Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 26



Suara cicit burung yang terdengar dari balik jendela ruangan rumah sakit, membangunkan Jenna dari tidur lelapnya. Gadis itu membuka jendela dan menangkap seekor burung kecil.


Burung itu terus bercicit saat berada dalam genggaman si gadis muda. Tak lama, suara cicit burung menghilang dan gadis itu mengelap mulutnya yang berlumuran darah. "Maaf, aku lapar,"


Setelah itu, dia kembali masuk ke dalam selimut dan melanjutkan tidurnya. Menjelang siang, seorang perawat masuk dan memeriksa kondisi Jenna.


"Siang, Nona. Sarapannya belum dihabiskan, yah?" tanya si perawat.


Jenna terbangun dan mengerjapkan kedua matanya. "Oh, aku baru saja bangun, Suster,"


Perawat itu tersenyum dan mengukur suhu serta tanda-tanda vittal Jenna. "Semua bagus. Silahkan di makan dulu, Nona, sebelum kami mengantarkan makan siang untuk Anda,"


"Baik, Sus. Apakah belum ada yang menjenguk saya?" tanya Jenna.


Perawat itu menggelengkan kepalanya. "Belum, karena belum jam membesuk, Nona. Kalau yang menunggu Anda, kebetulan dia sedang keluar,"


Dahi Jenna berkerut-kerut. Siapa kira-kira yang menungguinya? Apakah itu Zac? Tidak mungkin, karena mr. Klaus tidak akan membiarkan Zac izin lagi. Lalu, siapa?


Tak lama, pintu ruangan Jenna terbuka dan muncullah seorang pria berparas tampan dengan rambut hitam berantakan. "Hai, kau sudah bangun?"


"Ka-, kau?"


Pria itu menyeringai lebar. Begitu si perawat pergi, dia duduk di samping Jenna sambil membawa baki makanan dan menyuapi gadis itu.


"Kau tampak terkejut sekali. Apakah tandanya aku tidak diharapkan?" tanya pria itu lagi.


"Tidak. Hanya saja aku tak mengira kau yang akan menungguku," jawab Jenna. "Berapa lama aku tertidur?"


"Empat hari. Apa yang kau ingat?" tanya pria berambut hitam itu.


Dengan takut-takut, Jenna menarik tangan pria itu untuk mendekat. "Tadi pagi aku kelaparan dan kurasa aku memakan salah satu burung yang ada di luar sana. Apakah aku berubah menjadi monster?"


Di beberapa malam sebelumnya, pria misterius itu masuk ke dalam kamar Jenna dengan mengendap-endap. Dia mendekati gadis yang sedang tertidur itu.


"Jenna, aku tak ingin berpisah denganmu. Aku ingin kau menjadi milikku. Aku tidak suka kau dekat dengan Zac atau siapapun itu. Maafkan aku, kalau pada akhirnya kau mungkin akan berubah," ucap pria itu. Dia mendekati wajah Jenna dan menyesap bibir gadis itu.


Pria itu mengambil suntikan dan mengalirkan darahnya ke selang infusan yang dipakai oleh Jenna. Darahnya kini menyatu dengan darah Jenna.


Ya, pria itu tidak ingin gadis yang dia cintai itu mati hanya karena kekurangan darah atau mengingat sesuatu yang memang harus dia ingat. Pria itu ingin Jenna mengingatnya.


Seketika itu juga, Jenna terbangun. Kedua matanya berwarna merah menyala. Pria itu tersenyum, dan kembali menyatukan bibirnya di bibir gadis itu.


Jenna mendorong pria itu untuk menjauh. "Kau!"


"Apa kau mengingatku?"


Gadis itu mengangguk. "Ya, kau Ortega. Teman Volkov. Lalu, kemana dia?"


"Dia ada urusan," jawab Ortega singkat.


Pandangan Jenna berubah menjadi sengit saat menatap Ortega. "Lalu kau sendiri? Kenapa kau ada di sini? Apa kau tidak punya urusan?"


Ortega menunggu Jenna bereaksi untuk apa pun. Tetapi, tidak! Gadis itu tidak memberikan reaksi yang diharapkan oleh Ortega. Dia terus menunggu hingga 1x24 jam. Namun, gadis itu masih tetap seperti biasa. Tidak ada yang berubah.


Pria itu mulai bertanya-tanya, apakah benar bahwa Jenna bukanlah manusia? Apakah dia memiliki keturunan penyihir atau dia kebal terhadap darah makhluk lain?


