Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 20



"Satu scallop risotto, siap! Dua lamb steak, siap! Satu Japanese curry, siap!" ucap seorang gadis dari balik bilik dapur.


Dua orang waitres berjalan, mengambil makanan yang telah siap disajikan dengan cantik itu. Tak lama, gadis itu bersuara lantang kembali. "Tiga Japanese curry untuk meja 5!"


"Siap!" seru yang lain.


Seorang pria tampan bermata biru, sebiru langit mengacak-acak rambut gadis itu. "Hari ini kau bersemangat sekali, Jen,"


"Tentu saja! Hari ini tanggal 30 akhir bulan dan mr. Klaus telah berjanji padaku untuk memberikanku gaji tambahan jika masakanku unggul darimu, Zac," jawab Jenna tersenyum manis.


Pria bernama Zac itu memandang si gadis dengan tatapan iri. "Benarkah pria tua itu berkata demikian padamu? Bukan hanya sekedar hiburan semata supaya kau bersemangat? Hahaha!"


Jenna mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah gambar kepada Zac. "Lihat saja, kalau dia ingkar janji, aku tidak akan segan-segan menuntutnya!"


"Hahahaha! Kau benar-benar pemberani, Jen. Setelah ini, temani aku malam," ajak Zac. Kini dia mulai sibuk menyajikan kuah kari ke atas piring.


"Tiga Japanese curry, ready!" tukas Jenna lagi. "Boleh saja, tapi kau yang traktir? Bagaimana?"


Senyum nakal dari gadis itu membuat Zac ikut tersenyum dan mengangguk dengan riang. "Boleh saja!"


Sementara itu di sebuah kastil kerajaan yang sangat gelap, seorang pria sedang menatap sendu ke arah hutan yang tak terlihat.


"Ortega, mengapa kau selalu tampak murung? Tidak kah kau bahagia kita bisa kembali ke tempat kita?" tanya seorang wanita berjubah hitam yang melingkarkan kedua lenggannya ke pinggang pria itu.


Dengan kasar, pria bernama Ortega melepaskan tangan si wanita. "Sudah kukatakan, jangan pernah kau sentuh aku lagi, Artemis!"


"Kau benar-benar tidak tau terima kasih, Ortega! Aku menyelamatkanmu dari dunia manusia dan jerat sihir gadis manusia itu, tapi, lihat balasanmu sekarang! Bahkan aku tidak mendapatkan ucapan terima kasih darimu!" tukas Artemis. Dia merasa terhina dan tersinggung atas perlakuan Ortega terhadapnya.


Ortega memandang wanita itu dengan kedua manik merahnya, dia mencengkeram wajah Artemis dengan kasar. "Kau tau apa tentangku dan dunia manusia yang kujalani? Ingatlah, ini hanya sementara!"


"Seharusnya kau bersyukur karena aku telah menbawamu kembali, Ortega! Kau bisa kembali berburu dan menghissap darah manusia yang kau temui di sini! Sedangkan di dunia itu, kau hanya mengemis untuk setetes darah dari gadis sialan itu!" balas Artemis kesal. Napasnya memburu dan bibirnya mengerucut.


"Aku tidak akan bersyukur! Aku jatuh cinta padanya, walaupun dia hanya memberikanku setetes darahnya! Ada yang salah dengan itu? Dia membuka mataku, kalau dunia ini luas dan terang, tidak gelap seperti ini! Paham!" seru Ortega. Dia membanting sebuah tongkat yang bisa dia raih saat itu dan berjalan pergi meninggalkan Artemis seorang diri.


Pria itu turun ke hutan yang gelap, bukan untuk berburu. Entah sejak kapan, dia tidak begitu tertarik dengan darah manusia. Ortega hanya tertarik kepada satu orang gadis manusia, Jenna Lake.


Beberapa waktu lalu di dunia manusia,


Artemis membuat sebuah perjanjian dengan Jenna. Perjanjian itu mereka buat hanya untuk menyelamatkan seorang pria lemah bernama Zac. Jenna yang tidak tau seberapa besar kekuatan Artemis pun kalah dan sesuai perjanjian, Artemis mengambil kembali Ortega dan menbawanya kembali ke dunia mereka.


Saat itu, Ortega sudah memberikan peringatan kepada Jenna untuk tidak menerima perjanjian itu. Namun, gadis manusia itu bersikeras dan tetap membuat perjanjian dengan Artemis.


"Aku bisa mengatasinya. Kau tenang saja dan kumohon carilah Volkov. Aku tidak ingin memakai kalung ini untuk memanggilnya, aku takut gerbang dimensi itu kembali terbuka," ucap Jenna saat itu.


Ortega menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Jenna. Aku akan membantumu,"


Jenna ikut menggelengkan kepalanya juga. Tatapannya matanya sangat memelas, sehingga Ortega tidak sanggup menatap manik yang sudah berubah menjadi warna ungu tersebut. "Dengan kau memanggil Volkov, kau sudah menbantuku, Ortega,"


"Kalau kau kalah, kau bisa kehilangan segalanya, Jenna. Kumohon, jangan membuatku tersiksa seperti ini," pinta Ortega.


