
"Berikan aku darahmu, Jenna! Aku butuh darahmu!" rengek Ortega di pagi hari itu. Seperti biasa, dia memegangi ujung baju Jenna dan mengekori ke manapun gadis itu melangkah.
"Kau tak lihat, Volkov saja tidak merengek sepertimu! Anak pintar Volkov itu! Aku harus bekerja pagi ini, mengertilah," ucap Jenna lelah.
"Kau tidak menghissap darah? Lalu, apa makananmu?" tanya Jenna.
Volkov menatap Jenna dengan tatapan lapar. "Daging manusia. Tapi, kau terasa pahit dan aku tidak suka. Sejak datang ke dunia ini, semua manusia terasa pahit. Indera penciumanku seakan kotor dan tidak bisa mencium bau manusia,"
"Apa kau pernah mencobaku? Cobalah," tanya Jenna. Gadis itu mengulurkan tangannya di depan Volkov.
Volkov memperhatikan lengan Jenna yang sedikit berisi dan dia terlihat berkali-kali menelan salivanya. Namun, dia menjauhkan lengan gadis itu. "Tidak, kau penyelamat hidupku dan aku bergantung padamu selama aku hidup di sini. Kami, keturunan serigala adalah keturunan yang setia dan tidak akan pernah berkhianat,"
"Buatku saja!" Ortega mengambil lengan Jenna dan bersiap menggigitnya, seperti menggigit hamburger.
Sebuah jitakan mendarat di pucuk kepala Ortega. "Aku mau bekerja!"
"Kenapa kau harus bekerja?" tanya Volkov.
Jenna melirik manusia serigala tampan itu dari sudut matanya. "Kau pikir, makanan kalian murah? Aku harus bekerja untuk menghidupi kalian dam diriku sendiri!"
"Kalau begitu, aku ikut!" tukas Ortega dan Volkov bersamaan.
"Awas saja kalau kalian menyusahkanku di sana, aku tidak akan segan-segan merubah kalian menjadi seekor kodok jelek yang gemuk!" ancam Jenna, tatapan matanya tajam menatap dua pria yang menggantungkan hidup padanya itu.
Jenna kini berpikir, bagaimana caranya mengajak kedua pria itu tanpa membuatnya kerepotan. "Apa kau sungguh-sungguh tidak bisa terkena matahari?"
Ortega menggeleng lemah. "Aku akan hancur,"
"Tunggu sebentar, ketika kemarin aku memohon supaya kalian berubah menjadi anjing dan kalian benar-benar berubah menjadi anjing. Oke, aku akan mencobanya sekali lagi," ucap Jenna.
Kedua tangan gadis itu kemudian ditautkan di depan dadanya dan dia memejamkan kedua mata, lalu memohon dalam hati.
Sebuah cahaya keluar dari tubuh Ortega dan dalam sekejap, cahaya itu menghilang dan seolah-olah menempel di tubuh Ortega.
"Cobalah kau keluar," ucap Jenna.
Ortega tampak takut-takut. Namun, saat Jenna menggandeng tangannya, rasa takut dan cemas itu hilang seketika.
"Ayo, aku akan menemanimu," ucap Jenna. Dia memakaikan topi serta kacamata hitam pada Ortega.
Pria vampir itu memegang erat tangan Jenna dan dia memberanikan diri untuk melangkah keluar. Dan, begitu dia membuka pintu, keajaiban pun terjadi.
Ortega berdiri di bawah sinar matahari dan perlahan, dia merentangkan kedua tangannya. Dia tercengang. "Lihat! Aku tidak hancur! Aku baik-baik saja, Jenna!"
Sejurus kemudian, dia memeluk Jenna dengan erat. "Kau keajaiban di dalam hidupku, Jenna."
Volkov pun menatap kagum pada sosok manusia yang kini ikut bersorak gembira atas keberhasilannya mengubah seorang vampir menjadi seperti manusia pada umumnya. "Kau ini apa, Jenna?" tanya manusia serigala itu dalam hati.
Akhirnya pagi hari itu, Jenna mengajak Ortega dan Volkov ke tempat kerjanya.
"Jenna! Dan wow, siapa itu yang datang bersamamu?" tanya mr. Klaus. Matanya menatap Ortega dan Volkov dengan penuh minat. "Apakah mereka jatuh dari langit? Hahaha! Mereka seperti idol, tampan sekali,"
"Katamu sudah kau usir?" tanya Zac, bibirnya mencebik. "Kenapa sekarang jadi ada dua?"
