Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 45



Lima belas menit sebelum para model harus berlenggak-lenggok di atas panggung, amarah Jenna menyulut beberapa vampir yang ada di ruang ganti tersebut.


Mereka menyerang satu atau dua orang model manusia yang berada di dekat mereka. Pekik serta teriakan para wanita itu terdengar hingga keluar ruangan.


Lucy dan Kamila yang sedang menunggu aksi mereka, mendengar suara pekikan histeris itu dan segera berlari menuju ruang ganti para model. Pintu ruangan itu terbuka dan orang-orang berhamburan keluar, sambil berteriak-teriak. Wajah mereka pucat pasi.


"A-, ada apa ini? ASTAGA!" tukas Lucy saat dia melihat darah sudah berceceran di mana-mana, bahkan ada satu vampir yang masih menghissap korbannya dengan asik.


Lucy dan Kamila segera menutup pintu ruangan itu dan Lucy melepaskan satu tembakan peringatan. "Bisa katakan kepadaku apa yang terjadi? Lionel, lepaskan dia! Ah, ya sudahlah, habiskan saja dulu darahnya! Sial! Apa yang terjadi!"


Beberapa vampir menatap Lucy dengan garang dan memamerkan taring mereka. Kedua mata mereka kemerahan seperti darah. Gaun putih yang mereka kenakan sudah berubah menjadi warna merah terang.


Kamila dan Lucy menelan saliva mereka. Ruangan itu terasa panas dan mereka merasa haus yang amat sangat. Kamila berjalan mengitari ruangan itu untuk memeriksa keadaan di ruangan tersebut.


"No-, nona! To-, tolong, ...." rintih seorang gadis, dia memegangi ujung gaun Kamila.


Kamila berlutut di hadapan gadis itu dan dia melihat di ceruk leher gadis itu, terdapat dua lubang bekas gigitan. Kamila menundukkan kepalanya dan dia memejamkan matanya sesaat. Setelah itu, Kamila menghujamkan taring tajamnya dan mengakhiri hidup gadis itu. "Maafkan aku, satu vampir baru saja sudah merepotkan dan aku sedang tidak ingin menambah koleksi vampir baruku," tukas Kamila dingin dan dia melemparkan begitu saja tangan gadis itu.


Tak lama, dia menemukan Ortega dan Jenna saling berpelukan di sudut ruangan itu. "Apa yang terjadi? Jelaskan kepadaku!"


Ortega melepaskan Jenna dan betapa terkejutnya Kamila, saat dia melihat kedua bola mata Jenna yang berwarna merah menyala.


Wanita itu melangkah mundur dan menutup mulutnya. "I-, inikah, ...?"


"Aku sempat merasa kesal dan marah. Kami terhubung, aku tidak tau bagaimana dengan Volkov. Aku lupa kalau kami saling terhubung dan akhirnya Jenna, ...." Ortega tidak meneruskan kalimatnya. Dia merasa sangat bersalah karena telah menimbulkan kekacauan yang cukup parah ini. Sekuat mungkin, dia mengendalikan emosinya hanya demi Jenna.


"Jadi, kau?" tanya Kamila lagi.


Ortega mengangguk, seolah-olah dia memahami pertanyaan samar yang dilemparkan oleh Kamila. "Ya, aku sedang menurunkan emosiku, supaya Jenna normal kembali,"


"Diakah yang membuat semua vampir di sini tersulut dan berubah menjadi ganas?" tanya Lucy, yang datang karena mendengar percakapan mereka.


Lagi-lagi Ortega mengangguk. "Ya, aku tidak mengerti bagaimana, tapi itulah yang terjadi,"


"Jangan sampai masalah ini terdengar oleh Baron dan Amstel, tamat riwayat kalian!" bisik Lucy dalam desisan.


"Ya, aku dan mereka akan menjadi sate. Mengerikan," timpal Kamila.


"Kau tidak sendiri, orang yang sudah memberikan suaranya untukmu pun, akan ikut serta menjadi sate. Paling tidak, aku akan menolak jika aku dijadikan satu tusukan denganmu," ucap Lucy menghibur diri. Lalu, pandangan matanya kini beralih kepada Jenna. "Hei, Gadis Mengerikan, kau tau apa yang kau perbuat?"


Jenna menatap Lucy dengan kedua mata merahnya yang menyala tanpa bicara. Gadis itu terus melihat Lucy, seperti seorang anak kecil yang melihat sebuah benda baru yang menarik perhatiannya.


