Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 10



Sudah hampir satu bulan, Jenna selalu mengajak Ortega dan Volkov ke restoran, tempat dia bekerja. Mr. Klaus pun tidak melarang adanya mereka di restoran tersebut. Pria paruh baya itu justru diuntungkan dengan kehadiran dua pria tampan itu di restorannya.


"Kau mau bawa mereka lagi? Hahaha, silahkan, Jenna. Aku bahkan sudah menyiapkan booth jika ada yang ingin mengabadikan wajah tampan mereka," ujar Mr. Klaus.


Jenna hanya tersenyum simpul saat mendengar bos-nya itu berbicara. Kemudian dia menatap kedua pria yang sedang melihat ke arahnya sambil ikut tersenyum.


"Apakah kalian mau ikut?" tanya Jenna.


Baik Ortega dan Volkov mengangguk bersamaan. Mereka berdua senang mencium wangi tubuh manusia. Volkov pun begitu. Walaupun, mereka tau mereka tidak dapat memangsa manusia-manusia itu, tetapi untuk melihatnya saja mereka sudah cukup senang.


Begitu pula dengan Ortega, sudah hampir sebulan ini, dia tidak meminta jatah darah pada Jenna. Gadis itu pun menjadi khawatir. Terkadang, dia melirik Ortega untuk memastikan kalau vampir pria itu baik-baik saja.


Wajahnya yang pucat, memang tampak semakin pucat. Matanya menjadi hitam legam dan dalam. Jika kita memandang mata Ortega, rasanya kita akan seperti terhissap ke dalam hutan dan dunia yang sangat gelap.


Suatu hari, restoran tempat Jenna bekerja mendadak mengadakan meeting. Jenna pun meminta pada Ortega dan Volkov untuk menyusulnya.


"Kalian sudah ingat restorannya, 'kan? Jika kalian bingung atau tidak yakin, kalian bisa bertanya pada orang yang lewat, tanyakan saja Shucker Restaurant. Mereka akan memberitahukan kepada kalian. Kalian bisa, 'kan?" tanya Jenna. Dia benar-benar tak yakin kalau kedua pria itu berhasil menyelesaikan misinya kali ini.


"Baiklah, baiklah! Tunggu saja sampai aku selesai meeting. Aku akan menjemput kalian! Aku jalan dulu. Kunci pintu rapat-rapat, Volkov!" tukas Jenna dan dia pun bergegas pergi.


Volkov dan Ortega saling memandang. "Apakah meeting sepenting itu? Dia sampai lupa memberikan kita makan,"


Ortega mengangguk lemah. Dia menyeret langkahnya dan membaringkan tubuhnya di sofa, tempat biasa dia tidur. "Hei, bagaimana rasanya jika kau hilang dari dunia ini?"


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Volkov. "Berkat manusia itu, kita jadi dekat. Andaikan kita masih berada di hutan, kurasa kita akan saling membunuh,"


Ortega tersenyum. "Dia keajaiban yang pernah terjadi dalam hidupku. Entah sejak kapan, aku tidak mau kehilangan manusia itu,"


"Apa kau sudah melupakan Artemis? Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu," tanya Volkov lagi. "Lagipula, ada larangan kita tidak bisa jatuh cinta pada manusia. Kita harus mempertahankan garis leluhur kita,"


"Ya, aku tau. Artemis? Entahlah. Sejak pertemuanku dengan manusia itu, bayangan Artemis memudar dari hidupku," jawab Ortega. Pandangannya kosong dan menerawang jauh.


Tiba-tiba saja keheningan mereka dipecahkan oleh kedatangan bayangan hitam yang masuk begitu saja ke dalam rumah Zella.


"Ortega!" seru bayangan hitam yang kini berubah wujud menjadi sosok wanita cantik itu.


Ortega berusaha merubah wujudnya. "Sialan! Volkov, kekuatanku hilang!"


Volkov menghadap wanita itu dan menghalangi langkahnya menghampiri Ortega. "Siapa kau?"


"Kalian lupa padaku?" tanya wanita itu. Tak lama, dia merubah wujudnya lagi menjadi seorang vampir wanita dengan taring menyembul di antara mulutnya.


"A-, Artemis?" sahut Ortega.


Volkov menyingkir dari hadapan Ortega. Artemis tersenyum berterima kasih pada manusia serigala itu. "Aku datang ke sini untuk menyelamatkan kalian,"


"Menyelamatkan kami?" tanya Ortega. "Dari apa? Ayahmulah yang mengutuk dan membuangku ke tempat ini. Berarti kau menyelamatkanku dari ayahmu sendiri?"


"Ayahku akan mencabut kutukanmu. Dan gadis manusia itu, sudah kami amankan. Jika ayahku telah mencabut kutukanmu, kau bisa mendapatkan kembali kekuatanmu, Ortega Sayang dan kita bisa kembali ke dunia asal kita," jawab Artemis, dia menggelendot manja pada Ortega yang kini sudah dalam posisi duduk.


