Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 19



"Jenna, ke mana temanmu itu? Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk! Apa dia sakit?" tanya Mr. Klaus di suatu hari.


Sejak Zac mengambil Artemis dan Vlad dari rumah Jenna, dia seperti menghilang di telan bumi. Sudah beberapa kali juga Jenna mengetuk pintu apartemennya. Namun, selalu tidak ada jawaban. Bahkan, dia pernah diusir oleh petugas keamanan karena terlalu berisik dan dianggap menganggu penghuni lain.


"Loh, kalau penghuni kamar 177 ini tidak menjawab panggilan saya, wajar, dong kalau saya khawatir terjadi sesuatu dengan beliau! Kenapa Anda melarang saya untuk mendobrak pintu?" tukas Jenna saat itu kepada petugas keamanan yang kebetulan melihat aksi Jenna hendak mendobrak pintu kamar Zac.


Petugas keamanan itu tersenyum meremehkan. "Tuan muda ini, hanya tidak mau bertemu dengan Anda, Nona. Buktinya, dia selalu keluar dengan kucing-kucingnya,"


"Benarkah? Kapan itu? Pagi, siang, atau malam?" desak Jenna.


"Hmmm, bisa pagi, bisa siang, kadang juga malam. Nona ini sebenarnya siapa, sih? Kekasihnya yah? Sedang bertengkar atau sudah mantan?" tanya si petugas keamanan itu sambil tersenyum mengejek.


Jenna mendengus kesal. "Sialan!"


Kesimpulan yang Jenna dapatkan di hari itu adalah Zac dalam kondisi baik-baik saja. Mungkin, dia masih ingin menenangkan dirinya sendiri atau dia sedang ingin menjadi sebuah batu, yang hanya berteman dengan dirinya sendiri dan kucing-kucingnya.


"Hei, mereka bukan kucing, 'kan? Kau yang membuat mereka seperti itu!" ucap Ortega di saat Jenna berusaha menyingkirkan pikiran buruk tentang Zac dari kepalanya.


Jantung Jenna seakan berhenti berdetak. Benar juga, kucing-kucing itu adalah vampir yang entah bagaimana berubah menjadi seekor kucing. "Aarrggh! Di saat seperti ini kita butuh Volkov! Manusia serigala yang satu itu, benar-benar tidak betah di rumah. Dia selalu bepergian dan mencari sesuatu yang entahlah,"


"Pernahkah kau lihat seekor serigala duduk atau rebahan? Itu sudah kebiasaannya berburu atau mencari sesuatu yang dia pikir akan mengancam habitatnya," jawab Ortega dengan gaya sok tau.


"Ah, mungkin saja begitu, yah. Lalu, bagaimana dengan Zac kita ini? Apa yang kira-kira bisa terjadi kepada Zac jika dia terus bersama Artemis dan Vlad. Mungkinkah mereka busa kembali dan menghissap Zac hingga dia kering seperti kerupuk? Itu tidak mungkin, 'kan?" tanya Jenna. Pikiran buruknya semakin merajalela dengan liar.


Ketakutan dan kekhawatiran gadis itu bukan tidak beralasan. Vlad dan Artemis ada seorang vampir yang sewaktu-waktu bisa saja berubah dan jika lapar, mereka bisa menghabisi Zac untuk makan malam mereka.


Jenna hanya bisa berharap, Artemis dan Vlad akan seperti Ortega yang tidak dapat menghissap darah manusia, selain darahnya. Kemudian, tiba-tiba saja Jenna teringat sesuatu. Dia belum memberi makan kucing-kucing itu sejak Volkov mengambilnya dari Zella.


"Apa yang terjadi jika kaum kalian kelaparan?" tanya Jenna pada Ortega.


"Matilah!" jawab Ortega.


Jenna menghela napas lega. "Aku tenang sekarang. Kita belum memberi makan kucing-kucing itu sejak mereka datang ke rumah,"


Wajah Ortega yang tiba-tiba berubah, membuat Jenna khawatir lagi. "Tidak bisa tenang, kekuatan mereka masih sama seperti saat mereka menjadi vampir. Dalam wujud kucing saja, mereka bisa menghipnotis Zac. Pria bodoh itu pasti masih berada dalam kendali Vlad dan Artemis,"


"Benarkah? Lalu, kita harus bagaimana?" tanya Jenna.


"Kita harus patahkan pengaruh Vlad dan Artemis pada Zac dan aku tidak tau caranya!" tukas Ortega serius.


Sebuah pukulan maut diarahkan kepadanya. "Kau benar-benar bodoh sekali!"


Beberapa hari setelah itu, Jenna memperhatikan ada yang aneh dengan kucing-kucing liar yang berada di sekitar rumahnya.


Mereka berkumpul di rumah Jenna dan terus menatapnya. Tak hanya itu, mereka juga mengikuti ke manapun Jenna pergi. Awalnya, Jenna menganggap mereka meminta makan. Namun, ketika Jenna memberi mereka makan, merena mengacuhkan makanan mereka.


"Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan Zac?" tanya Jenna lebih kepada dirinya sendiri.


Sore hari itu, sepulang kerja, dia menyempatkan dirinya untuk pergi ke apartemen Zac dengan ditemani oleh Ortega.


"Kucing-kucing ini!" tukas Ortega.


"Apa kau memiliki pikiran yang sama denganku? Mereka seperti diperintah oleh Raja Kucing?" tanya Jenna menatap curiga pada kucing-kucing itu.


Ortega meminta Jenna untuk berhenti. "Berhenti sebentar. Mereka benar-benar hanya menatapmu, Jen. Ini aneh sekali,"


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka hingga tiba di apartemen Zac. Lagi-lagi mereka diacuhkan oleh pria yang kini misterius itu.


Tak lelah dengan bel. Jenna mengetuk pintu sambil terus memanggil nama Zac. "Zac! Buka pintunya atau aku benar-benar akan mendobrak pintumu ini!"


"Zac! Woi! Kau tidak mati, 'kan?" seru Jenna lagi.


Dia menggelengkan kepalanya pada Ortega. Zac sama sekali tidak mengangkat panggilan atau menjawab pesannya. Bahkan, dia tidak membukakan pintu untuk mereka. "Eerrghhh! Kucing sialan!"


Sontak saja, kucing-kucing yang sedari tadi mengikuti Jenna mengeong-ngeong tanpa henti. Jenna dan Ortega menutup kedua telinga mereka. "Hentikan!"


"Bagaimana cara menyuruh mereka berhenti mengeong?" tanya Jenna putus asa.


"Kau harus menjadi penyihir, baru mereka akan menurut kepadamu," jawab Ortega.


Mendengar jawaban Ortega, Jenna memusatkan perhatiannya supaya kedua maniknya berubah menjadi wakrna ungu, sehingga dia dapat menghentikan kucing-kucing ini.


Segala usaha dia lakukan, akan tetapi, tidak ada perubahan dan kedua bola matanya tetap saja berwarna hijau kecokelatan.


"Aku tau!" Ortega maju mendekat ke arah Jenna dan mengecup bibirnya dengan liar.


Tadinya, Jenna akan mendorong Ortega. Namun, alih-alih mendorong, dia mengalungkan kedua lengannya di pundak Ortega.


Benar saja, warna mata gadis itu kini berubah menjadi merah lalu ungu. Ortega melepaskan ciumannya. "Kau sudah siap?"


Jenna mengangguk tapi sejurus kemudian, dia menarik pakaian Ortega dan melummat bibir pria itu dengan panas. "Huh! Perubahan yang luar biasA!" sahutnya.


Gadis itu berjongkok dan menemui para kucing. "Ternyata mereka terkena hipnotis dari gelombang suara. Kekuatan Vlad dan Artemis telah kembali, berarti Zac, ...."


Ortega dan Jenna menendang pintu apartemen Zac dengan kencang sehingga pintu itu menjeblak terbuak dan tampaklah Zac disana.


Kedua tangan Zac terikat ke atas, wajahnya tampak pucat dan dia terlihat lemas sekali. "Zac!"


Seekor kucing putih menyambut kedatangan mereka. Dengan cepat, kucing itu berubah wujud menjadi seorang wanita cantik dengan bibir merah merona. "Oh, Jenna Kecil mencari sahabatnya. Sayang sekali, Zac yang malang itu hanya selongsong raga yang kosong. Dia patah hati. Manusia yang patah hati, baunya tidak enak. Sama seperti seonggok daging yang disimpan terlalu lama! Tapi paling tidak, energi Zac bisa kami pergunakan untuk memulihkan kekuatan kami, hahaha!"


Jenna maju ke depan dan segera menarik rambut hitam kelam milik wanita itu. "Kau Vampir Pengecut yang hanya berani melawan manusia lemah! Lawanlah aku!"


Wanita cantik itu mendengus. "Bagaimana kalau kita bertaruh?"


"Apa taruhanmu?" tantang Jenna.


"Kalau kau kalah, Ortega kembali denganku dan akan kukembalikan pria lemah itu padamu, tapi kalau aku kalah, aku akan kembali ke duniaku dan menutup portal duniaku. Bagaimana?" tanya wanita itu.


Jari-jari wanita itu mengeluarkan pendar berwarna merah. Jenna segera melihat jarinya, di jari Jenna pun terdapat sinar berwarna ungu yang berpendar-pendar.


"Jangan, Jenna! Jangan pernah berurusan dengan vampir wanita! Mereka licik!" ucap Ortega.


"Kalau dia mengingkari janji, aku akan mengejarnya! Bahkan sampai ke neraka paling panas pun aku hadapi! Artemis, ikrarkan janjimu!" sahut Jenna.


Artemis menyunggingkan senyumnya. Dia mengambil tangan Jenna dan menempelkannya pada miliknya sendiri. Sinar ungu dan sinar merah bertemu, janji di antara mereka sudah terikat.


...----------------...