
Jordan sedang berada di ruang VVIP Club malam bersama Aldrich, Evan dan pemilik
club—Darell. Rasa panas dihatinya masih belum hilang saat menyaksikan kedekatan
istrinya dan Daniel. Tadi, setelah dari Rumah sakit mereka langsung pulang ke
rumah. Jordan menolak kesepakatan sebelumnya untuk melanjutkan konsultasi
dengan psikiaternya. Moodnya sudah kacau. Bahkan sampai di rumah pun Jordan
enggan berbicara dengan Lionara meski wanita itu terus mengekori dirinya kemana
pun. Dan untuk pertama kalinya istrinya itu berubah menjadi perempuan paling
cerewet sepanjang hari. Jordan bertindak acuh, menulikan telinganya dari segala
bentuk penjelasan yang keluar dari bibir istrinya. Terakhir ia memilih
menyibukkan diri dengan membaca dan memeriksa dokumen di ruang kerja, sementara
Lionara langsung berhenti merecokinya begitu mendengar tangisan Jay.
Kapan Lionnya bisa memahami apa yang tidak disukai Jordan? Padahal apa yang tidak disukai Jordan begitu jelas. Dan berkali-kali Lionara langgar itu. Jujur, ini
sakit sekali. Dadanya sesak, merasa tidak berharga di mata istrinya. Anggaplah
Jordan berlebihan, tetapi memang ini menyakitkan.
Entah mengapa kini tiba-tiba Jordan menjadi ragu dengan perasaan Lionara padanya.
Benarkah wanita itu mencintainya? Benarkah hanya dirinya satu-satunya pria yang diinginkan Lionara? Tapi jika iya,
mengapa istrinya itu selalu mudah luluh setiap kali bersama Daniel? Ia bahkan
menatap Daniel dengan penuh kelembutan dan selalu berakhir dalam pelukan mantan
kekasihnya itu.
Jordan mengisap sebatang rokok dan juga sebotol vodka di tangannya. Tatapannya datar, menikmati penampilan tiga penari striptis di hadapannya. Mereka menari liar di
sebuah tiang dengan hanya mengenakan pakaian dalam.
Adrich dan Evan bersorak ketika salah satu dari mereka membuka bra dan melemparkannya.
Evan beranjak dari duduknya dengan sempoyongan menghampiri si penari. Dan langsung saja Evan menari dengan di kelilingi para wanita itu.
Aldrich bersorak heboh ketika Evan mencium bibir salah satu dari penari itu, sementara tangannya menggerayangi bokong wanita itu dengan nakal.
“Brengsek, jangan bercinta di depan kami!” Darell berteriak protes
Jordan menoleh pada pria setengah baya itu, ia mengangkat kedua alisnya, memperhatikan
Darell yang sedang di cumbu wanita simpanannya.
Darell menyengir pada Jordan “Aku pemilik club ini, jadi aku bebas melakukan apapun,”
ucapnya sambil meraih dagu wanitanya untuk ******* bibirnya.
Pertunjukan di depan matanya semakin liar, tiga wanita itu sudah bertelanjang bulat dengan terus menggerayangi Evan di semua titik tubuh sahabatnya. Begitu pun Darell
yang hampir melepas pakaiannya dan sang wanita.
“Anak buahku menemukan jejak Richard” ujar Aldrich ditengah sesapannya
Jordan melirik menggunakan sudut matanya “Dimana dia?”
“Terakhir kali dia berada di Milan—menghadiri pesta yacht. Sepertinya buronan tua itu sedang melebarkan koneksi obat-obatan terlarangnya.”
“Kau tidak menangkapnya?” Jordan menaikkan alis—sorotnya sudah berkilat tajam.
“I do. Tapi sayang, lagi-lagi pria tua itu berhasil kabur dari pengejaran anak
buahku.”
Jordan menghela napas, kemudian meneguk kembali vodkanya
“Tapi sebaiknya kau meningkatkan penjagaan terhadap anak dan istrimu. Richard berniat menuntut balas atas perbuatan om Josep yang sudah menjadikannya buronan selama
bertahun-tahun, dan juga padamu karena kaulah yang paling gencar menyakiti adik
kesayangannya.” Aldrich menatap serius pada Jordan yang tengah menatap botol
minuman di depannya.
“Tenang saja, sebelum bedebah itu menyentuh keluargaku, dia yang akan lebih dulu hancur ditanganku.” desis Jordan dengan nada yang mengerikan. “dan kalau perlu adik dan keponakannya itu pun akan kulenyapkan sekalian.”
“Sebaiknya jangan lakukan itu. Targetmu hanya Richard—sebab dia jugalah biang utama dari insiden penculikanmu dan tante Grace.”
“Al!” tegur Evan dengan tatapan memperingati. Sedikit banyak pria playboy itu sudah mendengar percakapan kedua sahabatnya. Dan entah Aldrich sadar atau tidak jika dirinya sudah mengangkat topik yang amat sensitive bagi Jordan—ibunya.
“Apa? Bukankah itu faktanya? Aku hanya memperingati Jordan agar tidak memburu orang yang sama sekali tidak bersalah,” tukas Aldrich
Dengan gerakan kilat, Jordan merogoh sesuatu di balik coat-nya. Lalu menembak tiga kali.