Dia memandang Artemis dengan tatapan kejamnya. "Apa maksudmu dengan diamankan? Manusia itu tidak melakukan kesalahan apa pun, bahkan, dia menyelamatkanku dan memberiku makanan juga tempat tinggal! Di mana dia sekarang?"


Ortega beranjak berdiri dan dia bergegas keluar untuk mencari Jenna. Tetapi, kemudian dia berpikir, Jenna sedang meeting, Artemis tidak akan tau di mana keberadaan Jenna saat ini.


Namun, kekhawatirannya muncul kembali saat Volkov mengatakan kalau Jenna memang sedang bersama Vlad dan salah satu peramal dari kaumnya. "Dia ditangkap saat dalam perjalanan dan sekarang dia berada bersama Rajamu dan kaumku,"


Ortega menyerang Artemis dengan sisa kekuatannya. "Katakan di mana dia! Jika sesuatu terjadi kepadanya, aku akan melawan ayahmu, Artemis! Ini bukan sekedar ancaman atau hisapan jempol belaka!"


Ortega menarik tangan Volkov. "Antar aku ke sana!"


Volkov mengangguk dan dalam sekejap, mereka berdua menghilang dan berada di sebuah rumah megah yang dipenuhi nuansa merah dan hitam.


"Mereka di sini, Vlad," ucap wanita Indian yang bernama Zella itu saat dia mengendus kedatangan Ortega dan Volkov.


Zella berjalan menghampiri tawanannya yang tertidur dan dalam kondisi terikat oleh tali yang tak terlihat. "Apa kita bangunkan dia?"


Vlad dapat mencium kedatangan dua makhluk penyebab turunnya dia ke bumi itu, kemudian dia tersenyum. "Tidak usah. Kau pasti tau tujuan kedatangan mereka ke sini, 'kan? Mereka ingin kita membebaskan manusia ini,"


Tak lama, Vlad dan Ortega pun muncul di hadapan Vlad. "Di mana manusia itu?"


Dengan matanya, Vlad membuat Jenna melayang dan terjatuh pada sebuah tiang. Tubuh gadis itu masih terikat dan tertidur.


"Jenna!" seru Ortega dan Volkov bersamaan.


"Aku akan mencabut kutukanku dan kembalilah bersama putriku, Ortega. Aku akan menberikanmu kekuasaanku," ucap Vlad.


Ortega memandang geram pada Vlad. "Itu tak akan pernah terjadi!"


Vlad menjentikkan jarinya dan membuat Jenna terbangun. Satu tarikan napas panjang berhasil membuat Jenna tersadar.


"Ortega? Volkov? Aaaarrgghh, aku terlambat untuk meeting dan uugh! Ugh! Apa ini? Di mana aku?" tanya Jenna, dia berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun, ikatan yang mengikat tubuhnya itu sangat sempurna. "Kenapa aku diikat? Apa ini?"


"Mereka menyusulmu hanya untuk menyelamatkanmu. Kalau kau sehebat itu, ...." Vlad mengibaskan tangannya, membuat Ortega terpelanting ke di dinding dan terhempas jatuh ke bawah.


"Uughhh!" erangnya.


"Ortega!" Volkov hendak menyerang Vlad dan membalas perbuatannya. Namun, Volkov tak dapat bergerak. Kedua kakinya seakan terpaku di lantai. "Eegh! Aku tak dapat bergerak!"


"Apa yang kau lakukan! Siapa kau?" tanya Jenna dan ikatan di tubuhnya pun terlepas. Tali-tali itu melayang dan mengikat tubuh Ortega.


"Aku ingin melihat seberapa besar kekuatanmu, Manusia!" ucap Vlad menyeringai lebar.


Zella muncul begitu saja entah darimana. "Hindari darahnya atau kau dikendalikan olehnya, Vlad!"


Dengan senjata yang tak terlihat, dia membuat Ortega berteriak kesakitan. Senjata itu membuat pakaian Ortega terkoyak dan darah segera mengalir dari tubuhnya. "Aarrgg!"


"Hentikan!" Jenna berlari ke depan dan merentangkan tangannya untuk melindungi Ortega. "Hentikan! Kau tidak berhak memukul atau menyiksanya!"


"Kalau begitu, selamatkan dia, Manusia!" tawa Vlad yang mengerikan menggema di seluruh rumah tersebut.


Jenna mengambil langkah ke belakang hingga tubuhnya nyaris menempel pada Ortega. "Hissap darahku dan lawan dia, Ortega!"


"Tidak!" ucap Ortega tegas.


Jenna merobek kemejanya dan memberikan lehernya pada Ortega. "Hissap darahku!"


"Ka-, kau yakin?" tanya Ortega.


Jenna mengangguk mantap. "Cepatlah!"


Tanpa diperintah tiga kali lagi, Ortega segera menancapkan taringnya di leher Jenna dan menyesap darah gadis itu dengan rakus. Setelah puas, dia menatap Vlad dengan liar. "Kau adalah lawanku sekarang, Yang Mulia!"


...----------------...