Hello, Mr. Vampire

Hello, Mr. Vampire
HMV -- Bab 30



Melewati tengah malam, di sebuah hutan nan gelap yang hanya diterangi oleh cahaya bulan serta cahaya temaram dari kunang-kunang yang beterbangan, terdengar suara cecapan dan dessahan kecil.


Walaupun tak terlihat, dessahan dan lenguhan itu membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan apa yang sedang terjadi. Rasanya hutan dingin itu menjadi panas saat melewati suara erangan nan eksotis itu.


Dalam sebuah kekasatmataan, Jenna dan Ortega sedang beradu lidah. Mereka saling menyesap, mencecap, dan melummat. Tangan Ortega terus mencari-cari kenikmatan yang ada pada diri Jenna.


Seharusnya saat itu, mereka waspada dan memasang mata dan telinga mereka. Namun yang terjadi adalah, mereka saling mereguk kenikmatan di hutan gelap itu.


Seekor serigala besar tiba-tiba saja menyerang mereka. "Roaaarrr! Apa yang kau lakukan, Ortega?"


Dalam sepersekian detik, serigala itu berubah wujud menjadi manusia. Dia menarik tangan Jenna untuk mendekat ke arahnya. "Jangan dekati Vampir Mesum itu! Dia punya kemampuan untuk memikat wanita! Cih! Padahal secara fisik, aku lebih tampan,"


Jenna tersenyum simpul. Lalu kemudian, dia teringat suara gemerisik rumput yang tadi mereka dengar. "Jadi, suara apa itu tadi? Kau sudah memeriksanya?"


"Aku mempertaruhkan nyawaku untuk memeriksa keadaan, tapi kalian malah, ... Begitulah!" ujar Volkov sedikit sakit hati, mengingat dia tadi maju sendirian hanya berbekal kepercayaan kalau Ortega dan Jenna mengikutinya dari belakang.


Wajah Jenna memerah di bawah temaram cahaya bulan. Entah kenapa dia tadi menerima ciuman dari Ortega. Saat netra mereka bertemu, rasanya Jenna terpikat oleh pria vampir itu dan masuk ke dalam jerat pria yang berusaha dia hindari itu.


Jenna beringsut ke sebelah Volkov. "Kurasa kau benar, Volkov. Bahaya sekali jika aku terus berdekatan dengan Ortega. Aku bisa saja keterusan, 'kan?"


Volkov menarik napas dan mengerutkan keningnya. "Ah, benar itu! Berhati-hatilah, Jenna. Sedetik saja kau lengah, dia akan mengajakmu untuk mendirikan kerajaan vampir dan kau ratunya,"


"Tidak mungkin! Itu mengerikan! Ingatkan aku, kalau aku mengulangi hal yang berbahaya seperti itu lagi, Volkov. Hanya kau yang bisa melindungiku saat ini," pinta Jenna memohon.


Ortega melayang di atas mereka. Dia mendengus kesal dan menyampirkan jubahnya ke wajah Volkov. "Kau milikku, Jenna!"


Setelah berbicara seperti itu, Ortega mengajak Jenna pergi bersamanya. Dia memegangi tangan Jenna dengan erat. "Jangan takut padaku, aku bisa mencium rasa takutmu, Jenna."


"A-, aku tidak takut kepadamu," jawab Jenna terbata-bata. Dia merasa, wajahnya memanas dan jantungnya bergemuruh dengan hebat. Tak lama, gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Jangan jatuh cinta padanya, Gadis Bodoh! Vampir Brengsek itu sudah membuat hidupmu jungkir balik dan berantakan!' sanggahnya dalam hati.


Keesokan paginya, Jenna terbangun karena suara ketukan pintu di rumahnya. "Jen! Jenna! Kau baik-baik saja? Kau tidak membalas pesanku dan kau juga tidak mengangakat teleponku! Kau baik-baik saja, Jen?"


