia berulangkali


memanggil tapi mobil yang dinaiki pria itu terus melaju, tidak mengindahkan seruannya yang saat itu sudah berlari sekuat tenaga sambil melambaikan tangan—berharap mobil itu berhenti, namun tidak sama sekali.


Setetes bulir bening berhasil jatuh dari sudut mata Jordan. Semua memori-memori itu


terus saja berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Begitu menyakitkan. Dada


Jordan kembali bergemuru hebat, napasnya mulai tak teratur, rahangnya mengetat.


Ia tahu sebentar lagi ia akan meledak. Oleh sebab itu ia segera memejamkan mata


erat, menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan, tepat seperti anjuran


psikiaternya kala dirinya mulai lepas kendali. Meski sangat berat, tapi Jordan


harus belajar terbiasa belajar mengendalikan dirinya.


Hanya sekitar lima belas menit, perlahan dirinya berangsur tenang. Manik biru itu


kembali terbuka dan,


“Bangunlah, jika kau ingin mendapat pengampunan dariku.” gumam Jordan dengan nada bergetar


“Selesaikan di tempat ini. Karena aku sudah tidak sudi bertemu lagi denganmu di


alam lain!”


****


“Kamu baik-baik saja?” tanya Lionara pada pria yang duduk di sebelahnya


Pria itu tersenyum tipis, “Seperti yang kamu lihat,”


Lionara menatap nelangsa pada tubuh Daniel. Memarnya sudah hilang, tapi sebelah tangan lelaki itu masih dibalut gips.


“Daniel, maafkan perbuatan Jordan waktu itu,” lirih Lionara


“Apa Jordan menyuruhmu?”


Lionara menggeleng. “Aku hanya ingin meminta maaf atas namanya.”


“Dia yang berbuat salah, tapi kamu yang minta maaf. Apa sebegitu berharganya dia


sekarang bagimu?” Daniel bertanya getir


“Iya. Dia sangat berharga bagiku dan Jay,” aku Lionara


Daniel menutup matanya. Rasanya, ia sangat ingin menulikan pendengarannya saat ini. Pernyataan Lionara masih sangat berefek penuh padanya.


Hening.


Daniel menghela napas, “Apa kamu tahu, selama ini aku selalu berusaha menghindari


konfrontasi dengan suamimu itu. Aku tidak menyukai keributan, sehingga lebih


memilih menghindar. Hanya saja satu hal yang tidak bisa membuatku tetap diam


saja atas perlakuannya, yaitu Mommy.” pelan, Daniel mulai berbicara “Ini sudah


bertahun-tahun lamanya, tapi Jordan masih saja berlaku kasar dan tak hentinya merendahkan mommy. Tidak di dirumah ataupun di depan umum, Jordan sering kali sengaja mempermalukannya.”


Lionara hanya diam mendengarkan.


“Kupikir setelah dia menikah dan punya anak, sakit hatinya terhadap kedua orang tuaku akan terkikis. Tapi tidak sama sekali. Padahal jika dipikir-pikir… dalam


menyangkut kasih sayang, daddy dan kakek jelas-jelas lebih menyayanginya dari


pada kami. Ya, meskipun cara daddy dalam menunjukkannya terlihat kasar, tapi aku


bisa melihat dengan jelas cintanya terhadap Jordan begitu besar. Daddy memang


mencintai mommy, tapi dalam hal anak… Jordanlah yang lebih banyak menguasai


hatinya. Setiap kekacauan yang dibuat Jordan, daddy selalu membereskannya.


Mengirim beberapa suruhan terbaik demi memantau segala kegiatan Jordan diluar


sana—memastikannya tetap aman, memberikan fasilitas terbaik, bahkan setengah saham miliknya diberikan kepada Jordan secara diam-diam, melalui atas nama kakek.”


“Tapi, bukankah beliau—“


itu. “Daddy tidak akan setega itu pada putra kesayangannya. Ia senang meladeni


kemarahan Jordan, karena hanya dengan cara itu Jordan baru mau bersinggungan


dengannya. Mereka ayah dan anak yang aneh.” Daniel tersenyum miris


“Jujur, selama ini aku iri padanya. Bukan hanya mendapatkan cinta dari daddy…dia juga berhasil mendapatkannya darimu.” Daniel menatap sendu manik teduh Lionara yang juga menatapnya lekat. “aku benar-benar sangat iri, Flo.”


