Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 14



Beberapa hari setelah berita itu, Ortega selalu ada di sisi Jenna. Menemani gadis itu sepanjang hari. Dia juga meyakinkan Jenna, kalau dia tidak pernah melakukan tindak kriminal seperti membunuh orang atau menghissap darah manusia sampai manusia itu kering kehabisan darah.


Malam itu, Jenna bertekad untuk tidak tidur. Dia takut, dia akan berjalan dalam tidurnya dan membunuh orang tak bersalah yang lewat di depan rumahnya. Gadis itu bergidik ngeri membayangkan dirinya menjadi vampir wanita yang ganas.


"Kau belum tidur?" tanya Ortega yang tiba-tiba saja terbangun.


Jenna menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah luar jendela. "Aku takut,"


Ortega duduk di samping Jenna dan memaksa kepala gadis itu untuk bersandar di pundaknya. "Aku akan menjagamu. Kalau kau tiba-tiba terbangun, aku akan menggigitmu,"


"Kalau aku terbang atau tiba-tiba menghilang?" tanya Jenna masih khawatir.


Ortega tersenyum. "Tidak mungkin. Aku akan tau begitu kau menghilang dari sisiku,"


"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Jenna lagi. Perlahan, dia mulai merasa nyaman berada di pundak Ortega. Dia bahkan mencengkeram lengan pria vampir itu dan terus menggenggamnya.


"Aku akan kehilangan kehangatanku dan udara di sekelilingku akan menjadi dingin. Kau hangat, Jenna. Aku menyukaimu karena kau hangat," jawab Ortega.


Sementara itu, kucing putih menggaruk-garuk kandang, seakan kesal melihat kedekatan Ortega dan Jenna. Dia mengeong-ngeong. Suaranya sungguh memekakkan telinga. Entah kekuatan darimana, Jenna menjentikkan jarinya dan kucing putih itu terdiam.


Ortega tersenyum puas sambil melirik ke arah kucing-kucing tersebut. Tak lama setelah itu, Jenna pun terlelap dan meninggalkan Ortega yang masih terjaga.


Mendekati tengah malam, sekelebatan bayangan hitam bermunculan. Suara mereka memecah keheningan malam. Satu bayangan hitam terkena sinar perak dari atas.


Splash!


"Ughhh!" bayangan hitam itu terjatuh dan wujudnya menjadi seperti manusia dengan sisik ikan di pipinya.


"Siapa, kau?" tanya Volkov sambil mencengkeram leher manusia itu.


Alih-alih menjawab, manusia bersisik itu hilang, meninggalkan kepulan asap dan segenggam debu mengkilap berwarna hitam. "Apa ini? Kenapa makhluk-makhluk ini bisa berkeliaran di dunia manusia?"


Keesokan harinya, Volkov dikejutkan oleh pemandangan yang tak biasa di pagi hari. Seisi rumah Jenna terasa panas sekali, seakan terbakar oleh api.


Dan di tengah-tengah panas itu, Jenna dan Ortega sedang berpagutan dengan panas. Volkov berjengit saat Jenna membuka matanya. Merah! Volkov pun menghilang kembali dan meninggalkan mereka berdua.


"Kau membuatku melakukan apa, Ortega?" tanya Jenna dalam dessahannya. Kedua tanganny memegangi kepala Ortega yang terus memagut bibirnya dengan rakus.


Ortega tersenyum. "Kau tau, kau sedang berada dalam mode vampir dan kau lapar." Dia melanjutkan pagutannya pada gadis itu.


Ciumannya kini beralih ke ceruk leher Jenna. Vampir itu menjillati leher Jenna sebelum menyesapnya. Dessahan keluar dari mulut gadis yang kini menjadi salah satu manusia abadi itu. "Aah, Ortega,"


"Boleh aku minta ini?" bisik Ortega.


Jenna mengangguk. Dia merasakan desiran aneh saat Ortega menghujamkan taringnya ke ceruk lehernya. Bukan rasa sakit, melainkan rasa aneh, tetapi di waktu yang sama ini menyenangkan dan membuatnya kecanduan.


Setelah puas menghissap darah Jenna, Ortega melarikan ciumannya ke sepanjang tulang selangka Jenna dan mengecup permukaan bukit indah gadis itu.


Saat bibir Ortega yang dingin menyentuh bukitnya, Jenna bergidik kedinginan. "Oohh, ... "


Ciuman Ortega semakin menurun. Vampir itu kini menyesap pucuk bukit Jenna dan menghissapnya kuat, membuat gadis itu menggelinjang hebat di bawah kungkungannya.


