
Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, Jenna tak bisa menghentikan debaran jantungnya yang berdetak cepat saat dia bertatapan dengan Ortega atau Volkov.
Saat ini, Jenna tidak dapat memastikan bagaimana perasaan hatinya. Apalagi, setelah kejadian itu, mereka bekerja seperti biasa dan ada seorang produser yang tertarik dengan wajah tampan Ortega dan produser tersebut ingin Ortega menjadi model untuknya.
Pria vampir itu bertanya dengan polosnya kepada Jenna. "Apa itu model?"
Jenna menjawab pertanyaan Ortega itu dengan kesal dan bersungut-sungut. "Silahkan saja kalau kau ingin menjadi model! Kau bisa menambah koleksi wanitamu!"
"Jenna, kenapa kau kesal kepadaku? Hei, Jen!" tukas Ortega. Pria itu tak tau kenapa Jenna marah kepadanya. Dia pun menceritakan kebingungannya ini pada Volkov. Namun, dia tidak menemukan Volkov di manapun.
Suatu malam, Ortega mengajak Jenna untuk ikut ke tempat dia akan menemui produser. "Temani aku,"
"Tidak mau!" tolak Jenna kasar. Dia tak mau merasa cemburu karena melihat Ortega nanti akan dikelilingi oleh banyak penggemar wanita. Menjadi seorang waitres saja, sudah ada fanbase penggemar Ortega, apalagi jika nanti dia menjadi seorang model.
"Aku hanya akan mengobrol dengan orang itu. Kalau kau tidak setuju, aku tidak akan datang," kata Ortega lagi. "Kau menyukaiku?"
Wajah Jenna segera saja memerah. "Ma-, mana mungkin seperti itu, Bodoh! Tidak mungkin!"
"Lalu kenapa kau marah-marah?" tanya Ortega.
Saat itu, Jenna tidak ingin mengakui perasaannya. Dia tidak mau membuat Ortega besar kepala. Walaupun sebenarnya, gadis itu mulai sadar kalau dia memang menyukai Ortega.
Dadanya seakan sesak jika melihat Ortega bersama gadis lain. "Aku tidak marah! Aku senang! Aku bahagia untukmu!" dia pun segera pergi entah ke mana, meninggalkan Ortega yang kebingungan.
"Cih! Bisa-bisanya aku suka pada vampir jelek itu! Oh, Tuhan, bagaimana kelanjutan nasibku? Dari sekian banyak pria di dunia, kenapa aku menyukai dia?" tanya Jenna bermonolog. "Bagaimana ini?"
Suaranya tercekat dan terdengar menyesal. Selama ini dia selalu menyangkal bibit cinta yang hadir menyapa hatinya, tetapi kali ini, dia tidak bisa menolaknya lagi. Perasaan itu justru semakin membesar dan sulit dikendalikan.
"Zac! Ya, aku harus menemui Zac!" ucapnya. Namun, baru saja dia hendak turun dari atap rumahnya, Ortega sudah menghadang langkah gadis itu.
Dia tersenyum dengan sangat manis sekali. Senyuman yang sanggup melemahkan hati Jenna. "Suara hatimu berteriak kepadaku, Jen. Kau sudah tidak dapat mengelak lagi. Kau menyukaiku,"
Jenna menggerakkan kedua tangannya, seakan mengusir nyamuk yang bergumul di atas kepalanya. "Tidak! Tidak! Kau tidak bisa membaca pikiranku!"
Ortega semakin mendekati gadis itu. "Hatimu, Jen. Bukan pikiranmu," ucap vampir itu sambil menyugar rambutnya yang tersapu angin lembut.
Hati Jenna mencelos. "Ya, aku menyukaimu, Jelek! Rambutmu baru saja terkena angin, tapi hatiku yang berantakan seakan terkena badai besar!"
Ortega tersenyum lebar, dia memincingkan matanya membuat Jenna melayang ke arahnya. Dia segera menangkap gadis itu dan memeluknya. "Kalau begitu, kau tidak boleh jauh-jauh dariku,"
Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Jenna yang kemerahan. "Kau menjadi milikku sekarang dan sampai selamanya, Jen. Ayo, kita menikah!"
"Heh! Menikah? Kenapa langsung menikah? Kita bisa jalani ini pelan-pelan, Ortega," tukas Jenna lagi. Dia tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Bahkan tidak ada kata menikah dalam hidupnya.
Ortega terdiam sesaat, dia memegangi dagunya dan alisnya bertaut. "Hmmm, benar juga katamu. Kau sekarang sudah setengah manusia, artinya bisa saja kau menjadi sepertiku, hidup sampai ratusan tahun. Baiklah, ayo kita menikah!"
Wajah Jenna semakin memerah. "Kau tidak me-, mmppphhh, ...."
