JORDAN

JORDAN
Chapter 14



Rupanya Jordan serius dengan ucapannya yang akan membuat Lionara akan dibuat sibuk olehnya. Pagi ini usai sarapan pagi, Jordan membawa Lionara ke butik kelas atas yang terletak di kawasan elite di pusat kota. Butik itu berupa rumah bercat putih dengan gaya belanda, dikelilingi pepohonan rimbun dan suasana yang asri.


“Ayo turun, ini butik milik Deliah. Aku akan memperkenalkanmu lebih dulu padanya.” Jordan membuka pintu dan memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Lionara. Kali ini dia sengaja tidak memakai jasa sopir pribadinya.


Mereka berjalan bersisian, dengan lengan Jordan yang melingkar di pinggang ramping Lionara. Lionara sebenarnya risih dengan perlakuan Jordan yang berhasil mengundang perhatian banyak orang menatap ke arah mereka. Ingin menepis tangan itu tapi percuma saja, karna sang empunya malah dengan enteng semakin mempererat rangkulannya.


Suasana di dalam butik itu sangat elegan, dengan lampu berwarna kuning terang yang menciptakan keindahan tersendiri terhadap pakaian berwarna yang digantung di berbagai sudut. Dulu Lionara biasa masuk ke tempat seperti ini karna sang mama yang tak jarang meminta dirinya menemani untuk fitting baju jika Ayahnya tidak bisa menemani.


“Jordan?”


Seseorang keluar dari bagian belakang butik. Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik, dengan kaos ketat berwarna merah gemerlap yang menunjukkan keseksian tubuhnya yang berkulit seputih susu, berkilauan bagai porselen. Tiba-tiba saja perempuan itu memekik kesenangan, “Jordan!!” lalu perempuan itu menghambur


memeluk Jordan dengan erat.


“Kemana saja kamu sayangku? Lama sekali kamu tidak kemari.”


Jordan tersenyum manis dan membalas pelukan perempuan itu, “Aku sangat sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini.” Jordan memundurkan langkah dan dengan halus melepaskan diri dari pelukan perempuan itu, “Bagaimana kabarmu, Deliah?”


“Aku baik-baik saja.” Deliah bergumam ceria sambil mengedipkan sebelah matanya, “dan aku sangat merindukanmu, Jo. Dulu kau sering kemari sambil membawa pacar-pacar cantikmu itu… jadi karena kamu lama tidak kemari, aku pikir mungkin kamu sedang tidak berpacaran?”


Mata Deliah melirik ke arah Lionara yang berdiri tanpa ekspresi di belakang Jordan dan langsung mengangkat alis, “Atau kamu berpacaran tapi sepertinya sudah merubah seleramu?” matanya mengamati Lionara dari ujung kaki ke ujung kepala, membuat Lionara tanpa sadar turut memperhatikan penampilannya sendiri. Kaos abu-abu berlengan panjang yang digulung sampai siku, dengan celana jeans hitam yang menggantung—tidak sampai mata kaki dan memakai sepatu sneakers putih. Sedang rambutnya dicepol asal ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Kenapa? Apa ada yang salah dengan gaya berpakaiannya?


“Apa selera wanitamu sudah berubah?” gumamnya mendekati Lionara, dan kemudian menyentuh pundak Lionara tanpa permisi, lalu membalikkan tubuh Lionara yang dianggapnya seperti boneka. Dia mengamati tubuh Lionara dan kemudian menoleh ke arah Jordan lagi. “Kekasih terbarumu?” gumamnya tak percaya


Jordan terkekeh, “Namanya Lionara. Lebih tepatnya dia istriku, Deliah. Dan aku ingin bantuanmu untuk melatihnya.”


“Apa?!” seru Deliah kaget luar biasa “ka—kamu sudah menikah?”


“Ya.” Jordan tersenyum lebar, “sebentar lagi Kakek merayakan pesta ulang tahun dan seluruh keluarga besarku yang lainnya akan datang. Sedang istriku ini sangat polos dan tidak tahu berdandan. Aku ingin kamu mengajarinya, bagaimana caranya berpenampilan seperti wanita kelas atas. Dari mulai gaya berjalan, gaya berpakaian bahkan gaya berbicaranya dengan intensif.” Jordan menatap Deliah dan tersenyum manis, “aku tahu kamu sangat ahli dibidang seperti itu.”


