
(Sekolah Tokyo 1)
"Aku juga ingin tahu kenapa kau melakukan ini? Jika keluarga Uzumaki tahu hal ini kau akan terlibat masalah"
"Puft, hahahaha. Aku sudah tidak peduli lagi dengan keluarga Penyihir roh manapun. Istriku sudah dibunuh dan anak ku di jauhkan dari ayah kandungnya sendiri, para petinggi dan pemimpin klan itu merasa sangat berkuasa atas dunia ini"
"Taro Uzumaki, bahkan jika begitu para penyihir lain tidak akan diam dengan perbuatan mu. Kau tahu siapa yang ada di depan mu ini?"
"Aku tahu! Dia adalah wadah bintang surgawi bukan? Salah satu wadah untuk Azazel"
Angelica dan kakek tua terkejut,
"Kau sudah tahu itu? Lalu kenapa?"
"Ya, tentu saja untuk menonton sesuatu yang menarik. Azazel sudah lebih 100 tahun tidak berganti wadah, dan kekuatan nya melemah setiap hari. Para pemimpin klan itu tentu ingin mengorbankan anak ini untuk Azazel dan kembali memperkuat dimensi penyihir roh"
"Yah, tapi apa yang terjadi jika wadah itu hancur? Tentu kalian harus mencari wadah lain bukan, dan kekuatan Azazel akan terus melemah. Para pemimpin klan itu pasti akan dalam masalah jika itu terjadi, dan menarik untuk di dilihat"
Tubuh kakek tua tidak bisa bertahan lebih lama. Darah terus mengalir dan luka terbuka lebar.
"Apa kau tahu jika perbuatan mu akan mempengaruhi tatanan dunia?"
"Apa yang kau maksud? Azazel hanyalah seorang penyihir roh dari masa lalu, dia hanya membuat sekolah penyihir roh untuk diri sendiri. Dia hanyalah sebutir kecil dari penghalang rencanku, tapi...Six Eyes"
Nama Six Eyes menjadi bahaya bagi orang yang memusuhi. Orang itu adalah manusia dengan kekuatan pemberian dewa, bisa dikatakan lebih mendekati dewa.
"Memusuhi Six Eye, kurasa kau sudah tidak waras" Angelica membuka suara
Mata Taro tidak menunjukkan rasa takut, melainkan sebuah semangat membara. Ia bahkan berharap jika Six Eyes datang kemari untuk bertarung dengannya.
"Orang sepertimu hanya bisa bersembunyi di balik layar sampai semua orang terluka. Aku tahu jika kau lebih lemah dari kakek, jika saja dia tidak terluka kau pasti akan kalah. Dia adalah mantan penyihir roh tingkat semi 1"
"Semi grade 1? Mungkin karena usia mu kau jadi lembek. Kalau begitu akan aku beritahu Nona, aku juga bisa dikatakan Penyihir, penyihir tingkat rendah, Si Sampah tingkat 5"
Angelica terkejut dengan perkataan Taro, orang dengan tingkat lebih rendah mampu menahan serangan dahsyat seperti tadi.
"Ngomong-ngomong orang yang aku bunuh tadi, kurasa di penyihir grade tingkat 1 atas. Dan sekarang, semi grade 1?"
Elang dan Ular di kedua sisi pundaknya bergerak ke tanah dan mulai menyerang. Taro pun menghilang dari pandangan keduanya, langsung berdiri tepat di depan kakek tua.
Pedang di tangannya bergerak cepat menuju leher kakek tua. Reflek tidak akan bisa menjadi penyelamat kali ini.
"Cepat sekali!" pikir Angelica
"Nona..."
Sedikit lagi leher kakek tua terpotong oleh pedang Taro, sebuah kabut muncul melindungi keduanya.
"Srrrasss!"
"Grookk!"
Katak raksasa tiba-tiba terbentuk dan memakan Angelica serta pelayannya. Pedang yang menghunus itu membelah perut Gama!
"Ya ampun, padahal aku tinggal sebentar. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Loid muncul dari atas gedung sekolah, menggunakan Garuda dia turun ke bawah. Taro yang tahu bahwa orang di depannya tidak bisa di remehkan, mengambil jarak cukup jauh.
"Siapa kau, bocah?"
BERSAMBUNG....