
di sebuah lorong rumah sakit, tiga orang berjalan menuju sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas dari rumah sakit tersebut. setelah sampai mereka mengetuk ruangan itu dan seorang asisten dokter membukakan pintu untuk mereka.
ruangan itu didominasi dengan warna putih dan hijau. terdapat beberapa buah kursi berlengan serta satu buah sofa panjang. beberapa poster tentang anatomi tubuh manusia serta organ-organnya, seperti jantung, paru-paru, hati, dan ginjal terpasang di dinding ruangan itu. sebelah meja dokter tersebut terdapat satu buah contoh kerangka manusia.
ketika mereka masuk, dokter itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengembang di wajahnya. "kamila sayeed, wah, wah, apa yang membawamu hingga datang ke tempat yang terpencil ini?"
"hahaha, jangan merendah. kita semua tahu kau memiliki sebuah rumah sakit terbesar di pusat ibukota, bryan. dengan kendaraan yang lalu lalang dan manusia yang entah bagaimana, tidak pernah ada lelahnya berjalan, mengobrol, dari pagi hingga tengah malam seakan mereka tidak pernah tidur," jawab kamila tersenyum. wanita itu mengulurkan tangannya kepada dokter bryan, sekaligus mengenalkan jenna kepada temannya itu.
bryan berdiri dan menyambut uluran tangan kamila serta jenna. pria berkumis tipis itu tersenyum menatap jenna. "bryan," katanya.
"jenna," balas jenna.
adrian menarik tangan jenna dari dokter bryan karena dianggapnya terlalu lama. "dia berbahaya,"
jenna melihat sinis adrian dari sudut matanya dan dia mendekati pria bertubuh atletis itu. "untung saja ini di luar, kalau kita hanya berdua saja, akan kupatahkan lehermu, itu!"
sementara itu, kamila sudah memulai percakapannya dengan bryan. dia menceritakan segalanya tentang ortega, volkov, dan artemis, serta tentang zac yang saat ini nasibnya berada di tangan para voter.
dokter bryan mengangguk-angguk. "wah, cerita yang luar biasa. di mana mereka sekarang?"
"tentu saja di rumahku. mereka tidak dapat berlama-lama di bawah sinar matahari, 'kan? satu lagi, tentang jenna. dia gadis yang istimewa kalau kau mau tau," ucap kamila lagi.
"dia manusia? harum sekali wangi tubuhnya. aku jadi lapar, hehehe," kata dokter bryan sembari terkekeh. kemudian, dia memanggil asistennya. "lester, berikan air untuk tamu-tamuku!"
lalu, pria kurus itu melihat ke arah kamila. "kau? seperti biasa?"
kamila menggelengkan kepalanya. "tidak. hari ini aku butuh blood infused. aku sudah terlalu banyak menghissap hemoglobin zac,"
"kau dengar? dan untuk kedua tamu yang di sana itu, bawakan mereka air biasa bukan air darah!" titah dokter bryan kepada asistennya tersebut.
lester menganggukan kepalanya dan dia pun keluar dari ruangan itu. tak lama, dia sudah kembali dengan membawa dua botol berisi cairan berwarna kemerahan dengan bagian atasnya terdapat daun mint dan lemon, serta dua buah gelas berisi air putih biasa.
dokter bryan dan kamila melanjutkan percakapan mereka. "tentang gadis istimewa yang duduk di sana itu, kenapa kau menyebutnya istimewa? apa karena dia manusia?"
"dia setengah-setengah, bryan dan dia murni keturunan manusia. tidak ada campuran apapun di darahnya sampai teman vampir dan manusia serigalanya memasukkan sel darah mereka ke dalam tubuhnya dan berubahlah dia," jawab kamila sambil menghissap cairan kemerahan itu dari botolnya.
bryan memperhatikan jenna yang sedang asyik mengobrol dengan adrian. "wow, dan dia tidak berubah sepenuhnya menjadi vampir ataupun manusia serigala?"
