
Ruangan serba putih itu hanya diisi oleh suara dari alat pemicu kehidupan Josep. Pria
setengah baya itu masih terbaring tak sadarkan diri setelah kejadian terakhir
kali saat penyakit lamanya kembali menyerang. Bahkan seluruh tubuhnya kini
telah di pasang alat bantu penunjang kehidupan.
Tak jauh dari ranjang Josep berbaring, tempat itu juga diisi oleh kehadiran sosok
pria yang sudah sejam lebih hanya berdiri mematung—menatap tanpa ekspresi pada
objek di depannya.
“Kenapa kau tidak mati saja?” rendah, bibir pria itu nyaris tak bergerak saat mengucapkannya
“Mungkin dengan kematianmu, aku bisa sedikit lega karena tidak akan bertemu lagi
denganmu. Sebaliknya, kau bisa bertemu dengan wanita yang kau sia-siakan dahulu.
Ah, tapi kupikir-pikir kau tidak mungkin bisa bertemu dengan mommyku yang
berhati malaikat itu—mengingat kebiadapanmu, tempat kalian sepertinya berbeda.
Mommyku di surga, sedangkan kau di neraka. Dan sialnya, kelak kemungkinan besar
pun aku akan masuk kesana juga dan bertemu wajah menjijikkanmu itu lagi.”
Jordan bermonolog kemudian tertawa hambar. Sungguh, sebenarnya ia masih sangat benci
berada di ruangan yang sama dengan Ayahnya. Jikalau bukan karena permintaan
istrinya, ia enggan menjenguk pria sekarat dihadapannya sekarang.
Kemarin Jordan memang berjanji pada Lionara bahwa ia akan belajar mengampuni Ayahnya
dan berusaha mengobati kembali luka batinnya, tapi tetap saja masih terlalu sulit
baginya jika harus berhadapan dengan sumber kesakitannya itu. Setiap kali
melihat Josep, wajah pedih ibunya selalu terbayang. Dan itu membuat darahnya
bergemuruh hebat dengan kilat kebencian yang begitu kentara.
Karena itu demi menjaga dirinya agar tetap waras, Jordan memilih jarak yang cukup aman
baginya agar tidak lepas kendali. Bahkan kedua kepalannya saja sejak tadi tak
urung mengendur, sementara tatapannya tajam nan menusuk. Jordan sudah meminta
istrinya untuk menamaninya saja disini, tapi wanita itu malah mengatakan ingin
memberikan privasi tersendiri baginya untuk bebas menelaah perasaannya pada
sang Ayah.
Dulu, Jordan sangat menyayangi Josep—mengagumi kewibawaan serta kebijaksanaannya dalam
memimpin perusahaan dan keluarga. Josep memang jarang di rumah karena usrusan
pekerjaan, tetapi setiap kali daddynya itu pulang, pria itu sering kali tak
pernah absen membawakannya oleh-oleh, kemudian menghabiskan banyak waktu dengannya
dan sang mommy. Entah itu bermain atau mengajarkannya banyak hal. Mereka
bertiga menikmati quality time bersama dengan suasana yang begitu hangat dan
harmonis.
Tetapi semua kehangatan dan keharmonisan yang terlewati nyatanya adalah kamuflase belaka. Di depannya, Josep dan Grace berperan layaknya pasangan yang saling mencintai dan mendukung. Tapi faktanya semua hanyalah lakonan terbaik dari keduanya demi
membuat Jordan tidak curiga. Luar biasa sekali.
Masih segar di ingatan Jordan kejadian sebulan sebelum ia memergoki Josep selingkuh—pagi, saat Josep akan berangkat melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri lagi, seperti biasa pria itu akan memeluk dan menciumi wajahnya dengan penuh cinta.
Sedang kepada ibunya, hari itu Josep tidak pamit sama sekali. Ayahnya
mengabaikan kehadiran sosok ibunya disana. Melihat kejanggalan itu, Jordan
refleks mengejar langkah Ayahnya yang sudah memasuki mobil. Ia berulangkali
memanggil tapi mobil yang dinaiki pria itu terus melaju, tidak mengindahkan seruannya yang saat itu sudah berlari sekuat tenaga sambil melambaikan tangan—berharap mobil itu berhenti, namun tidak sama sekali.