Jenna menghela napasnya dengan berat. Tampak kelelahan di wajahnya. "Kau tidak akan percaya jika aku menceritakannya kepadamu,"
"Apa? Coba saja," tantang Zac.
Sambil memotong wortel dan kentang, Jenna menjawab pertanyaan Zac. "Mereka adalah vampir dan manusia serigala,"
"Dan kau adalah penyihir yang mampu mengendalikan mereka. Kau juga memiliki kekuatan untuk mengendalikan tanah, air, dan udara," ejek Zac.
Jenna memandang Zac kesal. "Sudah kubilang, kau tidak akan percaya padaku! Bagaimana kalau itu yang aku alami? Kau tetap tidak percaya?"
Melihat kesungguhan di wajah Jenna, Zac jadi berpikir. "Apa itu sungguhan? Mereka hanya ada di dongeng atau film. Lalu, kenapa mereka bisa muncul?"
"Tuhan yang mengirimkan mereka kepadaku," jawab Jenna singkat sambil meneruskan aktifitasnya merajang kentang dan wortel menjadi potongan kotak-kotak.
Zac menghembuskan napasnya panjang. "Kau ingin aku membawa mereka ke apartemenku?"
"Mereka tidak seperti seorang pria, Zac. Mereka lebih seperti seorang anak kecil, yang akan mengeluh jika kelaparan, dan kau bisa lihat sendiri. Mereka tertidur di saat manusia lain beraktivitas." ucap Jenna sambil menunjuk ke arah dua pria muda yang sedang tertidur dengan kepala bersandar di atas meja. Pemandangan itu seperti sebuah lukisan indah.
"Dan parahnya, aku lupa memberi mereka makan," ucap Jenna lagi sambil masih memandangi kedua pria itu.
Akan tetapi, Jenna bersyukur karena dengan tidurnya kedua pria itu, dia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Sementara itu, di tempat yang cukup jauh dari restoran Mr. Klaus. Seorang wanita cantik dengan memakai terusan satin berwarna hitam, sarung tangan sutra halus berwarna senada, dan lipstik merah menyala, tampak resah dan gelisah.
"Ayah, apa yang terjadi pada Ortega? Apakah dengan hadirnya manusia itu, keturunan kita akan punah? Kita tidak bisa diam saja, Ayah!" tukas wanita itu.
Seorang pria dengan janggut panjang terlihat berpikir keras. "Aku juga tidak tau, Artemis Anakku. Gadis itu termasuk jenis apa? Mungkinkah dia penyihir?"
"Apa jangan-jangan, dia bisa mengendalikan kita juga?" tanya Artemis ketakutan.
Tiba-tiba, seorang wanita dengan tampilan seperti seorang Indian, bergabung bersama mereka. "Ya, dia bisa mengendalikan kaum kita. Lihat saja bagaimana patuhnya Volkov saat bersama dengannya."
"Bagaimana caranya supaya aku bisa menolong Ortega? Aku tidak sudi jika kekasihku disihir seperti itu! Di sini banyak manusia, tapi jangankan berburu, bahkan taringnya saja tidak muncul! Ini penyiksaan, Zella!" tukas Artemis lagi, kedua matanya berkaca-kaca.
Wanita Indian itu melihat ke arah jendela. "Tidak ada cara lain selain membunuhnya dan jangan sampai darahnya menyatu dengan darah kita,"
Dia mengambil sebuah kotak kayu yang tampak sudah lapuk dan membuka isinya. Sebilah pedang pendek tersemat di dalamnya. "Tancapkan ini di jantungnya, jangan sampai darahnya mengalir keluar atau kita semua berada di dalam kendalinya,"
Artemis mengambil kotak berisi pedang itu dan mengambil pedang dari dalamnya. "Apa kau yakin?"
Wanita Indian yang bernama Zella itu mengangguk dengan yakin. "Ya, lakukanlah. Bunuhlah dia saat bulan sedang penuh. Aku punya perkiraan, gadis itu adalah penyihir yang menjelma sebagai manusia,"
"Begitukah? Baiklah, kami akan simpan ini. Lalu, bagaimana memulihkan Volkov dan Ortega?" tanya Vlad.
"Cabut kutukanmu pada Ortega, maka itu akan membantunya bertahan. Dia salah satu vampir terkuat yang kita miliki. Lakukan itu saat Ortega berada di dekatmu," jawab Zella.
...----------------...