"Apakah kalau seperti ini, kesadarannya hilang?" tanya Lucy ingin tau.


Ortega menggeleng. "Dia tidak pernah bertemu dengan orang banyak sebelumnya dan saat itu, kami hanya bertiga. Jadi tidak membahayakan siapa pun, selain kami bertiga,"


"Aku tidak tau bagaimana caranya, tapi, ...." Tanpa malu dan sungkan, Ortega memegang kedua pipi Jenna dan dia menyapukan bibirnya pada bibir gadis itu. Awalnya hanya kecupan, tetapi lama kelamaan menjadi sebuah pagutan yang panas dan dalam. Semua emosi Jenna benar-benar tersalurkan lewat pagutan itu.


Kamila dan Lucy menghembuskan napas mereka. "Huh! Panas sekali!" sahut mereka.


"Kurasa kita harus menyambut kedua tamu kita, Lu," ucap Kamila yang merasakan kedatangan Baron dan Amstel semakin dekat.


Tak lama, Baron dan Amstel datang. Mereka seperti melayang dari kejauhan. Kali ini, mereka memakai jubah kebesaran mereka. Menandakan kalau mereka bagian dari pemerintahan. "Aku mendengar desas-desus sekitar tiga puluh menit yang lalu. Kurang lebih,"


"Desas-desus? Tidak ada desas-desus selain kami yang sedang menyiapkan acara bergengsi yang kami adakan setiap bulannya," kata Kamila. Dia menunjukan ruangan ganti yang penuh dengan para model, entah bagaimana caranya mereka sudah berkumpul di sana kembali.


Baron mendengus. "Kamila, kau memang cerdas. Tapi kali ini, kau tidak dapat menyembunyikan tragedi berdarah yang baru saja terjadi. Oh, tentu saja ini akan menjadi penilaianku untuk mengizinkanmu membuat klan mandiri. Tak peduli, seberapa banyak jumlah suara yang sudah kau dapatkan,"


Amstel memasuki ruang ganti tersebut tanpa permisi. Dia menyeruak di antara para model yang sedang berganti pakaian dengan cepat. Dia terus berjalan hingga ke sudut ruangan, tempat Jenna dan Ortega sedang bersembunyi.


Kamila dan Lucy berusaha untuk tampak biasa saja, seakan-akan tidak pernah ada kejadian apa pun di sana. "Kau ingin minum, Baron?"


"Hahaha! Itulah yang akan dilakukan oleh orang yang bersalah. Tunggu saja, sampai aku mendapatkan bukti kalau di tempat ini telah terjadi pertumpahan darah!" tukas Baron. Wajahnya dipenuhi senyum kemenangan.


Sementara itu, Amstel membuka pintu yang berada di sudut ruangan. Biasanya, ruangan itu dipakai sebagai tempat penyimpanan gaun-gaun. Dia menarik daun pintu itu dan, "A-, apa yang kalian lakukan!"


Mendengar teriakan Amstel, Baron segera menghampiri rekan kerjanya itu. "Ke-, kenapa?"


Wajah Baron memerah begitu melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu. "Ka-, kalian!"


Jenna dan Ortega akhirnya menyadari kalau mereka sedang ditonton oleh dua pasang mata. Mereka pun menyudahi pagutan mereka. Jenna yang memakai gaun one hand shoulder rapi, kini gaun itu sudah tidak menyangga pundaknya sama sekali.


Ortega membiarkan Jenna merapikan pakaiannya dan dia keluar untuk menemui Baron dan Amstel. "Pria tua pengganggu!"


"Ka-, kami, ... Kenapa kalian melakukan hal itu di dalam ruangan sempit?" tanya Baron kesal.


"Kami masih muda dan kalian membuat kami tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama! Wajar saja, kalau kami saling melepas rindu begitu kami bertemu! Cih!" tukas Ortega berpura-pura kesal dan marah.


Tak lama, Jenna keluar dari ruangan itu. Gaunnya sudah dia rapikan. "Ehem!"


Kamila, Lucy, dan Ortega menghela napas lega saat mereka melihat kedua manik Jenna berwarna hazel kembali.


"Jadi? Ada apa? Kenapa ramai sekali? Apa acaranya sudah mulai?" tanya Jenna sambil tersenyum dan dia segera berjalan di antara para model yang sedang bersiap-siap.


Lucy tersenyum. "Kupastikan, kau akan mendapatkan sepuluh suara dariku, Mila. Aku suka gadis itu,"


...----------------...