
(Satu Jam Sebelumnya)
Ular raksasa bernama Snake bergerak lambat menuju kota Van, namun pasukan pahlawan berhasil sampai tepat waktu dan menggunakan semua kekuatan mereka untuk menyerang. Sihir dan serangan fisik dilancarkan, para petualang juga ikut andil dalam pertempuran.
“Khaakkk!” suara kesakitan dari Snake
Menggema hingga ke seluruh hutan, suara itu sangat mengintimidasi tekanan membuat manusia menjadi kehilangan semangat bertarung dan para monster dan hewan di dalam hutan berlari meninggalkan wilayah pertempuran.
“Jangan gentar, kita bisa melakukannya”
Meski begitu serangan mereka tidak cukup fatal, karena sisik Snake yang sangat tebal dank eras sulit menembus pertahanan.
Semua orang kehabisan cara, karena itu para pahlawan yang awalnya menarik perhatian ular, kini ikut menyerang habis-habisan.
“Awalnya kami berencana untuk menjadi pengalih perhatian sementara yang lain menyerang dari berbagai sisi, namun tubuh ular ini sangat keras”
“Kita harus bagaimana Vina?” tanya Helena yang mengambil jarak
Belum selesai mereka merencanakan sesuatu, namun sesuatu keanehan terjadi, tiba-tiba langit di hutan kematian menjadi gelap.
Udara menjadi lebih lembab dan sinar matahari tidak menampakan diri, keadaan cukup gelap seperti ingin turun hujan.
Sebuah lingkaran sihir muncul di atas langit, kecil namun mengeluarkan sihir dengan tekanan yang cukup besar. Jika di bandingkan, kekuatannya sedikit lebih lemah dibandingkan dengan iblis Levathan, meski begitu bagi manusia biasa kekuatan itu sangat berbeda jauh.
“A..apa itu?”
Semua orang bertanya-tanya, ketakutan menjadi satu dengan suasana tegang, mereka bahkan menyangka raja iblis bisa saja muncul.
Pahlawan Helena dan Pahlawan Vina meningkatkan kewaspadaan mereka, di dalam pertempuran besar tentu tidak akan tahu apa yang akan terjadi di akhir.
“Helena?”
Helena menggelengkan kepala karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, memberikan sebuah kejutan saat ulang tahun tidak akan membuat siapa pun senang pada situasi ini.
Petir itu seperti sihir, dan mengarah kepada Helena dan Vina disaat yang bersamaan, beruntung para pahlawan sempat menghindar.
Setelah kemunculan petir itu, datang sosok iblis berwujud wanita yang membuat masalah lebih besar. Dengan kekuatan yang besar ia mengenalkan diri, para pahlawan tentu dibuat tidak senang.
“Halo para pahlawan, aku adalah Celine, Iblis Tujuh Dosa Besar, Si Iri Hati”
...***...
Meluncur di atas langit, aku tidak bisa berhenti menuju ke mulut ular di bawah sana. Berutung saja aku masih bisa tenang dan mengatasi situasi,
“Teknik Pemanggil, Garuda!”
Secepat angin, Garuda muncul dan membawa aku terbang menghindari lahapan ular raksasa. Ular itu bahkan sudah siap menerkam ku dari bawah, namun ia sedikit merasa kecewa dengan santapan yang lari darinya.
Snake pun sepertinya mengejar aku dan Garuda, gerakan nya menjadi lebih cepat dibandingkan saat melawan pasukan pahlawan. Apa sebenarnya ia masih menahan diri?
Kulihat sekitar keadaan nya sangat buruk, bahkan langit mendung di sertai hujan, dam diatas sana terlihat Vina menghadapi musuh yang cukup kuat.
“Apa iblis lain muncul disini? Selain itu monster ular ini masih belum dikalahkan. Masalah selalu bertambah saja, benar-benar merepotkan”
Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun, jika memang kesalahan itu terletak pada dewa dan dewi yang menyebabkan kekacauan ini terus terjadi.
Kurasa tidak baik untuk menahan diri dalam situasi saat ini, karena itu lebih baik aku mengakhiri beberapa langkah.
Kuputuskan untuk menggunakan teknik Copy dan menyalin teknik roh lain, mencuri mungkin adalah kata yang buruk, jadi meminjam adalah kata yang cukup.
Teknik yang aku gunakan adalah milik Raja Kutukan, Abbadon, kekuatan yang dapat memotong apapun, bahkan dimensi lain.
Karena itu teknik ini sangat berbahaya, aku sendiri masih belum bisa mengendalikannya, tentu untuk mengakhiri pertempuran ini dengan cepat, kekuatan yang aku gunakan harus juga mutlak.