“SHIIIIT!!” teriak ketiga pria itu ketika Jordan menembak satu senti di atas kepala
Aldrich, satu senti melewati telinga Evan, dan tembakan terakhir satu senti
melewati leher Darell—pria yang sama sekali tidak tahu apapun.
“APA KAU SUDAH GILA?!!” raung Aldrich; wajahnya penuh kengerian
“KAU MEMANG BERENGSEK!” maki Evan tak kalah syok
“BOCAH KEPARAT! KAU MERUSAK KESENANGANKU!” tambah Darell yang pucat pasi
“Sayang sekali meleset.” timpal Jordan begitu santai sambil memasukkan kembali
pistolnya ke dalam coat. Tidak merasa bersalah sedikit pun. Sedang para penari
itu sudah meringkuk gemetaran di sudut ruangan.
“Aku sedang butuh hiburan.” Jordan beranjak dari duduknya, tidak menghiraukan raut
tegang dan kesal dari ketiga temannya. “Darell, antarkan wanita terbaik milikmu
ke kamarku.” tandasnya kemudian pergi begitu saja.
****
“Om memanggilku?”
Pria yang di panggil itu memutar kursinya sampai berhadapan dengan Daniel.
“Ya. Apa aku mengganggu waktu istirahatmu?” tanya Richard pada keponakan
tersayangnya
“Tidak sama sekali.”
Richard menghisap cerutu dan menghembuskan asapnya sebelum berbicara.
“Aku mendengar jika istri dari saudara tirimu itu adalah mantan kekasihmu. Benar?”
Daniel terdiam.
Richard menatap penuh arti pada Daniel. “Well, drama di masa lalu sepertinya kembali
terulang. Sungguh dramatis.”
Daniel menghela napas jengah, “To the point saja, apa yang ingin om sampaikan?”
“Apa kau menginginkan wanitamu kembali?”
Daniel memicingkan mata antisipasi. “Jangan melakukan hal bodoh lagi Om. Sudah cukup dengan kekacauan yang Om buat kemarin!”
Richard terkekeh rendah, “Ayolah Nak. Itu belum seberapa. Aku bahkan belum memulai permainan sesungguhnya.”
Richard mengangkat alis, “Apa ini sejenis ancaman?”
“Hanya peringatan.” Daniel mengedikkan bahu “Aku tidak ingin ada keributan lagi. Sudah cukup masalah yang Om perbuat di masa lalu. Aku menyembunyikan keberadaanmu karena aku masih menyayangi Om. Jadi, berhentilah sebelum kesabaranku habis. Aku tidak akan tinggal diam lagi.”
“Apa kau tidak tertarik membalas perbuatan semena-mena bocah tengik itu? Oh sadarlah
Nak. Jordan sudah terlalu banyak memonopoli apa yang seharusnya menjadi
milikmu. Dari mulai seluruh aset, ketidakadilan daddymu, mommymu yang selalu dia buat menangis dan terakhir kekasihmu pun ia ambil. Apa kau hanya akan diam saja melihat anak itu bahagia diatas penderitaanmu?”
Daniel mengetatkan rahangnya, “Sejak awal semua itu adalah miliknya. Jika saja Om
tidak melakukan trik kotor dimasa lalu, mungkin keluargaku tidak akan sehancur
sekarang.”
“Aku hanya bantu mempermulus kebahagiaan Mommymu dengan melenyapkan para benalu
itu.” kemudian Richard berdecak “Tapi sial, anak dari wanita itu malah
selamat!”
“Apa maksud, Om?”
Daniel menatap nyalang, dadanya tiba-tiba berdebar saat otaknya dengan cepat mulai mencerna maksud Richard yang terdengar ambigu. “Jangan bilang dalang sebenarnya dari penculikan tante Grace dan Jordan adalah…Om?”
Richard menikmati raut ketegangan keponakannya, dan tak lama kemudian tawa Richard menggelegar.
“Exactly right! Kau memang keponakanku
yang jenius.”
“BRENGSEK!!” raung Daniel dengan kemarahan yang tak terbendung. Pria itu menunggang balikkan meja Richard dan menyentak kerah baju Richard yang masih tampak tenang.
“Kenapa? Kenapa Om tega sekali melakukan perbuatan keji itu, HAHH?!!” napas Daniel
memburu, wajahnya memerah penuh emosi.
“Apa lagi? Tentu saja karena aku benci. Atau lebih tepatnya aku membenci Grace.”
“Kenapa?”
“Karna aku mencintai wanita itu.”
“A-apa?” Daniel tercekat, cengkramannya mengendur.
“Ya, aku mencintai Grace. Dan daddymu sama sekali tidak mengetahui itu. Aku bahkan sangat tergila-gila padanya. Segala hal kulakukan agar Grace membalas
perasaanku. Tapi apa yang kudapat? Wanita itu malah mencintai Josep—pria yang
sama sekali tidak pernah meliriknya, dan parahnya Josep adalah kekasih adikku
sendiri. Namun dengan jalangnya dia rela ditiduri oleh Josep yang sedang mabuk berat
karena ditinggalkan oleh Rossalyn.”