Setetes bulir bening berhasil jatuh dari sudut mata Jordan. Semua memori-memori itu
terus saja berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Begitu menyakitkan. Dada
Jordan kembali bergemuru hebat, napasnya mulai tak teratur, rahangnya mengetat.
Ia tahu sebentar lagi ia akan meledak. Oleh sebab itu ia segera memejamkan mata
erat, menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan, tepat seperti anjuran
psikiaternya kala dirinya mulai lepas kendali. Meski sangat berat, tapi Jordan
harus belajar terbiasa belajar mengendalikan dirinya.
Hanya sekitar lima belas menit, perlahan dirinya berangsur tenang. Manik biru itu
kembali terbuka dan,
“Bangunlah, jika kau ingin mendapat pengampunan dariku.” gumam Jordan dengan nada bergetar
“Selesaikan di tempat ini. Karena aku sudah tidak sudi bertemu lagi denganmu di
alam lain!”
****
“Kamu baik-baik saja?” tanya Lionara pada pria yang duduk di sebelahnya
Pria itu tersenyum tipis, “Seperti yang kamu lihat,”
Lionara menatap nelangsa pada tubuh Daniel. Memarnya sudah hilang, tapi sebelah tangan lelaki itu masih dibalut gips.
“Daniel, maafkan perbuatan Jordan waktu itu,” lirih Lionara
“Apa Jordan menyuruhmu?”
Lionara menggeleng. “Aku hanya ingin meminta maaf atas namanya.”
“Dia yang berbuat salah, tapi kamu yang minta maaf. Apa sebegitu berharganya dia
sekarang bagimu?” Daniel bertanya getir
“Iya. Dia sangat berharga bagiku dan Jay,” aku Lionara
Daniel menutup matanya. Rasanya, ia sangat ingin menulikan pendengarannya saat ini. Pernyataan Lionara masih sangat berefek penuh padanya.
Hening.
Daniel menghela napas, “Apa kamu tahu, selama ini aku selalu berusaha menghindari
konfrontasi dengan suamimu itu. Aku tidak menyukai keributan, sehingga lebih
memilih menghindar. Hanya saja satu hal yang tidak bisa membuatku tetap diam
saja atas perlakuannya, yaitu Mommy.” pelan, Daniel mulai berbicara “Ini sudah
bertahun-tahun lamanya, tapi Jordan masih saja berlaku kasar dan tak hentinya merendahkan mommy. Tidak di dirumah ataupun di depan umum, Jordan sering kali sengaja mempermalukannya.”
Lionara hanya diam mendengarkan.
“Kupikir setelah dia menikah dan punya anak, sakit hatinya terhadap kedua orang tuaku akan terkikis. Tapi tidak sama sekali. Padahal jika dipikir-pikir… dalam
menyangkut kasih sayang, daddy dan kakek jelas-jelas lebih menyayanginya dari
pada kami. Ya, meskipun cara daddy dalam menunjukkannya terlihat kasar, tapi aku
bisa melihat dengan jelas cintanya terhadap Jordan begitu besar. Daddy memang
mencintai mommy, tapi dalam hal anak… Jordanlah yang lebih banyak menguasai
hatinya. Setiap kekacauan yang dibuat Jordan, daddy selalu membereskannya.
Mengirim beberapa suruhan terbaik demi memantau segala kegiatan Jordan diluar
sana—memastikannya tetap aman, memberikan fasilitas terbaik, bahkan setengah saham miliknya diberikan kepada Jordan secara diam-diam, melalui atas nama kakek.”
“Tapi, bukankah beliau—“
itu. “Daddy tidak akan setega itu pada putra kesayangannya. Ia senang meladeni
kemarahan Jordan, karena hanya dengan cara itu Jordan baru mau bersinggungan
dengannya. Mereka ayah dan anak yang aneh.” Daniel tersenyum miris
“Jujur, selama ini aku iri padanya. Bukan hanya mendapatkan cinta dari daddy…dia juga berhasil mendapatkannya darimu.” Daniel menatap sendu manik teduh Lionara yang juga menatapnya lekat. “aku benar-benar sangat iri, Flo.”