Deliah tertawa, tawa merdu yang enak di dengar, dia menepuk pundak Lionara lembut, “Hai, aku Deliah. Dan sepertinya sahabatku yang tiba-tiba datang setelah sekian lama menghilang ini tanpa tahu malu langsung meminta bantuanku.”


Deliah mengucapkan kata-kata cemoohan, tetapi kemudian Lionara menyadari bahwa perempuan itu hanya menggunakan sebagai candaan, tidak bermaksud sama sekali untuk merendahkan lawan bicaranya. Mungkin memang gaya bicaranya seperti itu.


“Aku bisa saja melakukannya, Jo. Meskipun ini akan mamakan banyak waktu.” Deliah menatap Lionara penuh arti. “tetapi kamu harus menjelaskan semuanya kepadaku dari A sampai Z jadi aku tahu apa maksud semua rencanamu ini.”


Deliah lalu memanggil pelayannya yang segera datang dari pintu belakang, “Buatkan minuman untuk kedua tamuku. Kita akan bercakap-cakap sebentar.”


“Aku akan menjelaskannya kepadamu, Deliah.” Jordan menganggukkan kepalanya setujuh, lalu menatap Lionara, "Kamu bisa menunggu disini? Aku akan bicara dengan Deliah sebentar di dalam.”


Lionara menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak berminat mendengar percakapan keduanya, karna sudah bisa menebak apa yang akan di bahas keduanya.


“Pelayan akan membawakanmu minuman dan kue. Kamu boleh melihat-lihat pakaian disini dan mencobanya. Kalau ada yang menarik untukmu bilang saja, aku yakin Jordan dengan senang hati akan membelikannya untukmu.” Deliah mengedipkan sebelah matanya, lalu dengan genit menggandeng lengan Jordan, dan dua anak manusia itu kemudian masuk ke ruang dalam yang sepertinya bagian kantor dari butik tersebut.


Lionara menatap tidak berkedip punggung keduanya yang perlahan mulai menjauh. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Melihat suami digandeng mesra oleh wanita lain pastilah sangat tidak rela. Apalagi Jordan seperti biasa tidak menolak atau mengusir wanita itu tapi malah membiarkannya bergelayut ditubuhnya sambil


bersenda gurau. Tapi bukankah Jordan menikahinya tanpa cinta? Dan Lionara juga menerima pernikahan itu tanpa cinta. Ia tidak boleh merajuk seperti istri yang pencemburu, apalagi di depan umum seperti ini.


****


Jordan dan Deliah keluar dari ruangan itu selang satu jam mereka berbicara di dalam. Melihat kemunculan keduanya, Lionara yang tengah memperhatikan para pekerja butik, langsung berdiri. Deliah tersenyum manis kepada Lionara, lalu melemparkan tatapan bertanya pada Jordan.


“Kalian akan kemana hari ini?”


Jordan mengangkat bahu, “Kami akan ke mall. Berhubung aku juga lagi cuti, tidak salah bukan sedikit memanjakan Nyonya rumahku hari ini?” katanya sambil mengerling ke arah Lionara


“Ck, dasar perayu,” kekeh Deliah meninju pelan bisep Jordan


“I am,” Jordan terkekeh, lalu berjalan menghampiri Lionara dan langsung mengenggam tangannya


“Hati-hati ya,” Deliah melepas kepergian mereka dalam senyum ramah, “dan Jordan, jangan lupa membawa istrimu ke salon.” Serunya setelah Jordan dan Lionara dekat dengan mobil mereka.


Jordan hanya menganggukkan kepala dan melambai kepada Deliah. Sepanjang jalan mereka terdiam. Jordan berkali-kali mencuri pandang ke arah istrinya yang tampak betah menatap bahu jalanan. Tak ada niat sama sekali untuk membuka percakapan atau sekedar basa basi.


