
" Bobi udah tidur bang , makanya dia gak denger ada telepon" jawab mbak Pit sambil terisak .
Mbak Pipit dan Ara pun masuk kedalam kamar .
" Dek bangun , dek bangun katanya bapak udah gak ada dek " ucap mbak Pipit sambil menangis .
Bang Bobi pun tidak kunjung bangun , akhirnya Ara mencoba membantu mbak Pipit untuk membangunkan bang Bobi .
" Bang bangun bang , bang bangun " tambah Ara sambil mengguncang2kan badan abangnya .
Bang Bobi pun bangun , merasa marah karena tidurnya telah di ganggu .
" Apa sech dek , abang ngantuk , ganggu abang tidur aja " kesalnya
" Bangun dulu telepon Om Melan , tadi Om Melan nelepon abang , tapi gak abang angkat , katanya bapak udah gak ada bang " ucap Ara sambil menangis .
" Apa bapak gak ada dek " ucap bang Bobi terkejut mendengar berita tersebut , ditambah melihat mbak dan adiknya menangis membuat dia semakin bingung .
Bang bobi pun beranjak dari tidurnya dan melihat Hp nya yang ternyata sudah ada beberapa panggilan telpon masuk dari Om Melan dan selebihnya dari Kantor bang Bobi yang pada saat itu bang Bobi sudah diterima bekerja di salah satu Perusahaan di Medan dan sudah bekerja hampir satu bulan .
Bang Bobi menghampiri mamak yang sudah terduduk sambil menangis .
" Mak betul bapak gak ada " tanya bang Bobi .
" Coba telepon Om Melan Bob tanya apa betul bapak udah gak ada " jawab Mamak sambil menangis .
Bang Bobi pun berjalan keluar rumah . karena kalau di dalam rumah jaringannya sedikit tidak bagus . Ara , bang Yayan anak ke-3 mamak , mbak pipit dan suami adik mamak melihat bang Bobi dari kejauhan , sedangkan Uchi ada dipelukan mamak , bibik dan anak angkat mamak berusaha menenangkan mamak .
Dari jauh sudah terdengar suara tangisan bang Bobi . Sambil berjalan mendekati rumah bang Bobi pun berkata sambil menangis " Iya bapak udah gak adaa huhuhuhu " tangisannya sudah tidak bisa terbendung lagi .
Seketika isak tangisan pun pecah . Mamak menangis histeris , bibi berusaha menenangkan mamak .
" Iya dek , apa kata Om Melan dek " tanya mbak Pipit kepada bang Bobi sambil terus menangis .
" Kata Om Melan bapak habis makan , terus bapak permisi tidur duluan pas Om Melan masuk kekamar , kok bapak tidurnya kayak lain , jadi Om Melan bangunin bapak , tapi bapak gak bangun2 " ucap bang Bobi memberi penjelasan kepada mbak .
" Jadi sekarang bapak gimana bang , kapan mau di bawa kemedan " tanya bang Yayan .
Cuma bang Yayan lah yang bisa menunjukkan sikap tegarnya dihadapan keluarganya . Karena bang Yayan adalah anak mamak satu2nya yang bisa dengan mudah bersikap tenang walau sebenarnya bang Yayan itu pemuda yang cengeng atau mudah menangis . Namun dia bisa menyembunyikan itu semua .
" Pihak kerjaan dimana bapak bekerja , setelah mengetahui bapak sudah tidak ada , mereka membawa bapak memakai Ambulance Puskesmas setempat untuk membawa bapak balik kemedan " jawab bang Bobi
" Jadi 6 jam lagi bapak baru sampai " ucap mbak Pipit
" Palek minta tolong kabarin sodara2 yang lain ya , Ara ,Yayan , Bobi bantuin mbqk buat nyiapin kedatangan bapak " tambah mbak Pipit disertai tangisannya .
Para tetangga pun mulai terlihat mendatangi kediaman . Mereka mencoba menguatkan mamak dan membantu mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan .
Pukul 02.15 wib dini hari suara sirene Ambulance samar2 terdengar semakin mendekat . Uchi yg pada saat itu masih berumur 6 tahun pun terbangun dari tidurnya .
Ambulance memasuki kediaman rumah duka . Isak tangis seketika kembali pecah . Mereka sekeluarga menangis melihat jenazah Alm.bapak di bawa masuk kedalam rumah tidak terkecuali bang Yayan , ternyata pertahanannya roboh seketika melihat jenazah Alm.bapak dia menangis histeris .
" Bapak "
" Bapak "
" Bapak "
Uchi pun menangis dalam dekapan mamak ,
Ara , bang Bobi , bang Yayan dan mbak Pipit juga menangis di sebelah jenazah bapak . Pada saat itu mata Alm.bapak belum sepenuhnya tertutup . Menurut orang2 setempat itu dikarenakan masih ada yang ingin dilihat oleh beliau . Setelah kami satu persatu mencium jenazah Alm.bapak , ciuman terakhir diberikan mbak Pipit sambil berbisik ketelinga bapak dan berkata " Pit akan jaga mamak dan adek baik2 pak " sambil terisak dan membacakan Sholawat mbak Pipit mulai menutup mata Alm.bapak dan mata Alm.bapak pun tertutup sempurna .