JORDAN

JORDAN
Chapter 5



Waktu mendekati pukul 12 siang dan terik matahari sudah memancarkan panasnya yang seakan bisa membakar kulit jika berlama-lama bertahan di bawah teriknya. Namun panasnya matahari saat itu sama sekali tidak mampu menghentikan Leon yang terus berlari ke sana kemari, menjejalkan tumpukan Koran di tangannya pada setiap kendaraan yang terjebak antrian lalu lintas.


Seharusnya saat ini Leon masih berada disekolah—mengikuti rangkaian pelajaran hingga selesai. Tapi hari itu Leon membolos. Tadi kakaknya memang mengantarkannya sampai di depan gerbang sekolah lalu setelahnya pergi bekerja. Tapi, setelah memastikan kakaknya sudah pergi, Leon keluar mengendap-endap, lima menit sebelum gerbang sekolah ditutup.


Setelah berhasil keluar, ia menuju toilet umum lalu mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumahan yang sebelumnya sudah ia masukkan ke dalam ransel. Ia mengenakan baju hitam berlengan panjang, celana jeans yang sobek di lutut, sepatu kets usang serta topi putih yang menutupi wajahnya yang tampan. Tidak hanya menjual Koran, Leon juga mengamen dengan gitar yang selalu ia bawa kemana pun. Gitar itu ia pungut dari pembuangan sampah ketika sedang mengais disana guna mencari barang-barang buangan yang sekiranya masih bisa di jual untuk membeli makanan. Gitar itu ia perbaiki dan sedikit memodifikasinya hingga menjadi lebih baik.


Leon masih berusia 13 tahun, namun dia memiliki tubuh yang begitu tinggi dari pada usia selayaknya. Dia memiliki wajah yang menawan, rambut cokelat lurus, rahang tajam, hidung terstruktur. Dan berbeda dengan manik hijau emerald kakaknya, manik Leon berwarna biru elektrik. Ia seperti model remaja yang sangat tampan.


Leon memutuskan beristirahat sejenak di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari area trotoar. Ia duduk bersandar dibawah pohon dengan berselonjor kaki, menghembuskan napas lelah lalu menyeka bulir-bulir keringat yang jatuh membasahi pelipis. Setelah dirasa cukup, Leon merogoh sakunya lalu mengeluarkan seluruh isinya, berupa uang yang sedikit lecek—hasil dari menjual Koran dan mengamen tadi. Leon merapikan lembaran uang itu kemudian menghitung seluruhnya.


Dua ratus sepuluh ribu


Itu adalah hasil yang sangat lumayan untuk waktu setengah hari. Leon tersenyum tapi tidak lama senyum itu berangsur menghilang saat pikirannya kembali teringat besarnya biaya tunggakan uang sekolahnya. Selama ini kakaknya telah berjuang begitu keras untuk membiayai sekolah dan kebutuhan mereka. kakaknya itu sudah seperti


robot yang hampir tidak pernah beristirahat dirumah—barang sehari pun. Berulangkali ia mengutarakan niat pada kakaknya untuk berhenti saja dari sekolah dan membantunya bekerja. Tapi Lionara menolak dengan tegas dan malah menyuruhnya untuk tetap fokus belajar hingga lulus agar tidak berakhir seperti dirinya. Leon boleh melakukan pekerjaan kecil-kecil tapi tetap dengan syarat pekerjaan itu tidak boleh mengalihkan fokusnya dari pembelajaran sekolah.


Leon sering melihat kakaknya diam-diam menangis di tengah malam. Menyembunyikan tubuhnya yang sakit dan tetap memaksakan diri pergi bekerja. Leon tidak buta akan hal itu. Ia juga ikut menangis dalam diam sambil memaki dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat banyak untuk membantu. Kakaknya tidak pernah mengeluh, bahkan selalu bersikap tegar di depan dirinya maupun orang lain. Dan sebenarnya Leon membenci hal itu…


Oleh karena itu, ia tidak bisa berdiam diri lagi. Mulai hari ini ia akan bekerja lebih keras dan mengumpulkan uang untuk membantu sang kakak membayar biaya sekolahnya yang menunggak.


Baru saja Leon hendak meneruskan pekerjaannya tapi tiba-tiba langkahnya di hadang oleh sekelompok pereman berbadan besar, lengkap dengan tato-tato mengerikan yang terlukis di tubuh mereka.


“Serahkan uang yang ada di sakumu,” pinta kasar salah seorang pria sambil mendorong bahu Leon hingga hampir membuatnya terjatuh


“Tidak mau” desis Leon dengan ekspresi yang tetap tenang


Pereman itu tertawa, “Jangan main-main bocah. Serahkan sekarang sebelum kami melakukan hal yang lebih keras!”


Leon bergeming. “Silahkan saja.” tantang Leon dengan mata yang terus memperhatikan kedepan—mencari sedikit celah untuk bisa lari dari sana.


Lagi, pereman itu tertawa keras “kau punya nyali yang besar juga bocah! Baiklah…”ketua pereman itu melirik kepada tiga bawahannya, seakan memberi perintah lewat lirikan matanya “bereskan dia,” titahnya kemudian


Anggota pereman itu mengangguk dengan senyum meremehkan, lalu tanpa babibu ketiganya berlari menyerang Leon yang masih diam di tempat.


Menyadari ada peluang, dengan gesit Leon menghindari hantaman demi hantaman lalu setelah menemukan


sedikit celah ia berlari sekencang mungkin dari sana. Sontak ketua pereman itu berteriak menyuruh anak buahnya mengejar


“Bodoh! Kejar bocah itu cepat!!”