“Apa kami membuatmu menunggu terlalu lama?” Pada akhirnya Jordan yang membuka percakapan lebih dulu. Menunggu Lionara bersuara duluan seperti menunggu kutub utara mencair. Mustahil.


Lionara menoleh, “Tidak.” lalu kembali menatap ke depan “Butik yang sangat indah, dan Deliah… pemiliknya sangat cantik.”


Jordan tersenyum simpul, “Tentu saja, Deliah sangat cantik. Bahkan dia sangat menjaga kecantikannya itu.”


“Oh.” Lionara berespon datar. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan tidak suka yang terselip saat Jordan memuji wanita lain.


Jordan sendiri mengamati reaksi Lionara dan tersenyum geli.


“Jangan merasa rendah diri. Deliah memang selalu berusaha lebih cantik dari perempuan manapun di dunia ini, tapi dia sahabat yang baik dan dia akan membantumu.”


Benarkah mereka hanya bersahabat? Bukankah Jordan sendiri yang mengatakan, tidak ada persahabatan antara pria dan wanita?


Ingin sekali Lionara melemparkan kembali ucapan Jordan tempo hari, tapi saat menoleh Jordan tengah fokus membelokkan mobilnya ke pusat perbelanjaan terbaru di pusat kota, yang katanya terbesar di Manhattan.


“Kamu serius membawaku kemari?” Lionara menatap tidak percaya.


Jordan menyerahkan mobilnya kepada petugas valey parkir. Lalu merangkul lengan Lionara, berjalan bersisian memasuki pintu utama pusat perbelanjaan.


“Bukankah aku juga bilang tidak suka berbelanja?” Lionara mengoreksi.


“Ck, dalam hal ini ternyata kamu cerewet juga ya.” Jordan mendengkus.


“Kalau begitu kita pulang agar aku tidak—“


“Kita ke salon yang itu dulu.” sela Jordan dan tanpa mempedulikan protes Lionara, ia mengandeng tangan istrinya ke sebuah salon terkenal. Jordan jarang ke salon, tetapi dia tahu mana salon yang baik dan mana yang tidak. Mantan-mantan kekasihnya dulu kebanyakan selalu membicarakan salon-salon langganan mereka.


Saat mereka masuk, salah satu pegawai salon langsung menyambut mereka dengan ramah. Jordan mengatakan apa maksudnya kepada pegawai itu dan kemudian Lionara dihela masuk ke bagian dalam, sementara Jordan sendiri duduk di ruang tunggu.


****


Setelah dari salon, Jordan menyeret Lionara ke sebuah toko sepatu ber-hak tinggi yang begitu elegan.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan nona?” tanya sang pramuniaga dengan sopan.


Jordan mengedikkan bahu ke arah Lionara, “Dia butuh sepatu, yang banyak dan terbaru. Keluarkan semua koleksi terbaru kalian.”


Dan kemudian banyak sekali waktu yang dihabiskan untuk mencoba sepatu ber-high heels yang seakan tidak ada


habisnya. Jordan akan duduk disana, meminta Lionara berjalan di depannya, dan ketika tidak merasa cocok, lelaki itu akan berkata tidak. Sedangkan ketika merasa cocok, dia akan memberi isyarat kepada pramuniaga yang langsung membawa kotak sepatu itu ke kasir.


Pada akhirnya, Lionara kelelahan mencoba berbagai macam sepatu itu. Ketika memasang kaitan sepatunya yang entah untuk keberapa kalinya, Lionara mendesah dan mulai merasa ingin melarikan diri dari tempat itu segera.


Jordan melihatnya, dan menemukan keengganan di mata Lionara ketika dia dimintai perempuan itu mencoba sepatu. Sungguh, Lionara benar-benar berbeda dengan perempuan lain yang pernah bersamanya. Perempuan-perempuan lain akan merasa seperti disurga bila diajak berbelanja sepatu ataupun pakaian sekian lamanya. Yah, bagaimanapun istrinya perempuan yang berbeda.


Dengan lembut dan penuh senyum, dia lalu mendekat, berjongkok di hadapan Lionara yang duduk di kursi khusus untuk mencoba sepatu, kemudian jemarinya meraih kaitan sepatu Lionara dan memakaikannya.