“El…”
“Setan di kepalaku berulangkali merayuku untuk merebut itu semua kembali. Tapi beruntung aku masih bisa berpikiran waras. Aku sadar sejak awal semua cinta itu adalah milik Jordan. Seandainya waktu itu mommy dan daddy bisa menahan perasaan mereka,
mungkin Jordan tidak akan menjadi korban. Aku bisa membayangkan bagaimana jika
aku berada di posisi Jordan waktu itu—kurasa aku pun sama hancurnya.”
“Dan dibanding rasa iriku, aku lebih legah saat dia berakhir denganmu. Karena
setelah menikah denganmu dia sudah banyak berubah. Jordan terlihat lebih
manusiawi. Sekarang hidupnya bukan hanya diisi oleh kebencian, tapi juga ada
cinta disana. Cinta yang hanya ia mau darimu. Karena itu… aku rela melepaskanmu
untuknya. Setidaknya, kisah di masa lalu tidak terulang kembali.”
Lagi, Daniel menghembuskan napasnya yang terasa berat.
“Untuk kekacauan dimasa lalu, aku tidak tahu harus menyalahkan siapa. Entah itu daddy, mommy atau tante Grace. Yang aku tahu cinta yang mereka miliki berada di waktu yang salah. Andai saja mereka tidak egois, mungkin cerita menyedihkan ini tidak
akan pernah tertulis. Kini semuanya bak benang kusut yang tak berujung. Aku
hanya bisa terus berharap semua kepahitan ini segera berlalu.” Daniel berujar
parau, nadanya terdengar lelah.
Jeda sejenak sebelum tangan Daniel yang sehat meraih jemari Lionara dan meremasnya lembut.
“Sekarang aku hanya bisa
mengandalkanmu untuk memperbaiki kerusakan di keluarga ini. Aku yakin Tuhan
sengaja mengirimkanmu berakhir di keluarga kami untuk satu tujuan, yaitu membebaskan keluarga ini dari belenggu masa lalu. Aku merelakan cintaku dimiliki saudaraku sendiri... Karena aku tahu bagi Jordan hanya kamu cahayanya dan satu-satunya orang yang bisa mengarahkannya. Jadi kumohon…perdamaikanlah mereka.” diakhir kalimatnya, air mata Daniel mengalir begitu saja. Tatapannya begitu sendu dan sorot tersiksa tergambar jelas.
“El…jangan begini,” lirih Lionara dengan mata berkaca-kaca. Daniel adalah orang yang
kesekian mengharapkannya untuk melunakkan hati Jordan yang keras. Sungguh pun sebenarnya ia tidak terlalu percaya diri untuk menyanggupi permintaan mereka. Luka yang dimiliki Jordan hanya lelaki itu yang bisa menyembuhkannya, sementara dirinya hanya dapat memberi dukungan pada suaminya itu. Keputusan akhir tetaplah ada pada Jordan.
Terhanyut dalam suasana, tanpa sadar Lionara mendekap tubuh Daniel hati-hati, lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya, seolah memberi ketenangan. Daniel balas
memeluk Lionara tak kalah erat. Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Lionara—begitu merindukan pelukan dari wanita yang masih dicintainya itu. Setelahnya tidak ada
yang bersuara, hanya saling memeluk.
“Sepertinya patah sebelah tangan saja belum cukup untukmu ya?”
Jantung Lionara mencelos begitu telinganya mendengar nada geraman tertahan dari suara di belakang tubuhnya. Ia sangat mengenali pemilik suara itu.
Baik Lionara dan Daniel segera menyudahi pelukan mereka. Lionara berbalik, dan
mendapati senyum mengerikan milik Jordan. Bahkan kedua tangan lelaki itu saja
sudah mengepal keras. Lionara menelan ludah susah payah, sepertinya suaminya itu
sudah salah mengartikan suasana mereka. Ini jelas tidak akan berakhir dengan
baik.
