
(Sekolah Tokyo 1, Halaman Belakang)
"T...tidak mungkin" Angelica terkejut
"M..mustahil, bahkan tingkat semi spesial pun kalah"
Kakek tua itu sekarang mengerti kekuatan dari Taro, yang saat melawan dirinya dia hanya sedang bermain-main. Jika Taro serius sudah pasti dia akan mati.
Kekuatan dan kecepatan yang luar biasa, bahkan tidak bisa di ikuti oleh matanya. Kini, harapan untuk menang telah hilang, bahkan bantuan datang menurut nya tidak ada arti.
"Trak!" Taro mendarat dan mendekati mereka berdua
"Baiklah, semua penghalang sudah menghilang. Giliran mu nona muda, apa kau ingin mati dengan cepat atau menyakitkan?"
Kakek tua langsung berdiri dan menghadapi Taro,
"Nona, cepat lari dari sini. Aku akan menahannya sebentar"
"T...tidak, kakek!"
"Haa, kalian masih belum menyerah? Baiklah, akan aku akhiri saja langsung!"
Taro menghilang dan muncul di depan kakek tua, Nanchaku ia ganti dengan pedang.
"Kena kau!"
"Pengikat bayangan!"
Kakek tua menggunakan teknik kutukannya namun tidak berhasil, kekuatan Taro begitu besar hingga tidak bisa ditahan.
"Ohh, jadi kau ingin menangkap ku, tapi tidak semudah perkiraan mu!"
"Tak!"
Teknik bayangan milik Kakek tua terlepas, serangan Taro datang menuju leher kakek tua.
"Jadi ini akhirnya, maafkan aku nona" pikir kakek tua
"Kakek!"
"Sringg!"
Sebuah perisai terbentuk seperti kotak, melindungi kakek tua dari serangan Taro.
"Tras!"
"Cih, apa-apaan ini?" Taro mengambil jarak
Sebuah penghalang diaktifkan oleh Angelica, melindungi dirinya dan kakek tua.
"N..nona?! A..anda?!"
Angelica sendiri bingung ketika tubuhnya bersinar dan panas, dan saat ia melihat Taro, ia sadar bahwa kekuatannya sudah bangkit.
"Sepertinya kekuatan Wadah bintang telah bangkit, tidak aku sangka, tapi itu tidak akan merubah apapun"
Ia memasukan Pedang ke mulut ular dan mengganti senjatanya dengan Nanchaku. Angelica sendiri bersiap untuk serangan Taro.
"Krak!"
Taro meningkatkan kekuatan nya menjadi 2 kali lipat saat melawan Loid, batu yang ia pijak hancur dan area sekitar hancur dengan kerikil.
"Syungg!, Duakkk!"
"Krak, ckrakk!"
Pelindung pertama yang Angelica buat hancur berkeping-keping, padahal pelindung itu mirip seperti milik Azazel.
...***...
(Klan Uzumaki, 1 Tahun yang Lalu)
Harapan yang datang tak sampai bertahan satu menit, sebuah kekuatan memperlihatkan kehancuran bahkan sudah dilindungi sekalipun.
"Hey sampah, cepat ambilkan minuman di belakang"
"Dasar tidak berguna"
"Kenapa dia masih disini?"
Taro dengan kehidupan yang menyedihkan berusaha keras agar bertahan dengan senyuman. Satu-satunya alasan dia masih berada di Klan Uzumaki adalah istrinya yang sedang mengandung.
Ia berusaha dengan keras agar istri dan anaknya dapat hidup bahagia. Bahkan menjadi pembantu atau pesuruh Klan, hanya itulah jalan yang ia punya.
Memusuhi klan saat ini hanya akan membuat mereka menderita, sosok pemimpin serakah yang menjadi penyihir roh akan melakukan apapun.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya istri Taro
"Tidak apa, aku hanya mengambil teh saja"
Sang istri tidak tega melihat suaminya menjadi bahan olokan anggota klan, dimana dia yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun harus bersaing dengan para penyihir roh asli.
"Bagaimana jika kita pergi dari sini?"
Taro tersentak, tidak menyangka bahwa istrinya akan mengatakan hal itu.
"Apa yang kau katakan? Kita tidak akan pergi dari sini sampai kau benar-benar pulih"
Istri nya hanya mengikuti perkataan suami yang dianggapnya percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
(Saat Melahirkan)
Begitulah yang ia pikir, dengan bekerja keras agar klan memperhatikan dirinya. Setelah proses melahirkan istri Taro meninggal bersama sang anak di dalam kandungan.
Entah sebuah takdir atau bukan, itu adalah trauma bagi Taro. Baginya, istri dan anak di dalam kandungan itu adalah kebahagiaan untuknya.
"Mungkin itu adalah kutukan karena menikah dengan sampah menjijikan"
"Benar! Orang itu adalah kutukan!"
"Dasar kau sampah, kau yang menyebabkan Ami meninggal, sekarang pergilah dari sini!"
Mertua, teman dan kerabat bagi Taro hanyalah sebuah kebohongan, sejak ia menikahi Ami, salah satu anak dari anggota Klan Uzumaki, ia dan istrinya sudah tidak dianggap lagi.
"Srek, srekk"
Gertakan gigi yang dilakukan oleh Taro untuk menyembunyikan kemarahan dan kesedihannya. Dan juga sebuah dendam yang tercipta secara sempurna, hanya untuk istri dan anaknya di akhirat.
"Kalian semua akan aku bunuh" batin Taro
BERSAMBUNG....