Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 44



Malam itu, Jenna tampak cantik dengan gaun one hand shoulder dengan aksen renda manis menghiasi line gaunnya.


Rambutnya terikat ekor kuda rapi, tanpa rungsing ke mana-mana. Dengan anggun, dia berjalan memasuki rumah agensi tempat Kamila menunggu mereka. Di sebelah Jenna, Adrian yang terlihat tampan dengan kemeja one set-nya yang berwarna hitam, senada dengan gaun Jenna.


Kamila menyambut mereka dengan antusias dan memandangi Jenna dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian, dia tersenyum. "Kau tampak seperti seorang gadis sungguhan sekarang. Bagus! Ayo, kita masuk!"


Adrian merubah tawanya menjadi dengusan. "Hmmph! Ehem!"


"Haish! Tertawalah sampai acara ini selesai! Aku akan menuntut pembalasan atas apa yang sudah kau lakukan seharian ini!" bisik Jenna tajam.


Mereka berdua pun mengekori Kamila dan memasang senyum mereka yang paling menawan. Mereka memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh musik kencang dan beberapa belas orang, berdansa di ruangan itu.


"Siapa yang ingin kita temui di sini?" tanya Jenna pada Kamila.


Kamila menggelengkan kepalanya. "Suaramu tidak terdengar, Jenna. Ah, mungkin nanti Ortega akan datang, aku ingin mengenalkan dia pada beberapa orang temanku. Untuk bisnis,"


Begitu mendengar nama Ortega disebut, Jenna memekik kegirangan. Rasa rindunya yang sudah membuncah, kini dapat dia salurkan. "Benarkah? Aku senang sekali,"


"Sebelum itu, kau dan aku harus bergegas menemui Lucy Brooke. Dia pemilik agensi ini dan dia ad-,"


"Seorang vampir juga? Apakah benar-benar ada 512 vampir di kota ini? Hebat sekali," tanya Jenna kagum.


Kamila mengangguk. "Tepat sekali. Ayo, Jenna!"


"Se-, sekarang?" tanya Jenna. Dia tidak menyangka pertemuannya dengan Ortega membawa dia mengenal vampir lebih banyak.


Kesabaran Adrian yang setipis kertas tisu yang dirobek menjadi 7 bagian mulai diuji. Dia menarik tangan Jenna dan setengah menyeretnya untuk menaiki tangga yang berada di lantai dansa itu.


Suasana di lantai dua, berbeda jauh dengan lantai sebelumnya yang terang benderang, penuh dengan lampu, dan ramai dengan musik serta suara hiruk pikuk orang-orang. Sedangkan lantai dua, hening dan seolah-olah menelan suara kebisingan di lantai bawahnya.


Mereka pun memasuki sebuah ruangan dengan lampu temaram. Wangi bunga lavender yang menyengat menyambut kedatangan mereka. Jenna yakin, di ruangan itu tidak akan ada nyamuk yang berani mendekat padanya.


Lucy Brooke adalah sosok wanita dengan wajah berwibawa yang pernah Jenna temui. Dia tidak berparas cantik, hanya saja orang akan segera tau kalau Lucy Brooke bukan seorang wanita yang mudah dipermainkan. Kesan pertama yang Jenna dapatkan adalah, dia tidak ingin berbuat kesalahan malam ini.


"Luccyyyy!" seru Kamila, dia berlari kecil dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sosok wanita berwajah cerdas itu.


Lucy berbalik dari kursinya dan menyambut Kamila dengan tak kalah ramai. "Mila! Astaga, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kenapa kau menjadi semakin cantik? Hmmm, aku iri!"


Mereka saling menyapa dengan pelukan hangat dan kecupan di pipi kanan dan kiri. "Kau yang semakin cantik. Bagaimana kabarmu, Lu?"


"Luar biasa, Mila. Dan aku bisa melihat, kau juga tak kalah luar biasa dariku. Hahaha! Sudah lama sekali, yah?" ucap Lucy, garis senyum masih belum hilang di wajahnya sampai dia menatap Jenna dan Adrian. "Oh, dua asisten? Sesibuk itukah dirimu sekarang, Mila?"


Kamila tertawa dan dia menarik Jenna untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya. "Pria tampan itu masih tetap asisten terbaikku. Ini Jenna. Dia seorang yang saat ini akan menentukan hidup dua nyawa,"


Wajah Lucy menjadi serius, dia memakai kembali kacamata yang tadi sempat dia lepaskan. "Apa maksudmu?" tanyanya pada Kamila. Kemudian, dia mengambil tangan Jenna. Dia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, sama seperti yang dilakukan Amstel serta Baron kepada gadis itu. "Wow, aku tidak bisa membaca apa pun darimu, Cantik. Kau ini apa?"