“El…”


“Setan di kepalaku berulangkali merayuku untuk merebut itu semua kembali. Tapi beruntung aku masih bisa berpikiran waras. Aku sadar sejak awal semua cinta itu adalah milik Jordan. Seandainya waktu itu mommy dan daddy bisa menahan perasaan mereka,


mungkin Jordan tidak akan menjadi korban. Aku bisa membayangkan bagaimana jika


aku berada di posisi Jordan waktu itu—kurasa aku pun sama hancurnya.”


“Dan dibanding rasa iriku, aku lebih legah saat dia berakhir denganmu. Karena


setelah menikah denganmu dia sudah banyak berubah. Jordan terlihat lebih


manusiawi. Sekarang hidupnya bukan hanya diisi oleh kebencian, tapi juga ada


cinta disana. Cinta yang hanya ia mau darimu. Karena itu… aku rela melepaskanmu


untuknya. Setidaknya, kisah di masa lalu tidak terulang kembali.”


Lagi, Daniel menghembuskan napasnya yang terasa berat.


“Untuk kekacauan dimasa lalu, aku tidak tahu harus menyalahkan siapa. Entah itu daddy, mommy atau tante Grace. Yang aku tahu cinta yang mereka miliki berada di waktu yang salah. Andai saja mereka tidak egois, mungkin cerita menyedihkan ini tidak


akan pernah tertulis. Kini semuanya bak benang kusut yang tak berujung. Aku


hanya bisa terus berharap semua kepahitan ini segera berlalu.” Daniel berujar


parau, nadanya terdengar lelah.


Jeda sejenak sebelum tangan Daniel yang sehat meraih jemari Lionara dan meremasnya lembut.


“Sekarang aku hanya bisa


mengandalkanmu untuk memperbaiki kerusakan di keluarga ini. Aku yakin Tuhan


sengaja mengirimkanmu berakhir di keluarga kami untuk satu tujuan, yaitu membebaskan keluarga ini dari belenggu masa lalu. Aku merelakan cintaku dimiliki saudaraku sendiri... Karena aku tahu bagi Jordan hanya kamu cahayanya dan satu-satunya orang yang bisa mengarahkannya. Jadi kumohon…perdamaikanlah mereka.” diakhir kalimatnya, air mata Daniel mengalir begitu saja. Tatapannya begitu sendu dan sorot tersiksa tergambar jelas.


“El…jangan begini,” lirih Lionara dengan mata berkaca-kaca. Daniel adalah orang yang


kesekian mengharapkannya untuk melunakkan hati Jordan yang keras. Sungguh pun sebenarnya ia tidak terlalu percaya diri untuk menyanggupi permintaan mereka. Luka yang dimiliki Jordan hanya lelaki itu yang bisa menyembuhkannya, sementara dirinya hanya dapat memberi dukungan pada suaminya itu. Keputusan akhir tetaplah ada pada Jordan.


Terhanyut dalam suasana, tanpa sadar Lionara mendekap tubuh Daniel hati-hati, lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya, seolah memberi ketenangan. Daniel balas


memeluk Lionara tak kalah erat. Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Lionara—begitu merindukan pelukan dari wanita yang masih dicintainya itu. Setelahnya tidak ada


yang bersuara, hanya saling memeluk.


“Sepertinya patah sebelah tangan saja belum cukup untukmu ya?”


Jantung Lionara mencelos begitu telinganya mendengar nada geraman tertahan dari suara di belakang tubuhnya. Ia sangat mengenali pemilik suara itu.


Baik Lionara dan Daniel segera menyudahi pelukan mereka. Lionara berbalik, dan


mendapati senyum mengerikan milik Jordan. Bahkan kedua tangan lelaki itu saja


sudah mengepal keras. Lionara menelan ludah susah payah, sepertinya suaminya itu


sudah salah mengartikan suasana mereka. Ini jelas tidak akan berakhir dengan


baik.


