
Sejak Jenna pulang dari rumah sakit, Zac selalu datang berkunjung ke rumah Jenna. Mulai dari pagi hari hingga malam menjelang. Pria bermata biru itu ingin memastikan Jenna tidak lagi bermain superhero, seperti yang sudah diharapkan oleh gadis manis itu.
Selain itu, Zac memiliki tujuan tersendiri. Dia ingin mengambil hati Jenna, sehingga Jenna dapat menyingkirkan bayang-bayang vampir jelek itu di hidupnya. Sejak Jenna di rawat di rumah sakit, Zac memperhatikan kalau gadis yang dia sukai sejak lama itu, seringkali mencari Ortega dibandingkan dengan dirinya.
Di lain pihak, Jenna sedikit kesal dengan adanya Zac yang selalu menjaganya. Dia merasa, Zac terlalu mengkhawatirkan dirinya, sampai Jenna merasa tidak bebas.
Awalnya, Jenna berpikir itu tidak masalah. Namun lama kelamaan, Jenna merasa seperti diikuti seorang bodyguard yang posesif.
"Zac, aku ingin bicara denganmu," ucap Jenna suatu hari, dia menarik apron Zac dan membawanya ke ruangan pendingin untuk menyimpan beraneka macam daging.
"Apa?" tanya Zac. "Kita sedang bekerja, Klaus bisa mengamuk jika layanan makan pagi ini terlambat,"
"Tidak akan lama. Aku hanya akan bicara sebentar. Maka itu, dengarkan aku baik-baik!" tukas Jenna. Dia mengarahkan tangannya di atas kepala Zac. Tetapi, karena Zac lebih tinggi darinya, jadi dia hanya sanggup meletakkan tangannya di samping pelipis Zac.
"Baiklah. Apa?" tanya Zac.
Jenna menarik napas dan menghembuskannya panjang. "Bisakah kita kembali seperti dulu? Maksudku, akhir-akhir kau seperti seorang pengawal pribadiku dan itu membuatku tidak nyaman, Zac,"
Zac mengambil tangan Jenna dan berjalan perlahan mendekatinya. Jenna melangkah mundur sampai akhirnya dia berada di sudut dinding ruang penyimpanan daging itu. "Aku tidak suka kalau kau terus mencari Vampir Jelek itu! Aku juga tidak suka melihat kau terus melirik ke arahnya! Satu lagi, ini yang sangat kubenci. Aku tidak suka kau selalu tertawa dan tersenyum padanya!"
"Aku ingin kau memandangku, Jen. Lihatlah aku saja! Tersenyumlah hanya untukku dan tertawalah hanya bersamaku!" sambung Zac lagi. Kedua maniknya mengunci manik hazel Jenna yang terlihat bingung saat itu.
"Kenapa kau egois? Aku bukan milikmu, Zac! Aku perempuan bebas yang berhak berteman dengan siapapun aku mau! Berhentilah mengaturku!" tukas Jenna kesal.
Tubuh kekar Zac menghimpit gadis mungil itu dan dia mengangkat kedua tangan Jenna ke atas dengan menggunakan satu tangannya. "Aku menyukaimu, Jen. Selama ini, aku menahan rasa itu sampai vampir itu datang dan kau beralih kepadanya,"
Jenna berusaha melepaskan cengkeraman tangan Zac, tetapi pria itu jauh lebih kuat dari Jenna. "Lepaskan aku, Zac!"
"Katakan kau menyukaiku juga, Jen!" tukas Zac. Genggaman tangannya semakin kuat.
Kedua mata Jenna menatap tajam pria bermata biru itu. "Aku memang menyukaimu, Zac dan bahkan aku menyayangimu, tapi rasa suka dan sayangku tidak seperti yang kau bayangkan! Aku tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius denganmu. Maafkan aku, jika selama ini kau salah mengartikan segalanya,"
Tiba-tiba saja, Zac melepaskan tangan Jenna. "Aku yang minta maaf. Maafkan aku," Dengan langkah lesu, dia kembali ke dapur dan melanjutkan aktivitas yang tadi sempat mereka tinggalkan.
Sejak kejadian itu, Zac sedikit menghindar dari Jenna. Akan tetapi, gadis itu tidak begitu mempermasalahkan kondisi yang saat ini mereka hadapi.
"Dia butuh waktu, aku juga butuh waktu. Mungkin seperti ini lebih baik," ucap Jenna bermonolog.
Di suatu pagi, Jenna terbangun karena suara Ortega memanggil-manggil namanya. "Kenapa kau selalu mengganggu tidurku?"
"Aku lapar. Aku butuh-,"
Jenna beranjak dari ranjangnya dan bergegas ke dapur. "Baiklah, aku juga lapar. Apa kau pernah mencoba makan ram-,"
Kalimat Jenna terpotong, saat Ortega sudah memeluknya dari belakang. Bibir vampir itu mendarat di setiap inci kulit lengannya yang terbuka. Punggung Jenna pun tak luput dari bibir Ortega.