Jenna mengerjapkan kedua matanya. "Zac!" dia melihat Ortega tidur di sisinya, dengan secepat kilat, dia menendang vampir itu dan memintanya untuk masuk ke dalam kolong ranjang. "Jangan bersuara sedikitpun! Jika suara satu helai napasmu terdengar, aku akan membakarmu di bawah terik sinar matahari!" ancamnya pada Ortega.


"Cih! Dia bersungguh-sungguh!" ucap Ortega sambil bersungut-sungut.


Setelah memastikan Ortega menuruti perintahnya, Jenna membukan pintu untuk Zac. Dia berjalan sambil menguap, tidak ada yang dia tutup-tutupi, dengan maksud, Zac percaya kalau dia tertidur.


"Hoaaahhm, pagi," sapa Jenna.


Wajah Zac tampak panik bercampur lega saat melihat Jenna muncul di depan pintu. "Kau baik-baik saja?"


Jenna melepas pelukan Zac dan mendorong pria itu untuk menjauh. "Ya, pria itu benar. Kau-, kau, ... Maksudku, untuk saat ini, aku berbahaya bagimu. Kita tidak bisa tinggal satu atap lagi,"


"Tidak bisa! Aku tidak bisa jauh darimu, Jen! Ayolah, sebesar apa pun resikonya, akan aku hadapi!" tukas Zac sungguh-sungguh.


"Jangan! Kau tidak bisa begitu, Zac!" tolak Jenna tegas.


Zac merengkuh Jenna dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir gadis itu. Namun, Jenna mendorongnya. "Tidak, Zac! Kau tidak boleh seperti ini!"


"Aku mencintaimu, Jen!" balas Zac. Dia masih memegangi kedua tangan Jenna.


Jenna menggelengkan kepalanya. "Kau tidak boleh mencintaiku!"


"Kenapa? Berikan aku satu alasan yang masuk akal, kenapa aku tidak boleh mencintaimu!" tuntut Zac. Dia mengunci manik Jenna dan berusaha menemukan kejujuran di netra gadis itu.


"Kau takut petir, 'kan?" tanya Jenna.


Wajah Zac memerah. "Ya, tapi jika aku harus menghilangkan rasa takutku, aku akan berusaha untuk tidak takut petir lagi!"


"Dengarkan aku, Zac! Ini bukan tentang petir! Hidupku adalah sebuah badai, Zac! Kau tidak akan bisa menghadapiku, jika kau tidak sanggup menerjang petir besar dengan sambaran yang kencang!" jawab Jenna.


Zac terdiam, dia memejamkan matanya sesaat dan perlahan, dia melepaskan kedua tangan Jenna. "Paling tidak, aku bisa menjadi pelangi untukmu jika kau izinkan aku untuk meredakan badai di hidupmu,"


"Tidak, Zac. Pergilah dan lupakan aku! Buang segala rasa cintamu! Terima kasih karen kau memberikan hatimu padaku," sahut Jenna. Dia sangat merasa bersalah saat Zac melepaskan tangannya dan berjalan mundur perlahan.


Setelah Zac pergi, Jenna masuk kembali ke dalam rumahnya dan menghempaskan dirinya di sofa. Ada rasa sakit yang tak bisa dia jelaskan saat Zac pergi.


Butiran air bening perlahan turun dari sudut mata Jenna dan membasahi kedua pipi gadis itu. Semakin lama, butiran air itu turun semakin banyak dan tak dapat dia hentikan lagi.


Ortega keluar dari kolong ranjang dan merangkulnya. Jenna menumpahkan semua emosinya di bahu Ortega dan menangis sepuasnya di sana.


"Maafkan aku, Jenna," bisik Ortega.


Saat itu, Jenna hanya mendengarkan rintihan hatinya yang seakan menjerit karena teriris. Dia sama sekali tidak mendengar permintaan maaf dari Ortega.


...----------------...



Volkov, Manusia Serigala yang wajahnya klasik seperti sebuah lukisan 😁