"Menurutku itu tidak penting dan aku rasa, Anda sudah dapat mengetahui aku ini apa hanya dengan mencium harum tubuhku. Bukan begitu?" jawab Jenna tegas. Rasanya sulit sekali jika dia harus menjelaskan tentang siapa dan apa dirinya kepada orang yang sudah mengetahui dengan baik tentang apa dirinya saat ini.


Tatapan mata Lucy kini beralih pada Kamila. Wanita itu meminta tangan Kamila dan dia menggenggamnya. Dia terdiam sesaat dan kemudian, sedikit terkejut saat dia membuka kedua matanya. "Wow! Kau menciptakan sesuatu yang hebat, Mila. Tapi, dengan begitu kau melawan pemerintahan, bukan? Aku akan memberikan satu suaraku untukmu, karena gadis ini telah memikatku dengan segala misteri yang ada pada dirinya,"


"Benarkah?" tanya Kamila, kedua matanya membulat sempurna.


Lucy mengangguk. "Di mana pria vampir itu? Kau akan mengenalkan dia padaku, 'kan?"


"Kurasa sebentar lagi dia akan datang," jawab Kamila singkat. Lalu, dia meminta Adrian untuk berjaga di bawah dan menunggu Ortega untuk datang.


Sambil menunggu kedatangan Ortega, Kamila dan Lucy saling bercakap-cakap. Mereka membicarakan tentang Zac dan bagaimana ke depannya pria itu. Secara terang-terangan, Lucy menyebutkan bahwa dia tertarik dengan Jenna dan masa depan gadis itu.


Saat itu juga, Kamila meminta rekomendasi tentang siapa saja kira-kira yang mau menyumbangkan suaranya untuk dia. "Ajak gadis ini ke fashion show malam ini, dia pasti akan membuat beberapa teman kita tertarik padanya,"


"Ide bagus!" ucap Kamila.


Tak beberapa lama kemudian, Adrian kembali datang bersama dengan Ortega. Melupakan siapa yang ada di hadapannya saat itu, Jenna segera beranjak dari kursinya dan berlari memeluk Ortega. "Aku merindukanmu,"


Ortega tersenyum dan menangkap kekasihnya di dalam dekapannya. "Aku pun merindukanmu, Jen."


"Ehem!" Adrian berdeham untuk menyadarkan mereka berdua. Jenna akhirnya melepaskan pelukan Ortega dan memincingkan kedua matanya ke arah Adrian.


"Tidak bisa melihat orang lain senang!" bisik Jenna tajam.


Setelah berdiskusi tentang acara fashion show malam itu, Lucy menyeret Jenna dan Ortega ke ruangan ganti yang sudah sesak dipenuhi oleh para model.


"Apa ini?" tanya Ortega. Dia tidak suka tempat penuh sesak seperti itu. Dia mengendus udara di sekitarnya dan seketika itu juga, dia mengencangkan genggamannya pada Jenna. "Berhati-hatilah, beberapa dari mereka bukan manusia,"


"Itu tujuan Lucy. Meraup suara sebanyak-banyaknya untuk Zac. Dia mengumpankan aku," jawab Jenna santai.


Kedua mata Ortega membesar. "Kau gila! Tidak! Ini terlalu berbahaya! Kau harus segera keluar dari sini! Cepatlah!"


Jenna tidak bergeming. Dia tetap berada di tempat semula dan menahan tubuh serta kedua kakinya. "Kita sudah sampai sejauh ini, Ortega dan aku tidak bisa menyerah begitu saja,"


"Hanya demi Zac? Ayolah, Jen! Kau harus mulai memikirkan keselamatan dirimu sendiri!" tukas Ortega.


Jenna mendekat ke arah Ortega dan berbisik, "Kalau suara kita tidak cukup, yang akan mati tidak hanya Zac. Aku telah membelot dari perjanjian Baron dan Amstel, maka, aku pun harus dibakar sama seperti Zac! Kau paham? Jadi, bantu aku untuk mendapatkan suara dan biarkan aku berusaha untuk menyelamatkan diriku sendiri,"


Ortega mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Dia menahan semua amarah serta ketakutannya saat itu. Di saat yang bersamaan, emosi Ortega terhubung dengan emosi Jenna serta Volkov. Detik itu juga, kedua mata Jenna berubah menjadi merah membara seperti api yang siap menyala dan membakar tempat itu.


...----------------...



Semoga cocok sama karakter Adrian 🤭