“Aku sangat marah. Rasa cintaku dalam sekejap berubah menjadi dendam yang membara. Grace mengandung anak Josep dan mereka harus menikah. Sedang aku dan Rossalyn dibuat hancur. Belum lagi si tua bangka Rikkard mengancam Rossalyn agar meninggalkan Josep jika tidak ingin perusahaan kakekmu ia hancurkan.”
“Itu tidak mungkin.” Daniel menggeleng, langkahnya mundur.
“Setelah bertahun-tahun, entah bagaimana caranya tiba-tiba Rossalyn sudah kembali
bersama Josep. Mommymu memilih melupakan segala sakit hatinya. Tapi tidak
denganku. Sampai mati pun aku tidak akan pernah melupakan rasa sakit ini.
Karena itu, untuk meringankan sakit hatiku… aku membunuh Grace dan Jordan
melalui orang-orangku. Jika aku tidak bahagia, setidaknya kalian bisa. Tapi rencanaku cacat. Jordan berhasil kabur dan sekarang telah menjadi parasit di bagi kalian. Maka dari itu… aku harus melenyapkan bajingan kecil itu untuk menyempurnakan kecacatan
rencanaku di masa lalu.” Richard menyeringai keji bak psikopat.
“Selama aku hidup aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” Daniel menggeram “Om sudah bertindak di luar batas. Aku akan melaporkan kejahatan Om pada pihak
berwajib!” tambahnya seraya berbalik cepat menuju pintu keluar namun
langkahnya kembali terpaku ketika…
“Dan sebelum kau melakukan itu, kupastikan wanita yang kau cintai mati mengenaskan di
tanganku.” desis Richard dengan manik berkilat tajam “Aku tidak bermai-main, Nak.”
“OM!!!” gelegar Daniel murka “Jangan coba-coba—”
“Well, semua keputusan ada di tanganmu.” culas Richard, menyeringai penuh kemenangan.
****
Four Seasons Hotel,
lantai 56 kamar nomor 1
Penyakit lama
suamimu kambuh. Dia menyewa seorang jalang kesana.
-Aldrich
Lionara menatap nanar isi pesan yang di kirim oleh Aldrich. Jantung Lionara seketika
bertaluan nyaring, keras dan menyesakkan. Entah Lionara harus marah atau justru
berterima kasih pada Aldrich karena sudah mengiriminya pesan tersebut.
Sejak tadi ia memang tengah menunggui Jordan. Tapi sampai saat ini pria itu tak
kunjung pulang. Sulit sekali menangani Jordan jika sudah dalam mode cemburu. Bibirnya sampai sudah berbusa menjelaskan prihal pelukannya dengan Daniel, namun pria
itu benar-benar mengeraskan hati.
Lionara langsung menghubungi nomor Jordan yang tak kunjung di angkat. Walaupun telah menelepon berulang kali, namun dia tak juga mendapat jawaban. Tak ingin berpikir banyak lagi, Lionara segera berlari turun ke bawah dengan hanya memakai baju tidur yang dibalut kardigan, menitahkan sopir untuk membawa mobil ke alamat yang ia tunjukkan.
Dan disinilah Lionara sekarang. Berdiri di depan pintu kamar nomor satu dengan
sebuah kartu di tangannya yang gemetar. Jantung Lionara kembali berdetak tak
karuan.
Pelan, Lionara memasukkan kartu. Satu gesekan dan satu putaran handel, pintu terbuka. Ia melangkah masuk, refleks meredam langkah yang di bantu oleh karpet bulu tebal. Terlihat ruangan luas dan mewah dengan sofa-sofa indah yang ditata
sebagai teman untuk sebuah kasur besar yang akan membuat orang tidur disana
merasakan sensasi tak terlupakan. Namun, bagi Lionara yang belum pernah mencoba
tidur disana tetap takkan pernah melupakan apa yang dia lihat di atas kasur itu.
Untuk sesaat Lionara tidak bersuara, terpaku pada bokong Jordan, pada sosok Jordan
yang sedang menunggangi perempuan yang tak ia kenali.
Tubuhnya membeku di tempat. Mata dan dadanya terasa panas melihat pemandangan menjijikkan yang berhasil mengoyak hatinya. Lionara menelan salivanya, menahan air matanya
agar tida tumpah. Menarik napas sedalam-dalamnya untuk menetralisir rasa sakit akibat dari pengelihatannya.
Dengan tubuh bergetar, Lionara melangkahkan kakinya menghampiri Jordan yang masih belum menyadari keberadaannya disana.
“Jo…” bisik Lionara dengan sorot hampa
Pasangan yang sedang menikmati percintaan di atas peraduan langsung kaget. Tubuh pria itu menegang—masih tak beranjak dari posisinya.
Dan pertahanan Lionara pun runtuh. Lionara menangis dalam diam. Air matanya mengalir deras. Dadanya sangat sesak. Sakit sekali. Jordan bahkan membalasnya dengan perbuatan yang jauh lebih menyakitkan.
To be continued
IG: @rianitasitumorangg