kamila mengganggu dan mendorong bibir bawahnya semakin ke bawah. "yep, yang lebih luar biasa lagi adalah kedua matanya. aku memperhatikan dia beberapa hari belakangan ini, ketika dia sedang kesal atau marah, maka dia akan berubah menjadi vampir, dan bola matanya akan berubah menjadi seperti kita, berwarna merah. tetapi, saat dia takut atau ada bahaya yang mengancamnya, tubuhnya akan berubah kembali menjadi manusia serigala dan kedua bola matanya akan berubah menjadi warna biru keunguan. matanya akan kembali berubah menjadi warna ungu penuh, ketika tubuhnya bereaksi untuk melindungi dirinya sendiri. warna asli matanya adalah hijau kecokelatan. bagaimana? cukup istimewa, bukan?" kata kamila menjelaskan. dia ingin membuat bryan terpesona kepada jenna, dengan begitu kamila bisa mengantongi satu suara dari bryan.
bryan bertepuk tangan kagum sambil menggelengkan kepalanya. "yes, incredible she is! tapi tujuanmu datang ke sini, tentu saja bukan untuk menyombongkan dia saja, 'kan?"
kamila meletakkan botol minumnya di atas meja. kemudian dia mengambil secarik kertas yang berisikan sebuah perjanjian. "aku membutuhkan empat suara untuk zac. anak muda yang sudah aku rubah menjadi vampir baru dan supaya kayak eksistensinya dia di dunia pervampiran ini diakui, aku masih harus membutuhkan 4 suara lagi. kalau tidak, anak muda itu akan mati dibakar atau dipatahkan lehernya,"
"perintah baron dan amstel, hah? tidak pernah manusiawi hukuman mereka! baiklah, baiklah, aku akan memberikanmu satu suara. di mana aku harus tandatangan?" ucap bryan sembari mengambil alat tulisnya.
tak lama, tangannya sudah bergerak di atas kertas tersebut, membuat sebuah tanda keabsahan di atas surat itu.
"terima kasih banyak, bryan. kau memang bisa diandalkan. menurutmu, ke mana lagi aku harus mencari suara?" tanya kamila.
"kau memiliki banyak partner, kurasa tidak sulit untukmu meraup banyak suara. sekarang, aku paham kenapa kamu ngajak gadis istimewa itu bersamamu? supaya orang-orang dapat melihat kalau mereka memiliki seorang pahlawan yang dapat diandalkan. hahaha! semoga sukses, kamila. kapan-kapan, ajaklah aku makan malam bersamamu, supaya aku dapat melihat koleksi ciptaanmu, hah? hahaha!" jawab bryan seraya bergurau.
"silakan saja. pintu rumahku selalu terbuka untukmu, bryan. lagi pula aku tidak bisa membiarkan anak-anak itu kembali ke tempat asal mereka. dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi di saat aku akan membuat sebuah klan baru, itu akan merugikanku," jawab kamila bergegas pergi.
setelah berbasa-basi sebentar dan mengucapkan terima kasih kepada dokter bryan, mereka pun meninggalkan rumah sakit itu dengan membawa satu buah suara.
"ke mana lagi kita akan mencari suara-suara itu?" tanya jenna.
"rumah agensiku. aku mengenal beberapa model papan atas dan pemilik agensi yang merupakan teman dekatku. kuharap mereka bisa menyumbang satu suara untuk zac," jawab kamila sambil menghitung-hitung. "setelah kita berhasil mengumpulkan lima suara, kita harus sidang bersama baron dan amstel, untuk menentukan keabsahan dari suara-suara yang sudah kita dapatkan,"
kamila tiba-tiba berhenti mendadak dan kemudian dia melihat ke arah jenna, pakaian jenna lebih tepatnya. "kau tidak bisa berpakaian seperti ini saat datang ke rumah agensiku,"
jenna memutarkan bola matanya. "lalu? semua pakaianku kurang lebih seperti ini,"
kamila menggelengkan kepalanya. "tidak! kau tidak bisa! pergilah bersama adrian, dan temui aku di rumah agensiku pukul 7 malam ini!" perintah kamila sambil memberikan kartu hitam dari dompetnya. "carikan dia gaun pesta yang manis tapi terkesan glamor. belikan dia sepuluh gaun yang berbeda! sana cepat! waktu kita tak banyak!"
"baik, nona. ayo, gadis kecil! kali ini kau harus menurut denganku!" tukas adrian tersenyum puas sambil menarik lengan baju jenna.
"tu-, tunggu! kau tid-, ... hei!"
namun penolakan jenna terasa sia-sia, karena adrian telah menariknya dengan kuat dan memasukkannya ke dalam mobil yang dia lajukan dengan cepat.
...----------------...
*nanti malam, ada visual Adrian. Yeiiy! Ditunggu, yah 😁