Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 39



Di malam yang dingin dan entah mengapa terasa mencekam itu, Jenna berteriak histeris saat dia melihat kondisi Zac yang nyaris mati. Napasnya tersengal-sengal dan darah berceceran di mana-mana. Dua lubang besar yang melukai lehernya, terus mengeluarkan darah, dan Jenna berusaha menahan laju pendarahannya.


"Ortega, lakukan sesuatu! Aku juga tidak ingin dia mati!" pinta Jenna dengan tatapan memohon. "Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki,"


Air mata gadis itu bercucuran, membuat suasana malam itu semakin pilu. "Bawa ke rumah sakit! Mana ponselnya? Oh, ponselku, tolong bantu aku menahan lukanya!"


Namun, tidak ada satu orang pun dari mereka yang bergerak. Mereka hanya terdiam dan mematung, sampai Volkov memeluk Jenna. "Dia tidak akan tertolong, Jen. Vampir tidak akan membiarkan korbannya hidup dan lagi, mereka juga tidak akan bertahan hidup setelah taring si vampir masuk ke dalam tubuh mereka. Seperti gigitan ular berbisa,"


"Aku bisa selamat! Ayo, Volkov! Bantu aku!" desak Jenna lagi. Dia memaksa tangan Volkov untuk memegangi handuk yang sudah dia letakkan di leher Zac.


Volkov dan Ortega saling berpandangan, begitu pula dengan Artemis. "Kau pengecualian, Jen. Tidak ada yang seperti kau di dunia ini,"


"Hei, Sayeed! Kita bisa bantuan dia! Dia punya nomor telepon, 'kan? Mana kartu namanya?" ucap Jenna begitu saja. Dia teringat dengan vampir berusia ribuan tahun yang siang tadi mereka temui itu.


Ortega menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku belum mempercayainya!"


"Ta-, tapi biasanya vampir bisa saling mengendus, 'kan? Maksudku, vampir lain bisa mengetahui keberadaanmu tanpa harus kau beritahu di mana tempat tinggalmu. Begitulah yang sering aku tonton di drama televisi," tanya Jenna. Tangan gadis itu masih menahan kain handuk yang berada di leher Zac.


Tak lama, kedua mata Jenna kembali membulat. "Kita jadikan saja Zac vampir juga! Kau bisa menggigit dia dan menghidupkannya kembali, 'kan? Ayolah, Ortega! Alena, ayo! Kau harus bertanggung jawab!"


Terlihat keraguan di kedua mata Ortega. "Resikonya besar, Jen. Dia bisa berubah menjadi vampir atau sesuatu yang lain. Yang jelas tidak seperti kau,"


"Apa maksudmu dengan sesuatu yang lain? Zombie begitu?" tanya Jenna, suaranya terdengar masih panik.


Kini, dia pun dihadapkan pada dua pilihan itu. Membuat Zac hidup dan menjadi vampir atau jika skenario yang sudah dia susun gagal, pria itu akan menjadi monster mengerikan. Entah itu zombie atau makhluk lain.


"Jujur saja, kami belum mengetahui proses seperti itu. Yang kami tau hanyalah mereka mati," jawab Ortega. Dia mengambil kartu nama yang bertuliskan Kamila Sayeed di atasnya, beserta alamat serta nomor ponsel yang tercantum di kartu tersebut. "Aku akan mencoba menghubungi Sayeed,"


Artemis yang sedari tadi menangis dan tampak sangat menyesal itu, ikut berbicara dengan suara terbata-bata. "Si-, siapa itu Sayeed? Apa dia penyembuh? Dia bisa menyembuhkan Zac?"


Ortega mengangkat kedua bahunya. "Kita coba saja,"


Jenna memberikan ponselnya pada Ortega supaya kekasihnya itu bisa menghubungi Kamila Sayeed, vampir senior yang sudah hidup selama ribuan tahun itu.


Tak lama, suara Ortega yang gugup terdengar sedang berbicara. "Emm, Nona Sayeed, aku punya permintaan,"


Vampir itu pun menceritakan apa yang terjadi kepada partner bicaranya dan, tak sampai 30 menit, seorang wanita berwajah ketimuran dan berkulit hitam masuk ke dalam apartemen Zac.


"Diakah manusia yang kau ceritakan itu?" tanya wanita cantik berambut panjang dan tebal itu.


Mereka semua mengangguk bersamaan. "Benar, Nona. Aku ingin temanku ini selamat dan aku memohon pada Ortega untuk mengubah dia menjadi vampir supaya dia hidup kembali. Lihat saja wajahnya semakin pucat," ucap Jenna.


Kamila berjalan mendekati Zac yang sudah tidak berdaya, dia membuka handuk yang sedari tadi menekan luka Zac. "Itu permintaan yang serius, Manusia! Kau tidak akan bisa menanggung resikonya jika terjadi sesuatu pada manusia tampan ini. Kurasa, kalian harus menemui Baron atau Amstel malam ini dan jika kalian ingin aku mengubahnya maka, kalian harus meninggalkan pria ini bersama denganku selama 12 jam. Itu waktu yang diperlukan untuk sel-selnya beradaptasi dengan sel darahku. Jangan temui aku ataupun manusia ini selama 12 jam ini. Paham?"