Jenna semakin menekan kepala Ortega di bukit padatnya. Meminta pria vampir sekssi itu untuk tidak berpindah tempat.


Permainan mereka semakin memanas. Sofa yang mereka pakai untuk bermain mulai berderit-derit seirama dengan gerakan mereka.


Suara bogem mentah menghantam wajah Ortega dan menghempaskan tubuhnya ke dinding. "Eerrgghh, ke-, kenapa Jenna?"


"Kau mengambil darahku tanpa seizinku, Vampir Sialan! Sekarang, izinkan aku mengambil darahmu!" Jenna membuka mulutnya dan menancapkan gigi taringnya di leher Ortega.


Seketika itu juga, warna mata Jenna kembali berwarna hazel. Dia mendorong Ortega menjauh. "Hah! Apa yang kau lakukan? Apa yang kulakukan?"


Ortega memeluk tubuh gadis itu. "Syukurlah, kau kembali. Kau hampir memakanku,"


"Benarkah?" raut wajah tampak panik dan dia ketakutan.


Tepat saat itu, Volkov muncul secara tiba-tiba. "Darahnya sedang menggelegak dan berusaha menjadi pemenang. Wajar dia seperti itu,"


"Ah, dan kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menemukan siapa pembunuhnya, hanya saja aku gagal menangkapnya. Makhluk itu seperti manusia tapi memiliki sisik di sisi wajahnya," sambung Volkov lagi. "Makhluk apa itu?"


Jenna tercengang, dia masih mencerna apa yang barusan terjadi pada dirinya tadi pagi. "Kurasa, aku butuh tidur. Tapi, aku harus bekerja,"


Gadis itu tidak merasa lelah, hanya saja dia merasakan sesuatu yang aneh yang bergejolak di dalam dirinya. Namun, kelegaan menghampiri Jenna saat dia mendengar kabar dari Volkov.


"Terima kasih karena kau mau mencari. Tapi, mengapa makhluk-makhluk itu bisa datang ke bumi? Maksudku, apakah ada pintu atau portal atau sesuatu semacam itu?" tanya Jenna heran.


Sebelum Ortega datang ke hidupnya semua tampak damai dan sedikit membosankan. Namun, begitu Ortega datang, semuanya berubah. Hidupnya menjadi ramai, dan cukup menantang. Perlahan, otot-otot wajah tertarik ke atas. "Tapi, aku cukup menikmati setiap moment yang terjadi dalam hidupku saat ini. Kalau malam ini kau berburu, aku ikut denganmu,"


Baik Ortega dan Volkov mengangguk dan tersenyum mendengar permintaan Jenna. "Boleh. Kita berburu malam ini,"


Diam-diam, kedua ekor kucing yang berada di kandang mendengarkan percakapan mereka. Kedua mata hijau kucing itu saling memandang. Sayangnya, tidak ada yang bisa mereka lakukan selama mereka menjadi seekor kucing.


Sepanjang hari itu, Jenna sama sekali tidak dapat melepaskan pandangannya dari Ortega. Pria itu sudah berhasil menyita seperempat hati Jenna.


Samar-samar, Jenna dapat mengingat apa yang mereka lakukan tadi pagi dan tiba-tiba saja wajahnya memerah dan dia tersenyum.


"Hei, kau kenapa?" tanya Zac yang sedari tadi memandanginya.


Wajah Jenna semakin memerah saat Zac memandangnya. "Tidak apa-apa, aku hanya teringat sesuatu yang lucu,"


"Sampai wajahmu memerah?" selidik Zac lagi.


Jenna mengipasi wajah dengan satu tangannya. "Panas sekali hari ini," kata Jenna.


Zac mengambil tangan Jenna dan dia menatap manik hazel gadis itu. "Hei, kau punya janji kencan denganku. Bagaimana dengan malam ini?"


"Malam ini aku sibuk," jawab Jenna sambil menepiskan tangan Zac darinya.


"Besok malam, bagaimana dengan itu?" tanya Zac lagi.


Jenna kembali fokus untuk memanggang steak daging domba. "Setiap malam aku sibuk. Maafkan aku,"


"Jangan berubah, Jenna. Kumohon," pinta Zac. Dia merangkul pinggang Jenna dan menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu. "Aku menyukaimu, Jenna," dengan lembut, dia mengecup ceruk leher Jenna.


Jenna menelan salivanya dan tiba-tiba saja, kedua matanya berubah menjadi merah. Dia berbalik dan membuat tubuh mereka berdua melayang.


"Je-, Jenna, apa yang terjadi?" tanya Zac ketakutan.


...----------------...