Buru-buru Lionara bangkit menghampiri Jordan—menggamit lengannya sebelum lemosi pria itu kembali meledak dan berakhir menyerang Daniel.


“Kamu sudah selesai?” Lionara berusaha menormalkan nada suaranya yang sedikit gusar sembari mengusap naik turun lengan Jordan.


Jordan tidak mengubris. Tatapannya mengunci tajam pada Daniel yang juga menatapnya tenang.


Lionara berdehem canggung, “Jo, ini tidak seperti yang kamu lihat. Kami hanya—”


“Lepas.” desis Jordan tanpa menoleh padanya


Lionara menggeleng. “Sebaiknya kita pergi sekarang ya. Dokter Lilo pasti sudah menunggu kita,” Lionara tidak akan membiarkan Jordan merealisasikan keinginannya. “Daniel kami duluan ya,” sergah Lionara seraya menarik tangan Jordan menjauh dari sana.


Lionara bahkan mengerahkan sedikit tenaganya saat Jordan enggan bergerak dari sana.


****


Jordan sama sekali tidak mengindahkan Lionara. Ia lebih memilih menatap ke luar


jendela mobil. Di sepanjang perjalanan, lelaki itu acuh tak acuh, tak mempedulikan


Lionara yang menjelaskan kenapa ia dan Daniel berpelukan seperti tadi. wajahnya


datar, namun Lionara tahu Jordan sedang marah padanya.


“Jo, kamu dengar penjelasanku?” Lionara menggoyang lengan Jordan. Namun Jordan tak mempedulikan. “Aku enggak suka kamu mendiamiku begini. Kamu bicara, Jo. Kita selesaikan ini baik-baik, bukan malah bersikap acuh begini.” tambah Lionara mulai


frustasi.


Hening. Pria itu masih tetap diam.


“Tuan, nyonya, maafkan saya… tapi sekarang kita akan pergi kemana?” tanya Sam


hati-hati dari balik kemudi.


“Pulang!“


“Ke tempat dokter Lilo!”


Sepasang suami istri itu menjawab secara bersamaan, membuat Sam sedikit meringis mendengar


jawaban yang bertolak belakang tersebut. Bingung arahan siapa yang harus dia


turuti lantara keduanya sejak masuk mobil tadi sudah terlibat pertengkaran


kecil.


“Arahkan mobil ini ke rumah,” titah Jordan dingin


“Tidak. Kamu sudah janji kalau mulai hari ini kamu akan ikut terapi sama dokter Lilo,”


tolak Lionara


Sam menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia belum mendapatkan jawaban yang pasti.


Lewat kaca spion, Sam memberanikan diri menatap raut tak bersahabat kedua atasannya.


Terlebih aura Jordan yang saat ini terlihat lebih menyeramkan.


“Jadi kita ke rumah sakit dok— ”


“Bukankah tadi sudah kukatakan pulang! Apa telingamu sudah tidak berfungsi lagi?!” bentak Jordan berhasil membuat Lionara dan Sam terkesiap.


“Jo-“


“Lakukan kalau tidak ingin kepalamu kulobangi,” sela Jordan dengan tatapan tajamnya pada Sam.


Sam meneguk ludah, “Ba-baik Tuan,”


Setelah itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Sam memilih fokus menyetir dan


Jordan kembali menatap datar ke bahu jalanan—tak sekalipun Jordan berniat


menatap istrinya yang masih tak berhenti memandanginya.


Pikiran Jordan sedang tidak stabil, itu sebabnya ia tidak ingin menuntaskan masalah ini dulu dengan Lionara. Ia harus menenangkan diri terlebih dahulu agar dirinya tidak lepas kendali.


Hari ini Jordan sudah mati-matian menekan egonya untuk menjenguk Ayahnya, dan saat


keluar dari ruangan ia malah melihat Lionara dan Daniel saling berpelukan erat.


Sialan!


Bagaimana bisa istrinya itu dengan santainya memeluk mantan kekasihnya disaat


dirinya masih berada di dalam ruang inap Josep—dengan pikiran dan hati yang


terus berperang.


To be continued