Buru-buru Lionara bangkit menghampiri Jordan—menggamit lengannya sebelum lemosi pria itu kembali meledak dan berakhir menyerang Daniel.
“Kamu sudah selesai?” Lionara berusaha menormalkan nada suaranya yang sedikit gusar sembari mengusap naik turun lengan Jordan.
Jordan tidak mengubris. Tatapannya mengunci tajam pada Daniel yang juga menatapnya tenang.
Lionara berdehem canggung, “Jo, ini tidak seperti yang kamu lihat. Kami hanya—”
“Lepas.” desis Jordan tanpa menoleh padanya
Lionara menggeleng. “Sebaiknya kita pergi sekarang ya. Dokter Lilo pasti sudah menunggu kita,” Lionara tidak akan membiarkan Jordan merealisasikan keinginannya. “Daniel kami duluan ya,” sergah Lionara seraya menarik tangan Jordan menjauh dari sana.
Lionara bahkan mengerahkan sedikit tenaganya saat Jordan enggan bergerak dari sana.
****
Jordan sama sekali tidak mengindahkan Lionara. Ia lebih memilih menatap ke luar
jendela mobil. Di sepanjang perjalanan, lelaki itu acuh tak acuh, tak mempedulikan
Lionara yang menjelaskan kenapa ia dan Daniel berpelukan seperti tadi. wajahnya
datar, namun Lionara tahu Jordan sedang marah padanya.
“Jo, kamu dengar penjelasanku?” Lionara menggoyang lengan Jordan. Namun Jordan tak mempedulikan. “Aku enggak suka kamu mendiamiku begini. Kamu bicara, Jo. Kita selesaikan ini baik-baik, bukan malah bersikap acuh begini.” tambah Lionara mulai
frustasi.
Hening. Pria itu masih tetap diam.
“Tuan, nyonya, maafkan saya… tapi sekarang kita akan pergi kemana?” tanya Sam
hati-hati dari balik kemudi.
“Pulang!“
“Ke tempat dokter Lilo!”
Sepasang suami istri itu menjawab secara bersamaan, membuat Sam sedikit meringis mendengar
jawaban yang bertolak belakang tersebut. Bingung arahan siapa yang harus dia
turuti lantara keduanya sejak masuk mobil tadi sudah terlibat pertengkaran
kecil.
“Arahkan mobil ini ke rumah,” titah Jordan dingin
“Tidak. Kamu sudah janji kalau mulai hari ini kamu akan ikut terapi sama dokter Lilo,”
tolak Lionara
Sam menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Lewat kaca spion, Sam memberanikan diri menatap raut tak bersahabat kedua atasannya.
Terlebih aura Jordan yang saat ini terlihat lebih menyeramkan.
“Jadi kita ke rumah sakit dok— ”
“Bukankah tadi sudah kukatakan pulang! Apa telingamu sudah tidak berfungsi lagi?!” bentak Jordan berhasil membuat Lionara dan Sam terkesiap.
“Jo-“
“Lakukan kalau tidak ingin kepalamu kulobangi,” sela Jordan dengan tatapan tajamnya pada Sam.
Sam meneguk ludah, “Ba-baik Tuan,”
Setelah itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Sam memilih fokus menyetir dan
Jordan kembali menatap datar ke bahu jalanan—tak sekalipun Jordan berniat
menatap istrinya yang masih tak berhenti memandanginya.
Pikiran Jordan sedang tidak stabil, itu sebabnya ia tidak ingin menuntaskan masalah ini dulu dengan Lionara. Ia harus menenangkan diri terlebih dahulu agar dirinya tidak lepas kendali.
Hari ini Jordan sudah mati-matian menekan egonya untuk menjenguk Ayahnya, dan saat
keluar dari ruangan ia malah melihat Lionara dan Daniel saling berpelukan erat.
Sialan!
Bagaimana bisa istrinya itu dengan santainya memeluk mantan kekasihnya disaat
dirinya masih berada di dalam ruang inap Josep—dengan pikiran dan hati yang
terus berperang.
To be continued