Alih-alih mencecar dan mengumpat seperti biasanya, kali ini Jenna memeluk pria vampir itu. "Jika aku menang, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Karena itu, bantu aku untuk menemukan Volkov, dia tau bagaimana membantuku,"


Ortega mendekap Jenna lebih kuat. Dia tidak ingin melepaskan pelukan itu. "Berjanjilah kau akan bertahan, Jenna. Aku akan segera kembali. Oh, ini, .... Terimalah. Ini jimat keberuntunganku."


Pria vampir itu menyematkan sebuah cincin batu berwarna ungu ke jari manis Jenna dan cincin itu sangat pas di jarinya.


"Oh, tolong Ortega, aku takut! Panggilkan Volkov untukku! Hahahaha! Dasar Manusia Lemah! Lawan aku, jangan menghindar!" tukas Artemis, dia mengejek Jenna dan membuat suara yang menurut Jenna menjijikan.


Tiba-tiba saja, cahaya yang keluar dari tangan Artemis, bertambah besar. Jenna pun terpental cukul jauh karena cahaya merah yang baru saja bergabung itu membuat kekuatan Artemis bertambah.


Namun, bukannya senang. Artemis malah geram dan marah. "Ayah, ini pertarunganku! Kau tidak perlu membantuku!"


"Kau bisa kehabisan tenaga dan kekuatanmu. Makhluk itu bukan manusia, lihat saja manik matanya yang terus berubah warnanya!" ucap sosok hitam yang membantu Artemis itu.


"Aku akan mengambil energi dari manusia itu! Jangan ganggu aku, Ayah! Pergilah!" tukas Artemis lagi.


Selagi Artemis lengah, Jenna menembakkan sinar keperakan dari tangannya. "Eerrgghh! Matilah kau, kucing betina!"


Tembakannya telak mengenai dada Artemis. Wanita itu terjatuh dengan suara yang memuaskan indera pendengaran Jenna. "Ugh!"


Ayah wanita itu berlari ke arah putrinya yang terjatuh. "Artemis, Anakku!" dan kemudian, dia menatap murka pada Jenna. "Kau, makhluk brengsek! Terimalah ini!"


Pria itu menembakan cahaya dengan membabi buta dan ke segala arah. Dia tidak peduli akan mengenai siapa, saat ini fokusnya hanyalah untuk membunuh Jenna.


Jenna terus mengelak dan menghindari tembakan itu tanpa bisa melawan balik. Saat Jenna sudah mulai melemah, Ortega dan Volkov datang.


"Kau harus mengalahkan Artemis supaya perjanjian itu berakhir, Jenna! Aku akan menghadapi Vlad, kau fokus pada Artemis!" ucap Ortega, dia menyerang balik Vlad dengan segala kekuatan yang dia miliki.


"Kau berani melawan rajamu, Ortega?" tanya Vlad.


Ortega memincingkan kedua matanya dan membuat Vlad terpelanting jauh. "Ya, aku berani melawanmu! Manusia itu sekarang adalah hidup dan matiku!"


Sementara itu, Volkov mencoba membangunkan Artemis. "Kalau kau menyerah kalah, maka perjanjian itu berakhir!"


Artemis membuka matanya dan dia segera melayang. "Aku tidak akan membiarkan manusia itu mengalahkanku!"


Dia kembali menyerang Jenna. Volkov berada di pihak Jenna, tetapi dia tidak membantu. Dia hanya memberikan saran kepada gadis manusia itu. "Maaf aku tidak bisa membantumu, Jenna. Ini pertarungan kalian dan kau harus menyelesaikannya,"


Jenna mengangguk mantap. "Ya, aku paham!"


Satu tembakan Jenna mengenai pundak Artemis dan wanita itu kembali mengerang kesakitan. "Aarghhh! Brengsek!"


Tak mau kalah, Artemis mengumpulkan semua kekuatannya dan dengan telapak tangannya, dia mengeluarkan cahaya kemerahan yang cukup besar.


Jenna yang sudah kewalahan, mencoba bertahan. Dia membentengi dirinya dengan cahaya keunguan yang keluar dari telapak tangannya juga.


Melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, Volkov meminta Jenna untuk berpikir cepat. "Jenna, dengarkan aku! Kau tidak akan menang melawan Artemis. Energi dia saat ini sangat besar, sedangkan kau sudah kewalahan. Kau hanya manusia, Jenna."


"Apa maksudmu? Aku tidak akan membiarkan Ortega pergi, Volkov! Simpan rahasiaku ini, ... Eerrggghhh! Sialan!" keringat Jenna mulai membasahi tubuhnya, wajah gadis itu sudah semakin pucat dan tak berwarna. "Aku, ... Menyukai Ortega!"


"Kau akan mati! Aku akan mengalihkan Artemis, dan kau menyerahlah! Aku tak ingin kau mati, Jenna! Masih ada pria manusia itu! Kau harus selamatkan dia sesuai janjimu!" tukas Volkov mengakhiri.


"Kau akan lupa dengan segalanya, Jenna. Tapi, aku bersyukur, aku bisa bertemu denganmu dan terima kasih untuk semua petualangan yang kau berikan kepada kami!" bisik Volkov di saat sinar Jenna semakin melemah.


Setelah mendengar samar-samar ucapan Volkov, Jenna pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


...----------------...