“Lelah, ya?”


Sikap Jordan dan jemarinya yang sedang memegang pergelangan kaki Lionara tampak begitu lembut dan penuh perhatian. Membuat wajah Lionara tiba-tiba memerah karenanya. Lionara pada akhirnya hanya mampu menganggukkan kepalanya, tidak mampu berkata-kata atas sikap lembut Jordan.


Jordan tersenyum dan menghela napas panjang, “Kalau begitu, setelah ini kita pulang saja. Aku akan menyuruh pelayan untuk berbelanja yang lain.”


****


Di spot parkir, baru saja Jordan menyentu handle mobil—hendak membuka pintu untuk Lionara ketika sebuah suara tiba-tiba menginterupsi.


“Kak Jordan!”


Merasa namanya dipanggil, Jordan menoleh dan diikuti oleh Lionara. Disana, tak jauh dari mereka seorang gadis melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang. Wanita itu sangat cantik. Tubuhnya tinggi dan memiliki lekukan sempurna. Rambutnya pirang dan panjang bergelombang, sedang ditubuhnya melekat gaun pas badan berwarna maroon yang memperlihatkan kaki indahnya.


Wanita itu pastilah kriteria Jordan sekali, mengingat beberapa wanita yang berhubungan dengan Jordan memang sejenis itu.


“Jesica,” gumam Jordan


Wanita itu tiba-tiba berlari, merangkul dan memeluk Jordan tanpa mempedulikan kehadiran Lionara disana yang harus sedikit mundur akibat terjangan wanita itu.


“Aku tadi kerumah kakak, tapi kakak tidak ada. Dikantor juga.” Jesica mencebik, masih merangkul leher Jordan.


Jordan terkekeh, “Hari ini aku ambil cuti. Lagian, siapa suruh datang tidak bilang-bilang.”


“Kan aku mau kasih surprise buat kakak,”


“Dan kamu berhasil melakukannya dengan muncul tiba-tiba di tempat ini” Jordan mengacak gemas rambut Jesica


“Bukan kejutan begini yang kumau,” gerutu Jesica, lalu mengalihkan pandangan ke samping. “Siapa dia? Teman kencan baru lagi?” Jesica menatap sinis pada Lionara.


Lionara tetap berekspresi datar—sama sekali tidak terpengaruh dengan nada sinis Jesica.


“Bukan. Dia istriku.” Jordan tersenyum dan dengan lembut melepaskan rangkulan Jesica.


Jesica melotot kaget “Jadi gossip itu benar?! Kakak sudah menikah?”


“Yup, benar sekali.” Jordan tertawa “Kenalkan, namanya Lionara. Lionara, ini Jesica, sepupuku.”


Jesica tersenyum sekilas dan mengalihkan pandangan pada Jordan lagi tanpa memberikan Lionara kesempatan untuk membalas senyum itu. Syukurlah. Lionara juga malas membalasnya.


“Sayang sekali kakak bersamanya. Padahal baru saja aku berencana mengajakmu makan malam diluar,” keluh Jesica sambil memainkan rambut ikalnya. Secara tidak langsung ia menyebut Lionara sebagai pengganggu.


“Mungkin lain kali kita bisa pergi.” Jordan mengelus lembut rambut Jesica


“Janji ya?” wajah murung Jesica seketika berbinar ceria


“Tentu” Jordan tersenyum menganggukkan kepala.


Lionara masih bergeming, menatap sikap Jordan yang tampak begitu manis memperlakukan Jesica. Dia tahu bagaimana menyenangkan wanita. Dan mungkin karna itu jugalah banyak sekali perempuan yang masih mengejarnya. Menyadari betapa banyaknya perempuan yang menggilai suaminya, membuat perasaan aneh itu kembali menggelayuti. Sejak awal dia sudah memperkirakan Jordan dikelilingi  oleh para perempuan yang mengaguminya, dan awalnya dia sama sekali tidak peduli. Tapi mengapa sekarang terasa sedikit menyakitkan?


To be continued


Ig: @rianitasitumorangg