"Segalanya tentang ini semua," jawab Jenna, dia segera mengalungkan kedua lengannya pada leher Ortega dan melanjutkan pagutan dari pria tampan itu.
Di lain tempat, Volkov sedang menemui Artemis yang saat itu memanggilnya secara mendadak. "Kenapa kau ingin menemuiku?"
Wajah Artemis yang biasa tampak cantik dan terkontrol, kini terlihat berbeda. Gadis itu tetap cantik, hanya saja terlihat berbeda dari biasanya. "Hatiku berantakan, Volkov. Aku berkhianat,"
Volkov mengerenyitkan alisnya. "Apa yang telah kau lakukan?"
Artemis menutupi wajah dengan kedua tangannya. "Aku jatuh cinta pada manusia," kemudian, dia kembali menegakkan wajahnya. "Tapi, aku belum tentu jatuh cinta pada pria itu! Ya, pasti begitu!"
Tak lama dia kembali menutupi wajahnya. "Aku kacau, Volkov!"
Pria serigala itu menghela napas panjang. "Kenapa aku hanya kebagian cerita dari kau dan Jenna? Aku juga ingin disukai dan dicintai oleh seseorang. Ah, di manakah pendamping yang cocok untukku?"
"Laut!" seru Artemis kesal.
Volkov tertawa tergelak. "Aku tak pernah tau kalau kau selucu ini, hahaha!"
"Sudahlah! Apa wajahku sudah tampak seperti seorang pengkhianat?" tanya Artemis sambil memberengutkan wajahnya.
Volkov kembali tertawa. "Kau dan Ortega memang bukan jodoh. Aku dapat merasakan energi bahagia darinya dan Jenna. Aku sedang berusaha meredam rasa sakitku, karena sepertinya kami bertiga saling terhubung,"
"Bagaimana bisa? Apa yang membuat kalian bertiga terhubung?" tanya Artemis, setengah mendesak Volkov. Namun sayangnya, pria itu hanya memberikan kedua bahunya sebagai jawaban.
Keesokan harinya, Ortega menemui produser model itu dengan mengajak Jenna. Dan produser tersebut mengenalkan mereka berdua kepada Kamila Sayeed, seorang model papan atas, yang namanya sudah terkenal di mana-mana. "Halo, Tuan Ortega. Ah, tadinya aku ingin mengenalkanmu pada seseorang yang akan membimbingmu, tapi baru saja dia mengirimiku pesan katanya akan terlambat datang. Jadi, aku akan mulai memotretmu saja untuk dapat membuatkanmu sebuah portfolio yang nanti akan kuberikan kepada Nona Sayeed. Mari, Tuan Ortega,"
Ortega tidak paham, tetapi dia mengangguk. Pria itu menoleh pada Jenna yang sepertinya merasa sangat asing di tengah hiruk pikuk studio tersebut. "Hei, kau takut? Kau bersamaku sekarang, tidak perlu takut,"
Pria vampir yang saat ini mengenakan jaket kulit tebal dan kacamata hitam itu merangkul kekasihnya itu dan memasukkan tubuh mungil Jenna ke dalam pelukannya. "Berjalanlah di sisiku. Kalau bukan untuk membuat kerajaan vampir, aku tidak akan mau susah payah mencari uang seperti ini,"
"Ish! Kotor sekali pikiranmu itu!" seru Jenna sambil tersenyum malu.
Tak lama, produser itu meminta Ortega untuk berdiri membelakangi latar belakang berwarna putih dan dia hanya di minta untuk berdiri dan berpose seperti biasa.
Suara tepuk tangan dan seru kekaguman keluar dari mulut produser tersebut dan juga fotografer. "Wow, bagus! Hebat, Ortega! Oh, keren sekali!"
Tanpa perlu melakukan apa pun, hasil foto Ortega tampak mahal. Jenna menatap pria vampir kekasihnya itu dan mau tak mau dia mengakui kalau Ortega memang tampan. Tiba-tiba saja, Jenna merasa jauh sekali dengan Ortega. Gadis itu pun menghela napasnya dengan panjang.
Beberapa jam kemudian, suara berat menyapa mereka. "Halo, sudah lama menunggu? Maafkan aku karena terlambat datang, jalanan ibu kota memang tidak dapat diprediksi," kata seorang wanita cantik tinggi semampai, dengan rambut berkuncir kuda yang selalu bergerak mengikuti ke manapun Kamila menoleh. Senyum wanita itu sangatlah cantik.
Jenna tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Kamila. Kedua mata wanita itu tampak seperti meneliti Jenna.
Entah sejak kapan, Ortega sudah berdiri di samping Jenna dan dia menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam. "Wa-, wangi ini!" Ortega menarik Jenna untuk menjauh dari Kamila. "Dia berbahaya dan dia bukan manusia!"
...----------------...