
“Akh…Tolong!...”
“Cepat lari!”
Petualang di regu B yang terdiri dari 50 orang dan 40 Kstaria mulai dihancurkan oleh para monster, hanya tinggal menunggu waktu sampai gerbang kota di tembus.
Kota Van sendiri ditutup oleh tembok benteng yang cukup tinggi, meski tidak setinggi gerbang di ibukota. Sebenarnya itu bisa dimanfaatkan untuk membuat rencana yang lebih baik, namun sudah terlambat.
“Disini sudah tidak bisa bertahan lama, kita akan mundur!”
“Baik!”
Wolf, Goblin, Orc, dan Groot yang berjumlah 8.000 memang sudah tidak bisa dihentikan, kehancuran pun sudah terjadi di perbatasan gerbang Kota Van.
Bekas sihir dan ledakan membuat asap masuk ke dalam kota, membuat orang-orang yang masih tersisa harus menghirup udara kotor.
“Semuanya siap? Bidik!...” suara menggema dari atas benteng
Lis melihat asal suara sembari melewati jembatan masuk ke kota,
“Siapa dia?”
“Tembak!”
Ksatria menembakan panah dari busur kea rah kawanan monster,
“Khhkk”
“Akhh!!!”
Serangan nya memang tidak berdampak besar namun ini cukup untuk mengulur waktu,
“Dengarkan aku! Para penyihir naik ke benteng dan siapkan sihir kalian, Bagi kalian yang bisa bertarung menggunakan senjata jaga barisan kalian di garis depan, jangan biarkan mereka melewati gerbang!”
Jarak antar para monster dan kota sudah semakin dekat, tentu bagi tipe petarung dan memerintah mereka untuk tetap di garis depan sama saja dengan menyuruh mereka bunuh diri.
“Kalian adalah orang yang melindungi kota ini, jangan menyerah, kita akan mengalahkan mereka disini!”
Meski aku berkata seperti itu, tapi ini cukup sulit, jumlah kami tidak seimbang, senjata dan tenaga kami pun terbatas.
Dan para monster sudah terlihat di depan mata,
“Namun…, aku adalah sang ksatria pengembara, pinjamkan kekuatan kalian untuk menyelamatkan kota ini. Aku tahu kalian adalah orang yang mementingkan hidup kalian sendiri, tapi…kali ini…pinjamkan kekuatan kalian!” tegas ku
“Apa kau tahu keadaannya? Kita tidak bisa menang sekarang, lari pun percuma karena kita terjebak”
“Kalau begitu baguslah, kalian tahu akan mati bukan! Jika aku, lebih baik aku mati dengan bertarung sampai titik darah penghabisan, dari pada mati konyol oleh sekelompok monster sialan. Nahh, bagaimana dengan kalian…para pecundang sekalian?”
Semua tersentak dan aku tahu mereka mulai marah padaku,
“Sialan, aku tidak tahu siapa kau tapi…”
“Ha, dasar. Tidak aku sangka akan ketakutan seperti ini karena sebentar merasakan damai” jawab komandan ksatria kota Van
“Benar juga ya, kurasa aku akan mulai serius” ujar Lis
“Hahaha, kalau begitu syukurlah”
“Dengarkan aku para petualang, kalian boleh saja pergi dan lari, tapi sudah pasti kalian akan mati dengan bodoh. Jadi, siapa yang akan ikut?”
“Pasukan ku, bentuk barisan pertahanan. Kita akan menahan mereka disini” perintah komandan
Aku tahu bagi mereka yang memiliki ketetapan hati yang kuat mereka akan mengambil keputusan bodoh.
Seharusnya mereka bisa hidup dengan melarikan diri, tapi manusia adalah makhluk dengan proses ego yang sangat tinggi.
Petualang dan Ksatria mulai mengambil posisi siap untuk bertahan, sementara para petualang tipe penyihir bergabung ke benteng. Mata mereka berubah, dari yang merasa takut kini menjadi kegelisahan.
“Totalnya 20 orang ya. Berapa kali lagi kalian bisa menggunakan sihir?”
“Aku hanya bisa menggunakan 2 mantra lagi”
“Mana ku masih cukup untuk membuat 3 serangan lagi”
“Kalau aku masih bisa 2 serangan lagi”
Jadi rata-rata hanya bisa menggunakan 2 kali mantra, lebih sedikit dari dugaanku. Meski begitu ini adalah pertaruhan, ya aku juga suka dengan pertaruhan sih.
“Hancurkan jembatan nya!” perintahku
Tak ada keberatan jembatan langsung menghancurkan jembatan, benar juga aku hampir lupa jika kota Van dikelilingi oleh parit air yang cukup besar di sekeliling tembok. Jadi untuk masuk mereka perlu melewati jembatan yang terhubung.
“Duaar!!!”
“Penyihir! Sekarang!”
BERSAMBUNG....