Akan tetapi, begitu dia mendengar Jenna mungkin memakan seekor burung hanya karena lapar, tiba-tiba saja Ortega merasa senang sekali. Inilah reaksi yang dia harapkan.


Dengan mengukir senyuman manisnya, Ortega menjawab, "Tenang saja. Mungkin itu hanya pikiran liarmu karena efek terlalu banyak obat. Kau tau, 'kan, banyak orang mengatakan kalau kau mengkonsumsi terlalu banyak obat, kau jadi berhalusinasi dan memikirkan hal yang aneh-aneh,"


Jenna memutar kedua bola matanya. "Hmmm, benar juga pendapatmu itu. Mengerikan sekali jika itu benar-benar terjadi,"


"Apalagi yang kau rasakan? Maksudku, selain itu tadi. Apa mungkin kau menginginkan daging segar atau makanan mentah misalkan," tanya Ortega.


Emosi Jenna menggelegak sampai ke puncak. Dia menjitak kepala Ortega dengan kasar. "Sembarangan saja kau ini! Kau pikir aku dracula atau vampir! Tidak sopan sekali!"


"Aduh! Maksudku, mungkin saja, 'kan, kau sedang ingin makan seperti itu! Kenapa kau menyalahkanku?" protes Ortega terisak.


Dia memandang dengan takjub kepada Jenna. Gadis itu memiliki pengendalian diri yang hebat sekali. Dia dapat mengontrol keinginan liarnya. Itu hal yang sulit sekali, apalagi mengingat Jenna adalah seorang vampir baru, yang akan selalu haus akan darah.


Namun begitu, Ortega juga tak yakin, apakah kalau darah Jenna mengalir di pembuluh darahnya, dia sanggup mengendalikan dirinya sendiri atau tidak?


"Tidak! Membayangkan makan burung saja itu sudah mengerikan!" tukas Jenna lagi.


Saat hari menjelang sore, Zac datang mengunjungi Jenna dengan membawa berbagai macam makanan serta buah-buahan.


"Pulanglah. Hari ini, aku yang akan menjaga Jenna!" tukas Zac.


Ortega mencebik dan dia meninggalkan rumah sakit, lalu melanjutkan pencariannya terhadap Volkov. Karena sejak malam, dia memutuskan untuk membuat Jenna ingat lagi kepadanya, Volkov menghilang. Pria itu membuat dirinya tidak terlihat setiap kali Ortega menemukannya.


Tetapi kali ini, dia tau di mana Volkov bersembunyi. Atap rumah sakit. Maka, Ortega menghampiri Volkov di sana. "Hei, Manusia Serigala Galau! Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau marah kepadaku dan menghilang? Kenapa kau tidak jujur tentang perasaanmu terhadap gadis manusia itu! Sudah sejak awal kau mengetahui tentang Jenna, aku sudah mengendus sesuatu yang tidak kau keluarkan untuk makhluk lain! Kau menyukainya! Jujurlah padaku!"


Volkov merubah wujudnya menjadi seekor serigala besar dan dia menggeram di hadapan Ortega. Tatapannya lapar dan tajam.


"Kau kesal kepadaku karena aku mengungkapkan kebenaran?" tanya Ortega. Dia siap dengan kedua taringnya.


Kini, dua makhluk itu saling mengitari. Bulu yang ada di sepanjang tubuh Volkov berdiri dan menegang. "Aku tidak ingin membuat keributan di sini, Ortega. Ini bukan dunia kita,"


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau marah kepadaku?" tanya Ortega lagi.


"Aku peduli padanya. Aku tidak ingin dia berubah seperti kita. Mengertilah! Seumur hidupnya dia akan dikelilingi oleh bahaya, sama seperti kemarin!" jawab Volkov putus asa. Perlahan, wujud serigalanya menghilang dan dia kembali berubah menjadi pria tampan dengan rambut keperakan.


Ortega melayang sedikit di atasnya dan mengarahkan tatapannya yang tajam kepada Volkov. "Sudah kukatakan kepadamu berkali-kali, aku akan melindunginya dengan segenap jiwaku. Bahkan, aku akan menukarnya dengan nyawaku jika saat itu terjadi! Itu adalah sumpahku!"


Seketika itu juga, sinar kemerahan keluar dari telapan tangan Ortega dan memencar ke segala arah.


"Sumpahmu itu telah tercatat, Ortega!" ucap Volkov tajam.


...----------------...