Leon melirik ke belakang melalui ujung matanya, mengumpat pelan melihat tiga pria yang telah berlari menyusulnya. Ia menambah laju larinya. Dipegangnya kuat-kuat gitarnya agar tidak terlepas. Terlihat orang-orang yang hanya diam menonton tanpa ada niat mau menolong.


Deruh napas Leon berkejaran seiring larinya kian cepat. Kini di depannya terdapat jalanan yang tidak terlalu padat hingga membuat kendaraan lain melajukannya dengan kecepatan tinggi. Para pereman itu semakin dekat. Sedang Leon masih panik melihat beberapa kendaraan di depannya melajuh dengan kencang. Ia tidak bisa lagi menunggu lampu lalu lintas berubah berwarna merah. Ia harus lari agar tidak tertangkap.


“Berhenti kau bocah sialan!” teriak pereman tersebut


Leon mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Degup jantungnya masih berdetak kencang. Lalu tanpa berpikir panjang ia berlari menerobos penyebrangan tersebut dan sedikit lagi ia hampir sampai, namun…


BRAKKKK


****


Dengan napas yang terputus-putus Nara berlari menyusuri lobi rumah sakit yang tampak masih ramai. Sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat akibat berlarian bak orang kesetanan. Berulang kali ia terjatuh, menabrak orang yang berlalu lalang lalu menggumamkan kata maaf. Ia hanya terlalu kalut— syok luar biasa ketika baru tiba dirumah tadi, salah satu tetangganya mengabarkan bahwa Leon ditabrak mobil dan kini tengah dilarikan ke rumah sakit.


Leonnya, adik kesayangannya… satu-satunya alasan untuknya bertahan hidup… kecelakaan? Bagaimana bisa?


Setelah berlarian panjang, akhirnya Lioara tiba di depan ruang UGD. Napas Lionara tersengal, menekan dadanya yang kesulitan dinetralkan. Air matanya terus mengalir, walau tidak ada isak yang keluar dari bibirnya, tapi sakit ini mampu membuat pandangannya kian tak terarah. Terpincang-pincang, Lionara kian mendekat. Gesekan celana jeans dan lukanya sudah tidak dapat ia rasakan lagi. kebas dan kaku. Darah mulai mengering, diterpa suhu ruangan Rumah Sakit yang dingin.


“Leon…” lirihnya


Di atas berangkar, Leonnya terbaring tak sadarkan diri dengan bantuan masker oksigen. Wajah adiknya begitu pucat, sedang ia masih dapat melihat dengan jelas darah yang membanjiri kepala dan seluruh pakaian Leon. Ada beberapa luka yang menganga di beberapa bagian tubuh Leon dan Lionara tahu pasti, para suster itu belum memberikan pengobatan karna ia melihat Leon sesekali meringis kesakitan ditengah ketidak sadarannya.


Melihat itu tangan Nara mengepal kuat oleh kemarahan yang luar biasa. Tanpa perasaan, mereka hanya membiarkan adiknya yang kritis begitu saja tanpa mencoba melakukan penangan yang berarti. Dengan sigap Lionara berlari menemui salah seorang suster yang hendak keluar dari sana.


“Sus…suster..” panggil Lionara, langsung menahan tangan suster tersebut “Ke..kenapa adik saya belum juga ditangani?” tanya Lionara dengan nada bergetar bercampur panik


“Maaf bu, pihak Rumah Sakit terpaksa menanggungkan operasi adik anda sementara karna biaya administrasi yang belum diselesaikan. Dan jika pembayaran tidak segera dilakukan, maka saya tidak menjamin adik anda akan selamat.”


Deg!


“Be-berapa biaya operasinya?”


“Dua puluh lima juta”


“Apa?” tercekat, nada suara Nara hampir tertelan. Wajahnya kian pucat pasih mendengar nominal tersebut.


“Permisi, bu” pamit suster tersebut


Lionara menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Punggungnya bergetar disusul isak tangis menyedihkan keluar dari mulutnya. Apa lagi ini? kenapa semesta seolah-olah tidak pernah lelah mempermainkannya? Ia sudah hancur dan kini semakin hancur. Jika hanya dirinya saja yang terluka ia sudah biasa, sudah terlalu biasa


merasakannya bahkan ia sudah sangat kebal. Tapi bagaimana dengan adiknya itu? Apa gunanya ia hidup jika adiknya tidak ada. Selama ini ia bertahan untuk hidup hanya demi Leon. Jika tidak sudah lama ia memilih mengakhiri hidupnya yang menyedihkan ini—pergi menyusul kedua orangtuanya.


Tidak bisa! Bagaimana pun Leon harus selamat! Demi Leon, ia tidak boleh menyerah sekarang…


Lionara buru-buru mengusap air matanya. Berbalik, sekali lagi ia menatap senduh adiknya yang terbaring kritis. “Kamu harus selamat, sayang. Kakak akan melakukan apapun. Bertahanlah…” janji Lionara kemudian beranjak keluar dari sana.


Berpegangan pada tembok Rumah Sakit, Lionara berjalan menuju bagian Administrasi.


“Permisi, Suster… bolehkah saya pinjam telepon sebentar,” pinta Lionara


“Ya, silahkan” sahut Suster itu ramah.


Setelah mendapat ijin Lionara langsung meraih gagang telepon lalu menekan nomor yang sudah dihapal sebelumnya. Panggilan tersambung. Lionara menghela napas berat lalu…


“Hallo?”


“Ini saya, Lionara” jawab Lionara tanpa basa basi


“Bagaimana?”


Lionara memegang kuat gagang telpon sebelum berucap lemah “Saya bersedia. Tapi, dengan syarat anda melakukan satu lagi permintaan saya.”


To be continued


IG: @rianitasitumorangg