Jenna mengangguk mantap. "Aku paham dan aku akan menanggung segala resiko yang mungkin nantinya akan terjadi,"


"Good! Jake, siapkan 10 kantung darah! Aku akan pergi dengannya, tapi sebelum itu, aku akan mengantarkan kalian menemui Baron dan Amstel," ucap Kamila cepat.


Tidak dengan mobil, motor, atau berjalan kaki. Kamila membawa mereka menemui Baron dan Amstel hanya dengan satu lompatan kecil. Bahkan, Jenna sempat mengira kalau dia sedang bermimpi panjang dan lama.


"Aku hanya bisa menemani kalian sampai sini saja. Aku tidak ingin membuang waktu teman manusia kalian. Katakan pada Baron dan Amstel, aku yang meminta kalian datang dan perkenalkan diri kalian seperti biasa. Begitu saja," ucap Kamila terburu-buru. "Setelah aku menjadikan teman kalian menjadi sepertiku, aku akan membaringkan dia di dalam peti dan kumohon, selama 12 jam itu, berjaga-jaga dan bersiaplah! Aku berharap segalanya berjalan sesuai rencana, tapi tetap saja, kita harus menyiapkan kemungkinan buruk yang akan terjadi,"


Mereka mengangguk. Jenna mengambil kedua tangan Kamila dan menggenggamnya. "Hidupkanlah dia dan terima kasih kau mau membantuku. Itu sangat berarti sekali untukku,"


Butiran bening dari sudut mata gadis itu bergulir dengan cepat dan Jenna segera mengusapnya. "Aku berhutang banyak kepadamu, Nona Sayeed,"


"Tentu saja! Masuklah, sebelum matahari muncul!" seru Kamila dan dia pun menghilang di balik gelapnya malam.


Ortega menggenggam tangan Jenna, begitu pula dengan Volkov. Artemis berjalan dengan langkah panik dan dia memegangi jari kelingking Volkov. "Temani aku,"


Sebuah pintu tinggi terbuka begitu saja tanpa penjagaan dan di dalam bangunan itu, seperti rumah biasa. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, meja dapur yang besar, dan beberapa ruangan lainnya yang terlihat tampak normal dan biasa saja.


Tiba-tiba muncullah seorang wanita bertubuh mungil menyapa mereka, "Silahkan duduk dan mohon tunggu sebentar,"


Tak beberapa lama, datanglah tiga orang pria. Dua orang pria yang tampak sudah berumur serta satu orang pemuda tampan. Kedua pria paruh baya itu bermata merah dan menyeramkan.


"Kalian siapa?" tanya pria bertubuh tambun dengan suaranya yang dalam dan tenang. Suaranya terdengar seperti ombak tenang yang menghanyutkan.


Ortega memberanikan diri untuk melangkah sedikit lebih maju daripada ketiga temannya. "Saya Ortega. Kami datang atas perintah Kamila Sayeed,"


"Kamila. Hmmm, senang sekali dia membawa makhluk tersesat seperti kalian ini dan-, hmmmm. Bau ini!" pria tambun itu menghirup dalam-dalam dan indera penciumannya membawa dia ke sisi Jenna.


Pria itu menyeringai lebar. "Kau manusia!"


Volkov dan Ortega mencelos. Mereka lupa menutupi harum tubuh darah manusia Jenna dengan kalung Volkov. Pria serigala itu pun segera menarik Jenna ke belakang tubuhnya. "Jangan dekati dia!"


Seringai pria itu semakin lebar. "Serigala? Wah, wah, wah! Tangkapan besar malam ini, Amstel,"


Pria berjanggut panjang bernama Amstel kini sudah berada di dekat Jenna dan Volkov. Kedua tangan Volkov direntangkan untuk melindungi Jenna. Kedua mata pria itu seperti mengobarkan api dan menatap tajam kedua pria vampir yang ada di hadapannya.


"Kami tidak ingin membuat keributan, kami hanya ingin memperkenalkan diri kami dan masuk ke dalam clan kalian," ucap Ortega, dengan secepat kilat, dia membelakangi Volkov dan Jenna. "Kami mohon, Yang Mulia,"


"Kau dengar itu, Baron? Yang Mulia katanya? Hahahaha! Kami bukan raja, kami hanya tertarik dengan gadis manusia itu," ucap Amstel. "Kau ingin menyapa kami? Apa yang kalian bawa? Oh, apakah kau akan menyerahkan manusia dan serigalamu itu kepada kami? Sebagai buah tangan? Oh, kau baik sekali," Amstel menepuk kedua tangannya sambil tertawa.


"Tidak ada yang kami serahkan karena ini situasi terdesak," jawab Ortega.


Namun seakan tidak mendengar, Amstel meminta pria muda yang tampan itu untuk memisahkan Jenna dari yang lainnya. "Bawa dia ke ruanganku!"


"Jenna! Jenna! Hei, lepaskan dia!" ucap Volkov dan Ortega yang sudah memberontak. Entah mengapa, mereka tidak dapat bergerak. Ada sesuatu yang seperti ikatan di tubuh mereka.


"Hahaha, tenang saja! Kami hanya menjadikan dia sebagai jaminan. Oh, bisa kita mulai?" tanya Baron.


Fokus mereka kini terbagi. Ortega memulai lebih dulu, semakin cepat ya memulainya semakin cepat juga Jenna akan dilepaskan oleh pemimpin klan vampir tersebut. "Baiklah, ayo kita mulai!"


...----------------...