Jenna mulai menikmati setiap sentuhan yang Ortega berikan di belakangnya. Sementara satu tangan Ortega bergerak mulus mencari salah satu pegunungan yang pagi itu tampak indah dipandang mata dan tangannya yang lain, menyibak rambut Jenna yang terlepas.
Dengan lembut, Ortega memasukan kecupannya ke dalam ceruk leher Jenna. Saat bibir Ortega sampai di lehernya dan tangannya yang sekarang sedang sibuk mengolah daging padat yang kini mengeras, satu dessahan lolos dari bibir Jenna.
Mendengar suara itu, Ortega semakin bersemangat. Dia memutar tubuh Jenna sehingga mereka saling berhadapan dan mengangkat tubuh kecilnya ke atas meja dapur.
Vampir itu tersenyum sesaat dan segera saja melummat bibir Jenna dengan rakus. Gadis itu pun mengalungkan kedua lengannya pada leher Ortega. Begitu pula dengan kedua kaki Jenna yang melingkar di pinggang Ortega dan menariknya untuk semakin mendekat.
Puas dengan benda yang selalu menggoda itu, Ortega mengarahkan ciumannya ke leher Jenna lagi. Kali ini, kedua taringnya tidak keluar. Dia menyesap leher jenjang itu dan menggigitnya perlahan, membuat Jenna melengkungkan lehernya ke belakang untuk mempermudah Ortega menyesapnya.
Kedua tangan Ortega kini asik bermain dengan kedua bola kembar milik Jenna yang sudah menyembul dan ingin segera dikeluarkan dari kain pembungkusnya.
Lidah Ortega pun tak berhenti menjilat memutar, menggigit, atau sekedar memainkan pucuk bukit Jenna yang semakin menantang itu. Jenna pun semakin melenguh dan mengerang.
Setelah puas, Ortega kembali ke atas dan menyesap leher Jenna. Dia mengeluarkan kedua taringnya dan menghissap darah gadis itu.
Anehnya, Jenna tidak merasakan sakit. Dia bahkan hampir mengeluarkan sesuatu dari antara kedua kakinya. Ketika Jenna berharap Ortega akan bermain kembali, vampir itu justru menghentikan permainan panas mereka.
"Darahmu panas sekali pagi ini," ucap Ortega sambil tersenyum nakal. Dia kembali menjillati leher Jenna, memastikan tidak ada jatah darah yang tersisa di sana.
Wajah Jenna memerah. Dia kembali memakai kain penutup yang tadi dia lepaskan. Namun, Ortega mengambilnya dan membantu gadis itu memakainya.
Cara Ortega saat memakaikan kain penutup itu membuat darah Jenna kembali berdesir. Dia memejamkan kedua matanya saat kedua tangan Ortega berada di kedua bukitnya.
"Su-, sudah?" tanya Jenna terbata-bata.
Ortega mengecup bibirnya. "Sudah. Kau jadi membuat ramen?"
Jenna mengangguk.
"Baiklah, aku akan membantumu," ucap Ortega lagi sambil tersenyum puas. Senang sekali rasanya dapat membuat seorang gadis cerewet menjadi tenang.
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu di rumahnya. "Sebentar!" Jenna segera mengambil kunci rumahnya dan membuka pintu kayu tersebut.
Wajahnya ceria menyambut tamu pagi harinya. "Hei, Zac. Kau sudah baikan?"
"Apakah aku tampak sakit? Aku ingin pergi bekerja bersama denganmu," jawab Zac.
"Tunggulah di dalam, aku akan mengganti pakaianku. Sidah sarapan?" tanya Jenna.
Ortega menawarinZac semangkuk ramen. "Kau mau?"
"Baru kali ini aku lihat vampir menyeruput ramen," kata Zac mengejek.
"Ini namanya adaptasi! Kau tau itu?" balas Ortega.
Dari pojok ruangan terdengar suara mengeong. Zac mendekati kandang kucing itu. "Apakah ini kucingmu, Jen? Sejak kapan kau memelihara kucing?"
"Ah itu, ...."
"Mereka cantik sekali, aku menyukainya," ucap Zac dan dia mengeluarkan kucing putih dari kandang dan menggendongnya.
Saat mata Zac bertatapan dengan kucing itu, wajah Zac berubah menjadi datar. Jenna menghampirinya. "Zac, kenapa kau keluarkan kucing-kucing ini?"
Zac berbalik menatap Jenna. Pandangan matany kosong dan dia berjalan seperti robot. "Aku akan merawat kedua kucing cantikmu ini, Jen. Sampaikan pada Mr. Klaus, aku cuti,"
Setelah berbicara seperti itu, Zac berjalan keluar sambil menggendong kucing putih dan menenteng kadang kucing berisi kucing hitam.
Ortega menyusulnya. "Zac! Hei, ini bahaya, kau tidak bisa membawa mereka begitu saja! Berikan kepadaku!"
Namun, Zac mendorongnya kasar. "Sekarang, mereka kucingku! Minggir, kau menghalangi jalanku!"
Jenna menyusul Ortega dan Zac keluar. "Ada apa?"
"Sepertinya, Zac terpengaruhi oleh Artemis," jawab Ortega.
...----------------...